<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?post_type=post&#038;byline=anton-wisuda-karangasem-bali" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/anton-wisuda-karangasem-bali/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sat, 07 Mar 2026 03:58:12 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>
				<item>
					<title>Ilmuwan Temukan Spesies yang Hilang Sejak Zaman Es di Pedalaman Hutan Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/07/ilmuwan-temukan-spesies-yang-hilang-sejak-zaman-es-di-pedalaman-hutan-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/07/ilmuwan-temukan-spesies-yang-hilang-sejak-zaman-es-di-pedalaman-hutan-papua/#respond</comments>
					<pubDate>07 Mar 2026 03:24:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/07032158/0e469cce22b7349f3366b2930d8295c3-768x485.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125434</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bentang alam hutan hujan tropis di Semenanjung Vogelkop (Kepala Burung), Papua Barat Daya, baru saja mengungkap rahasia besar yang tersimpan selama ribuan tahun. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Records of the Australian Museum berjudul Found alive after 6,000 years: modern records of an ‘extinct’ Papuan marsupial, Dactylonax kambuayai (Marsupialia: Petauridae) mengonfirmasi keberadaan dua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/07/ilmuwan-temukan-spesies-yang-hilang-sejak-zaman-es-di-pedalaman-hutan-papua/">Ilmuwan Temukan Spesies yang Hilang Sejak Zaman Es di Pedalaman Hutan Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bentang alam hutan hujan tropis di Semenanjung Vogelkop (Kepala Burung), Papua Barat Daya, baru saja mengungkap rahasia besar yang tersimpan selama ribuan tahun. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Records of the Australian Museum berjudul Found alive after 6,000 years: modern records of an ‘extinct’ Papuan marsupial, Dactylonax kambuayai (Marsupialia: Petauridae) mengonfirmasi keberadaan dua spesies marsupial yang sebelumnya hanya dianggap sebagai catatan fosil. Temuan ini dikategorikan sebagai Lazarus taxon. Sebuah istilah yang merujuk pada spesies yang muncul kembali dalam keadaan hidup setelah sebelumnya hanya dikenal dari sisa-sisa material purba. Kedua hewan ini sempat diyakini telah punah sejak akhir Zaman Es, atau sekitar 6.000 tahun yang lalu, akibat perubahan iklim global yang drastis. Kusu Kerdil dengan Jari yang Luar Biasa Spesies pertama adalah kusu kerdil jari panjang atau pygmy long-fingered possum (Dactylonax kambuayai). Hewan mungil ini memiliki ukuran tubuh sekitar 17,6 sentimeter dengan ekor sepanjang 18 sentimeter. Secara visual, kepalanya memiliki corak garis hitam dan putih yang tegas, mirip dengan sugar glider. Kusu layang ekor cincin (Tous ayamaruensis) di habitatnya di Papua Barat Daya. Satwa ini merupakan bagian dari genus baru yang sempat dianggap punah selama 6.000 tahun sejak Zaman Es.| Foto: Museum Australia: Peter Schouten Keunikan utamanya terletak pada anatomi tangan. Jari keempat pada mamalia ini memiliki panjang dua kali lipat dibandingkan jari lainnya. Alat tubuh alami ini berfungsi secara mekanis untuk merogoh dan mengekstraksi larva kumbang penggerek kayu dari dalam batang pohon. Spesialisasi ini sangat langka dan mengingatkan para ahli pada cara primata Aye-aye di Madagaskar mencari makan.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/07/ilmuwan-temukan-spesies-yang-hilang-sejak-zaman-es-di-pedalaman-hutan-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/07/ilmuwan-temukan-spesies-yang-hilang-sejak-zaman-es-di-pedalaman-hutan-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lubang Bekas Tambang Batubara Kalsel Telan Korban Lagi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/07/lubang-bekas-tambang-batubara-kalsel-telan-korban-lagi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/07/lubang-bekas-tambang-batubara-kalsel-telan-korban-lagi/#respond</comments>
					<pubDate>07 Mar 2026 02:45:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy TisnaRiyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/06125856/danau-kintap-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125418</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, data dan statistik, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lubang bekas tambang telan korban lagi.  Pada  9 Januari lalu seorang anak tewas di lubang bekas tambang batubara di belakang Menara STO Telkom Kintap. Lubang menganga yang terisi air hingga menyerupai danau. Jaraknya sekitar satu km dari rumah NS di Desa Kintap Kecil, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan (Kalsel). Perempuan 33 tahun ini pun kepikiran [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/07/lubang-bekas-tambang-batubara-kalsel-telan-korban-lagi/">Lubang Bekas Tambang Batubara Kalsel Telan Korban Lagi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lubang bekas tambang telan korban lagi.  Pada  9 Januari lalu seorang anak tewas di lubang bekas tambang batubara di belakang Menara STO Telkom Kintap. Lubang menganga yang terisi air hingga menyerupai danau. Jaraknya sekitar satu km dari rumah NS di Desa Kintap Kecil, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan (Kalsel). Perempuan 33 tahun ini pun kepikiran nasib putri sulungnya, AN. &#8220;Saya langsung menangis dan berteriak histeris, sambil berlari ke sana. Bahkan tanpa sadar, anak saya paling kecil, saya tinggal di tepi jalan,&#8221; katanya. Di sana, puluhan warga telah berkumpul. Air muka mereka muram, menyiratkan ada malapetaka. NS mendekat, dan mendapati kabar buah hatinya yang berusia 12 tahun itu tenggelam di dalam lubang. Seketika dia limbung. Dada sesak. Tangis pecah mengiringi upaya pencarian anaknya, yang baru ketemu, sudah tak bernyawa, setelah maghrib. &#8220;Saya tidak tahu bagaimana kronologis pastinya. Tapi saya diberitahu kalau anak saya jatuh ketika akan mengambil sandalnya yang terlepas di pinggir lubang. Tanah yang dipijaknya tiba-tiba runtuh. Dia tercebur.” Relawan SAR, katanya, menemukan AN 15 meter di dalam lubang. Tubuh kaku setelah diangkat. NS bilang, remaja kelas satu tsanawiyah itu penurut dan jarang keluyuran jauh, bahkan untuk sekadar jajan ke mini market. Sepulang sekolah, AN biasanya lebih sering berdiam di rumah, mengulang pelajaran. Hari itu, pagi sampai siang, AN pun hanya di rumah. Sebab, sekolah sedang libur saat Jumat, karena ada pelaksanaan pengajian rutin. &#8220;Biasanya ia pergi ke pengajian, tapi hari itu tidak.&#8221; Dia tidak tahu kenapa AN melangkah menuju lokasi maut itu usai menjemput adiknya. Padahal, mereka biasanya cuma&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/07/lubang-bekas-tambang-batubara-kalsel-telan-korban-lagi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/07/lubang-bekas-tambang-batubara-kalsel-telan-korban-lagi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ramadan di Garis Depan Alam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/ramadan-di-garis-depan-alam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/ramadan-di-garis-depan-alam/#respond</comments>
					<pubDate>07 Mar 2026 01:40:02 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/03/21233305/Tradisi-membuat-penganan-dari-daging-ikan-seperti-kerupuk-dan-pempek-adalah-tradisi-masyarakat-Sumatera-Selatan.-Di-ramadan-penganan-ini-banyak-dikonsumsi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=125431</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ramadan di Garis Depan Alam]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ramadan di Nusantara terekam sebagai denyut ibadah yang berkelindan erat dengan kedaulatan pangan, kelestarian pesisir, dan pertahanan ruang hidup. Perjuangan masyarakat lokal dalam menjaga benih padi purba serta tradisi kuliner asida hadir di tengah ancaman reklamasi dan ekspansi tambang yang kian masif. Melalui lensa ekologi, bulan suci ini bertransformasi menjadi aksi nyata pembersihan sampah mangrove [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/03/ramadan-di-garis-depan-alam/">Ramadan di Garis Depan Alam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ramadan di Nusantara terekam sebagai denyut ibadah yang berkelindan erat dengan kedaulatan pangan, kelestarian pesisir, dan pertahanan ruang hidup. Perjuangan masyarakat lokal dalam menjaga benih padi purba serta tradisi kuliner asida hadir di tengah ancaman reklamasi dan ekspansi tambang yang kian masif. Melalui lensa ekologi, bulan suci ini bertransformasi menjadi aksi nyata pembersihan sampah mangrove dan refleksi mendalam atas fenomena gerhana di langit yang kian terpolusi. Kesucian ibadah menjadi mustahil terwujud tanpa tanah yang sehat, air sungai yang bersih, dan hutan yang tetap tegak berdiri. The post Ramadan di Garis Depan Alam appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/03/ramadan-di-garis-depan-alam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/ramadan-di-garis-depan-alam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Trauma Bencana, Warga Tolak Tambang Andesit di Sumbar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/06/trauma-bencana-warga-tolak-tambang-andesit-di-sumbar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/06/trauma-bencana-warga-tolak-tambang-andesit-di-sumbar/#respond</comments>
