<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?post_type=post&#038;byline=ebed-de-rosary-manggarai-barat" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/ebed-de-rosary-manggarai-barat/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sat, 14 Mar 2026 20:14:15 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>
				<item>
					<title>Dalam Bayang Tambang, Pulau Kecil Kian Terancam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/14/dalam-bayang-tambang-pulau-kecil-kian-terancam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/14/dalam-bayang-tambang-pulau-kecil-kian-terancam/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mar 2026 20:14:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wulan Yanuarwati]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230547/GP0SU5K03_PressMedia-2500px-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125611</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pulau-pulau kecil di Indonesia terus alami ancaman dampak begitu banyak industri ekstraktif   dari emas, timah, sampai nikel yang kini terusung sebagai bagian dari transisi energi karena jadi bahan baku baterai kendaraan listrik. Begitu banyak sudah pulau-pulau kecil di Indonesia jadi korban, antara lain, Pulau Wawonii,  Kabaena (Sulawesi Tenggara), Pulau Sangihe (Sulawesi Utara), Pulau Gebe (Halmahera [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/14/dalam-bayang-tambang-pulau-kecil-kian-terancam/">Dalam Bayang Tambang, Pulau Kecil Kian Terancam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pulau-pulau kecil di Indonesia terus alami ancaman dampak begitu banyak industri ekstraktif   dari emas, timah, sampai nikel yang kini terusung sebagai bagian dari transisi energi karena jadi bahan baku baterai kendaraan listrik. Begitu banyak sudah pulau-pulau kecil di Indonesia jadi korban, antara lain, Pulau Wawonii,  Kabaena (Sulawesi Tenggara), Pulau Sangihe (Sulawesi Utara), Pulau Gebe (Halmahera Tengah), Pulau Gag Raja Ampat Papua Barat Daya, maupun Pulau Bintan (Kepulauan Riau) dan banyak lagi. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengidentifikasi ada 226 izin usaha pertambangan (IUP) beroperasi di 477 pulau kecil di 21 kabupaten/kota di Indonesia. Padahal, izin tambang melanggar UU  Nomor 1/2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Regulasi ini tegas melarang di pulau dengan luas kurang dari 2.000 km persegi. Argo Tarigan, Tim Kampanye Mineral Kritis Trend Asia tegaskan,  tak ada masa depan cerah bagi pulau kecil di Indonesia jika industri ekstraktif tak berhenti. “Indonesia sekaligus akan menerima dampak ganda dari industri ini,” ujarnya.  Pulau yang sudah tereksploitasi, katanya,  sudah jelas akan hancur dan  tidak bisa kembali seperti semula. Kemudian,  beban kesehatan akibat kerusakan lingkungan. “Misalnya, di smelter. Mereka (warga) berpenyakit, gunakan BPJS dan akan kembali ke negara, kita juga pajak yang menanggung. Kita sedang membuat kiamat yang akan datang dan bencana yang akan datang,” katanya. Berdasarkan UU 1/2014 tentang perubahan atas UU Nomor 27 tahun 2007 tentang Penyelamatan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tegas menyebut bahwa prioritas pulau kecil untuk konservasi, perikanan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat. “Sehingga pertambangan (industri ekstraktif) dilarang karena risiko ekologisnya.&#8221; Sayangnya, mayoritas warga tidak memiliki&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/14/dalam-bayang-tambang-pulau-kecil-kian-terancam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/14/dalam-bayang-tambang-pulau-kecil-kian-terancam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mempertanyakan Vonis Hukum Kasus 1,2 Ton Sisik Trenggiling</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/14/mempertanyakan-vonis-hukum-kasus-12-ton-sisik-trenggiling/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/14/mempertanyakan-vonis-hukum-kasus-12-ton-sisik-trenggiling/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mar 2026 06:00:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/06/22013027/trenggiling--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125596</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Peradilan kasus perdagangan ilegal 1,2 ton sisik trenggiling makin tidak berpihak pada keberlangsungan keanekaragaman hayati. Pasalnya, Pengadilan Tinggi Sumatera Utara (Sumut) memutuskan hukuman lebih ringan  kepada Aipda Alfi Hariadi Siregar dengan tujuh tahun penjara, sedang vonis Pengadilan Negeri (PN) Kisaran, sebelumnya, 9 tahun. Putusan itu  melengkapi vonis ringan  yang sudah terlebih dulu jatuh pada dua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/14/mempertanyakan-vonis-hukum-kasus-12-ton-sisik-trenggiling/">Mempertanyakan Vonis Hukum Kasus 1,2 Ton Sisik Trenggiling</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Peradilan kasus perdagangan ilegal 1,2 ton sisik trenggiling makin tidak berpihak pada keberlangsungan keanekaragaman hayati. Pasalnya, Pengadilan Tinggi Sumatera Utara (Sumut) memutuskan hukuman lebih ringan  kepada Aipda Alfi Hariadi Siregar dengan tujuh tahun penjara, sedang vonis Pengadilan Negeri (PN) Kisaran, sebelumnya, 9 tahun. Putusan itu  melengkapi vonis ringan  yang sudah terlebih dulu jatuh pada dua anggota TNI di Kodim Asahan, Serka M Yusuf dan Serda Rahmadi Syaputra. Keduanya ‘hanya’ mendapat hukuman satu tahun penjara, denda Rp100 juta,  subsider satu bulan kurungan. Kondisi ini membuat skeptis penegakan hukum kejahatan terhadap satwa liar. Padahal, keterlibatan aparat sebagai pelaku merupakan hal krusial. Vania Erlangga, Kepala Bidang Hukum dan Advokasi Garda Animalia, menyebut, fakta penyimpanan barang bukti di fasilitas kepolisian untuk para pelaku menunjukkan  penyalahgunaan kewenangan serta pelanggaran serius terhadap kepercayaan publik. “Namun eksaminasi terhadap putusan menunjukkan keterlibatan aparat negara tersebut lebih banyak diperlakukan sebagai tindakan personal, bukan sebagai persoalan struktural yang menuntut pertanggungjawaban institusional,” katanya saat Mongabay hubungi. Trenggiling terus terancam perburuan dan perdagangan ilegal.  Foto Ayat S Karokaro / Mongabay Indonesia Aparat terlibat, seharusnya lebih berat Dia bilang, pendekatan yang memisahkan tindakan aparat dari konteks institusionalnya berimplikasi hilangnya faktor pemberat yang seharusnya melekat pada kasus ini. Padahal, dalam banyak kerangka hukum dan etika publik, penyalahgunaan kewenangan oleh aparat negara justru menuntut standar pertanggungjawaban lebih tinggi bukan lebih ringan. &#8220;Ketika aspek ini diabaikan, sistem peradilan berisiko memperkuat budaya impunitas di dalam institusi negara.&#8221; Menurut dia, perlu penguatan standar penanganan perkara perdagangan satwa liar berskala besar. Barang bukti 1,2 ton sisik trenggiling, menurutnya, tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/14/mempertanyakan-vonis-hukum-kasus-12-ton-sisik-trenggiling/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/14/mempertanyakan-vonis-hukum-kasus-12-ton-sisik-trenggiling/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Misteri Samudra Selatan: Hiu Tertangkap Kamera di Perairan Dingin Kutub Selatan untuk Pertama Kalinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/14/misteri-samudra-selatan-hiu-tertangkap-kamera-di-perairan-dingin-kutub-selatan-untuk-pertama-kalinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/14/misteri-samudra-selatan-hiu-tertangkap-kamera-di-perairan-dingin-kutub-selatan-untuk-pertama-kalinya/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mar 2026 02:54:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/14024703/southern-sleeper-shark-antarctic-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125602</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebuah rekaman video bersejarah dari kedalaman Samudra Selatan baru saja meruntuhkan asumsi lama dunia sains. Untuk pertama kalinya, seekor hiu tidur berhasil tertangkap kamera sedang berenang di perairan dingin Kutub Selatan yang sebelumnya dianggap sebagai zona terlarang bagi predator tersebut. Penemuan di kedalaman 490 meter ini membuktikan bahwa