<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=rizky-maulana-yanuar&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/rizky-maulana-yanuar/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 08 Oct 2026 10:00:49 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.5</generator>
				<item>
					<title>Dari Irigasi hingga Sumber Air, Masyarakat Lombok Soroti Dampak Buruk Tambang Galian C</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-irigasi-hingga-sumber-air-masyarakat-lombok-soroti-dampak-buruk-tambang-galian-c/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-irigasi-hingga-sumber-air-masyarakat-lombok-soroti-dampak-buruk-tambang-galian-c/#respond</comments>
					<pubDate>08 Okt 2026 10:00:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/29082248/DJI_0164-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134409</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, nusa tenggara, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Air kecoklatan menutupi jalan Dusun Karang Tembar, Desa Lenek, Lombok Timur, pada suatu malam ketika hujan tidak begitu deras. Lumpur bercampur pasir dan batu menyumbat saluran, masuk ke halaman rumah, hingga menyasar sawah. Warga menduga material tersebut berasal dari tambang galian C di kawasan hulu. Bagi Muhammad Yunus, warga Lenek, persoalan itu berulang setiap hujan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-irigasi-hingga-sumber-air-masyarakat-lombok-soroti-dampak-buruk-tambang-galian-c/">Dari Irigasi hingga Sumber Air, Masyarakat Lombok Soroti Dampak Buruk Tambang Galian C</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Air kecoklatan menutupi jalan Dusun Karang Tembar, Desa Lenek, Lombok Timur, pada suatu malam ketika hujan tidak begitu deras. Lumpur bercampur pasir dan batu menyumbat saluran, masuk ke halaman rumah, hingga menyasar sawah. Warga menduga material tersebut berasal dari tambang galian C di kawasan hulu. Bagi Muhammad Yunus, warga Lenek, persoalan itu berulang setiap hujan. Saluran irigasi mengalami sedimentasi sehingga petani harus mengeluarkan tenaga tambahan untuk membersihkannya. Material yang masuk ke petak sawah juga disebut mengganggu kondisi tanah dan pertumbuhan padi. “Banyak batu-batu dan pasir yang masuk ke sawah orang. Kualitas padinya jauh menurun ketimbang sebelum ada galian C,” kata Yunus. Menurutnya, hasil pertanian menurun sementara biaya pemeliharaan meningkat. Warga pernah berunjuk rasa, tetapi perbaikan yang mereka rasakan hanya berlangsung singkat. Keluhan berbeda muncul di Kalijaga Timur. Ahmad Zakaria mengatakan kendaraan pengangkut material mempercepat kerusakan jalan dan membawa debu ke permukiman. Saat kemarau, debu menempel pada rumah, tanaman, dan fasilitas umum. Warga khawatir kondisi tersebut mengganggu kesehatan, terutama anak-anak. Data Puskesmas Kalijaga dan Korleko menunjukkan ISPA termasuk tiga penyakit terbanyak sepanjang 2023-2025, dengan rata-rata sekitar 2.000 kasus per tahun. Namun, angka itu belum membuktikan bahwa aktivitas tambang menjadi penyebabnya. Kepala Puskesmas Kalijaga, Nursini Juiban Hadi, menekankan perlunya penelitian. “Bisa jadi ya, bisa juga tidak. Perlu penelitian lebih jauh, karena tidak bisa kita spekulasi hanya karena ada hubungannya saja, harus ada bukti ilmiahnya,” katanya. Di Karleko, warga menyebut sumur ikut terdampak perubahan lingkungan. Citra satelit yang dibahas dalam artikel juga memperlihatkan pembukaan lahan baru di sekitar aliran sungai selama lima tahun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-irigasi-hingga-sumber-air-masyarakat-lombok-soroti-dampak-buruk-tambang-galian-c/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/dari-irigasi-hingga-sumber-air-masyarakat-lombok-soroti-dampak-buruk-tambang-galian-c/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Masyarakat Adat Long Beluah Terkepung Konsesi Sawit</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/08/nasib-masyarakat-adat-long-beluah-terkepung-konsesi-sawit/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/08/nasib-masyarakat-adat-long-beluah-terkepung-konsesi-sawit/#respond</comments>
					<pubDate>08 Okt 2026 06:34:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niken D Sitoningrum]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/05084054/Screenshot-2026-08-10-at-18.54.46-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134543</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Konflik Agraria Tak Berujung]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonimi dan bisnis, hutan indonesia, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jalan antar desa di depan rumah Lihiu Yohanes tak pernah sepi. Truk-truk pengangkut tandan buah segar (TBS) dari kebun sawit perusahaan hilir mudik membelah Jalan Desa Long Beluah, Kecamatan Tanjung Palas Barat, Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), siang dan malam. Saat hujan, permukaan jalan yang sebagian berlapis semen itu pun berubah menjadi lumpur.  Saat panas, debu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/08/nasib-masyarakat-adat-long-beluah-terkepung-konsesi-sawit/">Nasib Masyarakat Adat Long Beluah Terkepung Konsesi Sawit</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jalan antar desa di depan rumah Lihiu Yohanes tak pernah sepi. Truk-truk pengangkut tandan buah segar (TBS) dari kebun sawit perusahaan hilir mudik membelah Jalan Desa Long Beluah, Kecamatan Tanjung Palas Barat, Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), siang dan malam. Saat hujan, permukaan jalan yang sebagian berlapis semen itu pun berubah menjadi lumpur.  Saat panas, debu berterbangan menyertai laju armada truk. “Sarana transportasi kita pun rusak karena dia (perusahaan) lintasi jalan kita ini. Biar diperbaiki (akan rusak lagi). Namanya kebutuhan pabrik tidak ada stop-nya. Mau hujan, mau apa, dia harus produksi,” katanya, tokoh adat Gaai Kung Kemul yang sejak lama mendiami Long Beluah. Menurut Lihiu, lebih dari tiga dekade masyarakat di Long Beluah tak lagi merasakan ketenangan karena aktivitas perusahaan di desanya. Sebelum perusahaan sawit, PT  ITCI Kayan Hutani (Ikani) masuk lebih dulu melalui skema perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH). Saat ini, Ikani yang memiliki luas konsesi 200.000 hektar sudah melalui dua kali proses perpanjangan dan tumpang tindih dengan wilayah hutan adat. Izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu-hutan alam (IUPHHK-HA). Luasannya tak main-main, lebih dari 200.000 hektar. Pada 2007, PT Gawi Plantation, merupakan bagian dari Wings Group masuk melalui tiga anak perusahaannya masuk membuka perkebunan sawit dan pabrik pengolahan. Ketiganya,  PT Prima Tunas Kharisma (PTK), PT Inti Selaras Perkasa (ISP), dan PT. Sentosa Sukses Utama (SSU). Luas konsesi untuk ketiga perusahaan ini  50.000 hektar tersebar di empat kecamatan, yakni, Kecamatan Tanjung Palas, Tanjung Palas Barat, Peso, dan Peso Hilir. Lihiu menyebut, warga tak pernah tahu rencana masuknya perusahaan-perusahaan itu. Baik perusahaan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/08/nasib-masyarakat-adat-long-beluah-terkepung-konsesi-sawit/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/08/nasib-masyarakat-adat-long-beluah-terkepung-konsesi-sawit/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apakah Penyu yang Menentas di Pantai Lalu Kembali untuk Bertelur, Jenis yang Sama?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/08/apakah-penyu-yang-menentas-di-panta-lalu-kembali-untuk-bertelur-jenis-yang-sama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/08/apakah-penyu-yang-menentas-di-panta-lalu-kembali-untuk-bertelur-jenis-yang-sama/#respond</comments>