					<pubDate>06 Mar 2026 20:03:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baittri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/07035551/Operasi-pertambangan-yang-baru-jalan-Januari-2026-ini_Jaka-HB_P1222584-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125413</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebuah ekskavator menggali tanah di pinggir Sungai Batang Kasang, Nagari Kasang, Kabupaten Padang Pariaman, pada Senin (2/3/26) siang. Alat berat itu mengangkut pasir dan batu ke truk merah untuk pengerasan jalan menuju lokasi tambang batu andesit. Tak jauh dari situ, En, lelaki berbadan gempal dengan rambut memutih berdiri berhadapan dengan beberapa orang yang mendukung aktivitas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/06/trauma-bencana-warga-tolak-tambang-andesit-di-sumbar/">Trauma Bencana, Warga Tolak Tambang Andesit di Sumbar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebuah ekskavator menggali tanah di pinggir Sungai Batang Kasang, Nagari Kasang, Kabupaten Padang Pariaman, pada Senin (2/3/26) siang. Alat berat itu mengangkut pasir dan batu ke truk merah untuk pengerasan jalan menuju lokasi tambang batu andesit. Tak jauh dari situ, En, lelaki berbadan gempal dengan rambut memutih berdiri berhadapan dengan beberapa orang yang mendukung aktivitas tambang. pria 60 tahun ini  salah satu pemilik tanah yang dilalui kendaraan menuju lokasi tambang. Sekitar empat orang mengelilinginya setelah mengangkat pagar kayu yang sebelumnya terpasang melintang di jalan—sebuah simbol penolakan terhadap aktivitas tambang. “Malu kita dilihat orang luar, ini untuk jalan,” kata salah seorang kepada En. En bersikeras menolak. Jalan itu sebelumnya dia tanami pohon durian dan berpagar. “Kalau untuk jalan tambang saya tidak setuju. Tapi kalau untuk mengantar hasil tanaman atau yang lain, boleh saja,” katanya. Tak lama kemudian, truk yang mengangkut pasir dan batu dari sungai terdekat kembali melintas di atas tanah miliknya. En geram. Namun sendirian saat itu, dia hanya bisa menahan kesal. Satu dari sekitar 14 rumah di pinggir sungai yang khawatir terdampak aktivitas tambang. Foto: Jaka Hendra Baittri/Mongabay Indonesia.  Rita,  ibu rumah tangga di Kasang juga menolak. Bersama 14 keluarga yang tinggal di sekitar Sungai Batang Kasang, dia menolak rencana tambang batu andesit  tak jauh dari sungai itu. Apalagi, November lalu, terjadi di area bukit menuju hulu sungai. Saat mengetahui alat-alat berat perusahaan, Rita  menyampaikan penolakan itu kepada tokoh adat. Usaha itu tak buahkan hasil. Warga, katanya,  pasti akan menjadi pihak pertama yang paling terdampak jika tambang  lanjut. “Kami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/06/trauma-bencana-warga-tolak-tambang-andesit-di-sumbar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/06/trauma-bencana-warga-tolak-tambang-andesit-di-sumbar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Koalisi Masyarakat Sipil Gugat Perpanjangan Operasi PLTU Batubara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/06/koalisi-masyarakat-sipil-gugat-perpanjangan-operasi-pltu-batubara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/06/koalisi-masyarakat-sipil-gugat-perpanjangan-operasi-pltu-batubara/#respond</comments>
					<pubDate>06 Mar 2026 13:37:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/09005631/kawasan-industtri-nikel-di-Sulawesi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125408</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Koalisi masyarakat sipil melayangkan dua gugatan kepada Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang memperpanjang pengoperasian pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Kedua gugatan terdaftar di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta. Pertama, gugatan terhadap penetapan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2025-2060, terdaftar atas nama penggugat Yayasan Trend Asia dan Yayasan Wahana Lingkungan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/06/koalisi-masyarakat-sipil-gugat-perpanjangan-operasi-pltu-batubara/">Koalisi Masyarakat Sipil Gugat Perpanjangan Operasi PLTU Batubara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Koalisi masyarakat sipil melayangkan dua gugatan kepada Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang memperpanjang pengoperasian pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Kedua gugatan terdaftar di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta. Pertama, gugatan terhadap penetapan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2025-2060, terdaftar atas nama penggugat Yayasan Trend Asia dan Yayasan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dengan Nomor Perkara 327/G/LH/2025/PTUN.JKT. Kedua, gugatan terhadap penetapan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, dengan Nomor Perkara 400/G/LH/2025/PTUN.JKT pada 26 November 2025. Gugatan ini dari warga terdampak PLTU di berbagai daerah serta organisasi sipil,  Walhi, Trend Asia, dan Greenpeace Indonesia. Daniel Winarta, Tim Advokasi Koalisi dari YLBHI menyebutkan,  ada cacat prosedur dan substansi dari dua dokumen yang Bahlil teken. “Kami merasa ada pelanggaran prosedur, jadi cacat prosedur dan substansi dari kedua objek sengketa ini,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, akhir Februari lalu. Dia bilang, penetapan RUKN mengacu pada rancangan peraturan pemerintah terkait kebijakan energi nasional. Praktik itu menimbulkan ketidakpastian hukum, karena yang namanya rancangan peraturan masih bisa berubah. Selain itu, kedua dokumen dianggap tak selaras dengan UU Energi dan UU Ketenagalistrikan. Sungai Batanghari Jambi jadi jalur pengangkutan batubara. Foto: Teguh Suprayitno/Mongabay Indonesia Menurut Daniel, kedua dokumen bertentangan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 dan Peraturan Presiden 112/2022 karena tidak mempercepat pensiun dini PLTU. Dalam RUKN, pemerintah masih akan mengoperasikan sekitar 54 gigawatt PLTU batubara hingga 2026. Puncaknya, operasi PLTU mencapai 62,4 gigawatt dengan 5-30% co-firing biomassa. Justru pemerintah tak memasukkan peta jalan pensiun dini PLTU dalam dokumen rencana ketenagalistrikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/06/koalisi-masyarakat-sipil-gugat-perpanjangan-operasi-pltu-batubara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/06/koalisi-masyarakat-sipil-gugat-perpanjangan-operasi-pltu-batubara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Paus Kepala Melon Dijuluki Paus Pembunuh Palsu?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/06/mengapa-paus-kepala-melon-dijuluki-paus-pembunuh-palsu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/06/mengapa-paus-kepala-melon-dijuluki-paus-pembunuh-palsu/#respond</comments>