batas kehidupan di wilayah paling selatan Bumi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/14/misteri-samudra-selatan-hiu-tertangkap-kamera-di-perairan-dingin-kutub-selatan-untuk-pertama-kalinya/">Misteri Samudra Selatan: Hiu Tertangkap Kamera di Perairan Dingin Kutub Selatan untuk Pertama Kalinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebuah rekaman video bersejarah dari kedalaman Samudra Selatan baru saja meruntuhkan asumsi lama dunia sains. Untuk pertama kalinya, seekor hiu tidur berhasil tertangkap kamera sedang berenang di perairan dingin Kutub Selatan yang sebelumnya dianggap sebagai zona terlarang bagi predator tersebut. Penemuan di kedalaman 490 meter ini membuktikan bahwa batas kehidupan di wilayah paling selatan Bumi jauh lebih luas dari yang dibayangkan selama ini. Penemuan ini bermula dari ekspedisi laut dalam yang bertujuan memetakan kehidupan di palung-palung terpencil di sekitar Antartika. Selama ini para ilmuwan berasumsi bahwa konsentrasi garam yang tinggi dan suhu air yang bisa turun hingga di bawah titik beku menjadi penghalang biologis bagi hiu. Kehadiran predator puncak ini di lokasi tersebut membuktikan adanya pengecualian unik dalam ekosistem laut dalam yang sangat dingin. Rekaman ini bukan sekadar keberuntungan kamera melainkan bukti ilmiah penting yang mengharuskan komunitas peneliti meninjau ulang peta persebaran hiu di seluruh samudra. Kehidupan Tersembunyi di Kedalaman Es Hiu tersebut ditemukan pada kedalaman 490 meter di bawah permukaan laut. Lokasi tepatnya berada di Palung South Shetland yang terletak tidak jauh dari wilayah semenanjung. Tim peneliti dari Minderoo-UWA Deep-Sea Research Centre, University of Western Australia, menemukan cuplikan langka tersebut setelah meninjau secara cermat 840 jam video dasar laut. Seluruh data visual ini dikumpulkan selama 64 hari ekspedisi menggunakan teknologi lander atau kamera baited yang diturunkan sebanyak 63 kali ke dasar samudra yang sunyi. Sosok yang terekam memiliki tubuh besar berbentuk silinder dengan sirip-sirip kecil yang khas. Hewan ini bergerak dengan sangat lambat melewati cahaya kamera di tengah kegelapan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/14/misteri-samudra-selatan-hiu-tertangkap-kamera-di-perairan-dingin-kutub-selatan-untuk-pertama-kalinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/14/misteri-samudra-selatan-hiu-tertangkap-kamera-di-perairan-dingin-kutub-selatan-untuk-pertama-kalinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Benteng Terakhir Penguasa Langit Jawa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/benteng-terakhir-penguasa-langit-jawa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/benteng-terakhir-penguasa-langit-jawa/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mar 2026 02:24:57 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/01152626/elang-jawa-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=125601</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Benteng Terakhir Penguasa Langit Jawa]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ancaman kepunahan Elang Jawa tetap membayangi akibat perburuan liar, pola baru perdagangan satwa melalui platform digital, dan hilangnya ruang hidup yang terus menyempit. Upaya konservasi yang telah berjalan selama tiga dekade sejak era 1990-an harus beradu cepat dengan tekanan ekonomi. Berbagai aksi penyitaan satwa oleh otoritas menjadi bukti nyata bahwa status hukum saja tidak cukup [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/03/benteng-terakhir-penguasa-langit-jawa/">Benteng Terakhir Penguasa Langit Jawa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ancaman kepunahan Elang Jawa tetap membayangi akibat perburuan liar, pola baru perdagangan satwa melalui platform digital, dan hilangnya ruang hidup yang terus menyempit. Upaya konservasi yang telah berjalan selama tiga dekade sejak era 1990-an harus beradu cepat dengan tekanan ekonomi. Berbagai aksi penyitaan satwa oleh otoritas menjadi bukti nyata bahwa status hukum saja tidak cukup tanpa perlindungan habitat yang ketat. Masa depan sosok asli Sang Garuda bergantung pada keseriusan aksi pelestarian hari ini untuk mencegah hilangnya mereka dari cakrawala dalam dua dekade mendatang. The post Benteng Terakhir Penguasa Langit Jawa appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/03/benteng-terakhir-penguasa-langit-jawa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/benteng-terakhir-penguasa-langit-jawa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Adat Papua Gugat Izin Lingkungan Jalan PSN Merauke</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/14/masyarakat-adat-papua-gugat-izin-lingkungan-jalan-psn-merauke/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/14/masyarakat-adat-papua-gugat-izin-lingkungan-jalan-psn-merauke/#respond</comments>
					<pubDate>14 Mar 2026 01:16:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Asrida Elisabeth]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/14010436/Papua-Pusaka-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125597</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Proyek Pangan 'Food Estate' Momok Kedaulatan Pangan Lokal]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[papua dan Papua Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, pencenaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Kami di sini mewakili saudara-saudara kami yang tidak bisa bersuara tetapi hatinya sakit. Pohon yang tidak bisa bicara, burung yang tidak bisa bicara, kami sedang bicara untuk mereka.” Begitu Andreas Mahuze bicara di depan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jayapura, 5 Maret 2026. Mahuze bersama empat warga lain, yaitu, Sinta Gebze, Simon Petrus Balaigaze, Liborius [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/14/masyarakat-adat-papua-gugat-izin-lingkungan-jalan-psn-merauke/">Masyarakat Adat Papua Gugat Izin Lingkungan Jalan PSN Merauke</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Kami di sini mewakili saudara-saudara kami yang tidak bisa bersuara tetapi hatinya sakit. Pohon yang tidak bisa bicara, burung yang tidak bisa bicara, kami sedang bicara untuk mereka.” Begitu Andreas Mahuze bicara di depan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jayapura, 5 Maret 2026. Mahuze bersama empat warga lain, yaitu, Sinta Gebze, Simon Petrus Balaigaze, Liborius Kodai Moiwend, dan Kanisius Dagil mendaftarkan gugatan izin lingkungan yang Bupati Merauke keluarkan untuk pembangunan jalan proyek strategis nasional Merauke di PTUN Jayapura. Mereka melakukan upacara adat di pintu gerbang PTUN sebelum menyerahkan dokumen gugatan langsung kepada kepala PTUN Jayapura, Merna Cinthia. Sebagai pemilik ulayat, mereka tidak pernah pemerintah dan perusahaan libatkan dalam perencanaan proyek jalan maupun penerbitan izin lingkungan. Yoseph Bladib Gebze, Bupati Merauke menerbitkan izin lingkungan Nomor 100.3.3.2/1105 2025 tentang kelayakan lingkungan hidup rencana pembangunan jalan akses sepanjang 135 kilometer sebagai sarana prasarana ketahanan pangan di Merauke, Papua Selatan. Sinta Gebze mengibaratkan proyek jalan ini seperti pencuri. “Tidak ada sosialisasi untuk masyarakat dari perusahaan maupun pemerintah. Datangkan eksavator menggusur hutan, tanpa izin dari kami masyarakat adat.” Simon amini itu. Pemerintah dan perusahaan, katanya, melakukan penyerobotan tanah adat untuk pembangunan jalan ini. “Semua dilakukan tanpa proses duduk bersama masyarakat, duduk bicara atur tanah ini siapa punya untuk diserahkan kepada perusahaan. Proses negosiasi itu tidak ada.” Proyek pangan dan energi di Merauke, Papua. Foto: Yayasan Pusaka Jalan untuk proyek sawah, tebu, dan sawit Jalan sepanjang 135 km ini melintas dari pesisir barat Merauke di  Distrik Ilwayab ke arah timur melewati Distrik Ngguti, Distrik Kapitel, dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/14/masyarakat-adat-papua-gugat-izin-lingkungan-jalan-psn-merauke/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/14/masyarakat-adat-papua-gugat-izin-lingkungan-jalan-psn-merauke/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Kemilau Mutiara Himpit Wilayah Tangkap Nelayan Lombok</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/13/ketika-kemilau-mewah-mutiara-kikis-ruang-hidup-nelayan-lombok/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/13/ketika-kemilau-mewah-mutiara-kikis-ruang-hidup-nelayan-lombok/#respond</comments>