					<pubDate>08 Okt 2026 04:42:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/12/22043025/Penyu-anakan-di-pantai-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134679</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penyu (Cheloniidae) adalah kelompok reptil laut yang masuk Ordo Testudines. Satwa ini sering disebut memiliki kemiripan dengan kura-kura yang hidup di darat. Penyu datang ke daratan pantai berpasir untuk bertelur dan berkembang biak, namun hidupnya sebagian besar dihabiskan di laut. Itu kenapa, walau sekilas mirip, namun keduanya berbeda. Dari tujuh spesies penyu di laut dunia, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/08/apakah-penyu-yang-menentas-di-panta-lalu-kembali-untuk-bertelur-jenis-yang-sama/">Apakah Penyu yang Menentas di Pantai Lalu Kembali untuk Bertelur, Jenis yang Sama?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penyu (Cheloniidae) adalah kelompok reptil laut yang masuk Ordo Testudines. Satwa ini sering disebut memiliki kemiripan dengan kura-kura yang hidup di darat. Penyu datang ke daratan pantai berpasir untuk bertelur dan berkembang biak, namun hidupnya sebagian besar dihabiskan di laut. Itu kenapa, walau sekilas mirip, namun keduanya berbeda. Dari tujuh spesies penyu di laut dunia, enam jenis ditemukan di Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menetapkan perlindungannya melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Penetapan Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Enam penyu itu adalah penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu pipih (Natator depressus). Satu fase penting kehidupan penyu adalah awal kehidupannya setelah menetas dari telur. Proses tersebut kritis, karena menentukan apakah bisa terus hidup atau tidak. Tukik atau anak penyu berjuang kembali ke air dengan menghindari hewan predator. Secara alamiah, banyak yang tidak bisa bertahan. Hal itu disampaikan Mohammad Mukhlis Kamal, pakar ekologi perairan, pengelolaan sumber daya ikan, dan konservasi ekosistem laut yang mengajar pada Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan IPB University. “Ancaman akan selalu mengintai tukik yang merangkak pelan menuju laut. Tak jarang, saat proses tersebut dilakukan, predator di darat memakannya,” jelasnya, Sabtu (19/9/26). Tukik atau anak penyu yang berupaya keras menuju laut setelah menetas di pantai. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Naluri alam penyu Agar ancaman berkurang, peran manusia menjadi sangat penting pada proses tersebut. Bantuan manusia, biasanya ada jika telur penyu menetas di kawasan penangkaran.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/08/apakah-penyu-yang-menentas-di-panta-lalu-kembali-untuk-bertelur-jenis-yang-sama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/08/apakah-penyu-yang-menentas-di-panta-lalu-kembali-untuk-bertelur-jenis-yang-sama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Adat Dayak Bahau Umaq Suling Desak Penetapan Hutan Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/08/masyarakat-adat-dayak-bahau-umaq-suling-desak-penetapan-hutan-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/08/masyarakat-adat-dayak-bahau-umaq-suling-desak-penetapan-hutan-adat/#respond</comments>
					<pubDate>08 Okt 2026 03:00:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/07175127/IMG_6727-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134658</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat Adat Dayak Bahau Umaq Suling dari Kampung Long Isun dan Long Pahangai I, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, mendatangi  Kantor Kementerian Kehutanan, Jakarta, awal Agustus lalu. Mereka gunakan pakaian  tradisional khas Dayak Bahau yang dominan merah bagi perempuan dan hitam untuk laki-laki.  Lengkap dengan sulaman corak etnik dan mahkota atau kuluk berhiaskan bulu enggang. Sebelum [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/08/masyarakat-adat-dayak-bahau-umaq-suling-desak-penetapan-hutan-adat/">Masyarakat Adat Dayak Bahau Umaq Suling Desak Penetapan Hutan Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat Adat Dayak Bahau Umaq Suling dari Kampung Long Isun dan Long Pahangai I, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, mendatangi  Kantor Kementerian Kehutanan, Jakarta, awal Agustus lalu. Mereka gunakan pakaian  tradisional khas Dayak Bahau yang dominan merah bagi perempuan dan hitam untuk laki-laki.  Lengkap dengan sulaman corak etnik dan mahkota atau kuluk berhiaskan bulu enggang. Sebelum memasuki Gedung Manggala Wanabakti, mereka ritual adat di halaman depan gedung itu. Mereka panjatkan doa sembari meletakkan sesaji beralaskan daun yang berisi telur dan ramuan suci di atas tanah, guna memohon kelancaran serta perlindungan leluhur dalam perjuangan mereka. “Kami mohon kehadiran para leluhur untuk ke sini, demi meminta tanah dan hutan adat kami kembali, karena tanah kami telah dirampas,” kata Yustina Long Anye, warga adat Bahau Umaq Suling dalam bahasa lokal. Bersama dengan perwakilan Walhi, mereka sambangi Kemenhut untuk mengajukan pengakuan dan penetapan hutan adat. Mereka masih hidup dalam kekhawatiran karena ada perusahaan kayu yang berproses memperoleh perizinan dan bakal mengancam wilayah adat mereka. Masyarakat adat mengandalkan hutan sebagai sumber kehidupan dan area sakral, tempat bersemayam para roh leluhur. Di sana, mereka bisa berburu dan bertani, menghasilkan pendapatan untuk memenuhi segala kebutuhan hidup, dari urusan perut hingga pendidikan tinggi. Namun, batas wilayah hutan adat yang perusahaan terobos membuat masyarakat khawatir akan kehilangan sumber kesejahteraan. “Kami ingin berdaulat kembali, semoga pejabat yang berada di sini membuka tangan mereka selebar &#8211; lebarnya dan menunjukkan empati mereka untuk mengembalikan tanah kami Long Pahangai dan Long Isun tanah.” Yustina Long Anyeq (pojok kiri) dan Katarina Lawaq Juk (tengah) saat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/08/masyarakat-adat-dayak-bahau-umaq-suling-desak-penetapan-hutan-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/08/masyarakat-adat-dayak-bahau-umaq-suling-desak-penetapan-hutan-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Seberapa Sering Pesawat Terbang Tabrakan dengan Burung di Udara?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/seberapa-sering-pesawat-terbang-tabrakan-dengan-burung-di-udara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/seberapa-sering-pesawat-terbang-tabrakan-dengan-burung-di-udara/#respond</comments>
					<pubDate>08 Okt 2026 00:30:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/01/21234239/airplane-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134595</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tengah penerbangan modern, pesawat dan burung masih berbagi ruang udara. Pertemuan keduanya menjadi risiko yang perlu diperhitungkan, terutama di sekitar bandara. Burung dapat melintas ketika pesawat hendak lepas landas atau mendarat, sementara sumber makanan, air, dan tempat berlindung di kawasan sekitarnya dapat menarik satwa mendekat. Karena itu, keselamatan penerbangan juga berkaitan dengan bagaimana lingkungan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/seberapa-sering-pesawat-terbang-tabrakan-dengan-burung-di-udara/">Seberapa Sering Pesawat Terbang Tabrakan dengan Burung di Udara?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tengah penerbangan modern, pesawat dan burung masih berbagi ruang udara. Pertemuan keduanya menjadi risiko yang perlu diperhitungkan, terutama di sekitar bandara. Burung dapat melintas ketika pesawat hendak lepas landas atau mendarat, sementara sumber makanan, air, dan tempat berlindung di kawasan sekitarnya dapat menarik satwa mendekat. Karena itu, keselamatan penerbangan juga berkaitan dengan bagaimana lingkungan bandara dikelola dan aktivitas satwa dipantau. Tabrakan pesawat dengan burung, atau bird strike, bukan kejadian langka. Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mencatat sekitar 292 ribu laporan tabrakan pesawat dengan satwa liar sepanjang 1990-2023, sebagian besar melibatkan burung. Pada 2023 saja, hampir 20 ribu kasus dilaporkan di 780 bandara Amerika Serikat. Meski menjadi persoalan penerbangan masa kini, peristiwa tersebut memiliki sejarah panjang. “Tabrakan pesawat dengan burung, setua umur penerbangan itu sendiri. Catatan pertama dialami oleh penerbangan Wright III pada 7 September 1905,” tulis Isabel C. Merz bersama timnya dalam jurnal Aerospace. Risiko tersebut kembali mendapat perhatian setelah kecelakaan Jeju Air di Korea Selatan pada Desember 2024. Pilot melaporkan tabrakan burung sebelum pesawat mencoba pendaratan alternatif, kemudian tergelincir dan terbakar. Namun, laporan itu tidak serta-merta menjelaskan seluruh penyebab kecelakaan. Pengamat penerbangan Alvin Lie mengingatkan bahwa tabrakan burung dengan mesin dapat menyebabkan mesin mati, tetapi tidak menjelaskan masalah roda pendaratan. “Jadi pasti ada alasan lain,” katanya. Peristiwa ini memperlihatkan pentingnya membedakan laporan tabrakan burung dengan kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan. Penelitian Merz menunjukkan bahwa tabrakan paling banyak dilaporkan pada ketinggian di bawah 2.500 kaki. Musim dan posisi bandara juga berpengaruh: kejadian lebih banyak pada musim panas, sementara bandara&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/seberapa-sering-pesawat-terbang-tabrakan-dengan-burung-di-udara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/seberapa-sering-pesawat-terbang-tabrakan-dengan-burung-di-udara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belasan Orang Sindikat Perdagangan Gading Gajah Jalani Persidangan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/07/belasan-orang-sindikat-perdagangan-gading-gajah-jalani-persidangan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/07/belasan-orang-sindikat-perdagangan-gading-gajah-jalani-persidangan/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 23:36:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/18150550/Kepolisian-olah-TKP-terhadap-gajah-mati-di-blok-lindung-konsesi-PT-RAPP-Selasa-4-Februari-2026.