					<pubDate>06 Mar 2026 04:00:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/06034451/Peponocephala_electra-atau-paus-kepala-melon-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125410</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Paus kepala melon (Peponocephala electra) adalah mamalia laut yang hidup di perairan laut dalam tropis dan subtropis. Uniknya, meski bernama depan paus, namun kepala melon masuk famili lumba-lumba samudera (Delphinidae). Penamaan tersebut tak lepas dari kemiripian fisiknya dengan paus, dan kepala bulat menyerupai buah melon. Di Indonesia, paus kepala melon bisa ditemukan di semua perairan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/06/mengapa-paus-kepala-melon-dijuluki-paus-pembunuh-palsu/">Mengapa Paus Kepala Melon Dijuluki Paus Pembunuh Palsu?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Paus kepala melon (Peponocephala electra) adalah mamalia laut yang hidup di perairan laut dalam tropis dan subtropis. Uniknya, meski bernama depan paus, namun kepala melon masuk famili lumba-lumba samudera (Delphinidae). Penamaan tersebut tak lepas dari kemiripian fisiknya dengan paus, dan kepala bulat menyerupai buah melon. Di Indonesia, paus kepala melon bisa ditemukan di semua perairan dengan kategori laut dalam. Salah satunya, Laut Banda. Saat muncul ke permukaan, biasanya berkelompok lebih dari tiga individu. Secara morfologi, paus kepala melon memiliki kepala runcing dan kerucut yang akan terlihat segitiga dari atas, dengan warna tubuh dominan abu-abu. Saat dewasa, ia bisa tumbuh hingga 2,75 meter dengan berat berkisar 225 kilogram. Biasanya, jantan lebih berat ketimbang betina saat dewasa dan memiliki kepala lebih bulat, sirip lebih panjang, sirip punggung lebih tinggi, dan ekor lebih lebar. Kematangan fisik paus kepala melon pada usia 13-15 tahun dan hidup hingga 45 tahun. Sekar Mira, peneliti mamalia laut dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan di Indonesia masih banyak yang belum mengenal paus kepala melon. Umumnya, menyebutnya paus pembunuh kerdil (Feresa attenuata). Meski masuk golongan Delphinidae, namun keduanya memiliki perbedaan, yaitu warna putih yang ada di sekitar mulut. Pada paus pembunuh kerdil, warna tersebut menyebar ke sekitar wajah, sementara paus kepala melon tidak. Itu pula yang dialami Sekar saat menjalani ekspesidi OceanX leg 2 belum lama ini. Saat itu, muncul ke permukaan mamalia laut yang diyakini paus kepala melon. Saat berada di lapangan, keyakinan itu belum ada, karena fisiknya mirip mamalia laut lain. “Makanya, paus kepala melon&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/06/mengapa-paus-kepala-melon-dijuluki-paus-pembunuh-palsu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/06/mengapa-paus-kepala-melon-dijuluki-paus-pembunuh-palsu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dampak PLTU Batubara Kian Menghimpit, Transisi Energi Masih Jadi Omong Kosong</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/06/dampak-pltu-batubara-kian-menghimpit-transisi-energi-masih-jadi-omong-kosong/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/06/dampak-pltu-batubara-kian-menghimpit-transisi-energi-masih-jadi-omong-kosong/#respond</comments>
					<pubDate>06 Mar 2026 01:00:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Mongabay]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21230324/Salah-satu-penderita-paru-kronis-di-Kelurahan-Teluk-Sepang-scaled-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125288</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ketika Energi Bergantung Batubara]]>
						</reporting-project>
					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, pencemaran, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada KTT G20 2024 di Brazil, Presiden Prabowo Subianto telah berkomitmen akan menghentikan penggunaan energi fosil pada 2040. Komitmen ini selaras dengan kebijakan transisi energi. Namun, implementasi kebijakan tersebut masih dinilai jalan di tempat. Banyak kebijakan-kebijakan transisi energi memberikan dampak negatif. Mulai dari perampasan lahan, dampak kesehatan hingga pencemaran. Sementara itu, Indonesia masih bergantung pada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/06/dampak-pltu-batubara-kian-menghimpit-transisi-energi-masih-jadi-omong-kosong/">Dampak PLTU Batubara Kian Menghimpit, Transisi Energi Masih Jadi Omong Kosong</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada KTT G20 2024 di Brazil, Presiden Prabowo Subianto telah berkomitmen akan menghentikan penggunaan energi fosil pada 2040. Komitmen ini selaras dengan kebijakan transisi energi. Namun, implementasi kebijakan tersebut masih dinilai jalan di tempat. Banyak kebijakan-kebijakan transisi energi memberikan dampak negatif. Mulai dari perampasan lahan, dampak kesehatan hingga pencemaran. Sementara itu, Indonesia masih bergantung pada PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) batubara. Dalam RPJPN (Rancangan Pembangunan Jangka Panjang Nasional), upaya transisi energi pada 2030 dilakukan dengan mempensiunkan dini PLTU batubara. Alih-alih pensiun dini, pemerintah justru membangun PLTU batubara seperti PLTU Mulut Tambang Sumsel-8 yang beroperasi pada 7 Oktober 2023 dan PLTU Jawa 9-10 di Cilegon yang beroperasi pada Agustus 2024. Bahkan, hingga Januari 2025, Indonesia memiliki 254 PLTU batubara.  Berdasarkan data WALHI, yang dihimpun dalam laporan dampak PLTU batubara, dampak lingkungan berada pada urutan pertama. Yakni, 22 laporan. Selanjutnya diikuti dampak sosial ekonomi (21), kebijakan (14), kesehatan (12) dan lainnya. Tentu, hal ini berdampak serius pada lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. Bagi lingkungan, penggunaan energi fosil tentu dapat merusak lingkungan melalui limbah yang dihasilkan dan hal tersebut juga dapat melepaskan emisi gas rumah kaca. Bagaimana dengan masyarakat disekitarnya? &nbsp; 1. Perampasan lumbung pangan hingga ancaman kesehatan warga di sekitar PLTU Pangkalan Susu Para nelayan mengepung PLTU Pangkalan Susu menolak penggunaan bahan bakar batubara buat energi listrik. Foto: Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia Ada sekitar 914 masyarakat yang berada di sekitar PLTU Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara terdampak. Mulai dari kerusakan lingkungan hingga dampak kesehatan. Warga mengeluhkan hasil tangkapan laut warga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/06/dampak-pltu-batubara-kian-menghimpit-transisi-energi-masih-jadi-omong-kosong/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/06/dampak-pltu-batubara-kian-menghimpit-transisi-energi-masih-jadi-omong-kosong/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Lembah Tompotika Terkepung Tambang Nikel</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/05/lembah-tompotika-terkepung-tambang-nikel/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/05/lembah-tompotika-terkepung-tambang-nikel/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mar 2026 23:37:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/05210256/Lembah-Tompotika-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125404</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Demam Nikel]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Masyarakat Adat, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Ekspansi tambang nikel terus melaju. Lembah Tompotika, Kecamatan Bualemo, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, perlahan masuk dalam peta baru eksploitasi nikel nasional. Setelah Morowali dan Morowali Utara terjejali industri tambang, kini kawasan yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan dan benteng terakhir ekosistem endemik Sulawesi itu mulai dikepung izin usaha pertambangan. Data Jaringan Advokasi Tambang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/lembah-tompotika-terkepung-tambang-nikel/">Ketika Lembah Tompotika Terkepung Tambang Nikel</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Ekspansi tambang nikel terus melaju. Lembah Tompotika, Kecamatan Bualemo, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, perlahan masuk dalam peta baru eksploitasi nikel nasional. Setelah Morowali dan Morowali Utara terjejali industri tambang, kini kawasan yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan dan benteng terakhir ekosistem endemik Sulawesi itu mulai dikepung izin usaha pertambangan. Data Jaringan Advokasi Tambang Sulawesi Tengah (Jatam Sulteng) mencatat sedikitnya enam izin usaha pertambangan (IUP) nikel terbit di Lembah Tompotika. Total luas konsesi mencapai 13.243 hektar, membentang dari persawahan, perkampungan warga, hingga kawasan hutan pegunungan. Pertambangan nikel diduga menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat, terutama melalui pencemaran sumber daya pertanian warga. Riset Jatam Sulteng akhir 2025, berjudul “Ancaman Tambang Nikel terhadap Sumber Kehidupan Warga,” mencatat ,kerusakan lingkungan yang signifikan. Di Desa Trans Mayayap dan Desa Mayayap, misal, sekitar 400 hektar sawah warga mengalami alih fungsi akibat krisis