					<pubDate>13 Mar 2026 20:28:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
										<enclosure url="https://mongabay.co.id/wp-content/uploads/2026/03/Desa-Pulau-Meringkik-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125577</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan Perikanan Kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lampu kristal memantul di kaca etalase dalam gedung pameran Fiera di Vicenza, Kota Vicenza Italia, Jumat (16/1/26). Para kolektor, desainer, dan pembeli perhiasan dari berbagai negara berkumpul dalam gelaran Vicenzaoro Boutique Show itu. Di antara deretan perhiasan mewah itu, butiran mutiara laut selatan dari Lombok turut dipamerkan. Bertekstur bulat sempurna dengan kilau yang lembut, perhiasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/13/ketika-kemilau-mewah-mutiara-kikis-ruang-hidup-nelayan-lombok/">Ketika Kemilau Mutiara Himpit Wilayah Tangkap Nelayan Lombok</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lampu kristal memantul di kaca etalase dalam gedung pameran Fiera di Vicenza, Kota Vicenza Italia, Jumat (16/1/26). Para kolektor, desainer, dan pembeli perhiasan dari berbagai negara berkumpul dalam gelaran Vicenzaoro Boutique Show itu. Di antara deretan perhiasan mewah itu, butiran mutiara laut selatan dari Lombok turut dipamerkan. Bertekstur bulat sempurna dengan kilau yang lembut, perhiasan yang diunggah di akun media sosial Autore, produsen mutiara kenamaan asal Australia terkesan begitu mewah. Siapa sangka, di balik kilau mewah itu, para nelayan  sekitar 12.000 kilometer dari ruang pamerah itu justru terancam ruang hidupnya. Zaenuddin, nelayan di Teluk Jakung, Lombok Timur, tak pernah menyangka, laut yang dulu jadi tempatnya menebar jaring cumi dan ikan pelagis kecil kini nyaris penuh oleh pelampung budidaya mutiara PT Autore Pearl Culture (APC). Pelampung-pelampung warna biru itu mengapung memanjang, saling terhubung oleh tali yang membentang di permukaan laut. Dari kejauhan, bentangan itu terlihat seperti pagar yang membelah teluk. “Dulu, laut di depan kampung ini luas sekali. Sekali melaut bisa dapat banyak. Sekarang sudah berbeda,” kata lelaki 54 tahun  ini  menunjuk ke arah pelampung. Dia dan para nelayan dulu cukup melaut beberapa mil dari pantai. Itu saja perahu berkapasitas 15 PK yang biasa mereka bawa sudah penuh oleh cumi.  Kini, situasi itu nyaris tak pernah terjadi. Zaenuddin bilang, awalnya, hanya beberapa pelampung budidaya di tengah teluk. Lama-kelamaan  bertambah, membentuk jalur panjang yang membentang dari satu sisi teluk ke sisi lain. Bentangan tali longline untuk menggantung kerang mutiara itu kini memenuhi sebagian besar wilayah perairan yang dulu menjadi jalur dan wilayah tangkap&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/13/ketika-kemilau-mewah-mutiara-kikis-ruang-hidup-nelayan-lombok/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/13/ketika-kemilau-mewah-mutiara-kikis-ruang-hidup-nelayan-lombok/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ambisi Proyek Pangan Picu Masalah di Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/13/jejak-ambisi-food-estate-yang-menggerus-hutan-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/13/jejak-ambisi-food-estate-yang-menggerus-hutan-papua/#respond</comments>
					<pubDate>13 Mar 2026 10:40:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ Belseran *]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/17162818/merauke-food-estate-222-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125571</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Proyek Pangan 'Food Estate' Momok Kedaulatan Pangan Lokal]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Merauke dan papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di Merauke, Papua Selatan, hutan bukan sekadar bentang alam. Ia adalah  tempat persediaan pangan, sekolah, sekaligus ruang spiritual bagi masyarakat adat. Di atas tanah yang sama, negara kini merancang proyek pangan dan energi berskala raksasa. Berlabel proyek strategis nasional (PSN), pemerintah melepas jutaan hektar hutan untuk membuka kawasan pertanian dan perkebunan baru. Di tengah ambisi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/13/jejak-ambisi-food-estate-yang-menggerus-hutan-papua/">Ambisi Proyek Pangan Picu Masalah di Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di Merauke, Papua Selatan, hutan bukan sekadar bentang alam. Ia adalah  tempat persediaan pangan, sekolah, sekaligus ruang spiritual bagi masyarakat adat. Di atas tanah yang sama, negara kini merancang proyek pangan dan energi berskala raksasa. Berlabel proyek strategis nasional (PSN), pemerintah melepas jutaan hektar hutan untuk membuka kawasan pertanian dan perkebunan baru. Di tengah ambisi itu, muncul pertanyaan besar: apakah proyek ini benar-benar tentang pangan, atau justru tentang ekspansi komoditas yang mengorbankan hutan dan masyarakat adat.  Pasalnya, di balik rimbunnya hutan itu, hidup masyarakat adat Malind, Maklew, Yei, Khimaima, dan bergantung hidup dari sana. Diskusi bertajuk &#8220;Ada proyek apa di Papua Selatan: Membedah Proyek Sengsara Nasional&#8221; yang libatkan peneliti, jurnalis dan organisasi sipil hadirkan sejumlah temuan. Dari penelusuran lapangan, mereka dapatkan cerita kegagalan program food estate, kerusakan lingkungan, serta krisis keadilan bagi masyarakat adat. Franki Samperante, Direktur Eksekutif  Yayasan Pusaka Bentala Rakyat membuka diskusi dengan menyoroti perubahan istilah terkait PSN. Dari yang sebelumnya ‘proyek strategis nasional’ menjadi ‘program strategis nasional’, sebagaimana Peraturan Menteri Koordinator Perekonomian. Namun, perubahan itu, katanya, hanya bersifat kosmetik. “Kalau kita lihat Permenko terakhir terkait PSN, sempat ramai karena namanya diubah. Padahal sebenarnya yang berubah hanya judulnya, dari proyek menjadi program. Praktiknya sama saja,” katanya, dalam diskusi akhir Februari lalu. Agoeng Wijaya, Jurnalis Tempo ceritakan mengenai penelusuran Tempo yang menemukan fakta bahwa rencana pengembangan kawasan pangan di Merauke sudah Prabowo Subianto bicarakan ketika dia masih menjabat menteri pertahanan. Tempo juga menemukan bila Prabowo sempat memperoleh jaminan lahan sekitar 100.000 hektar dari politisi lokal Papua. Semula, kata Agoeng,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/13/jejak-ambisi-food-estate-yang-menggerus-hutan-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/13/jejak-ambisi-food-estate-yang-menggerus-hutan-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Paus Paruh Longman, Jenis Langka yang Terpantau di Laut Sulawesi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/13/paus-paruh-longman-jenis-langka-yang-terpantau-di-laut-sulawesi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/13/paus-paruh-longman-jenis-langka-yang-terpantau-di-laut-sulawesi/#respond</comments>