-Foto-Polda-Riau-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134666</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sindikat perburuan dan perdagangan gading gajah Sumatera mulai terkuak. Aparat mengungkap belasan pelaku dari pemburu sampai pembeli. Mulai awal Agustus persidangan 15 pelaku perburuan dan perdagangan gading gajah Sumatera mulai sidang di Pengadilan Negeri Pelalawan, Riau. Agenda sidang memasuki tahap pembuktian dengan pemeriksaan sejumlah saksi. Jaringan perdagangan organ satwa ini terungkap setelah kasus penembakan gajah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/belasan-orang-sindikat-perdagangan-gading-gajah-jalani-persidangan/">Belasan Orang Sindikat Perdagangan Gading Gajah Jalani Persidangan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sindikat perburuan dan perdagangan gading gajah Sumatera mulai terkuak. Aparat mengungkap belasan pelaku dari pemburu sampai pembeli. Mulai awal Agustus persidangan 15 pelaku perburuan dan perdagangan gading gajah Sumatera mulai sidang di Pengadilan Negeri Pelalawan, Riau. Agenda sidang memasuki tahap pembuktian dengan pemeriksaan sejumlah saksi. Jaringan perdagangan organ satwa ini terungkap setelah kasus penembakan gajah jantan, 40 tahun, di Blok C99 konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Pelalawan. Berdasarkan salinan dakwaan yang Mongabay peroleh, peristiwa itu bermula pada 25 Januari 2026. Sekitar pukul 15.00,  Rito Armanda menelepon Anir (masih buron) untuk mengajak berburu gading gajah. Anir setuju dan menjemput Rito di rumahnya, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Pelalawan. Mengendarai sepeda motor Kanzen hitam tanpa bodi, keduanya menuju konsesi RAPP. Mereka bawa sepucuk senjata api laras panjang jenis 308, berikut 20 butir amunisi peluru, sebilah kapak dan parang. Semua milik Rito. Sekitar satu jam, Rito dan Anir, berkeliling lebih sekitar satu jam di area hutan tanaman industri (HTI) itu.  Mereka temukan jejak gajah di Blok C99. Sekitar 100 meter, kedua orang itu melihat gerombolan 20 gajah. Lalu diam-diam mencari titik dan arah tepat buat menembak. Anir jalan mendahului,  menenteng senjata api. Sekitar 20 meter jarak dari target, dia menembak dua kali kepala gajah jantan, dengan gading agak panjang hingga satwa dilindungi itu mati. Rito dan Anir bergegas mendekati gajah, mengeksekusi gading dengan kapak dan parang. Setelah sebagian kepala terpotong, Rito mencincang bagian itu agar gading terlepas secara utuh. Pekerjaan itu selesai sekitar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/belasan-orang-sindikat-perdagangan-gading-gajah-jalani-persidangan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/07/belasan-orang-sindikat-perdagangan-gading-gajah-jalani-persidangan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Serahkan Rangkong yang Sempat Dipelihara, Amankah Habitatnya di Hutan Muria?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/07/warga-serahkan-rangkong-yang-sempat-dipelihara-amankah-habitatnya-di-hutan-muria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/07/warga-serahkan-rangkong-yang-sempat-dipelihara-amankah-habitatnya-di-hutan-muria/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 11:11:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/07110649/Julang-emas_rangkong-Indonesia.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134638</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa tengah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seekor rangkong diserahkan warga kepada Pegiat Konservasi Muria (Peka Muria), di Desa Sintru, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Burung dari keluarga Bucerotidae itu kemudian diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, untuk penanganan lebih lanjut. Setyawan Rahayu, anggota Peka Muria bidang Konservasi Alam dan Litbang, mengatakan dirinya mendapat informasi keberadaan rangkong [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/warga-serahkan-rangkong-yang-sempat-dipelihara-amankah-habitatnya-di-hutan-muria/">Warga Serahkan Rangkong yang Sempat Dipelihara, Amankah Habitatnya di Hutan Muria?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seekor rangkong diserahkan warga kepada Pegiat Konservasi Muria (Peka Muria), di Desa Sintru, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Burung dari keluarga Bucerotidae itu kemudian diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, untuk penanganan lebih lanjut. Setyawan Rahayu, anggota Peka Muria bidang Konservasi Alam dan Litbang, mengatakan dirinya mendapat informasi keberadaan rangkong dari rekannya bernama Anto, warga Jepara, pukul 22.00 WIB. Tanpa menunggu pagi, dia bersama rekannya ke lokasi untuk mengevakuasi burung tersebut. Saat di lokasi, tampak rangkong berada di kandang ayam di belakang rumah warga. Proses evakuasi tidak mudah karena kadangnya kecil, sedangkan tubuh rangkong besar. Menurut Setyawan, dilihat dari fisiknya ada kerusakan pada bagian ekor dan bulu. Selain itu, kakinya menunjukkan pernah patah. Tulang bagian paha sudah menyambung, tapi tidak dalam posisi normal. “Patahnya sudah lama,” jelasnya, Rabu (30/9/26). Persoalan penting burung ini adalah asal-usulnya. Jika asalnya dari hutan Sumatera atau Kalimantan, maka melepasnya di Jawa tidak sesuai dengan habitat alaminya. “Identifikasi jenis dan penelusuran asal-usul sangat penting, sebelum menentukan lokasi pelepasliaran.” Kasus ini juga mengingatkan Setyawan akan rangkong di hutan Muria masa lalu yang pernah terapantau di pohon beringin berbuah. “Waktu itu ada lima ekor. Kini, sulit dijumpai.” Julang emas [Rhyticeros undulatus] yang memiliki tubuh besar. Foto: Riki Rahmansyah/Rangkong Indonesia. Langkah positif Yokyok Hadiprakarsa, ahli biologi konservasi satwa liar sekaligus pendiri Rangkong Indonesia, mengidentifikasi burung tersebut sebagai julang emas jantan muda. Menurutnya, penyerahan satwa masyarakat merupakan langkah positfi. Namun, asal-usulnya perlu ditelusuri lebih jauh. Ini penting, untuk mengetahui apakah satwa tersebut sebelumnya dipelihara sejak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/warga-serahkan-rangkong-yang-sempat-dipelihara-amankah-habitatnya-di-hutan-muria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/07/warga-serahkan-rangkong-yang-sempat-dipelihara-amankah-habitatnya-di-hutan-muria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kemarau Panjang dan Misteri Kepergian Manusia Purba Flores</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/kemarau-panjang-dan-misteri-kepergian-manusia-purba-flores/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/kemarau-panjang-dan-misteri-kepergian-manusia-purba-flores/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 10:00:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/17090820/manusia-purba-flores-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134555</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, nusa tenggara, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekitar seratus ribu tahun lalu, Flores merupakan pulau yang lebih hijau dan basah. Hutan tropis lembab menutupi sebagian besar wilayahnya, hujan turun lebih merata, dan sungai mengalir sepanjang tahun. Di sekitar Liang Bua, Sungai Wae Rancang menyediakan air bagi manusia purba dan berbagai hewan yang berbagi lingkungan. Namun, kondisi itu perlahan berubah. Curah hujan menyusut, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/kemarau-panjang-dan-misteri-kepergian-manusia-purba-flores/">Kemarau Panjang dan Misteri Kepergian Manusia Purba Flores</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekitar seratus ribu tahun lalu, Flores merupakan pulau yang lebih hijau dan basah. Hutan tropis lembab menutupi sebagian besar wilayahnya, hujan turun lebih merata, dan sungai mengalir sepanjang tahun. Di sekitar Liang Bua, Sungai Wae Rancang menyediakan air bagi manusia purba dan berbagai hewan yang berbagi lingkungan. Namun, kondisi itu perlahan berubah. Curah hujan menyusut, kemarau memanjang, dan ketersediaan air semakin terbatas. Penelitian mengungkap bahwa perubahan tersebut mungkin turut mendorong Homo floresiensis meninggalkan Liang Bua. “Penyebab hilangnya manusia purba Homo floresiensis dari Pulau Flores sekitar lima puluh ribu tahun lalu adalah pertanyaan kunci dalam paleoantropologi,” tulis Michael K. Gagan bersama tim peneliti. Untuk memahami persoalan itu, para peneliti merekonstruksi iklim masa lalu menggunakan stalagmit dari Liang Luar, gua yang berjarak sekitar 660 meter dari Liang Bua. Mereka mengukur perbandingan magnesium terhadap kalsium serta rasio isotop oksigen. Analisis juga dilakukan terhadap enamel gigi gajah kerdil Flores, Stegodon florensis insularis. Petunjuk dari batuan gua dan gigi tersebut membantu menggambarkan perubahan curah hujan serta kondisi musim ketika manusia purba menghuni kawasan itu. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth &amp; Environment pada Desember 2025. Penelitian menunjukkan curah hujan tahunan terus menurun antara 76 ribu hingga 61 ribu tahun lalu. Kekeringan paling ekstrem berlangsung sekitar 61 ribu hingga 55 ribu tahun lalu, bersamaan dengan penurunan populasi stegodon, hewan buruan H. floresiensis. Ketika air dan vegetasi menyusut, tekanan terhadap manusia dan hewan meningkat. Persaingan mendapatkan air serta berkurangnya mangsa diduga ikut mengubah kehidupan di sekitar Liang Bua. “Temuan kami menunjukkan perubahan iklim, yang berpotensi dikombinasikan dengan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/kemarau-panjang-dan-misteri-kepergian-manusia-purba-flores/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/kemarau-panjang-dan-misteri-kepergian-manusia-purba-flores/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Biawak Pohon Biru, Reptil Endemik Raja Ampat yang Hanya Ditemukan di Pulau Batanta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/07/biawak-pohon-biru-reptil-endemik-raja-ampat-yang-hanya-ditemukan-di-pulau-batanta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/07/biawak-pohon-biru-reptil-endemik-raja-ampat-yang-hanya-ditemukan-di-pulau-batanta/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 09:25:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/07092013/varanidae-varanus-macraei-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134629</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan hujan di bagian timur Indonesia menyimpan banyak satwa yang tidak dijumpai di tempat lain di dunia. Kepulauan Raja Ampat di Papua Barat Daya dikenal luas karena terumbu karangnya, tetapi daratannya juga menjadi rumah bagi reptil yang hidup di tajuk pepohonan. Salah satu kelompok yang menarik perhatian para ahli reptil adalah biawak pohon, yaitu biawak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/biawak-pohon-biru-reptil-endemik-raja-ampat-yang-hanya-ditemukan-di-pulau-batanta/">Biawak Pohon Biru, Reptil Endemik Raja Ampat yang Hanya Ditemukan di Pulau Batanta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan hujan di bagian timur Indonesia menyimpan banyak satwa yang tidak dijumpai di tempat lain di dunia. Kepulauan Raja Ampat di Papua Barat Daya dikenal luas karena terumbu karangnya, tetapi daratannya juga menjadi rumah bagi reptil yang hidup di tajuk pepohonan. Salah satu kelompok yang menarik perhatian para ahli reptil adalah biawak pohon, yaitu biawak yang hidup di pohon dan memiliki ekor yang mampu menggenggam cabang.Salah satu anggotanya adalah biawak pohon biru (Varanus macraei), yang menghuni Pulau Batanta di Raja Ampat dan sejauh ini hanya diketahui hidup di sana. Spesies ini baru dideskripsikan secara ilmiah pada 2001 oleh Wolfgang Böhme dan Hans J. Jacobs, dengan nama yang diambil dari herpetolog Duncan Malcolm MacRae. Kini statusnya Endangered atau terancam punah dalam Daftar Merah IUCN, sementara pengetahuan tentang kehidupannya di alam liar masih sangat terbatas. Corak biru, ekor panjang, dan ukuran tubuh Biawak pohon biru termasuk kelompok prasinus dan subgenus Hapturosaurus, yang juga mencakup biawak pohon hijau (Varanus prasinus). Pada awal abad ke-21, jumlah spesies dalam kelompok ini bertambah setelah Varanus macraei, V. boehmei, dan V. reisingeri dideskripsikan. Tubuh biawak pohon biru berwarna hitam dengan sisik biru yang tersebar. Sisik-sisik itu membentuk bintik melingkar yang disebut ocelli, dan pada sebagian individu bintik tersebut menyambung menjadi pita melintang di punggung. Jumlah pita punggungnya kurang dari sembilan. Sebagian besar pengetahuan tentang biawak pohon biru (Varanus macraei) berasal dari satwa penangkaran, bukan dari penelitian di alam liar. Foto: Petr Kratochvil/PublicDomainPictures.net. Ujung moncongnya berwarna biru muda, sedangkan tungkainya dipenuhi bintik biru kehijauan. Satu baris sisik biru&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/biawak-pohon-biru-reptil-endemik-raja-ampat-yang-hanya-ditemukan-di-pulau-batanta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/07/biawak-pohon-biru-reptil-endemik-raja-ampat-yang-hanya-ditemukan-di-pulau-batanta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penyiksaan Awak Kapal Cumi Terus Terjadi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/07/penyiksaan-awak-kapal-cumi-terus-terjadi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/07/penyiksaan-awak-kapal-cumi-terus-terjadi/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 06:28:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/07053745/Awak-kapal-siksa-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134607</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekujur tubuh Ilyas Salahuddin masih terasa sakit karena penyiksaan yang dia alami ketika berlayar menjadi awak kapal cumi di perairan sekitar Kepulauan Aru, Maluku. Sang Ibu, Siti Nurhayati bilang, Ilyas mengeluhkan telinga kiri tidak bisa mendengar, sakit pada bagian perut dan kaki. Siti terakhir berkomunikasi dengan anaknya itu pada Minggu (4/10/26) pagi. Dalam percakapan itu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/penyiksaan-awak-kapal-cumi-terus-terjadi/">Penyiksaan Awak Kapal Cumi Terus Terjadi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekujur tubuh Ilyas Salahuddin masih terasa sakit karena penyiksaan yang dia alami ketika berlayar menjadi awak kapal cumi di perairan sekitar Kepulauan Aru, Maluku. Sang Ibu, Siti Nurhayati bilang, Ilyas mengeluhkan telinga kiri tidak bisa mendengar, sakit pada bagian perut dan kaki. Siti terakhir berkomunikasi dengan anaknya itu pada Minggu (4/10/26) pagi. Dalam percakapan itu, dia menanyakan kondisi sang anak usai melihat video penyiksaan yang keponakannya tunjukkan. “Bagaimana keadaan nak? Alhamdulillah baik, Umi, katanya gitu. Apa yang sakit? Seluruh badan sakit, dia bilang. Apa lagi yang sakit? Telinga kiri saya tidak bisa mendengar, lalu perut saya sakit. Di bagian kaki juga masih ada sakit,” ujar Siti menirukan percakapan dengan Ilyas dikutip dari keterangan Polres Tanjung Priok yang Mongabay terima. Ilyas, satu dari empat awak yang mengalami penyiksaan di atas kapal KM Maulana 23. Video penyiksaan Ilyas  dan korban lain, Oktavian Makhreza, Syawal Suswono, dan Johan Saputra–viral di media sosial pada 30 September. Dalam video itu, terlihat para pelaku mencelupkan tubuh Ilyas ke bak berisi air lalu menginjak dan memukulinya berkali-kali. Muka para korban juga nampak babak belur. Bahkan, terdapat sejumlah luka di bagian telinga, kepala, hingga hidung. Usai video penyiksaan itu viral, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menangkap KM Maulana 23 pada Jumat (2/10/26) sekitar pukul 14.30 WIT di perairan Kepulauan Aru. Pung Nugroho Saksono, Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) mengatakan, saat petugas patroli KP Hiu 14 menangkapnya, KM Maulana 23 sedang menggunakan alat pancing cumi. Kapal bertonase 89 gross tonnage (GT)) itu, memuat sekitar satu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/penyiksaan-awak-kapal-cumi-terus-terjadi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/07/penyiksaan-awak-kapal-cumi-terus-terjadi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Perempuan Adat Bahas Penguatan Hak dalam Temu Nasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/07/para-perempuan-adat-bahas-penguatan-hak-dalam-temu-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/07/para-perempuan-adat-bahas-penguatan-hak-dalam-temu-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 