<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?post_type=post&#038;byline=fathul-rakhman-sumbawa-barat" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/fathul-rakhman-sumbawa-barat/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Wed, 20 May 2026 16:03:03 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Khawatir Perairan Rusak,  Nelayan Tolak Tambang Pasir di Laut Bintan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/20/khawatir-dampak-nelayan-tolak-tambang-pasir-laut-di-bintan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/20/khawatir-dampak-nelayan-tolak-tambang-pasir-laut-di-bintan/#respond</comments>
					<pubDate>20 Mei 2026 16:03:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20152920/m3-INI-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128060</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Perikanan Kelautan, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ratusan nelayan pesisir Bintan berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) untuk menolak rencana penambangan pasir laut berkedok pengelolaan sedimentasi, Selasa (12//5/26). Selain merusak ekosistem, rencana itu akan berdampak pada sumber penghidupan nelayan. Para nelayan datang menggunakan truk dari berbagai pulau dan menempuh perjalanan dua jam. “Nelayan rela tidak melaut untuk ikut menyuarakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/khawatir-dampak-nelayan-tolak-tambang-pasir-laut-di-bintan/">Khawatir Perairan Rusak,  Nelayan Tolak Tambang Pasir di Laut Bintan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ratusan nelayan pesisir Bintan berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) untuk menolak rencana penambangan pasir laut berkedok pengelolaan sedimentasi, Selasa (12//5/26). Selain merusak ekosistem, rencana itu akan berdampak pada sumber penghidupan nelayan. Para nelayan datang menggunakan truk dari berbagai pulau dan menempuh perjalanan dua jam. “Nelayan rela tidak melaut untuk ikut menyuarakan aspirasi penolakan, ini belum semuanya turun,” kata Rudi Herdiawan, Ketua Aliansi Nelayan Pesisir Bintan-Lingga juga koordinator aksi itu. Para nelayan bergantian berorasi dengan membentangkan spanduk bernada protes. Mereka juga membubuhkan tanda-tangan di atas spanduk berukuran besar sebagai bukti penolakan. “Kalau laut kita sudah dikeruk, pasti rusak. Kemana lagi kita mencari makan, keluarga kita hidup dari nelayan ini, anak-anak kita sekolah dari nelayan ini,” kata Mardialis,  seorang nelayan dalam orasinya. Sekitar 15 menit kemudian, Misni, Sekretaris Daerah (Sekda) Kepri keluar temui para peserta aksi. Di hadapan Misni, nelayan menyampaikan kekesalan karena merasa dibohongi. Nelayan bilang, saat aksi pertama Misni berjanji datang ke kampung nelayan untuk melihat dampak pengerukan pasir laut. Hingga aksi kedua ini, Misni tak kunjung datang. “Sebenarnya kami kecewa terhadap ibu (Misni), kami bertanya apakah pemerintah daerah ini mendukung nelayan atau mendukung perusahaan, kami minta hari ini keputusan segera untuk menghentikan aktivitas sedimentasi laut di perairan Numbing,” kata Adit orator lainnya. Misni berjanji  menemui warga di Pelabuhan Kijang Bintan, tempat nelayan menjual hasil tangkapan dan meneruskan tuntutan mereka ke pemerintah pusat. “Besok saya janji akan datang kesana bersama KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan).” Keesokan harinya nelayan kembali berkumpul di Pelabuhan Kijang. Dalam pertemuan di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/khawatir-dampak-nelayan-tolak-tambang-pasir-laut-di-bintan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/20/khawatir-dampak-nelayan-tolak-tambang-pasir-laut-di-bintan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gurun Terkering di Bumi Di Tengah Benua Es, Sudah Kering Selama 2 Juta Tahun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/20/gurun-terkering-di-bumi-di-tengah-benua-es-sudah-kering-selama-2-juta-tahun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/20/gurun-terkering-di-bumi-di-tengah-benua-es-sudah-kering-selama-2-juta-tahun/#respond</comments>
					<pubDate>20 Mei 2026 08:20:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20081819/McMurdo-Dry-Valleys-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128070</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kalau diminta menebak di mana tempat terkering di Bumi, mungkin sebagian besar dari kita  akan menjawab Gurun Sahara di Afrika Utara,  atau mungkin Atacama, gurun gersang di pesisir barat Amerika Selatan yang sering disebut sebagai &#8220;tempat paling mirip Mars di Bumi&#8221;. Jawaban itu tentu masuk akal, tapi keliru. Keduanya memang kering, tapi tempat terkering yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/gurun-terkering-di-bumi-di-tengah-benua-es-sudah-kering-selama-2-juta-tahun/">Gurun Terkering di Bumi Di Tengah Benua Es, Sudah Kering Selama 2 Juta Tahun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kalau diminta menebak di mana tempat terkering di Bumi, mungkin sebagian besar dari kita  akan menjawab Gurun Sahara di Afrika Utara,  atau mungkin Atacama, gurun gersang di pesisir barat Amerika Selatan yang sering disebut sebagai &#8220;tempat paling mirip Mars di Bumi&#8221;. Jawaban itu tentu masuk akal, tapi keliru. Keduanya memang kering, tapi tempat terkering yang sesungguhnya bukan ada di sabuk panas katulistiwa, bukan di hamparan pasir yang membakar telapak kaki, melainkan di ujung paling selatan planet ini, di benua yang justru dikenal sebagai lautan es: Antartika. Di sana, tersembunyi di balik barisan pegunungan yang menjulang, terdapat tiga lembah yang sudah tidak mengenal hujan selama hampir dua juta tahun. Bukan dua ratus tahun. Bukan dua puluh ribu tahun. Dua juta tahun. Ketika leluhur kita masih hidup berpindah-pindah di savana Afrika, lembah-lembah ini sudah kering. Dan sampai hari ini, kondisinya nyaris tidak berubah. Anomali di Tengah Benua Es Antartika adalah benua terbesar kelima di Bumi, menutupi sekitar 14 juta kilometer persegi, dan hampir seluruh permukaannya tertutup lapisan es yang di beberapa titik mencapai ketebalan 4.800 meter. Es itu bukan sekadar hamparan tipis, melainkan lapisan raksasa yang telah terakumulasi selama jutaan tahun. Maka wajar jika kita membayangkan Antartika sebagai tempat yang seragam: putih, beku, dan mati. Salah satu gletser yang mengapit McMurdo Dry Valleys — es ini berhenti tepat di tepi lembah, tidak pernah benar-benar masuk ke dalamnya. Di sinilah angin katabatik mengambil alih, menyublimasi setiap tetes kelembapan sebelum sempat menyentuh tanah. (Foto: U.S. Department of State/Public Domain) Kenyataannya tidak sesederhana itu. Di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/gurun-terkering-di-bumi-di-tengah-benua-es-sudah-kering-selama-2-juta-tahun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/20/gurun-terkering-di-bumi-di-tengah-benua-es-sudah-kering-selama-2-juta-tahun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ambu Halimun, Menjaga Habitat Owa Jawa dengan Ecoprint</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/20/ambu-halimun-menjaga-habitat-owa-jawa-dengan-ecoprint/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/20/ambu-halimun-menjaga-habitat-owa-jawa-dengan-ecoprint/#respond</comments>