air, dan 200 hektar diduga tercemar lumpur tambang sejak 2020 hingga 2025. Sawah yang dulu tanam padi secara intensif perlahan. Sebagian menjadi ladang palawija yang lebih tahan kekeringan, sebagian lagi dibiarkan kosong dan digunakan sebagai padang penggembalaan sapi. Masa keemasan itu mulai meredup seiring masuknya aktivitas pertambangan nikel di wilayah hulu. Sejak 2020, perubahan signifikan terjadi dalam sistem pertanian lokal. Debit air irigasi menurun drastis, kualitas air memburuk, dan sawah-sawah di hilir mulai kekurangan pasokan. Alhasil, para petani yang sebelumnya terbiasa menikmati panen padi dua kali dalam setahun kini harus menelan kenyataan pahit. Siklus panen mereka menyusut drastis, tinggal sekali dalam setahun. “Penyebab utama kemerosotan ini tak lain adalah defisit serius pada sumber&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/lembah-tompotika-terkepung-tambang-nikel/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/05/lembah-tompotika-terkepung-tambang-nikel/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengurai Benang Kusut Pangan Biru di Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/05/mengurai-benang-kusut-pangan-biru-di-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/05/mengurai-benang-kusut-pangan-biru-di-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mar 2026 20:25:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/08/22022949/4_Cantrang-7-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125347</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal dan Perikanan Kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia terus berupaya menyelaraskan potensi lautnya yang melimpah dengan kenyataan pahit di lapangan. Angka konsumsi ikan yang masih tertinggal jauh dari Jepang, ancaman perubahan iklim nyata, hingga jeratan kemiskinan para nelayan menjadi persoalan untuk yang menuntut perhatian. Rocky Pairunan, Manajer Limbah Plastik dan Laut World Resources Institute (WRI) Indonesia, mengatakan, rendahnya konsumsi ikan di Indonesia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/mengurai-benang-kusut-pangan-biru-di-indonesia/">Mengurai Benang Kusut Pangan Biru di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia terus berupaya menyelaraskan potensi lautnya yang melimpah dengan kenyataan pahit di lapangan. Angka konsumsi ikan yang masih tertinggal jauh dari Jepang, ancaman perubahan iklim nyata, hingga jeratan kemiskinan para nelayan menjadi persoalan untuk yang menuntut perhatian. Rocky Pairunan, Manajer Limbah Plastik dan Laut World Resources Institute (WRI) Indonesia, mengatakan, rendahnya konsumsi ikan di Indonesia tak lepas dari akses terhadap sumber daya laut yang tidak merata. &#8220;Kita tidak bisa menolak kebenaran bahwa sebagian besar orang Indonesia tinggal di pegunungan,&#8221; ujar Rocky dalam dalam Konferensi International Young Environmental Scientists (YES), di Jakarta belum lama ini. Dia bilang, makanan biru adalah produk yang sangat mudah rusak (perishable). Di negara tropis yang panas, ikan segar bisa berubah menjadi limbah dalam hitungan jam jika tidak tertangani dengan benar. Di sinilah letak hambatan utamanya: investasi rantai dingin (cold chain) yang mahal. Setiap intervensi teknologi untuk menjaga kesegaran ikan akan tercermin pada harga jual. Akibatnya, protein laut yang berkualitas seringkali menjadi barang mewah bagi masyarakat di pedalaman. Roikhanatun Nafi&#8217;ah, CEO Crustea mengatakan, hal yang sering terlupakan adalah fakta bahwa 90% industri perikanan dan akuakultur Indonesia digerakkan oleh pemain skala kecil. Mereka adalah nelayan dengan kapal tradisional dan petambak udang dengan kolam tanah. Namun, merekalah yang paling rapuh. Mereka kerap terjepit di antara keterbatasan modal dan minimnya akses teknologi. Dalam konteks akuakultur, Nafi&#8217;ah menyoroti biaya operasional yang mencekik dan produktivitas yang rendah. &#8220;Tanpa oksigen yang stabil, ikan dan udang akan mati. Namun, banyak petambak kecil tidak memiliki akses listrik, apalagi teknologi aerasi yang efisien,&#8221; katanya. Crustea mencoba&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/mengurai-benang-kusut-pangan-biru-di-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/05/mengurai-benang-kusut-pangan-biru-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belasan Pelaku Sindikat Perburuan Gading Gajah Riau Terungkap</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/05/belasan-pelaku-sindikat-perburuan-gading-gajah-riau-terungkap/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/05/belasan-pelaku-sindikat-perburuan-gading-gajah-riau-terungkap/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mar 2026 17:08:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/05165554/Gading-gajah-hasil-perburuan-sindikat-perdagangan-satwa-dilindungi-di-pajang-saat-konferensi-pers-di-Mapolda-Riau-Selasa-3-Maret-2026.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125396</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[politik dan hukum dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Polda Riau akhirnya mengungkap sindikat perburuan gading gajah Sumatera dan mengamankan setidaknya 15 orang terduga pelaku, berawal dari kasus pembunuhan 2 Februari lalu. Mulai dari penembak hingga pengrajin pipa rokok gading diringkus. Jumlahnya mencapai 15 orang. Sementara tiga pelaku masih dalam pencarian. “Kita mengungkap kasus ini dari hulu ke hilir,” kata Irjen Pol Herry Heryawan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/belasan-pelaku-sindikat-perburuan-gading-gajah-riau-terungkap/">Belasan Pelaku Sindikat Perburuan Gading Gajah Riau Terungkap</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Polda Riau akhirnya mengungkap sindikat perburuan gading gajah Sumatera dan mengamankan setidaknya 15 orang terduga pelaku, berawal dari kasus pembunuhan 2 Februari lalu. Mulai dari penembak hingga pengrajin pipa rokok gading diringkus. Jumlahnya mencapai 15 orang. Sementara tiga pelaku masih dalam pencarian. “Kita mengungkap kasus ini dari hulu ke hilir,” kata Irjen Pol Herry Heryawan, Kapolda Riau, saat konferensi pers, 3 Maret 2026. Kombes Pol Ade Kuncoro Ridwan,  Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Riau, menambahkan para pelaku merupakan eksekutor, perantara atau mediator alias broker hingga pengguna akhir. Dari rangkaian penyidikan, sebagian pelaku ternyata melakukan tindak pidana perburuan gading gajah pada sembilan lokasi, terhitung sejak 2024. Semua merupakan gajah Sumatera di kantong Tesso Nilo, Pelalawan, Riau. Rinciannya, pada Februari dan Desember 2024. Masing-masing di Desa Bagan Limau dua gajah dan satu lagi di Barak Kundur, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui. Pada 2025, pelaku makin brutal. Mereka membunuh enam gajah, antara Juni-September. Lokasi juga sama atau masih sekitarnya. Aksi jaringan perburuan satwa dilindungi ini akhirnya terbongkar, setelah kejadian pada awal Februari 2026, di kawasan lindung dalam konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), di Blok C99. Dari situlah, jajaran kepolisian, mulai dari Polsek Ukui, Polres Pelalawan hingga Polda Riau, melakukan serangkaian investigasi. Berawal dari nekropsi atau bedah bangkai hingga uji laboratorium forensik. Senjata api rakitan yang dipakai untuk menembak gajah. Foto Suryadi, Mongabay Indonesia. Mereka melibatkan dokter hewan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan Bidlabfor Polda Riau. Kesimpulannya, gajah jantan 40 tahun itu mati kurang lebih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/belasan-pelaku-sindikat-perburuan-gading-gajah-riau-terungkap/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/05/belasan-pelaku-sindikat-perburuan-gading-gajah-riau-terungkap/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Klumprik Surabaya Tidak Lagi Resah Urusan Sampah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/05/warga-klumprik-surabaya-tidak-lagi-resah-urusan-sampah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/05/warga-klumprik-surabaya-tidak-lagi-resah-urusan-sampah/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mar 2026 16:13:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Petrus Riski]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/05160419/Okky-menunjukkan-pengelolaan-pupuk-kompos.