					<pubDate>13 Mar 2026 08:26:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/13081706/Paus-paruh-longman-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125591</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nama paus paruh Longman (Indopacetus pacificus) menjadi satu dari 14 megafauna laut yang berhasil dideteksi tim peneliti Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) saat melakukan ekspedisi di laut Sulawesi bersama kapal OceanX, akhir Januari 2026. Mamalia laut tersebut termasuk langka dan belum banyak dieksplorasi secara fisik maupun ilmiah. Kemunculannya masih sangat sedikit di seluruh dunia. Dibandingkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/13/paus-paruh-longman-jenis-langka-yang-terpantau-di-laut-sulawesi/">Paus Paruh Longman, Jenis Langka yang Terpantau di Laut Sulawesi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nama paus paruh Longman (Indopacetus pacificus) menjadi satu dari 14 megafauna laut yang berhasil dideteksi tim peneliti Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) saat melakukan ekspedisi di laut Sulawesi bersama kapal OceanX, akhir Januari 2026. Mamalia laut tersebut termasuk langka dan belum banyak dieksplorasi secara fisik maupun ilmiah. Kemunculannya masih sangat sedikit di seluruh dunia. Dibandingkan dengan keluarga paus berparuh lain, paus yang juga dikenal dengan nama paus hidung botol tropis atau paus paruh indo pasifik itu dikenal langka dan paling sedikit diketahui. Terlebih, karena mereka terbiasa hidup di perairan hangat, dalam, dan pelagis di wilayah tropis dan subtropis di Samudera Hindia dan Pasifik. Saking langka dan sedikit publikasi, spesies tersebut diketahui baru bisa dideskripsikan melalui dua tengkoraknya yang ditemukan di pantai. Pada 1882 di Australia oleh HA Longman yang namanya kemudian disematkan pada 1926, dan 1955 di Afrika. Sekar Mira, Peneliti Mamalia Laut BRIN, menuturkan fisik paus paruh Longman memang lebih besar dari paus berparuh lain yang ada sekarang. “Jadi, ia bermoncong dan ada melon, yaitu jaringan lemak di kepala. Itu adalah lumba-lumba. Lalu, sirip dorsalnya lebih ke belakang, sementara lumba-lumba ada di tengah tubuh,” jelasnya kepada Mongabay, Rabu (11/3/2026). Paus paruh Longman sudah mendapatkan perlindungan penuh dari Pemerintah Indonesia sejak 2025 melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 66 Tahun 2025 tentang Jenis Ikan yang Dilindungi. Sayangnya, perlindungan tersebut belum lengkap, karena tidak ada bukti kehadirannya. “Secara hukum sudah masuk perlindungan, namun evidence belum. Jadi tugas kami adalah memberikan dukungan bukti yang dibutuhkan itu,” jelasnya. Jenis ini sempat terdampar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/13/paus-paruh-longman-jenis-langka-yang-terpantau-di-laut-sulawesi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/13/paus-paruh-longman-jenis-langka-yang-terpantau-di-laut-sulawesi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Pendidikan dan Aksi Lingkungan Mulai dari Sekolah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/13/ketika-pendidikan-dan-aksi-lingkungan-mulai-dari-sekolah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/13/ketika-pendidikan-dan-aksi-lingkungan-mulai-dari-sekolah/#respond</comments>
					<pubDate>13 Mar 2026 05:08:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Moh Tamimi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/13051303/sampo-organik-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125575</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali, jawa, dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, gaya hidup, inspiratif, komunitas lokal, pencemaran, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Penyadartahuan soal lingkungan perlu sejak dini, salah satu melalui pendidikan di sekolah. Beberapa sekolah mulai melakukan pendidikan lingkungan secara intensif, baik di tingkat sekolah dasar maupun menengah. Mereka telah mengambil peran sesuai cara mereka masing-masing. Sekolah Menengah Pertama (SMP) Santa Maria, Surabaya, misal, mulai ada pendidikan lingkungan sejak 2006. Ide ini berawal dari kegelisahan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/13/ketika-pendidikan-dan-aksi-lingkungan-mulai-dari-sekolah/">Ketika Pendidikan dan Aksi Lingkungan Mulai dari Sekolah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Penyadartahuan soal lingkungan perlu sejak dini, salah satu melalui pendidikan di sekolah. Beberapa sekolah mulai melakukan pendidikan lingkungan secara intensif, baik di tingkat sekolah dasar maupun menengah. Mereka telah mengambil peran sesuai cara mereka masing-masing. Sekolah Menengah Pertama (SMP) Santa Maria, Surabaya, misal, mulai ada pendidikan lingkungan sejak 2006. Ide ini berawal dari kegelisahan seorang guru, Martinus Ekonugroho, terhadap persoalan-persoalan di sekitar sekolah. Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)&#8211; sekarang Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn)&#8211; ini  di dalam kelas berusaha memantik siswa untuk kritis terhadap berbagai persoalan lingkungan, termasuk sampah. Dia juga terkadang untuk belajar di luar kelas, mengamati sekitar. “Saya mengajak anak-anak untuk berani keluar dari sekolah, keluar dari kelas untuk belajar mulai dari membangun keprihatinan,” katanya Januari lalu. Sekitar 2006-2007, Martinus beberapa kali mengajak siswa menelusuri kali di Surabaya. Dia bekerja sama dengan Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) dalam mendidik siswa tentang lingkungan, terutama tentang sungai. Belajar di luar kelas itu mendapat antusias para siswa. Pada 2006,  Martinus juga mendirikan Komunitas Duta Lingkungan (DuLink) sebagai ruang bagi siswa untuk belajar tentang lingkungan. Martinus dinilai sebagai satu guru pembaharu oleh Ashoka sejak 2011. Komunitas DuLink sampai saat ini aktif dengan berbagai kegiatan lingkungan. Ia jadi komunitas penggerak pendidikan lingkungan di SMP Santa Maria. Dulink melahirkan beberapa pembaharu muda, baik yang bergerak dengan pembuatan produk sederhana, kampanye lingkungan, sampai kepemimpinan. Antara lain, Ivan Winanto, membuat nutrisi tanaman dari urine, mereka namai Sutarin (susu tanaman dari urine). Benedikto Gigih Putra Ranira, siswa kelas IX SMP Santa Maria, mengatakan, saat ini di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/13/ketika-pendidikan-dan-aksi-lingkungan-mulai-dari-sekolah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/13/ketika-pendidikan-dan-aksi-lingkungan-mulai-dari-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jerat Hukum karena Jaga Lingkungan dari Nikel</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/jerat-hukum-karena-jaga-lingkungan-dari-nikel/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/jerat-hukum-karena-jaga-lingkungan-dari-nikel/#respond</comments>
					<pubDate>13 Mar 2026 01:21:47 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230639/Nikel-haltim-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=125567</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Jerat Hukum karena Jaga Lingkungan dari Nikel]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Industri nikel dari tambang sampai kawasan industri terus ekspansi di Timur Indonesia dari Sulawesi, Maluku Utara, Maluku sampai Papua. Dengan membawa label ‘transisi energi’ pemerintah terus genjot industri ini. Gabung hilirisasi dan sematan label proyek strategis nasional pun makin memperkuat industri ini. Masyarakat di lokasi tambang maupun kawasan industri nikel merasakan dampak ketika investasi masuk, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/03/jerat-hukum-karena-jaga-lingkungan-dari-nikel/">Jerat Hukum karena Jaga Lingkungan dari Nikel</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Industri nikel dari tambang sampai kawasan industri terus ekspansi di Timur Indonesia dari Sulawesi, Maluku Utara, Maluku sampai Papua. Dengan membawa label ‘transisi energi’ pemerintah terus genjot industri ini. Gabung hilirisasi dan sematan label proyek strategis nasional pun makin memperkuat industri ini. Masyarakat di lokasi tambang maupun kawasan industri nikel merasakan dampak ketika investasi masuk, dari hutan yang hilang,  air tercemar, polusi udara sampai perkebunan, pertanian maupun wilayah tangkap terganggu dan lain-lain.  Ada yang berupaya mempertahankan lingkungan tak rusak, sebelum tambang masuk, ada juga yang protes, melawan ketika dampak buruk mulai mereka rasakan. Suara-suara mereka seakan tak dianggap. Investasi tetap masuk. Bahkan, tak jarang, yang berupaya mempertahankan tanah maupun lingkungan tak rusak, terjerat hukum. Apakah ini investasi dan transisi energi berkeadilan? The post Jerat Hukum karena Jaga Lingkungan dari Nikel appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/03/jerat-hukum-karena-jaga-lingkungan-dari-nikel/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/jerat-hukum-karena-jaga-lingkungan-dari-nikel/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kode Rahasia di Kepala Burung Kasuari</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/13/kode-rahasia-di-kepala-burung-kasuari/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/13/kode-rahasia-di-kepala-burung-kasuari/#respond</comments>