					<pubDate>20 Mei 2026 05:39:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20052954/Kain-ecoprint-di-Basecamp-Ambu-Halimun-Foto_-Falahi-Mubarok-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128051</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Owa Jawa: Suara Perjuangan di Sisa-sisa Hutan Jawa]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Deretan kain ecoprint motif dedaunan tergantung rapi di sebuah rumah kayu di Kampung Citalahab Sentral, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di antara corak tersebut, tampak siluet owa jawa tercetak samar pada selembar kain putih. Ini penanda bahwa hutan tak hanya sekedar latar kehidupan warga, namun juga sumber inspirasi yang dijaga bersama. Pagi itu, rumah yang jadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/ambu-halimun-menjaga-habitat-owa-jawa-dengan-ecoprint/">Ambu Halimun, Menjaga Habitat Owa Jawa dengan Ecoprint</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Deretan kain ecoprint motif dedaunan tergantung rapi di sebuah rumah kayu di Kampung Citalahab Sentral, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di antara corak tersebut, tampak siluet owa jawa tercetak samar pada selembar kain putih. Ini penanda bahwa hutan tak hanya sekedar latar kehidupan warga, namun juga sumber inspirasi yang dijaga bersama. Pagi itu, rumah yang jadi basecamp Ambu Halimun, dipenuhi aktivitas. Ambu Halimun merupakan kelompok pemberdayaan perempuan yang membuat kain ramah lingkungan dalam upaya menjaga kelestarian hutan Halimun dan kehidupan Hylobates moloch. Mirna Maharani (30), anggota Ambu Halimun, mengatakan dedaunan yang dulu dianggap gulma kini memiliki nilai penting. Tak hanya untuk kerajinan, tetapi juga membuka cara pandang baru tentang hubungan manusia dengan alam. “Kalau ambil daun ya secukupnya saja. Seperlunya,” ujar ibu dua anak ini, Senin (11/5/2026). Kelompok ini terbentuk tahun 2020. Tujuannya sederhana, memberi ruang aktivitas bagi ibu rumah tangga di sekitar hutan Halimun. Warga menyadari lingkungan sekitar mereka kaya tumbuhan yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan motif alami pada kain. Hasilnya, mereka menemukan lebih dari 100 spesies tumbuhan yang bisa digunakan untuk ecoprint. Sebagian tanaman, kini sudah dibudidayakan sendiri oleh Ambu Halimun di kebun kecil mereka. Ambu Halimun merupakan kelompok pemberdayaan perempuan yang membuat kain ramah lingkungan/ecoprint di di Kampung Citalahab Sentral, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Cara pandang terhadap alam Bagi Mirna dan perempuan lain di Citalahab, perubahan terbesar bukan hanya soal penghasilan tambahan. Ada perubahan cara pandang mereka terhadap alam. Tanaman yang dulunya dianggap liar dan mengganggu, kini dirawat dan ditanam kembali. “Sekarang kami pelihara.”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/ambu-halimun-menjaga-habitat-owa-jawa-dengan-ecoprint/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/20/ambu-halimun-menjaga-habitat-owa-jawa-dengan-ecoprint/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Konflik Agraria Petani Pakel vs  Perusahaan Perkebunan Tak Berkesudahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/20/konflik-agraria-tak-berujung-di-pakel-kemana-negara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/20/konflik-agraria-tak-berujung-di-pakel-kemana-negara/#respond</comments>
					<pubDate>20 Mei 2026 02:42:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/14174001/WhatsApp-Image-2026-05-14-at-10.31.15-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127779</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ratusan petani dan warga Desa Pakel, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) memenuhi halaman  Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi, Rabu (6/5/26). Kedatangan mereka sebagai bentuk solidaritas pada dua anggota Rukun Tani Sumberejo Pakel (RTSP), Suwarno dan Sagidin, yang kena gugat PT Bumi Sari Maju Sukses (BMS)  secara perdata.  Sebelumnya perusahaan perkebunan ini juga menggugat Harun, petani Desa Pakel, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/konflik-agraria-tak-berujung-di-pakel-kemana-negara/">Konflik Agraria Petani Pakel vs  Perusahaan Perkebunan Tak Berkesudahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ratusan petani dan warga Desa Pakel, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) memenuhi halaman  Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi, Rabu (6/5/26). Kedatangan mereka sebagai bentuk solidaritas pada dua anggota Rukun Tani Sumberejo Pakel (RTSP), Suwarno dan Sagidin, yang kena gugat PT Bumi Sari Maju Sukses (BMS)  secara perdata.  Sebelumnya perusahaan perkebunan ini juga menggugat Harun, petani Desa Pakel, miliaran rupiah. Melalui perkara nomor 306/Pdt.G/2025/PN Byw, BMS menggugat Suwarno membayar ganti rugi Rp500 juta. Sedangkan  Sagidin, perusahaan menuntut bayar Rp528 juta, sebagaimana perkara nomor: 305/Pdt.G/2025/PN Byw. Perusahan juga meminta pengadilan menyita harta benda kedua tergugat. Bagi warga Pakel, gugatan itu bukan sekadar perkara hukum biasa. “Kalau petani dituntut ratusan juta sampai rumahnya mau disita, ini bukan lagi soal hukum biasa. Ini cara membuat warga takut,” teriak  seorang petani yang ikut dalam aksi solidaritas di depan pengadilan. Dalam aksi solidaritas itu juga hadir kelompok tani dari Kaligedang, Kecamatan Ijen, Bondowoso. Mereka datang karena merasa mengalami nasib serupa yaitu konflik agraria, ketimpangan penguasaan tanah, dan ancaman kriminalisasi. Dalam gugatannya, BMS menuduh Suwarno dan Sagidin melakukan perbuatan melawan hukum karena memasuki area yang diklaim sebagai hak guna usaha (HGU) dan merusak  tanaman kopi maupun cengkih mereka. Tm pendamping hukum warga membantah tudingan itu. Ahmad Taufiq dari Tim Advokasi Untuk Kedaulatan Agraria (Tekad Garuda) menilai, konstruksi hukum gugatan perusahaan rapuh dan problematik sejak awal. “Perusahaan tidak memiliki legal standing yang kuat. Warga mengelola lahan untuk mempertahankan ruang hidup yang dirampas,” katanya kepada Mongabay. Menurut Taufiq, gugatan perusahaan justru mengabaikan fakta sejarah penguasaan tanah warga Pakel yang berlangsung jauh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/konflik-agraria-tak-berujung-di-pakel-kemana-negara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/20/konflik-agraria-tak-berujung-di-pakel-kemana-negara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Selundupan 760 Botol Merkuri ke Filipina, Aksi Bertahun-tahun Baru Terungkap</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-selundupan-760-botol-merkuri-ke-filipina-aksi-bertahun-tahun-baru-terungkap/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-selundupan-760-botol-merkuri-ke-filipina-aksi-bertahun-tahun-baru-terungkap/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 17:31:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/19170113/Merkuri-1-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128030</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya atau Polda Metro Jaya bersama Bea Cukai Tanjung Priok gagalkan penyelundupan 760 botol merkuri ilegal ke Filipina, penghujung April lalu. Modusnya, peti kemas berisi merkuri pelaku laporkan sebagai tekstil. Komisaris Besar Victor Dean Mackbon,  Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya mengatakan, kasus ini terungkap di Pos Pemeriksaan Bea [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-selundupan-760-botol-merkuri-ke-filipina-aksi-bertahun-tahun-baru-terungkap/">Menyoal Selundupan 760 Botol Merkuri ke Filipina, Aksi Bertahun-tahun Baru Terungkap</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya atau Polda Metro Jaya bersama Bea Cukai Tanjung Priok gagalkan penyelundupan 760 botol merkuri ilegal ke Filipina, penghujung April lalu. Modusnya, peti kemas berisi merkuri pelaku laporkan sebagai tekstil. Komisaris Besar Victor Dean Mackbon,  Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya mengatakan, kasus ini terungkap di Pos Pemeriksaan Bea dan KPU Bea Cukai Tanjung Priok, Jakarta Utara. Unit II Subdit IV Tindak Pidana Tertentu Ditreskrimsus Polda Metro Jaya bersama Bea Cukai Tanjung Priok mendapati peti kemas tujuan Takasi Kin Hardware Trading di Room 369, Manila, Filipina. Temuan berawal dari pemeriksaan awal Bea Cukai yang menemukan ketidaksesuaian antara dokumen ekspor dengan muatan barang di dalam peti kemas. “Merkuri tersebut dikirim ke Filipina menggunakan dokumen kepabeanan yang dimanipulasi, sehingga muatannya seolah-olah berupa tekstil, pakaian, dan karpet,” kata Victor kepada Mongabay, Sabtu(16/5/26). Dalam penggeledahan itu, petugas menemukan 760 botol berisi cairan berwarna perak dengan label “Mercury Gold 1 kg.” Botol-botol itu tersimpan dalam selongsong karton dan terselip di antara 145 gulungan karpet. Modus pelaku ialah menyembunyikan merkuri di dalam gulungan karpet agar tak terdeteksi. Ratusan botol merkuri itu adalah milik tersangka berinisial MAL yang dipesan saudara AB, warga Filipina yang tinggal di Mani Forest, Davao. Berdasarkan hasil pengembangan penyidikan, MAL memperoleh merkuri dari tersangka H, sebagai penjual. Dari pengakuan para tersangka, praktik pengiriman merkuri ke Filipina sudah berlangsung sejak 2021. Dalam aksinya, MAL bertugas mencari sekaligus mengirimkan merkuri sesuai pesanan AB. Dari setiap kilogram penjualan merkuri, MAL memperoleh keuntungan sekitar Rp300.000, dengan omzet mencapai Rp2,7 juta