-Foto-Petrus-Riski-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125390</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, komunitas lokal, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sabtu dan Minggu, biasanya menjadi hari santai atau istirahat bagi sebagian masyarakat. Namun, tidak demikian bagi Okky Harimurti, warga RW 05, Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, Kota Surabaya, Jawa Timur. Dia memilih berjibaku dengan sampah rumah tangga di Rumah Kompos Pondok Manggala. Siang itu, Okky bersama seorang warga tengah mencacah daun dan ranting dari peremajaan pohon [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/warga-klumprik-surabaya-tidak-lagi-resah-urusan-sampah/">Warga Klumprik Surabaya Tidak Lagi Resah Urusan Sampah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sabtu dan Minggu, biasanya menjadi hari santai atau istirahat bagi sebagian masyarakat. Namun, tidak demikian bagi Okky Harimurti, warga RW 05, Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, Kota Surabaya, Jawa Timur. Dia memilih berjibaku dengan sampah rumah tangga di Rumah Kompos Pondok Manggala. Siang itu, Okky bersama seorang warga tengah mencacah daun dan ranting dari peremajaan pohon di lingkungan tempat tinggalnya. Di area 5&#215;5 meter ini, sampah organik rumah tangga dimaksimalkan menjadi beragam produk. Di sini juga terdapat 2 tong plastik ukuran sedang dan 5 ukuran kecil, yang disiapkan untuk menampung sampah sisa makanan warga. Dari sini, dipanen air lindi sebagai campuran pembuatan pupuk kompos, maupun media pengembangbiakan maggot. Ada pula 4 keranjang besar dari kawat anyaman, untuk menampung sampah organik untuk dijadikan pupuk kompos. Dalam keranjang ini ditancap dua batang bambu yang diberi lubang pada bagian sampingnya. Bambu itu menjadi saluran untuk meniupkan udara dari blower, agar gas panas dari sampah organik keluar. “Ini metode aerasi, pengembangan teknologi takakura. Bahannya, campuran dedaunan hijau dan sisa makanan,” terangnya, Minggu (15/2/2026). Okky Harimurti menunjukkan pengelolaan pupuk kompos. Foto: Petrus Riski/Mongabay Indonesia Setiap pekan, Okky bersama sejumlah warga pengurus membuat pupuk kompos untuk memenuhi kebutuhan kelompok tani yang dibentuk warga RW 05. Metode aerasi ini, mempercepat pembuatan pupuk kompos cukup satu minggu, yang biasanya 3-6 bulan. Sejauh ini, Rumah Kompos Pondok Manggala mampu mengolah sampah organik sebanyak 250 kg untuk sekali produksi. Pada Desember 2025 lalu, bahkan mencapai 300-400 kg. “Sebulan, minimal kami mengolah satu ton sampah organik yang semuanya dari warga RW 05,”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/warga-klumprik-surabaya-tidak-lagi-resah-urusan-sampah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/05/warga-klumprik-surabaya-tidak-lagi-resah-urusan-sampah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belum Ada Regulasi Khusus Pekerja Terdampak Pensiun Dini PLTU</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/05/belum-ada-regulasi-khusus-pekerja-terdampak-pensiun-dini-pltu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/05/belum-ada-regulasi-khusus-pekerja-terdampak-pensiun-dini-pltu/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mar 2026 14:30:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/05/22085224/pltu-cirebon-anak-kecil-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125387</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Setengah Hati Beralih ke Energi Terbarukan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rencana pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) minim perhatian pada aspek ketenagakerjaan. Padahal, pekerja maupun  buruh  terdampak konsekuensi kebijakan ini. Riset Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) menemukan, belum ada regulasi khusus untuk mengantisipasi masalah ketenagakerjaan dari pemensiunan PLTU. Peraturan yang ada  masih terlalu umum, padahal ini bisa masuk  dalam program transisi energi. Rencana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/belum-ada-regulasi-khusus-pekerja-terdampak-pensiun-dini-pltu/">Belum Ada Regulasi Khusus Pekerja Terdampak Pensiun Dini PLTU</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rencana pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) minim perhatian pada aspek ketenagakerjaan. Padahal, pekerja maupun  buruh  terdampak konsekuensi kebijakan ini. Riset Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) menemukan, belum ada regulasi khusus untuk mengantisipasi masalah ketenagakerjaan dari pemensiunan PLTU. Peraturan yang ada  masih terlalu umum, padahal ini bisa masuk  dalam program transisi energi. Rencana penghentian pembangkit listrik kotor ini sendiri belum pasti. Namun, skema Just Energy Transition Partnership (JETP), setidaknya sudah menunjuk PLTU Cirebon I dan PLTU Pelabuhan Ratu di Jawa Barat. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menyebut ada rencana penghentian operasional 13 pembangkit. Grita Anindarini, peneliti ICEL, menjelaskan, ada beberapa regulasi yang menyebut transisi energi mesti berjalan dengan keadilan, tetapi tidak spesifik. Misal, Peraturan Pemerintah (PP) 79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasional dan Peraturan Menteri (Permen) ESDM 10/2025 tentang Peta Jalan Transisi Energi Sektor Ketenagalistrikan. PP menyebut pemerintah berwenang menangani dan mengatasi permasalahan pengelolaan energi yang salah satunya penyediaan lapangan kerja yang terjadi akibat implementasi transisi energi. Sedangkan Permen ESDM, mensyaratkan keadilan dalam pemensiunan PLTU, tapi tak menjelaskannya detail. Dia khawatir kosongnya aturan teknis untuk melindungi tenaga kerja PLTU yang pensiun berdampak luas pada pekerja dan warga sekitar lokasi. “Artinya itu mesti disiapkan segera dan tidak jadi alasan untuk tidak melakukan transisi energi,” katanya. Beban tiap kelompok buruh di PLTU yang beragam ini membuat teknis perlindungan kerja ini penting. Riset ICEL menemukan setidaknya ada empat golongan tenaga kerja, yaitu pegawai tetap, kontrak, outsourcing, dan musiman. Penelitian itu di tiga lokasi, yaitu, PLTU Cirebon, Pelabuhan Ratu, dan Paiton&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/belum-ada-regulasi-khusus-pekerja-terdampak-pensiun-dini-pltu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/05/belum-ada-regulasi-khusus-pekerja-terdampak-pensiun-dini-pltu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cuan Maggot dari Sampah Organik di Jakarta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/05/cuan-maggot-dari-sampah-organik-di-jakarta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/05/cuan-maggot-dari-sampah-organik-di-jakarta/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mar 2026 11:19:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/03/22052217/B-25-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125382</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sampah organik maupun non organik perkotaan  terus meningkat, seperti di Jakarta, produksi sudah sekitar 8.200 ton per hari, dengan Jakarta Timur tercatat sebagai penyumbang terbesar. Peran para pihak penting dan pengelolaan sampah agar tak terbuang jadi masalah. Salah satu,  yang Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta, lakukan dengan memanfaatkan sampah organik dan bernilai ekonomi. Yayasan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/cuan-maggot-dari-sampah-organik-di-jakarta/">Cuan Maggot dari Sampah Organik di Jakarta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sampah organik maupun non organik perkotaan  terus meningkat, seperti di Jakarta, produksi sudah sekitar 8.200 ton per hari, dengan Jakarta Timur tercatat sebagai penyumbang terbesar. Peran para pihak penting dan pengelolaan sampah agar tak terbuang jadi masalah. Salah satu,  yang Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta, lakukan dengan memanfaatkan sampah organik dan bernilai ekonomi. Yayasan yang menaungi Swara Hijau Farm ini fokus pada pertanian perkotaan, budidaya maggot, serta pengelolaan sampah organik di permukiman. Saat Mongabay ke lokasi, tampak beberapa warga yang menjadi mitra program tengah sibuk. Ada yang menyiangi sisa makanan untuk pakan maggot, mengurus mini peternakan ayam, merawat tanaman hidroponik, hingga memantau perkembangan ikan di kolam budidaya. Endang Mintarja, pemimpin yayasan mengatakan, salah satu kegiatan utama di lokasi ini adalah budidaya maggot, yang berkontribusi mengurangi sampah organik di lingkungan sekitar. Sampah-sampah organik dari rumah tangga untuk maggot ini.  