04:30:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/02/22004325/moa-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134598</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Novilla Maria Aru, perempuan adat Kampung Sawesuma bercerita, di kampungnya tabu bagi perempuan vokal. Mereka kerap dapat teguran untuk kembali ke dapur, bahkan dapat kekerasan dari suami hanya karena banyak beraktivitas di luar rumah. “Ada yang dapat pukul, ada yang anaknya suruh panggil, suruh pulang,” kata perempuan dari Distrik Unurum Guay, Kabupaten Jayapura, Papua ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/para-perempuan-adat-bahas-penguatan-hak-dalam-temu-nasional/">Para Perempuan Adat Bahas Penguatan Hak dalam Temu Nasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Novilla Maria Aru, perempuan adat Kampung Sawesuma bercerita, di kampungnya tabu bagi perempuan vokal. Mereka kerap dapat teguran untuk kembali ke dapur, bahkan dapat kekerasan dari suami hanya karena banyak beraktivitas di luar rumah. “Ada yang dapat pukul, ada yang anaknya suruh panggil, suruh pulang,” kata perempuan dari Distrik Unurum Guay, Kabupaten Jayapura, Papua ini. Amok, panggilan akrabnya, bilang, perempuan sulit mengembangkan diri di kampungnya. Selain suami dan keluarga melarang, akses informasi juga sulit. Listrik dan internet belum masuk. Dia pun harus ketuk satu per satu pintu dan meyakinkan para suami jika ingin mengajak keluar istri mereka untuk berkegiatan di luar, termasuk belajar bersama. Istri Ondoafi atau pemimpin adat ini mulai aktif dalam pertemuan-pertemuan adat medio 2010-2014. Meski upaya itu tidak semua berhasil. Tahun 2016, perjuangan mulai berbuah. Satu per satu perempuan mulai berani tampil. Amok bahkan berhasil menduduki posisi pengurus di kampungnya. Dia juga jadi ketua Posyandu hingga Ketua Persekutuan Wanita Kristen (PWK). Banyak hal yang dia kerjakan. Misal, beberapa kali bolak-balik ke Jayapura mencari pendanaan untuk kampungnya. Sejumlah pendanaan dari organisasi non-profit sampai kementerian masuk. Kini, di Sawesuma sudah ada sekolah alternatif untuk para perempuan yang tidak mendapat akses pendidikan formal atau putus sekolah, listrik pun sudah masuk. Para perempuan semakin diakui kemampuannya. Selain aktif di kampungnya, Amok juga aktif dalam organisasi Perempuan AMAN, perkumpulan perempuan adat dari seluruh penjuru nusantara. Organisasi sayap Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) itu sudah berdiri sejak 2012, beranggotakan 5.000 lebih perempuan adat. Itu yang membuat dia dan perempuan-perempuan adat lain akan kumpul&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/07/para-perempuan-adat-bahas-penguatan-hak-dalam-temu-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/07/para-perempuan-adat-bahas-penguatan-hak-dalam-temu-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tidak Lagi Berburu Hiu, Mereka Kini Hidup Tenang Menjadi Pemandu Wisata</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tidak-lagi-berburu-hiu-mereka-kini-hidup-tenang-menjadi-pemandu-wisata/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tidak-lagi-berburu-hiu-mereka-kini-hidup-tenang-menjadi-pemandu-wisata/#respond</comments>
					<pubDate>07 Okt 2026 00:30:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/16094527/DSCF5260-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134450</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, nusa tenggara, dan perikanan dan kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Alimuddin kini menghabiskan pagi di tepi pantai Tanjung Luar, Lombok Timur, menunggu giliran mengantar wisatawan. Sejak 2016, ia bekerja sebagai pemandu wisata setelah hampir dua dekade menangkap hiu. Perubahan pekerjaan itu berangkat dari pengalaman melaut berminggu-minggu, dengan penghasilan yang menurutnya tidak sepadan dengan bahaya. “Menangkap hiu tidak sebanding (penghasilan) dengan risiko,” katanya. Agip mengambil pilihan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tidak-lagi-berburu-hiu-mereka-kini-hidup-tenang-menjadi-pemandu-wisata/">Tidak Lagi Berburu Hiu, Mereka Kini Hidup Tenang Menjadi Pemandu Wisata</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Alimuddin kini menghabiskan pagi di tepi pantai Tanjung Luar, Lombok Timur, menunggu giliran mengantar wisatawan. Sejak 2016, ia bekerja sebagai pemandu wisata setelah hampir dua dekade menangkap hiu. Perubahan pekerjaan itu berangkat dari pengalaman melaut berminggu-minggu, dengan penghasilan yang menurutnya tidak sepadan dengan bahaya. “Menangkap hiu tidak sebanding (penghasilan) dengan risiko,” katanya. Agip mengambil pilihan serupa. Ia berhenti menangkap hiu pada 2010, sempat menjadi nelayan tradisional, lalu beralih ke wisata bahari. Selain pendapatan, jarak dengan keluarga menjadi pertimbangannya. Kini, ia mengatakan dapat memperoleh Rp150.000-Rp200.000 sehari ketika mengantar wisatawan, dengan perjalanan yang lebih pendek. Kisah mereka berlangsung di salah satu lokasi pendaratan hiu dan pari yang besar. Selama dua tahun pemantauan, peneliti mencatat lebih dari 13.000 hiu dan pari dari 57 spesies didaratkan di Tanjung Luar. Namun, menurut Alimuddin dan Agip, nilai perdagangan itu tidak selalu membawa kesejahteraan bagi awak kapal. Keduanya mengeluhkan pembagian hasil yang tidak transparan, beban biaya operasional, dan utang ketika tangkapan tidak menutupi ongkos perjalanan. Awak juga disebut harus ikut menanggung perbaikan kapal serta biaya pengobatan sendiri. Kondisi tersebut membuat peralihan pekerjaan menjadi bagian penting pembicaraan tentang konservasi hiu. Yayasan Kebersamaan untuk Lautan (KUL) pernah memberikan kompensasi kepada nelayan yang melepaskan hiu dan pari hidup. Program itu tidak berjalan sesuai harapan. Dalam setahun, hanya tiga hiu dilepaskan. Bahkan ketika kompensasi dinaikkan, menurut Sekretaris KUL M. Said Ramdlan, tekanan dari pengepul, pemilik kapal, dan permintaan pasar tetap menyulitkan pelepasliaran. KUL kemudian membeli dua kapal penangkap hiu, masing-masing seharga Rp300 juta, lalu memensiunkannya secara permanen. Kedua kapal tercatat menangkap&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tidak-lagi-berburu-hiu-mereka-kini-hidup-tenang-menjadi-pemandu-wisata/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tidak-lagi-berburu-hiu-mereka-kini-hidup-tenang-menjadi-pemandu-wisata/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Menggugat Peran Hashim di Panggung Diplomasi KTT Iklim</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/06/opini-menggugat-peran-hashim-di-panggung-diplomasi-ktt-iklim/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/06/opini-menggugat-peran-hashim-di-panggung-diplomasi-ktt-iklim/#respond</comments>
					<pubDate>06 Okt 2026 21:26:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Firdaus Cahyadi*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/06211923/ESDM--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134602</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tahun ini,  Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) iklim atau Conference of the Parties (COP) 31 di Turki bakal kembali berlangsung November nanti. Perhelatan itu akan menjadi ajang diplomasi iklim bagi negara-negara di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Alih-alih mempersiapkan diplomasi iklim yang handal, Pemerintah Indonesia justru memperlemah posisi diplomasi iklim melalui keputusan Kementerian Energi dan Sumberdaya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/opini-menggugat-peran-hashim-di-panggung-diplomasi-ktt-iklim/">Opini: Menggugat Peran Hashim di Panggung Diplomasi KTT Iklim</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tahun ini,  Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) iklim atau Conference of the Parties (COP) 31 di Turki bakal kembali berlangsung November nanti. Perhelatan itu akan menjadi ajang diplomasi iklim bagi negara-negara di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Alih-alih mempersiapkan diplomasi iklim yang handal, Pemerintah Indonesia justru memperlemah posisi diplomasi iklim melalui keputusan Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (KESDM) terkait hasil lelang penawaran langsung wilayah kerja (WK) minyak dan gas (migas) Natuna D-Alpha. Keputusan KESDM itu memenangkan perusahaan yang kaitan dengan Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim. Dari kacamata bisnis, itu mungkin berita wajar saja, tetapi dari kacamata