per&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-selundupan-760-botol-merkuri-ke-filipina-aksi-bertahun-tahun-baru-terungkap/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-selundupan-760-botol-merkuri-ke-filipina-aksi-bertahun-tahun-baru-terungkap/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Energi Sampah  RDF di Kalimantan Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-energi-sampah-rdf-di-kalimantan-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-energi-sampah-rdf-di-kalimantan-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 13:00:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/18195034/IMG_0728-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127985</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sampah jadi energi sedang jadi sorotan termasuk di Kalimantan Selatan. Walhi Kalimantan Selatan (Kalsel) mengkritik bahan bakar sampah dengan teknologi refuse derived fuel (RDF) di PT Indocement Tunggal Prakarsa (ITP) di Kotabaru. Perusahaan gunakan RDF ini sebagai salah satu upaya transisi energi mereka. Walhi menilai, pengelolaan sampah sebagai sumber energi ini hanyalah solusi palsu atasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-energi-sampah-rdf-di-kalimantan-selatan/">Menyoal Energi Sampah  RDF di Kalimantan Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sampah jadi energi sedang jadi sorotan termasuk di Kalimantan Selatan. Walhi Kalimantan Selatan (Kalsel) mengkritik bahan bakar sampah dengan teknologi refuse derived fuel (RDF) di PT Indocement Tunggal Prakarsa (ITP) di Kotabaru. Perusahaan gunakan RDF ini sebagai salah satu upaya transisi energi mereka. Walhi menilai, pengelolaan sampah sebagai sumber energi ini hanyalah solusi palsu atasi masalah sampah, karena tidak menyelesaikan dari akarnya. Raden Rafiq, Direktur Eksekutif Daerah Walhi Kalsel, mencatat, teknologi yang sama juga akan ada di Kota Banjarbaru dan Banjarmasin. Dia bilang, kalau kebutuhan sampah cacah untuk suplai RDF harus terpenuhi setiap hari, maka besaran volume sampah plastik akan membengkak. “Akibatnya, kondisi ini membuat RDF terkesan hanya menjadi solusi palsu yang diklaim mendukung transisi energi, tanpa benar-benar menyelesaikan persoalan sampah dari akarnya,” katanya. Pemerintah daerah, katanya, tidak selektif dalam menjalin kerjasama dengan perusahaan penerima RDF. Terlebih, katanya, ITP pernah terlibat konflik agraria dan sosial dengan warga sekitar tanpa penyelesaian yang jelas, terutama pada 2004-2012. Kondisi ini akan menambah kompleksitas persoalan dalam rantai pengelolaan RDF.  Masalah, katanya, tidak hanya menyangkut aspek teknis pengelolaan sampah, juga berkaitan erat dengan aspek sosial dan tata kelola yang perlu perhatian serius. Proses pembakaran sampah pun hasilkan masalah, karena bahan utama plastik dari industri skala besar yang berisiko hasilkan emisi berbahaya seperti dioksin, furan, dan partikel halus PM 2.5. Zat ini, katanya, berisiko terhadap sistem pernapasan, memicu iritasi, alergi, hingga penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang paling berdampak pada kelompok rentan, seperti anak-anak. “Ancaman tersebut semakin besar ketika teknologi pengendalian emisi tidak optimal atau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-energi-sampah-rdf-di-kalimantan-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-energi-sampah-rdf-di-kalimantan-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Pakar Soroti Kebijakan Transisi Energi Nasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/para-pakar-soroti-kebijakan-transisi-energi-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/para-pakar-soroti-kebijakan-transisi-energi-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 07:19:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ignatius Dwiana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/09005631/kawasan-industtri-nikel-di-Sulawesi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128012</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Para pakar hukum lingkungan menyoroti kebijakan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112/2022 soal Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Alih-alih menjadi instrumen percepatan energi bersih, regulasi ini mereka nilai menyimpan paradoks mendasar yang berpotensi menghambat transisi energi nasional. Mohamad Nasir,  Akademisi Hukum Sumber Daya Alam Universitas Balikpapan mengatakan, secara normatif, perpres ini lahir dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/para-pakar-soroti-kebijakan-transisi-energi-nasional/">Para Pakar Soroti Kebijakan Transisi Energi Nasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Para pakar hukum lingkungan menyoroti kebijakan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112/2022 soal Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Alih-alih menjadi instrumen percepatan energi bersih, regulasi ini mereka nilai menyimpan paradoks mendasar yang berpotensi menghambat transisi energi nasional. Mohamad Nasir,  Akademisi Hukum Sumber Daya Alam Universitas Balikpapan mengatakan, secara normatif, perpres ini lahir dengan semangat besar namun dalam pasal-pasal operasional justru membuka ruang luas bagi keberadaan PLTU captive berbasis batubara yang dibangun khusus untuk kebutuhan industri. Negara, katanya,  ingin berlari menuju energi bersih tetapi regulasi yang sama memberikan “karpet merah” pada energi fosil. “Kalau saya menyebutnya sebagai kebijakan yang paradoks. Tentu saja ini tidak konsisten,” katanya dalam diskusi “Menata Kembali Kebijakan Transisi Energi Nasional: Revisi Perpres 112 / 2022 Menurut Pandangan Ahli Hukum Lingkungan dan Perubahan Iklim” April lalu. Sektor industri nikel yang kerap muncul sebagai bagian dari ekosistem energi hijau global pun dalam situasi ironis. Dalam proses produksi sangat bergantung pada energi fosil terutama batubara. Malah makin kompleks ketika mengaitkan dengan komitmen politik tingkat tinggi. Dalam forum internasional seperti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Rio de Janeiro, Presiden Prabowo Subianto menyatakan,  Indonesia akan menutup seluruh PLTU pada 2040. Berbeda dengan perpres itu justru membuka peluang operasional PLTU captive hingga 2050. Perbedaan satu dekade ini menampakkan sinyal kebijakan yang saling bertabrakan. “Kepala negara sudah menyatakan 2040 akan menutup semua PLTU di Indonesia. Ternyata perpres ini justru sebaliknya membuka peluang bagi keberadaan PLTU itu sampai 2050,” ujar Nasir. Dia mengatakan,  kebijakan itu malah menampakkan tarik-menarik kepentingan. Misal, PLTU captive masih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/para-pakar-soroti-kebijakan-transisi-energi-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/para-pakar-soroti-kebijakan-transisi-energi-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Persoalan Sampah, Ancaman Kesehatan dan Lingkungan di Jawa Timur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/persoalan-sampah-ancaman-kesehatan-dan-lingkungan-di-jawa-timur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/persoalan-sampah-ancaman-kesehatan-dan-lingkungan-di-jawa-timur/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 06:46:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Petrus Riski]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233546/PENCEMARAN-SAMPAH-PLASTIK-4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128003</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, jawa, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sampah tidak hanya menimbulkan penyakit tetapi juga mengganggu ekosistem lingkungan. Adhimas Setyo Wicaksono, Dosen Departemen Kesehatan Masyarakat, Universitas Surabaya, mengatakan sampah anorganik yang tidak mudah hancur dan tidak terkelola dengan baik dapat mengundang penyakit demam berdarah dan berbagi virus. Sedangkan sampah organik, meski hancur alami, namun dapat memunculkan penyakit iritasi dan gatal-gatal, bila tidak dipilah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/persoalan-sampah-ancaman-kesehatan-dan-lingkungan-di-jawa-timur/">Persoalan Sampah, Ancaman Kesehatan dan Lingkungan di Jawa Timur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sampah tidak hanya menimbulkan penyakit tetapi juga mengganggu ekosistem lingkungan. Adhimas Setyo Wicaksono, Dosen Departemen Kesehatan Masyarakat, Universitas Surabaya, mengatakan sampah anorganik yang tidak mudah hancur dan tidak terkelola