					<pubDate>13 Mar 2026 01:00:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[*Yanti Samanui]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Mongabay]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/06/22074436/west-papua_5149-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125553</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[indonesia dan papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Burung kasuari menjadi salah satu burung terbesar dan paling berbahaya di dunia. Bulu di tubuhnya dominan berwarna hitam legam yang berkilau, namun memiliki ‘mahkota’ khas di kepalanya. Bentuknya seperti tanduk, dikenal dengan casque yang terdiri dari lapisan keratin. Tapi tahukah kamu kalau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/13/kode-rahasia-di-kepala-burung-kasuari/">Kode Rahasia di Kepala Burung Kasuari</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Burung kasuari menjadi salah satu burung terbesar dan paling berbahaya di dunia. Bulu di tubuhnya dominan berwarna hitam legam yang berkilau, namun memiliki ‘mahkota’ khas di kepalanya. Bentuknya seperti tanduk, dikenal dengan casque yang terdiri dari lapisan keratin. Tapi tahukah kamu kalau ada rahasia di balik casque tiap burung kasuari? Saat dua individu bertemu di jalur hutan, mereka tidak langsung menyerang. Sebaliknya, keduanya saling memandang dan ‘membaca’ identitas lawannya. Apakah sejenis, lawan jenis, atau bahkan spesies berbeda. Analisa itu dilihat hanya dari bentuk mahkota yang menghiasi kepalanya. Penelitian  terbaru dari jurnal Ornithology (2025) mengungkap bahwa casque tersebut  bukan hanya  sekadar ornamen aneh, melainkan kode visual yang memungkinkan ketiga spesies kasuari di Papua mempertahankan batas wilayah antara spesies tanpa harus bertarung sengit. Penelitian lain juga menyebutkan casque ini memiliki fungsi yang belum sepenuhnya dipahami, namun diduga berperan dalam komunikasi, termoregulasi, atau perlindungan kepala saat berlari menembus semak belukar. Tinggi kasuari bisa mencapai 1,5 meter dengan bobot mencapai 75 kg. Satwa ini menjadi salah satu burung endemik dari Papua. Ia dikenal sebagai paling berbahaya dan mematikan karena cakarnya dan sifatnya yang agresif bila merasa terancam. Menurut IUCN terdapat 3 spesies kasuari di Indonesia, diantaranya, kasuari Kerdil (Casuarius bennetti), Kasuari Selatan (C. casuarius), dan Kasuari Utara (C. unappendiculatus) dan semuanya memiliki status Least Concern. Ketiganya memiliki perbedaan baik secara morfologi dan persebaran. Seperti apa keunikannya? Ada kurang dari 5.000 burung kasuari yang tersisa di Australia dan masuk dalam daftar spesies&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/13/kode-rahasia-di-kepala-burung-kasuari/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/13/kode-rahasia-di-kepala-burung-kasuari/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Desakan Audit Menguat Ketika Tambang Nikel di Pulau Obi Terjerat Kasus Suap</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/12/desakan-audit-menguat-ketika-tambang-nikel-di-pulau-obi-terjerat-kasus-suap/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/12/desakan-audit-menguat-ketika-tambang-nikel-di-pulau-obi-terjerat-kasus-suap/#respond</comments>
					<pubDate>12 Mar 2026 21:00:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rabul Sawal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/11/22010311/kawasi-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125562</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[halmahera dan maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap dugaan kerugian negara sekitar Rp59 miliar dalam pengurusan pajak PT Wanatiara Persada (WP), perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Angka ini muncul setelah nilai pajak bumi dan bangunan (PBB) perusahaan diduga dipangkas secara tidak wajar. Asep Guntur Rahayu, Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/12/desakan-audit-menguat-ketika-tambang-nikel-di-pulau-obi-terjerat-kasus-suap/">Desakan Audit Menguat Ketika Tambang Nikel di Pulau Obi Terjerat Kasus Suap</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap dugaan kerugian negara sekitar Rp59 miliar dalam pengurusan pajak PT Wanatiara Persada (WP), perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Angka ini muncul setelah nilai pajak bumi dan bangunan (PBB) perusahaan diduga dipangkas secara tidak wajar. Asep Guntur Rahayu, Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekutif KPK, menyebut,  awalnya WP punya kewajiban PBB sekitar Rp75 miliar tahun pajak 2023. Belakangan nilai berubah drastis hanya Rp15,7 miliar. “Nilai itu turun Rp59,3 miliar atau sekitar 80% dari nilai awal. Akibatnya pendapatan negara berkurang sangat signifikan,” katanya dikutip dari Tempo, 11 Januari 2025. Temuan itu muncul saat KPK melakukan operasi tangkap tangan atas dugaan kasus suap di lingkungan Kantor Pelayanan Pajak (KKP) Madya Jakarta Utara pada 9-10 Januari 2026. Dalam operasi itu, komisi anti-rasuah menangkap delapan orang, lima sebagai tersangka. Tiga tersangka merupakan pegawai pajak yang menerima suap: Dwi Budi, Kepala KPP Madya Jakarta Utara, Agus Syaifudin (AGS) selaku Kepala Seksi Pengawas dan Konsultasi, dan Askob Bahtiar, tim penilai KPP Madya Jakarta Utara. Mereka disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 12B UU No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No.20/2001 jo. Pasal 606 ayat (2) UU No.1/2026 tentang Penyesuaian Pidana jo. Pasal 20 UU 20 UU No.1/2023 KUHP. Dua lainnya adalah pemberi suap, yakni,  Abdul Kadim Sahbudin sebagai konsultan pajak perusahaan dan Edy Yulianto selaku staf WP. Keduanya kena Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU No.31/1999 sebagaimana diubah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/12/desakan-audit-menguat-ketika-tambang-nikel-di-pulau-obi-terjerat-kasus-suap/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/12/desakan-audit-menguat-ketika-tambang-nikel-di-pulau-obi-terjerat-kasus-suap/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Penolakan Praperadilan Kepala Adat Dusun Lelayang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/12/menyoal-penolakan-praperadilan-kepala-adat-dusun-lelayang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/12/menyoal-penolakan-praperadilan-kepala-adat-dusun-lelayang/#respond</comments>
					<pubDate>12 Mar 2026 10:00:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Themmy Doaly]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/05/22002748/11-mayawana-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125554</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hak-hak masyarakat adat terus saja terabaikan. Salah satu terlihat dari patahnya upaya praperadilan Tarsisius Fendy Sesupi, Kepala Adat Dusun Lelayang, Ketapang, Kalimantan Barat. Kamis (5/3/26), putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Ketapang, menolak permohonan sekaligus mengukuhkan status tersangka Fendy yang Polres Ketapang tetapkan, 4 Agustus 2025. Berbagai organisasi masyarakat sipil pun menyesalkan putusan itu dan menilai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/12/menyoal-penolakan-praperadilan-kepala-adat-dusun-lelayang/">Menyoal Penolakan Praperadilan Kepala Adat Dusun Lelayang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hak-hak masyarakat adat terus saja terabaikan. Salah satu terlihat dari patahnya upaya praperadilan Tarsisius Fendy Sesupi, Kepala Adat Dusun Lelayang, Ketapang, Kalimantan Barat. Kamis (5/3/26), putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Ketapang, menolak permohonan sekaligus mengukuhkan status tersangka Fendy yang Polres Ketapang tetapkan, 4 Agustus 2025. Berbagai organisasi masyarakat sipil pun menyesalkan putusan itu dan menilai jadi  preseden buruk bagi perlindungan masyarakat adat. Lelayang merupakan dusun yang menjadi bagian dari struktur adat Masyarakat Dayak Kualan Hilir, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang, Kalbar. Sejak 2022, mereka menolak kehadiran PT Mayawana Persada (Mayawana), perusahaan kayu dengan konsesi 136.710 hektar. Bahkan, pada  2023, mereka sempat menjatuhkan sanksi adat kepada