diplomasi iklim, itu kabar buruk karena dapat memperlemah posisi diplomasi Indonesia di kancah internasional. Kenapa demikian? Setidaknya,  ada dua penyebab. Pertama, blok migas D-Alpha memiliki kandungan CO2 hingga sekitar 72%. Belum ada perusahaan yang pernah memisahkan kandungan CO2 sebesar itu. Artinya,  blok migas itu akan berpotensi menjadi bom karbon dari Indonesia. Andaikan berhasil pun itu akan berbiaya mahal. Konsekuensinya, negeri ini akan tersandera ekonomi berbasiskan energi fosil. Kuncian ekonomi berbasis fosil itu melalui pembangunan dan perawatan infrastruktur fisik, ekonomi dan politiknya (kebijakan). Makin lama kuncian ekonomi berbasis energi fosil itu, akan makin lama energi terbarukan masuk dalam sistem energi Indonesia. Kedua, persoalan etika publik dalam pengambilan kebijakan energi. Perusahaan yang akan bekerja di blok migas itu berkaitan dengan sosok Hashim Djojohadikusumo. Dia bukan hanya adik Presiden Prabowo Subianto, juga Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim. Bagaiamana mungkin seorang Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim justru dikaitkan dengan bisnis migas yang emisinya justru&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/opini-menggugat-peran-hashim-di-panggung-diplomasi-ktt-iklim/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/06/opini-menggugat-peran-hashim-di-panggung-diplomasi-ktt-iklim/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Telaga Ranjeng, Ikan Lele, dan Kearifan Masyarakat Menjaga Sumber Air</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/telaga-ranjeng-ikan-lele-dan-kearifan-masyarakat-menjaga-sumber-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/telaga-ranjeng-ikan-lele-dan-kearifan-masyarakat-menjaga-sumber-air/#respond</comments>
					<pubDate>06 Okt 2026 10:00:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/30145056/telaga-ranjeng1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134557</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di pinggir Telaga Ranjeng, warga dan pengunjung menyaksikan ikan-ikan berkumpul menerima makanan. Ikan mas tampak mendominasi permukaan air. Namun, bagi sebagian pengunjung, telaga di lereng barat Gunung Slamet ini lebih dikenal karena ikan lelenya yang tidak boleh ditangkap. “Telaga Ranjeng terkenal akan lele yang tidak boleh diambil. Hanya boleh dilihat,” kata Afan Maulana, pengunjung asal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/telaga-ranjeng-ikan-lele-dan-kearifan-masyarakat-menjaga-sumber-air/">Telaga Ranjeng, Ikan Lele, dan Kearifan Masyarakat Menjaga Sumber Air</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di pinggir Telaga Ranjeng, warga dan pengunjung menyaksikan ikan-ikan berkumpul menerima makanan. Ikan mas tampak mendominasi permukaan air. Namun, bagi sebagian pengunjung, telaga di lereng barat Gunung Slamet ini lebih dikenal karena ikan lelenya yang tidak boleh ditangkap. “Telaga Ranjeng terkenal akan lele yang tidak boleh diambil. Hanya boleh dilihat,” kata Afan Maulana, pengunjung asal Banyumas. Larangan mengambil ikan telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah. Kepercayaan bahwa mengganggu ikan dapat mendatangkan kejadian buruk membuat warga menjaga kehidupan di dalam telaga. “Masyarakat di sini tetap menjaga ikan di telaga ini,” ujar Sirin, warga setempat. Telaga Ranjeng, atau Tlogoranjeng, berada pada ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut. Kawasan cagar alamnya memiliki luas 53,41 hektar. Perlindungan kawasan ini berjalan bersama kebiasaan masyarakat untuk tidak menangkap ikan, menebang pohon, maupun mencemari hutan dan telaga. Jamal, penjaga Telaga Ranjeng yang telah bertugas selama 15 tahun, mengatakan ekosistemnya masih terjaga. Menurutnya, lele dan ikan mas tidak selalu terlihat bersamaan. Ada masa ketika hanya salah satunya muncul, bahkan ikan pernah tidak terlihat pada 2017-2019. “Kadang, lele tidak muncul dalam beberapa waktu, namun bukan karena punah,” jelasnya. Pengamatan tersebut menunjukkan bahwa tidak terlihatnya ikan di permukaan belum tentu berarti ikan telah hilang dari telaga. Jamal menyebut, setelah masa itu, lele kembali muncul bersama ikan mas. Penelitian Nugraha dan Novianto dari Universitas PGRI Yogyakarta menjelaskan bahwa mitos larangan mengganggu ikan memiliki fungsi konservasi. Kepercayaan tersebut membantu melindungi ikan sekaligus ekosistem tempatnya hidup. “Kearifan lokal akan tetap bertahan dan berkembang jika di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/telaga-ranjeng-ikan-lele-dan-kearifan-masyarakat-menjaga-sumber-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/telaga-ranjeng-ikan-lele-dan-kearifan-masyarakat-menjaga-sumber-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ciguatoksin, Ancaman Tersembunyi pada Ikan Karang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/06/ciguatoksin-ancaman-tersembunyi-pada-ikan-karang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/06/ciguatoksin-ancaman-tersembunyi-pada-ikan-karang/#respond</comments>
					<pubDate>06 Okt 2026 09:00:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/07/22045910/Falahi-Mubarok-Kunjungan-Kerja-Menteri-KKP-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134588</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, pangan, Satwa, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebuah video siniar berjudul “Ancaman Superbug, Hewan Beracun, Nutrilevel” mendadak ramai jadi perbincangan di Indonesia. Tayangan tersebut pertama kali muncul pada 28 Juli 2026 dan sudah ditonton 163 ribu kali. Satu bahasan paling menarik adalah ikan karang, khususnya kakap merah yang disebut mengandung racun. Nara sumber pada menit 14.05 mengatakan kalau kakap merah mengandung racun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/ciguatoksin-ancaman-tersembunyi-pada-ikan-karang/">Ciguatoksin, Ancaman Tersembunyi pada Ikan Karang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebuah video siniar berjudul “Ancaman Superbug, Hewan Beracun, Nutrilevel” mendadak ramai jadi perbincangan di Indonesia. Tayangan tersebut pertama kali muncul pada 28 Juli 2026 dan sudah ditonton 163 ribu kali. Satu bahasan paling menarik adalah ikan karang, khususnya kakap merah yang disebut mengandung racun. Nara sumber pada menit 14.05 mengatakan kalau kakap merah mengandung racun bernama ciguatoksin. Dia menekankan, ikan tersebut berbahaya dikonsumsi, jika bobotnya lebih dari 2 kilogram. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membuat dua unggahan di sosial media tentang itu. Pada dua video singkat yang diunggah Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (BPPMHKP) KKP, terdapat klarifikasi tentang pernyataan racun pada ikan kakap merah di atas 2 kg. Nurjanah, Guru Besar Teknologi Hasil Perikanan IPB University, tidak membantah pernyataan dari siniar tersebut. Hanya, dia meyakinkan publik kalau ikan kakap merah dari Indonesia yang beredar di pasar dalam dan luar negeri, sudah melewati keamanan pangan. Kepada Mongabay, Jumat (18/9/26), dia meyakinkan bahwa belum ada kasus ciguatoksin terkonfirmasi di Indonesia. Racun yang menyebabkan ciguatoksin masih sangat terbatas dan perlu penguatan lebih bagus lagi. “Data pemetaan wilayah berisiko masih belum lengkap.” Nurjanah bilang, kasus keracunan ciguatoksin lebih sering ditemukan di kawasan pasifik dan subtropis. Mendeteksi ciguatoksin tidak mudah, karena Indonesia belum memiliki metode yang sesuai dan cepat. Deteksi ciguatoksin juga masih sangat rendah, hanya 0,6 parts per billion (ppb). Artinya, dalam setiap 1 kg ikan, kandungan ciguatoksin yang terdeteksi sekitar 0,6 mikrogram (µg). Jika ciguatoksin masuk dan terakumulasi pada ikan berobot di atas 2 kg,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/ciguatoksin-ancaman-tersembunyi-pada-ikan-karang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/06/ciguatoksin-ancaman-tersembunyi-pada-ikan-karang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pemerintah Mau Hidupkan BRGM Lagi Setelah Kebakaran Hutan dan Gambut Menggila</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/06/pemerintah-mau-hidupkan-brgm-lagi-setelah-kebakaran-hutan-dan-gambut-menggila/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/06/pemerintah-mau-hidupkan-brgm-lagi-setelah-kebakaran-hutan-dan-gambut-menggila/#respond</comments>