dengan baik dapat mengundang penyakit demam berdarah dan berbagi virus. Sedangkan sampah organik, meski hancur alami, namun dapat memunculkan penyakit iritasi dan gatal-gatal, bila tidak dipilah dari sumber asalnya. “Sampah yang ditumpuk dan berbau biasanya ada bakteri yang ikut terbang ke udara dan terhirup masyarakat,” jelasnya, Jumat (8/5/2026). Penyakit lain yang berpotensi muncul adalah leptosirosis. Bakteri atau virus yang dibawa tikus sebagai vektor ini, dapat mengancam kesehatan para pekerja pengumpul sampah. Gejelanya seperti demam. Selain itu, bahaya tetanus juga harus diwaspadai. Penyakit ini muncul di bambu atau besi berkarat, yang dibuang bercampur sampah. Pemakaian masker, sarung tangan karet, sepatu booth, dan pakaian khusus, dapat menjadi sarana mencegah risiko penyakit pada pekerja pengangkut sampah. “Dari sisi kedokteran, mereka harus diberi vaksinasi tetanus, untuk mencegah.” Pemilahan sampah harus menjadi kunci utama mengurangi timbunan sampah di rumah maupun di tempat pembuangan sementara. “Sampah organik dan anorganik, harus terpilah dari awal pengumpulan.” Tumpukan sampah plastik yang mencemari dasar Sungai Brantas, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Risiko pekerja pengangkut sampah Seniman (46), warga kampung Klumprik, RT 04 RW 02, Kelurahan Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, Surabaya, Jawa Timur, sudah 11 tahun menjadi penarik gerobak sampah. Tiga kali dalam seminggu, dia mengambil sampah di setiap rumah warga. Rendahnya pendapatan yang diterima, sekitar Rp1,3 juta, tidak sebanding dengan tingginya risiko yang mengancam, terutama kesehatan. “Seringnya gatal-gatal.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/persoalan-sampah-ancaman-kesehatan-dan-lingkungan-di-jawa-timur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/persoalan-sampah-ancaman-kesehatan-dan-lingkungan-di-jawa-timur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Tambang Emas Ilegal di Sumbar Terus Marak?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/banyak-korban-mengapa-tambang-emas-ilegal-di-sumbar-terus-marak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/banyak-korban-mengapa-tambang-emas-ilegal-di-sumbar-terus-marak/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 04:04:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Vinolia]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/18090305/solok-tambang-emas3-Alat-berat-milik-penambang-emas-ilegal-sedang-mengeruk-emas-di-aliran-sungai-Pamong-besar-kecamatan-Sangir-Solok-selatan.-Foto-Vinolia.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127969</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, bisnis dan ekonomi, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Aktivitas pertambangan emas ilegal di Sumatera Barat (Sumbar) sudah berlangsung lama hingga kini terus marak. Upaya penindakan selama ini nyaris tanpa hasil. Alih-alih setop, tambang emas ilegal terus meluas dan memakan banyak korban. Berdasarkan catatan Walhi Sumatera Barat, sedikitnya 48 orang meninggal dunia akibat peti sejak 2012-Mei 2026, termasuk insiden  Kamis (14/5/26). Jumlah ini adalah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/banyak-korban-mengapa-tambang-emas-ilegal-di-sumbar-terus-marak/">Mengapa Tambang Emas Ilegal di Sumbar Terus Marak?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Aktivitas pertambangan emas ilegal di Sumatera Barat (Sumbar) sudah berlangsung lama hingga kini terus marak. Upaya penindakan selama ini nyaris tanpa hasil. Alih-alih setop, tambang emas ilegal terus meluas dan memakan banyak korban. Berdasarkan catatan Walhi Sumatera Barat, sedikitnya 48 orang meninggal dunia akibat peti sejak 2012-Mei 2026, termasuk insiden  Kamis (14/5/26). Jumlah ini adalah yang mampu terpantau di media sosial. Ada kemungkinan angka sebenarnya jauh lebih besar atau lebih banyak. “Korban terus berjatuhan, sementara tambang ilegal tetap beroperasi secara terbuka menggunakan alat berat, merusak kawasan hutan lindung, mencemari sungai, dan menghancurkan daerah aliran sungai,” kata Tomi Adam, Direktur Eksekutif Walhi Sumbar kepada Mongabay. Dari pengamatannya, beberapa sungai besar di sejumlah wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) rusak, seperti DAS Batang Hari, Batahan, Pasaman, Indragiri, hingga Kampar. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang menegaskan, peristiwa maut itu menjadi bukti kegagalan negara dalam melindungi keselamatan rakyat dan kelestarian lingkungan dari praktik peti. Selain itu, menegaskan lemahnya penegakan hukum secara serius. “Persoalan mematikan ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Sumatera Barat. Pada awal September 2024, kejadian serupa juga terjadi di Nagari Sungai Abu, Kabupaten Solok, yang menewaskan 15 korban jiwa,” kata  Adrizal, Kepala Divisi Advokasi LBH Padang. Dia meyakini, insiden serupa akan terus berulang sepanjang upaya penegakan hukum oleh aparat hanya menyasar pelaku di lapangan. Sementara aktor intelektual atau pemodal bebas melenggang. “Pada akhirnya, pembiaran ini memicu bahaya dan risiko yang lebih besar terhadap lingkungan serta masyarakat, baik berupa bencana ekologis yang sempat melumpuhkan berbagai titik di Sumatera akhir November lalu, maupun potensi menghadirkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/banyak-korban-mengapa-tambang-emas-ilegal-di-sumbar-terus-marak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/banyak-korban-mengapa-tambang-emas-ilegal-di-sumbar-terus-marak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mirip Ular tapi Bukan Ular, dan Matanya Bisa Berkedip</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/mirip-ular-tapi-bukan-ular-dan-matanya-bisa-berkedip/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/mirip-ular-tapi-bukan-ular-dan-matanya-bisa-berkedip/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 02:41:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/19023621/Common_slowworm_Anguis_fragilis-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127991</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tidak semua reptil bertubuh panjang tanpa kaki adalah ular. Salah satu contoh yang sering menimbulkan salah identifikasi adalah slow worm (Anguis fragilis) atau cacing lambat, sejenis kadal tanpa kaki yang secara penampilan memang menyerupai ular, tetapi secara taksonomi merupakan spesies kadal sejati dari famili Anguidae. Tubuhnya silindris, ditutupi sisik halus mengkilap berwarna cokelat, abu-abu, hingga kemerahan seperti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/mirip-ular-tapi-bukan-ular-dan-matanya-bisa-berkedip/">Mirip Ular tapi Bukan Ular, dan Matanya Bisa Berkedip</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tidak semua reptil bertubuh panjang tanpa kaki adalah ular. Salah satu contoh yang sering menimbulkan salah identifikasi adalah slow worm (Anguis fragilis) atau cacing lambat, sejenis kadal tanpa kaki yang secara penampilan memang menyerupai ular, tetapi secara taksonomi merupakan spesies kadal sejati dari famili Anguidae. Tubuhnya silindris, ditutupi sisik halus mengkilap berwarna cokelat, abu-abu, hingga kemerahan seperti tembaga. Pada beberapa individu, tampak garis tipis memanjang di sepanjang punggung. Perbedaan paling mendasar dan paling mudah diamati adalah kemampuan berkedip. Slow worm atau cacing lambat memiliki kelopak mata yang dapat digerakkan secara aktif, sesuatu yang tidak dimiliki ular sama sekali. Mata ular selalu terbuka dan hanya dilindungi oleh sisik transparan yang disebut brille. Selain kelopak mata, slow worm juga memiliki lidah yang berbentuk pipih dan bercabang, berbeda dari lidah ular yang lebih ramping dan sangat lentur. Perbedaan-perbedaan anatomi ini bukan sekadar detail kecil; semuanya mencerminkan jarak evolusi yang cukup jauh antara dua kelompok reptil yang berpenampilan serupa. Perilaku Reproduksi dan Termoregulasi Aktivitas slow worm atau cacing lambat meningkat pada musim kawin, yaitu periode peralihan suhu setelah musim dingin. Setelah keluar dari hibernasi yang berlangsung antara Oktober hingga Maret, reptil ini aktif mencari makan dan memulihkan kondisi tubuh. Jantan umumnya lebih banyak terlihat di awal musim semi, sementara betina lebih sering dijumpai pada musim panas ketika mereka sedang bunting. Di area perkebunan dan taman, mereka kerap ditemukan berkumpul di bawah tumpukan