Setelah ada prgram makanan bergizi gratis (MBG), sampah juga  dari dapur MBG. Setiap hari, sampah maupun sisa makanan  dari dapur MBG  sekitar 40–60 kilogram. Kebutuhan pakan maggot berkisar 40–50 kilogram per hari. Ketika panen tiba, produksi maggot bisa  50 kilogram. Sebagian besar langsung dia jual ke pembeli (off taker) dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram. “Jadi, kami menyebutnya gendut dan glowing.” Maggot hasil pengolahan sampah warga manfaatkan untuk pakan ayam. Foto: M. Ambari/Mongabay Indonesia. Pakan ternak Sebagian hasil panen dia juga gunakan untuk pakan ternak dan ikan budidaya mereka di Swara Hijau Farm. Setiap hari perlu maggot sekitar 1–2 kilogram. Agar menghasilkan maggot berkualitas, Endang menerapkan teknik fermentasi pada sisa makanan. Proses&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/cuan-maggot-dari-sampah-organik-di-jakarta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/05/cuan-maggot-dari-sampah-organik-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Adat di Papua Selatan Tagih Janji Pengakuan Negara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/05/masyarakat-adat-di-papua-selatan-tagih-janji-pengakuan-negara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/05/masyarakat-adat-di-papua-selatan-tagih-janji-pengakuan-negara/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mar 2026 07:00:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Zulkifli Mangkau]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/04194948/Foto-3-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125370</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Masyarakat Adat, pangan, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan perwakilan Masyarakat Adat Papua dari Suku Wambon mendatangi Kantor Bupati Boven Digoel, akhir Februari. Mereka menuntut Pemerintah Kabupaten Boven Digoel segera menetapkan dan mengesahkan pengakuan wilayah adat. Desakan ini karena Pemerintah Boven Digoel tak kunjung mengakui dan menetapkan wilayah adat Suku Wambon yang sudah mereka usulkan sejak lima tahun terakhir. Petrus Kinggo, kepala marga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/masyarakat-adat-di-papua-selatan-tagih-janji-pengakuan-negara/">Masyarakat Adat di Papua Selatan Tagih Janji Pengakuan Negara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan perwakilan Masyarakat Adat Papua dari Suku Wambon mendatangi Kantor Bupati Boven Digoel, akhir Februari. Mereka menuntut Pemerintah Kabupaten Boven Digoel segera menetapkan dan mengesahkan pengakuan wilayah adat. Desakan ini karena Pemerintah Boven Digoel tak kunjung mengakui dan menetapkan wilayah adat Suku Wambon yang sudah mereka usulkan sejak lima tahun terakhir. Petrus Kinggo, kepala marga dan pemilik tanah adat di Kali Kao, Distrik Jair, mengatakan, masyarakat adat sudah terlalu lama menunggu kepastian pemerintah daerah. Apalagi, hingga lima  tahun. Makin lama tertunda, peluang masyarakat adat kehilangan hak tanah  makin tinggi. “Sudah lima tahun kami memperjuangkan hak. Namun pemerintah daerah belum memberikan tanggapan berarti untuk menetapkan secara legal formal hak masyarakat adat sebagaimana amanat konstitusi dan peraturan perundang-undangan,” katanya  saat Mongabay hubungi. Masyarakat Adat Wambon Kenemopte, katanya, sedang menghadapi masalah serius karena tanah adat kedatangan investasi. Proyek dan bisnis yang merusak hutan dan alam itu membuat mereka sulit berburu, meramu, menokok sagu dan mencari kehidupan di hutan. “Dari bisnis kayu, sekarang sawit, lalu ada lagi bisnis lain. Itu sama sekali tidak menguntungkan masyarakat adat di kampung. Baik dari segi ekonomi dan lingkungannya.” Karena itu, pengakuan wilayah adat jadi mendesak, terutama karena tekanan dan ancaman terus datang ke Papua Selatan, terutama wilayah adat  Marga Wambon Kenemopte. Petrus Kinggo perwakilan dari Suku Wambon Kenemopte dan sekaligus kepala marga Kinggo mendatangi kantor Bupati Boven Digul untuk mempertanyakan hak atas tanah adatnya. Dokumentasi: Yayasan Pusaka. Desakan 13 marga Data Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, ada 13 marga sedang mengusulkan pengakuan wilayah adat ke pemerintah daerah dan belum&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/masyarakat-adat-di-papua-selatan-tagih-janji-pengakuan-negara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/05/masyarakat-adat-di-papua-selatan-tagih-janji-pengakuan-negara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kobra Kurcaci: Ular Kobra Terkecil di Dunia yang Hanya Tersisa di Satu Sudut Terpencil di Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/05/kobra-kurcaci-ular-kobra-terkecil-di-dunia-yang-hanya-tersisa-di-satu-sudut-terpencil-di-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/05/kobra-kurcaci-ular-kobra-terkecil-di-dunia-yang-hanya-tersisa-di-satu-sudut-terpencil-di-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mar 2026 03:27:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/05032047/davidclode-monocled-cobra-10097015_1280-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125378</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dunia alam liar menyimpan sejuta rahasia yang terus menantang batas pemahaman manusia tentang evolusi dan adaptasi. Di tengah upaya global untuk memetakan kekayaan hayati planet ini, para ilmuwan seringkali menemukan bahwa kehidupan memiliki cara unik untuk bertahan hidup melalui spesialisasi yang tak terduga. Keanekaragaman hayati bukan sekadar tentang kemegahan ukuran atau populasi yang besar, melainkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/kobra-kurcaci-ular-kobra-terkecil-di-dunia-yang-hanya-tersisa-di-satu-sudut-terpencil-di-bumi/">Kobra Kurcaci: Ular Kobra Terkecil di Dunia yang Hanya Tersisa di Satu Sudut Terpencil di Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dunia alam liar menyimpan sejuta rahasia yang terus menantang batas pemahaman manusia tentang evolusi dan adaptasi. Di tengah upaya global untuk memetakan kekayaan hayati planet ini, para ilmuwan seringkali menemukan bahwa kehidupan memiliki cara unik untuk bertahan hidup melalui spesialisasi yang tak terduga. Keanekaragaman hayati bukan sekadar tentang kemegahan ukuran atau populasi yang besar, melainkan tentang bagaimana setiap makhluk hidup mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang paling ekstrem dan terisolasi sekalipun. Setiap penemuan spesies baru memberikan potongan teka-teki penting bagi upaya konservasi global dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang rapuh. Fenomena evolusi seringkali menghasilkan bentuk-bentuk kehidupan yang tidak lazim, memaksa para peneliti untuk terus memperbarui literatur ilmiah yang ada. Penemuan spesies di daerah yang sulit dijangkau membuktikan bahwa planet ini masih memiliki banyak sisi misterius yang belum sepenuhnya terjamah oleh kemajuan teknologi modern. Mengenal Sang Kurcaci dari Genus Naja Dunia herpetologi dikejutkan dengan penemuan spesies ular yang unik dari wilayah Afrika Tengah. Naja nana atau kobra kurcaci secara resmi diakui sebagai spesies kobra terkecil yang pernah tercatat oleh para ilmuwan. Ular ini ditemukan mendiami habitat yang sangat terbatas di wilayah Katanga, Republik Demokratik Kongo. Spesies ini menunjukkan adaptasi evolusi yang luar biasa pada ekosistem air tawar yang terisolasi selama ribuan tahun, menjadikannya subjek penelitian yang sangat menarik bagi para ahli biologi evolusioner. Penemuan ini mengubah persepsi umum mengenai genus Naja yang biasanya identik dengan ukuran tubuh besar dan gertakan tudung yang lebar. Secara taksonomi, identifikasi ini memberikan pemahaman baru mengenai diversitas genetik dalam keluarga Elapidae. Para ahli menyatakan bahwa kobra kurcaci&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/kobra-kurcaci-ular-kobra-terkecil-di-dunia-yang-hanya-tersisa-di-satu-sudut-terpencil-di-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/05/kobra-kurcaci-ular-kobra-terkecil-di-dunia-yang-hanya-tersisa-di-satu-sudut-terpencil-di-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apa Kabar Proyek IKN Nusantara?