					<pubDate>06 Okt 2026 07:30:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/06000144/Warga-bersama-personel-kepolisian-melakukan-pemadaman-di-lokasi-kebakaran-di-Desa-Gambut-Jaya--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134518</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Anggrek Nusantara di Hutan yang Kian Menyempit dan Nestapa Warga Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Lahan Basah, politik dan hukum, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) parah 2026 bikin gagap dan kelabakan pemerintah. Mereka pun berencana menghidupkan kembali lembaga yang mengurusi gambut dan mangrove, setelah mereka bubarkan 31 Desember 2024. Sebelumnya, Indonesia punya badan restorasi gambut, pasca karhutla hebat 2015, kemudian jadi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Pada Kamis-Jumat (1-2/10/26), puluhan pakar dan akademisi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/pemerintah-mau-hidupkan-brgm-lagi-setelah-kebakaran-hutan-dan-gambut-menggila/">Pemerintah Mau Hidupkan BRGM Lagi Setelah Kebakaran Hutan dan Gambut Menggila</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) parah 2026 bikin gagap dan kelabakan pemerintah. Mereka pun berencana menghidupkan kembali lembaga yang mengurusi gambut dan mangrove, setelah mereka bubarkan 31 Desember 2024. Sebelumnya, Indonesia punya badan restorasi gambut, pasca karhutla hebat 2015, kemudian jadi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Pada Kamis-Jumat (1-2/10/26), puluhan pakar dan akademisi mondar-mandir Gedung Manggala Wanabakti, Kantor Kementerian Kehutanan, di Jakarta. Mereka membagikan keahlian mereka untuk penyusunan arah kerja dan mandat Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN). Sejak Presiden Prabowo mencetuskan ide pembentukan badan itu pasca rapat terbatas dengan sejumlah pakar di Istana Negara, Kamis (26/09/26), masyarakat sipil mewanti-wanti agar badan baru itu tidak hanya respons panik. Melainkan upaya sungguh-sungguh pemerintah untuk memperbaiki tata kelola gambut di dalam ataupun luar konsesi yang kerap terbakar. “Dari awal pertemuan, saya tekankan, kalau mau (BPGMN) lebih baik dari BRG (Badan Restorasi Gambut) dan BRGM (Badan Restorasi Gambut dan Mangrove), maka (lembaga ini) jangan ad hoc,” kata Wahyu Perdana, Manajer Advokasi, Kampanye, dan Komunikasi Pantau Gambut, pada Mongabay. Jadi, BPGMN tidak lagi bekerja dalam kurun waktu tertentu dan bubar setelah target tercapai seperti pendahulunya. Belasan individu bekantan ditemukan mati terbakar ketika karhutla melanda Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Minggu (13/9/2026). Foto: Relawan pemadam kebakaran HSS. Perkuat kewenangan Usulan penguatan badan itu terus bermunculan. Salah satunya, kata Wahyu, ihwal peningkatan supervisi kawasan gambut di konsesi. Sebelumnya, hanya BRG yang memiliki kemampuan itu, itu pun tidak berjalan mulus karena inspeksi  mereka pernah dapat adangan perusahaan. Usulan BPGMN&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/pemerintah-mau-hidupkan-brgm-lagi-setelah-kebakaran-hutan-dan-gambut-menggila/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/06/pemerintah-mau-hidupkan-brgm-lagi-setelah-kebakaran-hutan-dan-gambut-menggila/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tak Ada Satu pun Jembatan di Sepanjang 6.000 Km Sungai Amazon, Satu Jembatan Diperkirakan Naikkan Deforestasi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/06/tak-ada-satu-pun-jembatan-di-sepanjang-6-000-km-sungai-amazon-satu-jembatan-diperkirakan-naikkan-deforestasi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/06/tak-ada-satu-pun-jembatan-di-sepanjang-6-000-km-sungai-amazon-satu-jembatan-diperkirakan-naikkan-deforestasi/#respond</comments>
					<pubDate>06 Okt 2026 03:40:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/02031127/river-3443219_1280-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134575</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sungai besar umumnya dilintasi banyak jembatan, dan keberadaannya sering dianggap penanda terhubungnya suatu wilayah. Jalan raya dan jalur kereta biasanya menyeberangi sungai lewat jembatan, sehingga kota di kedua tepinya terhubung dalam satu jaringan darat. Amazon menjadi pengecualian yang mencolok. Di sepanjang batang utamanya yang membentang lebih dari 6.000 kilometer, tidak ada satu pun jembatan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/tak-ada-satu-pun-jembatan-di-sepanjang-6-000-km-sungai-amazon-satu-jembatan-diperkirakan-naikkan-deforestasi/">Tak Ada Satu pun Jembatan di Sepanjang 6.000 Km Sungai Amazon, Satu Jembatan Diperkirakan Naikkan Deforestasi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sungai besar umumnya dilintasi banyak jembatan, dan keberadaannya sering dianggap penanda terhubungnya suatu wilayah. Jalan raya dan jalur kereta biasanya menyeberangi sungai lewat jembatan, sehingga kota di kedua tepinya terhubung dalam satu jaringan darat. Amazon menjadi pengecualian yang mencolok. Di sepanjang batang utamanya yang membentang lebih dari 6.000 kilometer, tidak ada satu pun jembatan yang melintang, sehingga orang dan barang bergerak dengan kapal, feri, dan perahu cepat. Bagi para peneliti, ketiadaan itu menarik karena jalan termasuk pendorong utama deforestasi di Amazon, sehingga setiap penyeberangan darat baru berpotensi mengubah kondisi hutan di sekitarnya. Namun, Amazon bukan wilayah tanpa jembatan sama sekali. Di Manaus, pusat ekonomi terbesar di Amazon Brasil, sebuah jembatan sepanjang 3,6 kilometer melintasi Rio Negro, anak sungai besar Amazon, dan selesai dibangun pada 2011. Jembatan itu menghubungkan Manaus dengan Iranduba, kota kecil di tepi seberang, tetapi tidak menyeberangi batang utama Amazon. Sebuah simulasi dari peneliti Brasil memperkirakan jembatan itu dapat menaikkan deforestasi di dua kota di seberangnya hingga 33 persen dibanding skenario tanpa jembatan, atau 27,7 persen bila tiga kota yang diteliti dihitung bersama. Angka itu berasal dari pemodelan, bukan pengukuran langsung di lapangan, sehingga lebih tepat dibaca sebagai perkiraan arah dampak. Mengapa Batang Utama Amazon Tak Pernah Dijembatani Menurut Walter Kaufmann, pakar rekayasa struktur dan desain jembatan di Swiss Federal Institute of Technology (ETH) Zurich, alasan utamanya adalah belum adanya kebutuhan yang cukup mendesak. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar aliran Amazon melewati wilayah berpenduduk jarang dengan sedikit jalan besar yang bisa disambungkan ke sebuah jembatan. Di kota-kota tepi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/tak-ada-satu-pun-jembatan-di-sepanjang-6-000-km-sungai-amazon-satu-jembatan-diperkirakan-naikkan-deforestasi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/06/tak-ada-satu-pun-jembatan-di-sepanjang-6-000-km-sungai-amazon-satu-jembatan-diperkirakan-naikkan-deforestasi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hidup Sejak 445 Juta Tahun Silam, Apakah Belangkas dan Kepiting Tapal Kuda Jenis yang Sama?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hidup-sejak-445-juta-tahun-silam-apakah-belangkas-dan-kepiting-tapal-kuda-jenis-yang-sama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hidup-sejak-445-juta-tahun-silam-apakah-belangkas-dan-kepiting-tapal-kuda-jenis-yang-sama/#respond</comments>
					<pubDate>06 Okt 2026 02:20:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/03/22040752/BELANGKAS-MATI-TERLILIT-JARINGFAM_6897-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134556</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Perikanan Kelautan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Namanya kepiting tapal kuda, tetapi hewan ini bukan bagian dari kelompok kepiting. Di Indonesia, ia dikenal sebagai belangkas, mimi, blangkas, kepiting lada, mintua, atau pari kepiting. Bentuk tubuhnya memang menyerupai kepiting, namun hubungan kekerabatannya justru dekat dengan kalajengking dan laba-laba dalam kelompok Chelicerata. Belangkas disebut fosil hidup karena memiliki kemiripan bentuk tubuh dengan leluhurnya ratusan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hidup-sejak-445-juta-tahun-silam-apakah-belangkas-dan-kepiting-tapal-kuda-jenis-yang-sama/">Hidup Sejak 445 Juta Tahun Silam, Apakah Belangkas dan Kepiting Tapal Kuda Jenis yang Sama?