papan, batu, atau lembaran logam bekas. Dua ekor slow worm (Anguis fragilis) terekam di habitat alaminya di Rosis, Hérault, Prancis. Spesies ini tersebar luas di kawasan Eurasia dan terlindungi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/mirip-ular-tapi-bukan-ular-dan-matanya-bisa-berkedip/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/mirip-ular-tapi-bukan-ular-dan-matanya-bisa-berkedip/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Burung Migran di Pesisir Banda Aceh Perlahan Hilang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/burung-migran-di-pesisir-banda-aceh-perlahan-hilang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/burung-migran-di-pesisir-banda-aceh-perlahan-hilang/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 01:00:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nurul Hasanah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/01/22081541/Koloni-Burung-Pantai-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127805</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Kelautan perikanan, politik dan hukum, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekelompok burung biru laut ekor blorok (Limosa lapponica) menyisir dataran tambak berlumpur di pesisir Pantai Lampulo, Kota Banda Aceh, Aceh. Kaki rampingnya melangkah dengan hati-hati sambil sesekali menusukkan paruh untuk mencari makan. Tak jauh dari situ, ada burung trinil kaki merah (Tringa totanus) tengah  mematuk-matuk lumpur basah, bergerak maju secara perlahan dan menyapu setiap area [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/burung-migran-di-pesisir-banda-aceh-perlahan-hilang/">Burung Migran di Pesisir Banda Aceh Perlahan Hilang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekelompok burung biru laut ekor blorok (Limosa lapponica) menyisir dataran tambak berlumpur di pesisir Pantai Lampulo, Kota Banda Aceh, Aceh. Kaki rampingnya melangkah dengan hati-hati sambil sesekali menusukkan paruh untuk mencari makan. Tak jauh dari situ, ada burung trinil kaki merah (Tringa totanus) tengah  mematuk-matuk lumpur basah, bergerak maju secara perlahan dan menyapu setiap area untuk berburu mangsanya hingga sebelum matahari terbenam. Pesisir Banda Aceh berada di jalur migrasi East Asia-Australasian Flyway (EAAF), salah satu jalur terbang terbesar dan penting bagi banyak burung migran di dunia. Karena itu, kawasan pesisir Banda Aceh tidak pernah kosong dari kehadiran burung migran. Meski kini, ruang itu kian menyempit, hutan-hutan mangrove terus tergerus.  Heri Tarmizi, Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH), bilang,  pesisir Banda Aceh juga menjadi jalur akhir migrasi terutama bagi banyak burung dari tempat pembiakan di Siberia, Asia Utara untuk menghindari musim dingin.  Ketika  mangrove menghilang, rantai panjang perjalanan itu ikut terancam.  “Ketika mangrove tergerus, mereka tidak akan singgah lagi ke pesisir Banda Aceh karena tidak ada sumber makanan. Dampaknya bukan hanya kehilangan, burung-burung ini juga menjaga keasrian alam dengan perannya dan bunyi-bunyiannya. Jika tidak ada lagi, maka Kota Banda Aceh akan seperti kota mati,” katanya April lalu. Penelitian Mira dkk. (2020) luas lahan mangrove di pesisir Banda Aceh mengalami pengurangan signifikan mencapai 52,13% sejak 2004 hingga 2009, dari 600 hektar menjadi 287,19 hektar. Penyebabnya karena alih fungsi menjadi lahan pemukiman.  Kawasan mangrove ini tersebar di lima kecamatan di Kota Banda Aceh, meliputi Jaya Baru, Kuta Alam, Kuta Raja, Meuraxa, dan Syiah Kuala.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/burung-migran-di-pesisir-banda-aceh-perlahan-hilang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/burung-migran-di-pesisir-banda-aceh-perlahan-hilang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Pesta Babi, Merauke, dan Ujian Kebijakan Publik</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/18/opini-pesta-babi-merauke-dan-ujian-kebijakan-publik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/18/opini-pesta-babi-merauke-dan-ujian-kebijakan-publik/#respond</comments>
					<pubDate>18 Mei 2026 17:41:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Benidiktus Hery Wijayanto*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/29004319/papua-food-estate-pusaka-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127981</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi Masyarakat Adat Papua, termasuk di Merauke, tanah bukan sekadar ruang produksi. Bagi Masyarakat Adat Papua, tanah adalah ruang hidup, tempat identitas, relasi sosial, sejarah, dan warisan masa depan. Karena itu, ketika proyek pembangunan skala besar masuk ke satu wilayah, yang dipertaruhkan sesungguhnya bukan hanya angka produksi atau investasi, juga keberlanjutan cara hidup masyarakat yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/opini-pesta-babi-merauke-dan-ujian-kebijakan-publik/">Opini: Pesta Babi, Merauke, dan Ujian Kebijakan Publik</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi Masyarakat Adat Papua, termasuk di Merauke, tanah bukan sekadar ruang produksi. Bagi Masyarakat Adat Papua, tanah adalah ruang hidup, tempat identitas, relasi sosial, sejarah, dan warisan masa depan. Karena itu, ketika proyek pembangunan skala besar masuk ke satu wilayah, yang dipertaruhkan sesungguhnya bukan hanya angka produksi atau investasi, juga keberlanjutan cara hidup masyarakat yang telah lama bertaut dengan ruang itu. Film dokumenter Pesta Babi mengingatkan kita pada hal itu. Film ini tidak sekadar menampilkan potret keresahan masyarakat adat atau menyajikan kritik terhadap pembangunan. Ia membuka pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana sebuah kebijakan publik dirumuskan, dijalankan, dan memperoleh legitimasi di tengah masyarakat yang akan menanggung dampaknya. Sebagai seseorang yang bekerja cukup lama di bidang perkebunan dan terlibat dalam dinamika tata kelola perizinan sumber daya alam di Tanah Papua, saya memandang Pesta Babi penting terbaca bukan semata sebagai karya dokumenter, tetapi sebagai cermin untuk menilai kualitas kebijakan publik kita. Sebagian hutan di Papua Selatan, sudah berubah bentuk untuk PSN. Bagi Masyarakat Adat Papua, hutan itu tak sekadar pepohonan, tetapi tempat mereka bergantung hidup, dari segala keperluan pangan, obat-obatan sampai budaya ada di sana. Foto: Yayasan Pusaka Dalam konteks proyek strategis nasional (PSN) pangan di Merauke, Papua Selatan, perdebatan yang muncul sering sebagai pertentangan sederhana antara pembangunan dan penolakan masyarakat. Padahal,  persoalannya jauh lebih kompleks. Pertanyaannya,  bukan sekadar apakah proyek pangan perlu atau tidak, tetapi apakah proses kebijakan terrancang secara adil, partisipatif, dan sesuai konteks sosial-ekologis Papua. Dalam ilmu kebijakan publik terdapat pelajaran penting: kebijakan yang baik bukan hanya ditentukan oleh tujuan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/opini-pesta-babi-merauke-dan-ujian-kebijakan-publik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/18/opini-pesta-babi-merauke-dan-ujian-kebijakan-publik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Super El Niño 1877, El Niño Terkuat dalam Sejarah yang Melumpuhkan Tiga Benua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/18/super-el-nino-1877-el-nino-terkuat-dalam-sejarah-yang-melumpuhkan-tiga-benua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/18/super-el-nino-1877-el-nino-terkuat-dalam-sejarah-yang-melumpuhkan-tiga-benua/#respond</comments>