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/apa-kabar-proyek-ikn-nusantara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/apa-kabar-proyek-ikn-nusantara/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mar 2026 02:00:13 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/08/22022657/titik-nol-_DSC3170-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=125377</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Apa Kabar Proyek IKN Nusantara?]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apa kabar proyek Ibu Kota Negara Nusantara? Sepi. Padahal, saking mau mendorong agar IKN jadi Ibukota Negara Indonesia, pada 17 Agustus 2024, perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ketika memasuki usia 79 tahun pun di sana. Tahun itu, peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berada di dua lokasi, Istana Negara Garuda di IKN, Kalimantan Timur,  dan Istana Merdeka, Jakarta. Kini, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/03/apa-kabar-proyek-ikn-nusantara/">Apa Kabar Proyek IKN Nusantara?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apa kabar proyek Ibu Kota Negara Nusantara? Sepi. Padahal, saking mau mendorong agar IKN jadi Ibukota Negara Indonesia, pada 17 Agustus 2024, perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ketika memasuki usia 79 tahun pun di sana. Tahun itu, peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berada di dua lokasi, Istana Negara Garuda di IKN, Kalimantan Timur,  dan Istana Merdeka, Jakarta. Kini, semangat yang dulu menggebu dorong mega proyek ini lesu seiring perubahan pucuk pimpinan pemerintahan. Sejak awal,  proyek ini menimbulkan kontroversi, dari soal ruang hidup masyarakat adat (lokal) yang terhimpit bahkan tersingkir, sampai risiko lingkungan. Berbagai pihak memberikan masukan dan pandangan mengenai berbagai kerentanan tetapi proyek terus melaju. Segala analisis sampai Undang-undang selesai dengan paket kilat. Hak Istimewa dengan izin hak guna usaha dan hak guna bangunan sampai 190 tahun pun pemerintah bikin, walau akhirnya dibatalkan Mahkamah Konstitusi. Tak perlu menunggu lama,  dampak pun terlihat.  Ketika memasuki musim penghujan, pemukiman warga di sekitar IKN terendam banjir, hutan mangrove di sekitar tergerus hingga menganggu satwa yang hidup di ekosistem itu, salah satu bekantan. Pesut, buaya muara di Teluk Balikpapan dan sekitar terganggu dengan lalu lintas kapal yang mengangkut material. Tak hanya untuk pembangunan proyek zona inti, juga dampak ikutannya. Belum lagi pembangunan infrastruktur seperti jalan tol yang menyebabkan habitat satwa rusak, dan terfragmentasi. Kabar satwa seperti bekantan mati tertabrak kendaraan ketika mereka melintasi jalan tol pun tak asing lagi terdengar. Label IKN Kota Hijau coba disematkan, tetapi di lapangan berkata lain. &nbsp; The post Apa Kabar Proyek IKN Nusantara? appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/03/apa-kabar-proyek-ikn-nusantara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/03/apa-kabar-proyek-ikn-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Membaca Krisis Iklim dari Perempuan dan Kelompok Marginal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/05/membaca-krisis-iklim-dari-perempuan-dan-kelompok-marginal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/05/membaca-krisis-iklim-dari-perempuan-dan-kelompok-marginal/#respond</comments>
					<pubDate>05 Mar 2026 01:06:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Della Syahni]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/11/21235410/Ruang-Hidup-yang-Hilang-scaled-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125364</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Krisis iklim, konflik agraria, dan perampasan ruang hidup terus berulang di berbagai wilayah di Indonesia. Pembahasan berbagai persoalan itu jarang dari dapur, ladang, dan tubuh orang-orang yang terdampak langsung. Dalam kuliah umumnya, Rebecca Elmhirst , profesor dari University of Brighton UK, mengajak membalik cara pandang itu dan membaca krisis lingkungan dari relasi kehidupan sehari-hari. Melalui [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/membaca-krisis-iklim-dari-perempuan-dan-kelompok-marginal/">Membaca Krisis Iklim dari Perempuan dan Kelompok Marginal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Krisis iklim, konflik agraria, dan perampasan ruang hidup terus berulang di berbagai wilayah di Indonesia. Pembahasan berbagai persoalan itu jarang dari dapur, ladang, dan tubuh orang-orang yang terdampak langsung. Dalam kuliah umumnya, Rebecca Elmhirst , profesor dari University of Brighton UK, mengajak membalik cara pandang itu dan membaca krisis lingkungan dari relasi kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan Feminist Political Ecology (FPE), Elmhirst menegaskan,  krisis iklim bukan sekadar persoalan teknis tentang emisi atau teknologi, melainkan krisis relasi antara manusia dan alam, antara produksi dan perawatan, serta antara pembangunan dan keberlangsungan hidup. “Semua bentuk kehidupan saling bergantung. Kerusakan pada satu bagian akan berdampak ke bagian lain,” katanya dalam kuliah umum dalam Saparinah Sadli Distinguished Lecture, yang diselenggarakan Program Studi Kajian Gender, Departemen Kajian Stratejik, Ketahanan, dan Keamanan (KSKK), Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia Februari lalu. Perspektif ini menempatkan pengalaman hidup warga, terutama perempuan dan kelompok marjinal, sebagai kunci untuk memahami dampak nyata pembangunan dan mencari jalan keluar yang lebih adil. Pandangan ini bukan lahir dari ruang akademik yang terpisah dari realitas lapangan. Elmhirst adalah profesor Politik Ekologi di University of Brighton yang lama meneliti dinamika penghidupan, konflik agraria, dan keadilan sosial di Indonesia dan Asia Tenggara. Selama bertahun-tahun, dia bekerja bersama komunitas pedesaan, perempuan, dan masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan perkebunan sawit, tambang, dan proyek pembangunan skala besar. Pengalaman lapangan inilah yang membentuk cara pandangnya, bahwa krisis lingkungan selalu berkelindan dengan relasi kuasa, kerja perawatan, dan kehidupan sehari-hari yang sering luput dari kebijakan dan perdebatan publik. Satu contoh yang kerap muncul&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/05/membaca-krisis-iklim-dari-perempuan-dan-kelompok-marginal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/05/membaca-krisis-iklim-dari-perempuan-dan-kelompok-marginal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Terdampak Industri Nikel, Panen Kepiting Konawe Terus Tergerus</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/04/terdampak-industri-nikel-panen-kepiting-konawe-terus-tergerus/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/04/terdampak-industri-nikel-panen-kepiting-konawe-terus-tergerus/#respond</comments>
					<pubDate>04 Mar 2026 20:47:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Muhlas]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
		<category><![CDATA[produk laut]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/22122728/WhatsApp-Image-2026-02-20-at-00.35.52-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125111</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Perikanan Kelautan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Produktivitas kepiting di Kecamatan Kapoiala, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) terus merosot sejak industri nikel dari tambang sampai kawasan industri nikel Morosi dengan pengelola PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI).  PT Obsidian Stainless Steel (OSS), antara lain pemilik smelter besar di sana. Hasil tangkapan dan budidaya kepiting yang sebelumnya bisa mencapai satu  ton-an, kini turun  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/04/terdampak-industri-nikel-panen-kepiting-konawe-terus-tergerus/">Terdampak Industri Nikel, Panen Kepiting Konawe Terus Tergerus</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Produktivitas kepiting di Kecamatan Kapoiala, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) terus merosot sejak industri nikel dari tambang sampai kawasan industri nikel Morosi dengan pengelola PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI).  