perusahaan karena menggusur wilayah adat dan kebun yang jadi sumber hidup warga. Namun, pemberian sanksi adat itu justru menempatkan Fendy sebagai tersangka tindak pidana pemerasan, merujuk pasal 368 KUHP. Pada Rabu (18/2/26), dia bersama Koalisi Advokasi Masyarakat Adat (KAMT), mendaftarkan permohonan praperadilan ke Pengadilan Negeri Ketapang. Langkah itu mereka tempuh demi membuktikan kekeliruan prosedur penetapan tersangka pada pemohon. Rahmawati, perwakilan KAMT, mengatakan, pemohon juga mempersoalkan penerbitan daftar pencarian orang (DPO). Sebab, selama proses hukum, Kepala Adat Dusun Lelayang tidak pernah meninggalkan kampungnya. “Bahkan DPO ditetapkan sebelum ditetapkan tersangka. Ini keanehan dan perlu kita uji,” katanya dalam jumpa pers daring, Rabu (4/3/26). Kejanggalan lain, katanya, penyidik tidak pernah memberikan surat pemanggilan secara langsung, dengan alasan jarak Polres yang jauh dari rumah pemohon. Surat-surat itu kemudian mereka titipkan ke pihak lain. Parahnya, surat pemanggilan sempat titipkan pada pelapor dan tidak sampai pada kuasa hukum terlapor ataupun terlapor&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/12/menyoal-penolakan-praperadilan-kepala-adat-dusun-lelayang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/12/menyoal-penolakan-praperadilan-kepala-adat-dusun-lelayang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ancaman El Nino bagi Buah Lokal Sumatera Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/12/ancaman-el-nino-bagi-buah-lokal-sumatera-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/12/ancaman-el-nino-bagi-buah-lokal-sumatera-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>12 Mar 2026 07:52:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/01/22030924/Sumatera-Selatan-terkenal-dengan-buah-dukunya-yang-manis-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125555</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, solusi iklim, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Saat ini, masyarakat di Sumatera Selatan mengalami gagal panen buahan lokal. Seperti duku [Lansium domesticum], durian, dan buah hutan lainnya. Ancaman El Nino 2026, diprediksi akan membuat buah lokal kembali gagal panen. “Tahun ini sedikit sekali pohon duku kami berbuah. Bahkan, ada beberapa pohon terlihat akan mati,” kata Samsuddin, warga Desa Rasuan, Kecamatan Madang Suku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/12/ancaman-el-nino-bagi-buah-lokal-sumatera-selatan/">Ancaman El Nino bagi Buah Lokal Sumatera Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Saat ini, masyarakat di Sumatera Selatan mengalami gagal panen buahan lokal. Seperti duku [Lansium domesticum], durian, dan buah hutan lainnya. Ancaman El Nino 2026, diprediksi akan membuat buah lokal kembali gagal panen. “Tahun ini sedikit sekali pohon duku kami berbuah. Bahkan, ada beberapa pohon terlihat akan mati,” kata Samsuddin, warga Desa Rasuan, Kecamatan Madang Suku I, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan, awal Maret 2026. Penyebabnya, saat musim berbunga yang berlangsung September-Oktober tahun 2025, cuaca tidak menentu, seperti angin kencang, hujan, sehingga banyak bunga duku gugur. Padahal, dari Februari-April 2025, masih banyak pohon duku berbuah. Bahkan pada 2024, buah duku berlimpah, sehingga harganya jatuh di pasaran. Mencapai Rp2 ribu per kilogram dari tangan pemilik kebun. Dijelaskan Samsuddin, sejak 2014, beberapa pohon duku di sekitar Sungai Komering di Kabupaten OKU Timur, mulai banyak mati. Terutama pohon berusia tua. Pada awal 2025, dikutip dari globalplanet.news, wilayah yang banyak mengalami kematian pohon duku di Kabupaten OKU Timur, yakni Desa Perjaya, Desa Negeri Agung  dan Desa Pulau Negara di Kecamatan BP Peliung. Terkait hal tersebut, pemerintah Kabupaten OKU Timur melakukan pembagian bibit duku baru, serta meminta masyarakat tidak menggunakan racun saat membersihkan rumput di sekitar pohon. Racun rumput dinilai mengganggu daya tahan akar pohon duku. Sumatera Selatan terkenal dengan buah dukunya yang manis. Ada dua duku yang terkenal yakni duku Komering dan duku Muara Enim. Foto: Humaidy Kenedy/Mongabay Indonesia Kondisi yang sama dialami puluhan jongot atau kebun buah hutan di wilayah Penukal, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. “Banyak yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/12/ancaman-el-nino-bagi-buah-lokal-sumatera-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/12/ancaman-el-nino-bagi-buah-lokal-sumatera-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Puluhan Paus Pilot  Mati Terdampar di NTT</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/12/puluhan-paus-pilot-mati-terdampar-di-ntt/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/12/puluhan-paus-pilot-mati-terdampar-di-ntt/#respond</comments>
					<pubDate>12 Mar 2026 02:51:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/13010711/4B-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125536</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebanyak 55  paus pilot (Globicephala macrorhynchus) terdampar di perairan Batutua, Desa Deranitan, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari jumlah itu, 21 mati, meski upaya penyelamatan sempat dilakukan. Insiden terdamparnya puluhan  paus itu pertama kali warga ketahui pada Senin (9/3/26) sore, sekitar pukul 15.30 (WITA). Warga lantas melaporkan Polsek Rote [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/12/puluhan-paus-pilot-mati-terdampar-di-ntt/">Puluhan Paus Pilot  Mati Terdampar di NTT</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebanyak 55  paus pilot (Globicephala macrorhynchus) terdampar di perairan Batutua, Desa Deranitan, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari jumlah itu, 21 mati, meski upaya penyelamatan sempat dilakukan. Insiden terdamparnya puluhan  paus itu pertama kali warga ketahui pada Senin (9/3/26) sore, sekitar pukul 15.30 (WITA). Warga lantas melaporkan Polsek Rote Barat Daya. Setelah berkoordinasi dengan Lanal Pulau Rote, petugas kemudian melakukan pengecekan ke lokasi. Sampai disana, petugas kemudian berusaha melakukan penyelamatan dengan mendorong mereka ke perairan yang lebih dalam. Namun, banyaknya jumlah paus yang terdampar membuat petugas kewalahan. Upaya itu bahkan berlangsung hingga lewat tengah malam. Imam Fauzi, Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, katakan, jumlah paus yang terdampar sangat banyak hingga menyulitakan proses evakuasi. “Dari 50 yang terdampar, 15 berhasil didorong ke tengah, enam mati,” katanya, Selasa (10/3/26). Seolah berkejaran dengan waktu, jumlah yang mati terus bertambah, bahkan hingga 21 paus . Beberapa memiliki panjang hingga 5,1 meter. “Jadi, total yang berhasil diselamatkan 34.&#8221; Saat ini, petugas masih melakukan pengawasan untuk memastikan paus-paus itu selamat. Untuk puluhan paus yang mati, petugas telah menguburkan di sekitar pantai. Andrew Lz Penna, Staf Blue Forest Site Rote kepada Mongabay mengatakan, ini kali pertama di wilayah perairan itu. Dia sesalkan aksi sebagian masyarakat justru memanfaatkan peristiwa itu berfoto dan bereuforia. “Padahal, kalau saja mereka turut membantu upaya penyelamatan dengan mendorongnya ke laut, mungkin paus yang mati tidak akan sebanyak itu,” kata Andrew. Gerombolan paus pilot paus pilot (Globicephala macrorhynchus) yang berenang di perairan dangkal Batutua, Pantai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/12/puluhan-paus-pilot-mati-terdampar-di-ntt/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/12/puluhan-paus-pilot-mati-terdampar-di-ntt/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menagih Janji Reforma Agraria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/11/menagih-janji-reforma-agraria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/11/menagih-janji-reforma-agraria/#respond</comments>