					<pubDate>18 Mei 2026 09:57:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/18095126/pexels-pyae-phyo-aung-2155057942-34078646-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127975</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Antara tahun 1876 hingga 1879, dunia mengalami salah satu bencana iklim terbesar dalam sejarah modern. Sebuah peristiwa El Niño yang luar biasa kuat memicu kekeringan panjang secara bersamaan di Asia, Afrika, Amerika Selatan, dan sebagian Australia. Tidak ada satu pun wilayah yang bisa menjadi penyangga bagi wilayah lain, karena semua menghadapi krisis pada waktu yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/super-el-nino-1877-el-nino-terkuat-dalam-sejarah-yang-melumpuhkan-tiga-benua/">Super El Niño 1877, El Niño Terkuat dalam Sejarah yang Melumpuhkan Tiga Benua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Antara tahun 1876 hingga 1879, dunia mengalami salah satu bencana iklim terbesar dalam sejarah modern. Sebuah peristiwa El Niño yang luar biasa kuat memicu kekeringan panjang secara bersamaan di Asia, Afrika, Amerika Selatan, dan sebagian Australia. Tidak ada satu pun wilayah yang bisa menjadi penyangga bagi wilayah lain, karena semua menghadapi krisis pada waktu yang hampir bersamaan. Akibatnya, ini bukan sekadar gagal panen di satu sudut dunia, melainkan sebuah krisis pangan global yang tersinkronisasi, yang berujung pada kematian antara 30 hingga 60 juta jiwa dalam kurun waktu kurang dari empat tahun. Para ilmuwan kini menyebut peristiwa ini sebagai salah satu El Niño terkuat yang pernah tercatat dalam sejarah. Rekonstruksi iklim menggunakan data dari terumbu karang dan cincin pertumbuhan pohon menunjukkan bahwa intensitas El Niño 1877-1878 setara dengan dua peristiwa El Niño paling kuat di era modern, yaitu 1997/98 dan 2015/16. Namun ada satu perbedaan mendasar: dunia pada 1877 tidak memiliki sistem peringatan dini, tidak ada jaringan bantuan internasional yang terorganisasi, dan bahkan tidak ada pemahaman ilmiah yang memadai tentang apa yang sedang terjadi. Pemerintah-pemerintah di berbagai belahan dunia bereaksi terlambat, sering kali dengan kebijakan yang justru memperburuk keadaan. Hasilnya adalah salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah dicatat oleh sejarah, dan ironisnya, salah satu yang paling jarang dibahas. Mengapa El Niño 1877 Begitu Dahsyat? El Niño adalah bagian dari siklus iklim yang disebut El Niño-Southern Oscillation (ENSO). Dalam kondisi normal, angin pasat di Samudra Pasifik bertiup dari timur ke barat, mendorong air hangat ke arah Asia dan Australia, sementara wilayah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/super-el-nino-1877-el-nino-terkuat-dalam-sejarah-yang-melumpuhkan-tiga-benua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/18/super-el-nino-1877-el-nino-terkuat-dalam-sejarah-yang-melumpuhkan-tiga-benua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kematian Gajah dan Harimau, Amankah Koridor Satwa di Bentang Alam Seblat?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/18/kematian-gajah-dan-harimau-amankah-koridor-satwa-di-bentang-alam-seblat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/18/kematian-gajah-dan-harimau-amankah-koridor-satwa-di-bentang-alam-seblat/#respond</comments>
					<pubDate>18 Mei 2026 08:30:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/18064833/Gajah-Seblat2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127950</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, politik dan hukum, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bentang Alam Seblat resmi menyandang status Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Koridor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), akhir 2017 lalu. Koridor ini diharapkan dapat menjamin kehidupan gajah sumatera serta satwa lainnya, termasuk harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) –yang berada di luar kawasan konservasi. “Koridor gajah adalah jalur hidup satwa. Kalau koridor terputus, maka populasi akan terancam. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/kematian-gajah-dan-harimau-amankah-koridor-satwa-di-bentang-alam-seblat/">Kematian Gajah dan Harimau, Amankah Koridor Satwa di Bentang Alam Seblat?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bentang Alam Seblat resmi menyandang status Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Koridor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), akhir 2017 lalu. Koridor ini diharapkan dapat menjamin kehidupan gajah sumatera serta satwa lainnya, termasuk harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) –yang berada di luar kawasan konservasi. “Koridor gajah adalah jalur hidup satwa. Kalau koridor terputus, maka populasi akan terancam. Ini tanggung jawab kita semua untuk menjaganya,” kata Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, saat mengunjungi Bengkulu pada akhir Desember 2025 lalu. Ironisnya, kematian gajah dan harimau di Bentang Alam Seblat terus berulang. Berdasarkan data Koalisi Selamatkan Bentang Seblat, sejak KEE diresmikan, sekitar tujuh ekor gajah sumatera dan satu ekor harimau sumatera ditemukan mati. Kasus matinya gajah ini, termasuk yang terbaru induk betina dan anak serta satu harimau sumatera (jantan, umur dua tahun)– yang dilaporkan pada Kamis (30/4/2026). “Itu baru yang terekam, jumlah sesungguhnya sangat mungkin lebih besar, mengingat keterbatasan pemantauan di lapangan,” tulis Koalisi Bentang Alam Seblat dalam rilisnya, Jumat (1/5/2026). Koalisi ini terdiri Kanopi Hijau Indonesia, Auriga Nusantara, Genesis Bengkulu, Lingkar Inisiatif Indonesia, dan Save Gajah Seblat. Bentang Alam Seblat merupakan habitat alami gajah sumatera. Foto: Instagram#savegajahseblat Iswadi, Ketua Lingkar Inisiatif Indonesia menambahkan, untuk kematian harimau, yang ditemukan secara lansung memang satu individu. “Tetapi indikasi harimau mati terkena jerat pemburu setidaknya ada 5 kematian,” jelasnya kepada Mongabay Indonesia, Senin (18/5/2026). Hasil identifikasi awal menunjukkan bahwa harimau sudah mati sejak 5–6 hari sebelum ditemukan. Sementara, dua gajah sudah mengalami pembusukan lanjut, dan diperkirakan sudah mati 8–10 hari. Iding Achmad Haidir, Ketua Forum HarimauKita (FHK),&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/kematian-gajah-dan-harimau-amankah-koridor-satwa-di-bentang-alam-seblat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/18/kematian-gajah-dan-harimau-amankah-koridor-satwa-di-bentang-alam-seblat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Saatnya Memperkuat Tata Kelola Perkotaan Pesisir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/18/saatnya-memperkuat-tata-kelola-perkotaan-pesisir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/18/saatnya-memperkuat-tata-kelola-perkotaan-pesisir/#respond</comments>
					<pubDate>18 Mei 2026 07:10:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[A. Asnawi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233812/PEMBUDIDAYA-KERANG-KELUHKAN-PENCEMARAN-5-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127923</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pusat Kajian Perkotaan Pesisir baru  terbentuk April lalu atas kerjasama Universitas Harkat Negeri (UHN) Tegal, Jawa Tengah (Jateng) dengan Rujak Center for Urban Studies.  Pusat kajian ini sebagai respons atas kompleksitas masalah di wilayah perkotaan pesisir di tengah berbagai tekanan termasuk kerusakan lingkungan maupun  ancaman krisis iklim. “Pendirian Pusat Kajian Perkotaan Pesisir ini mempunyai dua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/saatnya-memperkuat-tata-kelola-perkotaan-pesisir/">Saatnya Memperkuat Tata Kelola Perkotaan Pesisir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pusat Kajian Perkotaan Pesisir baru  terbentuk April lalu atas kerjasama Universitas Harkat Negeri (UHN) Tegal, Jawa Tengah (Jateng) dengan Rujak Center for Urban Studies.  Pusat kajian ini sebagai respons atas kompleksitas masalah di wilayah perkotaan pesisir di tengah berbagai tekanan termasuk kerusakan lingkungan maupun  ancaman krisis iklim. “Pendirian Pusat Kajian Perkotaan Pesisir ini mempunyai dua sisi strategis: penanganan masalah ekologis dan meningkatkan gerak ekonomi berbasis ekonomi dan budaya pesisir,” kata Sudirman Said, Rektor UHN dalam sambutan saat peluncuran, akhir April. PKPP, katanya,  akan menjadi hub antar pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, dan praktisi dari masyarakat. Dia berharap, hasil riset dari PKPP  dapat menjadi basis kebijakan, sekaligus solusi kontekstual, terukur yang dapat terreplikasi di daerah lain. Menteri ESDM era  Presiden Joko Widodo itu mengatakan, sebagai kawasan yang terus berkembang, pesisir kian hadapi tantangan di tengah perubahan iklim saat ini. PKPP, katanya, hadir sebagai upaya membangun kontribusi relevan dan berdampak dalam menghadapi tantangan itu. Mulai dari perubahan cuaca sampai perencanaan tata kota. “Kota Tegal sebagai kota sekunder di Indonesia  juga kota pesisir dijadikan pusat riset yang dapat menjadi pembelajaran bagi kota-kota di Indonesia,  juga kota kota pesisir di dunia,” kata Sudirman. Agus Dwi Sulistyantono, Sekda Kota Tegal menyambut baik kolaborasi UHN-Rujak Center atas pendirian PKPP ini. Dia meyakini, kebijakan pemerintah akan makin