PT Obsidian Stainless Steel (OSS), antara lain pemilik smelter besar di sana. Hasil tangkapan dan budidaya kepiting yang sebelumnya bisa mencapai satu  ton-an, kini turun  hanya belasan kilogram. Bukan hanya produktivitas, periode panen pun melambat dari masa normal 3-4 bulan, kini bisa setahunan. Para nelayan acapkali gagal menikmati hasil panen lantaran kepiting hasil budidaya mati massal. “Ruginya berlipat karena biaya perawatan, pemakaian pupuk tak kembali,” ujar Tajuddin, nelayan asal Desa Kapoiala Baru kepada Mongabay, akhir 2025. Terus menerus alami kerugian, sebagian warga memilih berhenti mengelola tambak dan beralih membuka usaha. Salah satunya, mendirikan kos-kosan bermodal uang kredit dari bank dengan menjaminkan sertifikat lahan tambak. Ada pula yang terpaksa menjual tambak  Rp5.000 per meter. Berdasarkan catatan petugas penyuluh perikanan, tambak di kawasan industri smelter Konawe tersisa  842 hektar per 2024. Jumlah itu menyusut 965 hektar hanya dalam waktu lima tahun. Bahkan berkurang 2.000 hektar lebih dibanding luasan pada 2015 menurut data Map Biomas Auriga Nusantara. Dengan usia hampir kepala tujuh, dia tak punya pilihan kecuali bertahan menyambung hidup dari bertambak dan menangkap kepiting bakau, meski tak punya kepastian hasil. “Tidak ada pekerjaan lain, kita mau apa cuma itu.” Tanpa banyak tahu, perusahaan nikel ujuk-ujuk datang berkegiatan dan berkontribusi besar terhadap perubahan ruang hidupnya. Lokasi tambak hanya berjarak sekitar satu kilometer dari PLTU OSS. Bibir pematang tambak berdampingan sepelemparan batu dari tepi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/04/terdampak-industri-nikel-panen-kepiting-konawe-terus-tergerus/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/04/terdampak-industri-nikel-panen-kepiting-konawe-terus-tergerus/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Protes Warga Dairi ke KLH Ketika Tambang Seng Urus Lagi Izin Lingkungan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/04/protes-warga-dairi-ke-klh-ketika-tambang-seng-urus-lagi-izin-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/04/protes-warga-dairi-ke-klh-ketika-tambang-seng-urus-lagi-izin-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>04 Mar 2026 19:04:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/04190308/Anggita-Dairi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125366</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, pencemaran, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Ketenangan warga Dairi karena pencabutan izin lingkungan perusahaan tambang seng,  PT Dairi Prima Mineral (DPM) tak berlangsung lama. Warga waswas lagi, ketika perusahaan ajukan izin lingkungan lagi. Bupati sudah berikan rekomendasi. Warga pun datangi Kementerian Lingkungan Hidup untuk protes dan mempertanyakan soal proses izin lingkungan baru ini. Rohani Manalu,  Koordinator Advokasi  Yayasan Diakonia Pelangi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/04/protes-warga-dairi-ke-klh-ketika-tambang-seng-urus-lagi-izin-lingkungan/">Protes Warga Dairi ke KLH Ketika Tambang Seng Urus Lagi Izin Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Ketenangan warga Dairi karena pencabutan izin lingkungan perusahaan tambang seng,  PT Dairi Prima Mineral (DPM) tak berlangsung lama. Warga waswas lagi, ketika perusahaan ajukan izin lingkungan lagi. Bupati sudah berikan rekomendasi. Warga pun datangi Kementerian Lingkungan Hidup untuk protes dan mempertanyakan soal proses izin lingkungan baru ini. Rohani Manalu,  Koordinator Advokasi  Yayasan Diakonia Pelangi Kasih (YPDK)  ini mondar-mandir di depan Gedung Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Jakarta, pagi 26 Februari lalu. Raut wajah gelisah. Tangan menggenggam map berisi dokumen. Dia berharap ada pejabat kementerian mau menemuinya. “Hadapi dong warga Dairi. Kalau mau merencanakan sesuatu yang bisa jadi pembunuhan massal bagi warga Dairi, hadapi dulu kami. Jangan berani merencanakan nasib warga tanpa pernah mau menemui dan mendengarkan kami,” katanya dengan suara bergetar. Rohani, jauh-jauh datang ke Jakarta dari Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Petani di sana, katanya, selama lebih dari satu dekade hidup dalam bayang-bayang ancaman atas kehadiran tambang seng dan timbal DPM. Kedatangan Rohani bersama Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), dan Walhi bukan tanpa alasan. Mereka hendak melaporkan dugaan pengingkaran terhadap putusan pengadilan yang sebelumnya telah membatalkan izin lingkungan proyek tambang seng itu. Sebelumnya, 24 Juli 2023, PTUN Jakarta mengabulkan gugatan warga Dairi dan menyatakan batal Surat Keputusan Menteri LHK Nomor SK.854/MenLHK/Setjen/PLA.4/8/2022 tentang Kelayakan Lingkungan Hidup pertambangan seng dan timbal DPM.  Pengadilan juga mewajibkan Menteri LHK mencabut keputusan itu. Marlince Sinambela, sedang menjemur olahan daun gambir di Dairi.  Warga khawatir kalau ada tambang,  hutan dan kebun mereka terancam. Foto: Irfan Maulana/Mongabay Indonesia Mahkamah Agung kuatkan putusan itu melalui&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/04/protes-warga-dairi-ke-klh-ketika-tambang-seng-urus-lagi-izin-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/04/protes-warga-dairi-ke-klh-ketika-tambang-seng-urus-lagi-izin-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gerhana Bulan Total Tidak Ada Kaitan dengan Mitos</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/03/04/gerhana-bulan-total-tidak-ada-kaitan-dengan-mitos/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/03/04/gerhana-bulan-total-tidak-ada-kaitan-dengan-mitos/#respond</comments>
					<pubDate>04 Mar 2026 17:11:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/04170304/Gerhana-bulan-total1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125359</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ramadan di Garis Depan Alam]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Fenomena Gerhana Bulan Total menyapa langit Indonesia, termasuk di Aceh, pada Selasa (3/3/2026), bertepatan dengan 14 Ramadhan 1447 Hijriah. Masyarakat di Serambi Mekkah dapat menyaksikan peristiwa langit ini selepas waktu berbuka puasa atau sekitar pukul 19.00 WIB hingga 20.14 WIB. Alfirdaus Putra, Ketua Tim Falakiyah Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Provinsi Aceh, menjelaskan bahwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/04/gerhana-bulan-total-tidak-ada-kaitan-dengan-mitos/">Gerhana Bulan Total Tidak Ada Kaitan dengan Mitos</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Fenomena Gerhana Bulan Total menyapa langit Indonesia, termasuk di Aceh, pada Selasa (3/3/2026), bertepatan dengan 14 Ramadhan 1447 Hijriah. Masyarakat di Serambi Mekkah dapat menyaksikan peristiwa langit ini selepas waktu berbuka puasa atau sekitar pukul 19.00 WIB hingga 20.14 WIB. Alfirdaus Putra, Ketua Tim Falakiyah Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Provinsi Aceh, menjelaskan bahwa gerhana bulan kali ini berlangsung sebelum matahari terbenam. “Namun, di wilayah Aceh, fenomena ini baru dapat diamati setelah bulan terbit di ufuk timur atau sekitar pukul 19.00 WIB. Puncaknya terjadi saat bulan berwarna kemerahan, yang sering disebut Blood Moon,” jelasnya, Selasa (3/3/2026). Berdasarkan data hisab Tim Falakiyah, gerhana diawali fase penumbra pukul 15.44 WIB, disusul gerhana sebagian pukul 16.50 WIB. Fase total saat bulan sepenuhnya berada di dalam bayangan inti (umbra) bumi berlangsung mulai pukul 18.04 WIB hingga 19.02 WIB. “Durasi totalitas sekitar 58 menit. Setelah itu, gerhana kembali memasuki fase sebagian hingga berakhir pukul 20.17 WIB,” kata Alfirdaus. Secara astronomi, Gerhana Bulan Total terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga bayangan Bumi menutupi seluruh permukaan Bulan. Warna merah tembaga muncul akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi. Gerhana Bulan Total yang terlihat kurang dari lima menit di Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Azhari, Kepala Kanwil Kementerian Agama Aceh, mengingatkan masyarakat agar tidak mengaitkan gerhana dengan mitos, musibah, atau pertanda buruk, terlebih karena terjadi pada Bulan Ramadhan. “Gerhana Bulan adalah fenomena alam yang terjadi secara alami. Tidak perlu dikaitkan dengan kematian atau bencana,” jelasnya, Selasa (3/3/2026). Sebagai bagian dari edukasi publik,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/03/04/gerhana-bulan-total-tidak-ada-kaitan-dengan-mitos/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/03/04/gerhana-bulan-total-tidak-ada-kaitan-dengan-mitos/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>