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Namanya kepiting tapal kuda, tetapi hewan ini bukan bagian dari kelompok kepiting. Di Indonesia, ia dikenal sebagai belangkas, mimi, blangkas, kepiting lada, mintua, atau pari kepiting. Bentuk tubuhnya memang menyerupai kepiting, namun hubungan kekerabatannya justru dekat dengan kalajengking dan laba-laba dalam kelompok Chelicerata. Belangkas disebut fosil hidup karena memiliki kemiripan bentuk tubuh dengan leluhurnya ratusan juta tahun lalu. Jejak kelompok ini menjangkau sekitar 445 juta tahun silam, berdasarkan temuan spesies purba Lunatapis aurora di Kanada. Tubuh belangkas terbagi menjadi tiga bagian yang saling terhubung. Bagian depan berbentuk tapal kuda lebar, diikuti abdomen yang lebih kecil dan bersegmen, serta ekor panjang dan tajam yang disebut telson. Penampilan inilah yang membuatnya mudah dikenali. Buku “Bioekologi Kepiting Tapal Kuda”, terbitan Universitas Maritim Raja Ali Haji pada 2025, mencatat tiga spesies di Indonesia: Tachypleus gigas, Tachypleus tridentatus, dan Carcinoscorpius rotundicauda. Ketiganya tersebar di berbagai wilayah pesisir, dari Sumatera, Jawa, dan Kalimantan hingga Sulawesi. Satu spesies lainnya, Limulus polyphemus, hidup di sepanjang perairan Atlantik Amerika Utara. Dengan demikian, tiga dari empat spesies kepiting tapal kuda yang disebut dalam artikel dapat ditemukan di Indonesia. Keunikan belangkas juga terletak pada darahnya yang berwarna biru. Warna tersebut berasal dari tembaga, berbeda dengan darah manusia yang memperoleh warna merah dari besi. Darah biru ini memiliki manfaat penting dalam bidang kesehatan. Bahan yang diperoleh darinya digunakan untuk mendeteksi endotoksin bakteri berbahaya pada produk seperti obat intravena dan vaksin sebelum digunakan manusia. Tes tersebut dikenal sebagai Limulus amoebocyte lysate atau LAL. Namun, manfaat belangkas tidak berhenti pada kebutuhan manusia. Di lingkungan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hidup-sejak-445-juta-tahun-silam-apakah-belangkas-dan-kepiting-tapal-kuda-jenis-yang-sama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hidup-sejak-445-juta-tahun-silam-apakah-belangkas-dan-kepiting-tapal-kuda-jenis-yang-sama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menanti Perkembangan Kasus 5 Bayi Orangutan di Hutan India</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/06/menanti-perkembangan-kasus-5-bayi-orangutan-di-hutan-india/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/06/menanti-perkembangan-kasus-5-bayi-orangutan-di-hutan-india/#respond</comments>
					<pubDate>06 Okt 2026 02:05:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sri Wahyuni]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/14091318/Orangutan-Sumatera-di-SRA-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134566</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Awal September lalu, temuan mengejutkan dari India. Lima anak orangutan dari Indonesia berada dalam hutan di Odisha. Berbagai kalangan mendorong agar penanganan segera mengingat orangutan masih bayi serta penanganan menyeluruh dari mengusut penerima di India sampai jaringan di Indonesia. Kelima orangutan itu Dinas Kehutanan di India temukan pada 8 September 2026 di hutan Blok Bhogarai/Udaipur, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/menanti-perkembangan-kasus-5-bayi-orangutan-di-hutan-india/">Menanti Perkembangan Kasus 5 Bayi Orangutan di Hutan India</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Awal September lalu, temuan mengejutkan dari India. Lima anak orangutan dari Indonesia berada dalam hutan di Odisha. Berbagai kalangan mendorong agar penanganan segera mengingat orangutan masih bayi serta penanganan menyeluruh dari mengusut penerima di India sampai jaringan di Indonesia. Kelima orangutan itu Dinas Kehutanan di India temukan pada 8 September 2026 di hutan Blok Bhogarai/Udaipur, wilayah Jaleswar, Distrik Balasore. Lokasi itu berada dekat perbatasan Odisha dengan Negara Bagian Bengal Barat. Berdasarkan informasi awal Kementerian Kehutanan, kelima orangutan masih berusia sekitar 1-1,5 tahun dan dalam kondisi sehat. Saat ini,  mereka di Nandankanan Zoological Park, Bhubaneswar, India, untuk mendapatkan perawatan. Julius, Ketua Forum Konservasi Orangutan Sumatera (Fokus), mengatakan, sudah berkomunikasi dengan Kemenhut dan Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik, menyatakan kesiapan mendukung proses repatriasi kelima satwa itu ke Indonesia. Menurut dia, proses repatriasi lima bayi orangutan dari India perlu segera karena usia mereka masih sekitar 1-1,5 tahun. Pada usia itu, orangutan masih membutuhkan penanganan khusus dan rentan apabila tidak mendapatkan perawatan yang tepat. “Bayi itu harus khusus penanganannya. Kalau sampai terlambat bisa jadi bayi-bayi orangutannya, karena masih muda sekali, masih 1-1,5 tahun dan cukup rentan. Bayi orangutan seperti itu kalau penanganannya tidak cepat atau penanganannya salah,” ujarnya. Dia mengatakan, kehilangan induk membuat kebutuhan perawatan menjadi makin penting, termasuk pemenuhan asupan makanan yang sesuai. “Karena mereka kan butuh, pastinya asupan makanan seperti susu. Namanya kehilangan induk, itu rentan dengan bayi yang sangat kecil,” katanya. Berdasarkan ciri fisik yang terlihat dalam informasi awal, kelima satwa kemungkinan merupakan orangutan Sumatera, namun kepastian spesies dan asal-usul tetap memerlukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/06/menanti-perkembangan-kasus-5-bayi-orangutan-di-hutan-india/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/06/menanti-perkembangan-kasus-5-bayi-orangutan-di-hutan-india/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Perempuan Melawan, Jaga Alam dari Industri Perusak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/05/para-perempuan-melawan-jaga-alam-dari-industri-perusak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/05/para-perempuan-melawan-jaga-alam-dari-industri-perusak/#respond</comments>
					<pubDate>05 Okt 2026 15:25:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/05151655/naem-petani-tolak-batubara--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134559</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Ketika ruang hidup atau lingkungan rusak karena pembangunan maupun industri ekstraktif, para perempuan banyak berada di depan melawan. Perlawanan tak selalu berlangsung di ruang sidang atau aksi di jalan, justru tumbuh dari dapur, kebun, sumber air, hingga pertemuan rutin warga. Kisah-kisah ini terangkum dalam buku Tanah Ini Tubuh Kami: Perlawanan Perempuan di Garis Depan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/para-perempuan-melawan-jaga-alam-dari-industri-perusak/">Para Perempuan Melawan, Jaga Alam dari Industri Perusak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Ketika ruang hidup atau lingkungan rusak karena pembangunan maupun industri ekstraktif, para perempuan banyak berada di depan melawan. Perlawanan tak selalu berlangsung di ruang sidang atau aksi di jalan, justru tumbuh dari dapur, kebun, sumber air, hingga pertemuan rutin warga. Kisah-kisah ini terangkum dalam buku Tanah Ini Tubuh Kami: Perlawanan Perempuan di Garis Depan Ekstraktivisme yang rilis 25 September lalu. Buku yang Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) dokumentasikan ini merekam pengalaman perempuan di sejumlah wilayah yang berhadapan dengan ekspansi pertambangan maupun proyek ekstraktif lainnya, seperti Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara sampai Halmahera. Dokumentasi Jatam ini menunjukkan perlawanan perempuan berlangsung di berbagai daerah. Eros Fengi atau Mama Eros, dari Desa Ladja, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) cerita soal Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko yang mempengaruhi sumber air warga. Sungai Tiwu Bala,  dekat rumah Mama Eros merupakan sumber air untuk operasi PLTP Mataloko. Mama Eros dengan para perempuan di Ladja mengorganisir diri. Mereka membentuk forum dan mengajak para paroki untuk lakukan demonstrasi. “Setiap satu bulan sekali, kami (perempuan) lakukan pertemuan di balai desa,” katanya dalam diskusi dalam rangkaian acara Jatam bertema “Ekstraktivitasme Berkedok Transisi Energi.” Dua lubang di sumur pertama PLTP Daratei Mataloko yang dianggap oleh warga sekitar mengganggu aktivitas dan berdampak lingkungan. Foto: Ebed de Rosary. Pertemuan itu menjadi ruang bagi perempuan untuk membicarakan kondisi kampung sekaligus menyusun strategi menghadapi proyek panas bumi. Perlawanan lain datang dari Desa Sumber Sari, Kalimantan Timur. Iberna Kristin, warga Sumber Sari, mengatakan,  masyarakat menolak rencana pertambangan batubara sejak 2013. Hingga kini, warga masih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/para-perempuan-melawan-jaga-alam-dari-industri-perusak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/05/para-perempuan-melawan-jaga-alam-dari-industri-perusak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>