optimal jika berkolaborasi dengan ilmu pengetahuan melalui institusi pendidikan serta pelibatan masyarakat. Sudirman Said, Rektor UHN (kemeja merah), Elisa Sutanudjaja (tengah), Marco Kusumawijaya (empat dari kiri), Raimundus Nggajo, Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Pemerataan Pembangunan Wilayah, Agraria, dan Tata Ruang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/saatnya-memperkuat-tata-kelola-perkotaan-pesisir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/18/saatnya-memperkuat-tata-kelola-perkotaan-pesisir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kearifan Masyarakat Adat Boti Berdaulat Pangan Sekaligus Jaga Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/18/kearifan-masyarakat-adat-boti-berdaulat-pangan-sekaligus-jaga-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/18/kearifan-masyarakat-adat-boti-berdaulat-pangan-sekaligus-jaga-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>18 Mei 2026 06:59:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Bapthista Mario Yosryandi Sara*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/17044414/FOTO-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127904</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lahan kapur dan kemarau panjang tak mematahkan semangat Masyarakat Adat Boti di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Mereka tidak kehilangan cara untuk memenuhi pangannya sendiri. Tangan Seo Neolaka bergerak gesit mematahkan pen meto atau jagung-jagung kering di ladang lalu memasukkan ke dalam sau, bakul anyaman lontar di hadapannya.  Di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/kearifan-masyarakat-adat-boti-berdaulat-pangan-sekaligus-jaga-hutan/">Kearifan Masyarakat Adat Boti Berdaulat Pangan Sekaligus Jaga Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lahan kapur dan kemarau panjang tak mematahkan semangat Masyarakat Adat Boti di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Mereka tidak kehilangan cara untuk memenuhi pangannya sendiri. Tangan Seo Neolaka bergerak gesit mematahkan pen meto atau jagung-jagung kering di ladang lalu memasukkan ke dalam sau, bakul anyaman lontar di hadapannya.  Di antara sulur ubi jalar, gadung, singkong, bersama perempuan Boti lain, Seo juga memanen sorgum, kacang tunis dan sayur-sayuran. Setelah hasil panen terkumpul, mereka akan menyimpannya dalam ume kbubu, lumbung tradisional Masyarakat Boti.  “Kalau jagung kurang, masih ada sorgum, ubi, labu, pisang, atau kacang. Karena itu kami tidak boleh tanam satu jenis saja. Misal, satu mati, yang lain bisa kami pakai,” kata Seo ditemui sehabis berkebun, April lalu. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan  NTT menyebutkan, El Nino tahun ini bisa menjadi ancaman iklim bagi pertanian di provinsi itu. Mulai dari krisis air, gangguan kalender tanam, penurunan produksi padi dan jagung, dan meningkatnya hama tanaman. Meski begitu, masyarakat Boti tak terlalu khawatir karena wilayah mereka memiliki tutupan lahan lebih baik daripada wilayah lain.  “Karena alam di sekitar tempat ini dijaga, sejak dulu sampai sekarang kami tidak alami kesusahan makanan,” kata Raja (Usif) Boti, Nama Benu saat berbincang di pondok kebun, April lalu. Seo Neolaka sedang memanen sisa-sisa jagung yang sudah mengering. Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia Satu hamparan ladang masyarakat Boti menanam beragam jenis tanaman. Mulai dari umbi-umbian, kacang-kacangan, sayur mayur hingga buah-buahan. Ubi jalar, singkong dan gadung berada di antara pohon-pohon seperti kemiri, asam, pisang dan lain-lain.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/kearifan-masyarakat-adat-boti-berdaulat-pangan-sekaligus-jaga-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/18/kearifan-masyarakat-adat-boti-berdaulat-pangan-sekaligus-jaga-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Malaria Merebak dan Lingkungan Rusak Ketika Tambang Emas Ilegal  Marak di Pohuwato</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/18/dampak-peti-pohuwato-lingkungan-rusak-penyakit-merebak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/18/dampak-peti-pohuwato-lingkungan-rusak-penyakit-merebak/#respond</comments>
					<pubDate>18 Mei 2026 01:00:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/12111310/DJI_0644-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127704</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pertambangan emas ilegal di Pohuwato, Gorontalo, tidak hanya mengubah lanskap, memicu petani gagal panen hingga hilangnya tutupan hutan. Kondisi itu juga mulai tercermin dalam tubuh warganya. Air yang menggenang, udara yang berubah, dan ekosistem yang terganggu menciptakan kehidupan yang tak stabil. Di banyak titik, batas antara ruang tambang dan permukiman menjadi kabur. Lumpur, genangan, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/dampak-peti-pohuwato-lingkungan-rusak-penyakit-merebak/">Malaria Merebak dan Lingkungan Rusak Ketika Tambang Emas Ilegal  Marak di Pohuwato</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pertambangan emas ilegal di Pohuwato, Gorontalo, tidak hanya mengubah lanskap, memicu petani gagal panen hingga hilangnya tutupan hutan. Kondisi itu juga mulai tercermin dalam tubuh warganya. Air yang menggenang, udara yang berubah, dan ekosistem yang terganggu menciptakan kehidupan yang tak stabil. Di banyak titik, batas antara ruang tambang dan permukiman menjadi kabur. Lumpur, genangan, dan debu menjadi bagian dari keseharian. Dalam kondisi seperti itu, membuat malaria tidak lagi sekadar penyakit tropis, tetapi cermin dari kerusakan lingkungan lebih luas di Pohuwato. Iswanto Doda masih ingat malam ketika demam itu tiba-tiba datang seperti badai kecil. Tubuhnya menggigil, lalu panas tinggi menyergap tanpa peringatan. Semula dia mengira hanya kelelahan setelah bekerja.  Ketika demam tak kunjung mereda disertai nyeri di kepala, dia mulai curiga ada sesuatu yang lebih serius. Akhirnya dia dilarikan dari  rumahnya di Pohuwato Timur, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, ke Puskesmas Marisa. Dia terkena malaria. “Saat di Puskesmas, saya langsung ditanya apakah saya penambang atau bukan. Saya menjawab bahwa saya pekerja swasta dan tidak bekerja tambang. Setelah itu, dokter mendiagnosis bahwa saya terpapar malaria,” katanya. Iswanto pun kaget. Tadinya dia hanya mengira cuma masuk angin biasa. “Tapi ternyata malaria,” katanya pelan. Dia bukan satu-satunya. Di wilayahnya, malaria bukan lagi kabar yang hanya muncul dalam laporan kesehatan. Penyakit itu kini hadir di sekitar rumah, di antara tetangga, bahkan di lingkaran pekerja tambang yang setiap hari keluar masuk kawasan hutan dan bukit di Pohuwato. Kawasan permukiman di Pohuwato yang dikelilingi lubang tambang emas ilegal. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia. Banyak lubang tambang, nyamuk berkembang Dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/18/dampak-peti-pohuwato-lingkungan-rusak-penyakit-merebak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/18/dampak-peti-pohuwato-lingkungan-rusak-penyakit-merebak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Mama-mama Flores Berdaulat Pangan sampai Konservasi Lahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/17/upaya-mama-mama-manggarai-berdaulat-pangan-sampai-konservasi-lahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/17/upaya-mama-mama-manggarai-berdaulat-pangan-sampai-konservasi-lahan/#respond</comments>