					<pubDate>11 Mar 2026 18:20:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/03230631/Merauke-hutan-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125550</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Reforma agraria yang Pemerintah Indonesia janjikan dari masa ke masa sebatas retorika. Layaknya dramaturgi, pemerintah hanya sibuk menebar janji dengan kebijakan yang dianggap untuk mencapai reforma agraria. Kenyataannya, konflik agraria terus mengalami peningkatan. Masyarakat harus berjuang mendapatkan hak atas tanah, berhadapan dengan korporasi bahkan pemerintah dan berbenturan dengan aparat yang menjadi penjaga. Dewi Kartika, Sekretaris [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/11/menagih-janji-reforma-agraria/">Menagih Janji Reforma Agraria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Reforma agraria yang Pemerintah Indonesia janjikan dari masa ke masa sebatas retorika. Layaknya dramaturgi, pemerintah hanya sibuk menebar janji dengan kebijakan yang dianggap untuk mencapai reforma agraria. Kenyataannya, konflik agraria terus mengalami peningkatan. Masyarakat harus berjuang mendapatkan hak atas tanah, berhadapan dengan korporasi bahkan pemerintah dan berbenturan dengan aparat yang menjadi penjaga. Dewi Kartika, Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), mengatakan, setahun terakhir rezim Prabowo Subianto berkuasa bukanlah masa transisi menuju keadilan. Melainkan masa pengukuhan konsesi bagi para elit di atas penderitaan petani dan masyarakat adat. Kebijakan agraria pada tahun pertama Pemerintahan Prabowo-Gibran, katanya,  menampilkan paradoks kekuasaan. Ironisnya, sebelum menjadi presiden, Prabowo pernah menulis buku “Paradoks Indonesia dan Solusinya”. Alih-alih membongkar paradoks itu, pemerintahan yang dia pimpin justru melestarikan secara sadar. Ibarat pedal gas yang ditekan, katanya, rezim ini terus melaju kencang, tetapi ke arah yang keliru. “Justru semakin menjauhkan cita-cita ataupun bahkan janji politik tentang agenda reforma agraria,&#8221; katanya, belum lama ini di Jakarta. Jalur salah ini, katanya,  adalah pilihan politik yang tetap mempertahankan struktur agraria yang timpang. Alih-alih redistribusi tanah kepada petani kecil, pemerintah justru memberikan karpet merah kepada korporasi skala besar melalui berbagai skema investasi. Janji reforma agraria yang termaktub dalam Asta Cita, terutama poin kedua dan keenam dia nilai hanya hiasan retorika tanpa implementasi yang menyentuh akar masalah struktural. Petani dari Deli Serdang menangih janji penyelesaian konflik lahan dengan PTPN II di Jakarta. Foto: KPA Kian meningkat Data KPA, sepanjang 2025 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Terjadi 341 letusan konflik agraria, melonjak 15% dibandingkan 2024. Konflik ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/11/menagih-janji-reforma-agraria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/11/menagih-janji-reforma-agraria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Organisasi Masyarakat Sipil Nilai Bank Tanah Anti Reforma Agraria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/11/organisasi-masyarakat-sipil-nilai-bank-tanah-anti-reforma-agraria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/11/organisasi-masyarakat-sipil-nilai-bank-tanah-anti-reforma-agraria/#respond</comments>
					<pubDate>11 Mar 2026 10:30:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Della Syahni]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/08/22011847/Dikhawatirkan-tanah-tanah-masyarakat-akan-terancam-oleh-proyek-strategis-nasional-PSN-kawasan-ekonomi-khusus-food-estate-hingga-bank-tanah-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125548</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Konflik Agraria Tak Berujung]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berbagai organisasi masyarakat sipil mengkritik Surat Edaran Menteri ATR/BPN Nomor B/LR.03.01/48/1/2026 tentang Penguatan Reforma Agraria. Pasalnya, regulasi yang terbit 13 Januari itu mengatur penataan aset reforma agraria, dengan pemberian hak atas tanah bagi rakyat melalui mekanisme hak berjangka di atas hak pengelolaan (HPL) bank tanah. Selain itu, SE itu juga menginstruksikan Badan Bank Tanah berkoordinasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/11/organisasi-masyarakat-sipil-nilai-bank-tanah-anti-reforma-agraria/">Organisasi Masyarakat Sipil Nilai Bank Tanah Anti Reforma Agraria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berbagai organisasi masyarakat sipil mengkritik Surat Edaran Menteri ATR/BPN Nomor B/LR.03.01/48/1/2026 tentang Penguatan Reforma Agraria. Pasalnya, regulasi yang terbit 13 Januari itu mengatur penataan aset reforma agraria, dengan pemberian hak atas tanah bagi rakyat melalui mekanisme hak berjangka di atas hak pengelolaan (HPL) bank tanah. Selain itu, SE itu juga menginstruksikan Badan Bank Tanah berkoordinasi dengan Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) dan jajaran Kementerian ATR/BPN serta melakukan sosialisasi dengan masyarakat. Dewi Kartika, Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menilai mekanisme HPL Bank Tanah sebagai kekeliruan besar dan bertentangan dengan konstitusi, serta Undang-undang Pokok Agraria (UUPA). Karena, ia memperkuat paradigma negara sebagai pemilik tanah dan menghidupkan kembali asas domein verklaring yang UUPA hapus. “Ini bertentangan dengan pasal 33 ayat 3 UUD 1945, UU PA dan berbagai putusan Mahkamah Konstitusi tentang Hak Menguasai Negara. Frasa ’dikuasai negara’ dalam pasal 33 ayat 3 tidak tepat dialihkan kepada badan hukum semi-private seperti Bank Tanah,” katanya. KPA menilai, SE itu tidak sah karena bertentangan dengan UU dan peraturan di atasnya. Apalagi, surat edaran menteri merupakan petunjuk operasional instansi, sehingga tidak bisa jadi dasar hukum untuk memaksakan aturan atau sanksi pada masyarakat. Selain itu, SE ini juga  bertentangan dengan Perpres 62/2023 tentang Percepatan Pelaksanaan Reforma Agraria. Dalam hal ini Kementerian ATR/BPN dia nilai menyelewengkan agenda reforma agraria dan lari dari tanggung jawab untuk redistribusi tanah. Bank Tanah, katanya, justru menjalankan fungsi dan kewajiban kementerian. “Begitu banyak keistimewaan untuk mengurus agraria, mulai perencanaan, perolehan tanah, pengadaan tanah, pengelolaan tanah, pemanfaatan tanah hingga redistribusi tanah. Wewenang Bank Tanah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/11/organisasi-masyarakat-sipil-nilai-bank-tanah-anti-reforma-agraria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/11/organisasi-masyarakat-sipil-nilai-bank-tanah-anti-reforma-agraria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kejutan dari Ngengat Spesies Baru Papua dan Sulawesi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/11/kejutan-dari-ngengat-spesies-baru-papua-dan-sulawesi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/11/kejutan-dari-ngengat-spesies-baru-papua-dan-sulawesi/#respond</comments>
					<pubDate>11 Mar 2026 08:49:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/11083151/Cover-ngengat-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125543</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di dunia fiksi, ngengat memiliki reputasi yang buruk. Misalnya, dalam film The Silence of the Lamb, ngengat spesies Acherontia atropos digunakan sebagai jejak pelaku pembunuhan berantai. Ada gambar tengkorak di punggungnya, seolah-olah ngengat itu mewakili kabar gelap. Namun di dunia nyata, ngengat bukanlah makhluk perlambang kematian. Mereka justru pahlawan malam yang diam-diam menjaga keseimbangan ekosistem. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/11/kejutan-dari-ngengat-spesies-baru-papua-dan-sulawesi/">Kejutan dari Ngengat Spesies Baru Papua dan Sulawesi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di dunia fiksi, ngengat memiliki reputasi yang buruk. Misalnya, dalam film The Silence of the Lamb, ngengat spesies Acherontia atropos digunakan sebagai jejak pelaku pembunuhan berantai. Ada gambar tengkorak di punggungnya, seolah-olah ngengat itu mewakili kabar gelap. Namun di dunia nyata, ngengat bukanlah makhluk perlambang kematian. Mereka justru pahlawan malam yang diam-diam menjaga keseimbangan ekosistem. Tugasnya di alam antara lain menyerbuki bunga yang mekar malam hari, menggantikan kupu-kupu yang bertugas siang hari. Di Indonesia, dua spesies ngengat baru ditemukan, awal Maret 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menamai mereka Glyphodella fojaensis dan Chabulina celebesensis. Tidak ada gambar tengkorak di punggungnya. Namun yang ada lebih berupa bintik dan garis geometris sederhana pada sayap. Meski begitu, tidak berarti dua ngengat baru ini tidak cukup menarik perhatian. “Glyphodella fojaensis, spesies baru, merupakan satu-satunya spesies dari genus ini yang ditemukan di Indonesia, sedangkan pada genus Chabulina terdapat tiga spesies: C. celebesensis, spesies baru, C. onychinalis, dan C. tenera,” tulis Hari Sutrisno dan Rosichon Ubaidillah, keduanya peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, BRIN, dalam jurnal Raffles Bulletin of Zoology. Inilah ngengat jenis baru dari Papua dan Sulawesi. Foto: Dok. BRIN Laporan penelitian mereka terbit Februari 2026, dengan judul “Description of two new endemic species of the closely related genera, Glyphodella and Chabulina Shaffer &amp; Munroe, 2007, from Indonesia (Lepidoptera: Crambidae: Spilomelinae).” Hari Sutrisno adalah guru besar riset di bidang zoologi di BRIN yang memiliki pengalaman panjang terkait penelitian ngengat di Indonesia. Sementara Rosichon Ubaidillah merupakan guru besar dan peneliti senior, serta pakar taksonomi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/11/kejutan-dari-ngengat-spesies-baru-papua-dan-sulawesi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/11/kejutan-dari-ngengat-spesies-baru-papua-dan-sulawesi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Desak DPR Serius Proses dan Sahkan RUU Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/11/mendesak-pengesahan-ruu-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/11/mendesak-pengesahan-ruu-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>11 Mar 2026 03:34:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ Belseran *]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/10141919/Sasi-Adat-Hutan-yang-Dilakukan-Masyarakat-Adat-Hatumete-Buntut-Protes-Penanaman-PAL-HPK--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125522</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat kembali mendapat momentum baru. Lewat evaluasi program legislasi nasional (prolegnas) 2026, Badan Legislasi (Baleg) DPR baru-baru ini memutuskan  mengubah nomenklatur RUU Masyarakat Hukum Adat menjadi RUU Masyarakat Adat. Berbagai kalangan mendorong pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam tahun ini. Bob Hasan, Ketua Baleg DPR mengatakan, evaluasi prolegnas itu mencakup penyesuaian sejumlah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/11/mendesak-pengesahan-ruu-masyarakat-adat/">Desak DPR Serius Proses dan Sahkan RUU Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat kembali mendapat momentum baru. Lewat evaluasi program legislasi nasional (prolegnas) 2026, Badan Legislasi (Baleg) DPR baru-baru ini memutuskan  mengubah nomenklatur RUU Masyarakat Hukum Adat menjadi RUU Masyarakat Adat. Berbagai kalangan mendorong pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam tahun ini. Bob Hasan, Ketua Baleg DPR mengatakan, evaluasi prolegnas itu mencakup penyesuaian sejumlah inisiatif RUU serta perubahan nomenklatur agar lebih tepat secara substansi dan arah kebijakan. “Penyesuaian ini dilakukan agar pembahasan RUU lebih efektif dan sesuai kebutuhan hukum nasional,” katanya. Veni Siregah, Koordinator Koalisi Kawal RUU Masyarakat Adat sekaligus Pengkampanye Senior Kaoem Telapak, mengatakan, perubahan istilah  memang menjadi tututan sejak awal. Dia pun menyambut baik keputusan perubahan itu. “Diksi masyarakat adat memang sejak awal yang kami kawal. Secara substantif, pengakuan masyarakat adat berarti juga mengakui masyarakat hukum adat dan masyarakat tradisional sebagai mandat konstitusi,” katanya. Dia menjelaskan,  penggunaan istilah masyarakat adat dianggap lebih progresif karena menempatkan komunitas adat sebagai subjek hukum dengan identitas budaya, relasi kuat dengan wilayah leluhur. Juga,  sistem nilai yang mengatur kehidupan ekonomi, sosial, dan politik mereka. Istilah itu juga merujuk pada Pasal 18B ayat (2) dan Pasal 28I ayat (3) UUD 1945, yang menegaskan pengakuan negara terhadap hak masyarakat adat beserta hak tradisionalnya. Sebaliknya,  istilah masyarakat hukum adat cenderung mempersempit pengakuan karena lebih menekankan aspek sistem hukum adat dan membuka ruang pengakuan yang bersyarat serta birokratis. ”Sementara RUU Masyarakat Adat mendorong pengakuan hak kolektif, termasuk identitas budaya, asal-usul leluhur, dan hubungan kuat dengan wilayah adat.&#8221; Meski demikian, Veni mengingatkan,  perubahan nomenklatur belum tentu menjamin&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/11/mendesak-pengesahan-ruu-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/11/mendesak-pengesahan-ruu-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Anomali Ular Kepala Dua: Mengapa Mereka Saling Berkelahi Satu Sama Lain?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/11/anomali-ular-kepala-dua-mengapa-mereka-saling-berkelahi-satu-sama-lain/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/11/anomali-ular-kepala-dua-mengapa-mereka-saling-berkelahi-satu-sama-lain/#respond</comments>
					<pubDate>11 Mar 2026 00:03:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/11000234/8503795156_85cddc2f7a_c-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125532</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dunia reptil selalu menyimpan kejutan yang melampaui imajinasi manusia. Salah satu fenomena yang paling sering mengundang decak kagum sekaligus ngeri adalah temuan ular dengan dua kepala. Fenomena ini sering kali dianggap sebagai pertanda mistis atau kehadiran makhluk keramat oleh masyarakat lokal di berbagai daerah di Indonesia. Padahal, secara biologis, kemunculan kondisi ini merupakan sebuah kecelakaan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/11/anomali-ular-kepala-dua-mengapa-mereka-saling-berkelahi-satu-sama-lain/">Anomali Ular Kepala Dua: Mengapa Mereka Saling Berkelahi Satu Sama Lain?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dunia reptil selalu menyimpan kejutan yang melampaui imajinasi manusia. Salah satu fenomena yang paling sering mengundang decak kagum sekaligus ngeri adalah temuan ular dengan dua kepala. Fenomena ini sering kali dianggap sebagai pertanda mistis atau kehadiran makhluk keramat oleh masyarakat lokal di berbagai daerah di Indonesia. Padahal, secara biologis, kemunculan kondisi ini merupakan sebuah kecelakaan alami yang terjadi jauh sebelum telur menetas. Kondisi tersebut membawa tantangan hidup yang sangat berat bagi sang predator karena harus menjalani hidup dengan dua pusat kesadaran yang berbeda dalam satu raga. Secara teknis, kondisi ini disebut sebagai polisefali. Ini adalah gangguan perkembangan embrio yang mirip dengan kasus kembar siam pada manusia. Embrio yang seharusnya membelah menjadi dua individu identik berhenti di tengah jalan, sehingga menghasilkan satu tubuh dengan dua kepala yang masing-masing berfungsi penuh. Meskipun terlihat seperti satu kesatuan, kenyataannya setiap kepala memiliki otak, kepribadian, dan insting berburu yang mandiri. Hal ini menciptakan sebuah paradoks biologis yang sangat ekstrem karena dua pikiran yang berbeda harus berbagi satu jantung dan satu perut. Mengapa Fenomena Ini Lebih Sering Ditemukan pada Ular? Banyak orang bertanya-tanya mengapa fenomena polisefali tampak jauh lebih umum ditemukan pada kelompok ular dibandingkan pada mamalia seperti sapi dan kucing, atau pada kelompok burung. Jawaban utamanya terletak pada strategi reproduksi reptil yang sangat berbeda. Ular cenderung menghasilkan jumlah keturunan yang besar dalam satu masa bertelur. Dalam satu sarang, sering kali terdapat puluhan hingga ratusan telur yang berkembang secara bersamaan dalam ruang yang terbatas. Secara statistik, tingginya volume embrio yang diproduksi ini memperbesar peluang terjadinya kesalahan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/11/anomali-ular-kepala-dua-mengapa-mereka-saling-berkelahi-satu-sama-lain/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/11/anomali-ular-kepala-dua-mengapa-mereka-saling-berkelahi-satu-sama-lain/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>