					<pubDate>17 Mei 2026 07:26:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/15074202/2-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127806</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[flores dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bedeng-bedeng bambu berderet di samping sepetak sawah. Hamparan tanaman padi pun tampak mulai menguning dan siap memasuki masa panen. Di sampingnya, ragam tanaman hortikultura subur memenuhi kebun pangan  berpembatas bambu di lahan seluas sekitar 200 meter persegi. Aneka tanaman ini dari Kelompok Perempuan Wela Nara perempuan yang berada di Desa Watu Galang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/17/upaya-mama-mama-manggarai-berdaulat-pangan-sampai-konservasi-lahan/">Upaya Mama-mama Flores Berdaulat Pangan sampai Konservasi Lahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bedeng-bedeng bambu berderet di samping sepetak sawah. Hamparan tanaman padi pun tampak mulai menguning dan siap memasuki masa panen. Di sampingnya, ragam tanaman hortikultura subur memenuhi kebun pangan  berpembatas bambu di lahan seluas sekitar 200 meter persegi. Aneka tanaman ini dari Kelompok Perempuan Wela Nara perempuan yang berada di Desa Watu Galang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kelompok beranggotakan 10 orang ini merupakan dampingan dari Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) dan Amati Indonesia. Yayasan ini banyak mengajari mereka bagaimana mengolah kebun pangan secara organik. “Kami mulai menanam aneka sayuran ini di akhir tahun 2025 lalu,” kata Monika Udis, Ketua Kelompok Perempuan Wela Nara, Jumat (8/5/26). Ada sawi, tomat dan kacang panjang siap panen. Ada juga tanaman wortel, kangkung dan juga pakcoy. Mereka mengatur masa tanam agar pemanenan bisa berlangsung tiap hari. Untuk pengairan, ibu-ibu ini mengambilnya dari mata air Wae Betong di dalam kawasan hutan yang mereka salurkan menggunakan bambu. Kebetulan, lokasi kebun berbatasan langsung dengan hutan Mbeliling. Kawasan hutan ini terdiri dari hutan lindung seluas 72, 4 kilometer persegi dan hutan konservasi  41, 8 kilometer persegi. Mata air dari kawasan hutan ini tak pernah kering meski di musim kemarau. Dengan siklus panen 3-4 bulan, kebun ini sudah 12 kali panen. Sebagian mereka jual, sebagian  untuk bagi-bagi  ke setiap anggota. “Hasil penjualan sudah terkumpul Rp6.000.000. Uangnya akan kami gunakan untuk membeli bibit tanaman lagi,” sebut Monika. Kelompok Kebun Mama Teka Iku,Kabupaten Sikka sedang panen kacang tanah di kebun pangan kelompok yang berada di dekat kawasan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/17/upaya-mama-mama-manggarai-berdaulat-pangan-sampai-konservasi-lahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/17/upaya-mama-mama-manggarai-berdaulat-pangan-sampai-konservasi-lahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hantavirus, Tikus, dan Kebersihan Lingkungan Kita</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/17/hantavirus-tikus-dan-kebersihan-lingkungan-kita/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/17/hantavirus-tikus-dan-kebersihan-lingkungan-kita/#respond</comments>
					<pubDate>17 Mei 2026 02:48:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/17023733/Tikus-di-sekitar-kita-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127897</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda, pada 1 April 2026 lalu singgah di Ushuaia, ujung selatan Argentina. Kapal berencana meneruskan pelayarannya hingga Antarktika dan mengunjungi beberapa pulau cantik di Samudera Atlantik. Pada 11 April, seorang penumpang dilaporkan meninggal di atas kapal yang didahului sakit. Pada 26 April, penumpang yang naik kapal pesiar itu juga meninggal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/17/hantavirus-tikus-dan-kebersihan-lingkungan-kita/">Hantavirus, Tikus, dan Kebersihan Lingkungan Kita</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda, pada 1 April 2026 lalu singgah di Ushuaia, ujung selatan Argentina. Kapal berencana meneruskan pelayarannya hingga Antarktika dan mengunjungi beberapa pulau cantik di Samudera Atlantik. Pada 11 April, seorang penumpang dilaporkan meninggal di atas kapal yang didahului sakit. Pada 26 April, penumpang yang naik kapal pesiar itu juga meninggal saat hendak boarding di bandara Afrika Selatan dalam perjalanan pulang. Sementara pada 2 Mei, kembali seorang penumpang dilaporkan meninggal di atas kapal. Mengutip AP, Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 4 Mei menyatakan kejadian itu sebagai wabah, setelah penyebab kematian ketiganya dinyatakan positif karena hantavirus. Total, ada 11 laporan kasus hantavirus dengan 3 orang meninggal. Meski kapal pesiar itu tidak singgah di Indonesia, kewaspadaan terhadap penyakit tersebut tetap dijalankan. Belum ada laporan kasus Hanta Pulmonary Syndrome (HPS), penyebab kematian akibat hantavirus seperti yang terjadi di Eropa itu di Indonesia. Namun, Kementerian Kesehatan RI telah mengonfirmasi adanya peningkatan temuan kasus tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), akibat hantavirus. Dibanding HPS, risiko kematian HFRS lebih rendah. Tikus yang dapat menjadi vektor pembawa penyakit hantavirus. Foto: Pixabay/Alexas_Fotos Data Kementerian ini menyebutkan, sepanjang 2024-2026 tercatat 256 suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS yang tersebar di sejumlah wilayah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur. Tren konfirmasi juga menunjukkan peningkatan. Dari 1 kasus pada 2024, menjadi 17 kasus pada 2025, dan 5 kasus hingga Mei 2026. Sebuah kajian yang laporannya terbit 12 Maret 2026 di jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases menyebutkan bahwa Indonesia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/17/hantavirus-tikus-dan-kebersihan-lingkungan-kita/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/17/hantavirus-tikus-dan-kebersihan-lingkungan-kita/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nelayan Desak Kejelasan Penghentian Proyek Reklamasi Surabaya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/17/nelayan-desak-kejelasan-penghentian-proyek-reklamasi-surabaya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/17/nelayan-desak-kejelasan-penghentian-proyek-reklamasi-surabaya/#respond</comments>
					<pubDate>17 Mei 2026 01:14:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Moh Tamimi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/12/21234920/Surabaya-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127893</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur dan surabaya]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Proyek reklamasi untuk bangun Surabaya Waterfront Land (SWL) di Surabaya, Jawa Timur,  masih belum jelas berhenti seterusnya atau lanjut. Para nelayan dan warga pesisir Surabaya masih khawatir proyek bakal lanjut suatu hari. Mereka pun mendesak, pemerintah tegas menghentikan proyek ini. Hingga kini, masih tidak ada keputusan sah dan meyakinkan bahwa proyek ini akan setop sejak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/17/nelayan-desak-kejelasan-penghentian-proyek-reklamasi-surabaya/">Nelayan Desak Kejelasan Penghentian Proyek Reklamasi Surabaya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Proyek reklamasi untuk bangun Surabaya Waterfront Land (SWL) di Surabaya, Jawa Timur,  masih belum jelas berhenti seterusnya atau lanjut. Para nelayan dan warga pesisir Surabaya masih khawatir proyek bakal lanjut suatu hari. Mereka pun mendesak, pemerintah tegas menghentikan proyek ini. Hingga kini, masih tidak ada keputusan sah dan meyakinkan bahwa proyek ini akan setop sejak warga tolak dua tahun lalu. Hamuka, Ketua Jamaah Nelayan Muhammadiyah (Jalamu) Surabaya, berharap, rencana reklamasi itu setop sepenuhnya. Ada pernyataan resmi dari pengembang maupun pemerintah. Dia bilang, ada 44 paguyuban dan organisasi sipil yang serempak bersatu menolak rencana itu. Hamuka sudah menemui pengembang, DPRD Surabaya, pemerintah provinsi, Kementerian Kelautan dan Perikanan sebelumnya untuk mengutarakan keresahan dan penolakan warga. “Ke Jakarta dua kali kami, yang terakhir ke KKP,” katanya baru-baru ini. Dia bilang, laut dan pesisir adalah ruang hidup para nelayan, tempat mereka mencari rezeki. Bila rencana ini lanjut, mereka akan tersingkir dari ruang hidup, dan memutus mata pencaharian mereka. “Soalnya lahan yang akan dibangun kan 1084 hektar, itu tempat pencarian sehari-hari,” kata Hamuka. Belum lagi dampak lain rentan terjadi bila reklamasi itu berjalan, seperti erupsi dan banjir.  Warga, katanya, pasti akan alami dampak. Ada sekitar 8.000 keluarga di lima kecamatan di Surabaya yang rentan terdampak proyek ini. Dia ingin pemerintah tegas menghentikan proyek itu. “Soalnya dasarnya di KPRL (kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang laut) itu, loh, (pemerintah) menyetujui, sehingga dia (perusahaan) bersikeras untuk, apa, lanjut berhasil untuk reklamasi itu,” kata Hamuka. Miftahul Huda, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP),&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/17/nelayan-desak-kejelasan-penghentian-proyek-reklamasi-surabaya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/17/nelayan-desak-kejelasan-penghentian-proyek-reklamasi-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>