<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=intan-lestari&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/intan-lestari/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 09 Jun 2026 13:49:01 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Hiu Paus Kembali Terdampar di Pesisir Cilacap, Mengapa?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/09/hiu-paus-kembali-terdampar-di-pesisir-cilacap-mengapa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/09/hiu-paus-kembali-terdampar-di-pesisir-cilacap-mengapa/#respond</comments>
					<pubDate>09 Jun 2026 10:10:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[L Darmawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/09100158/Hiu-paus3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129036</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, pencemaran, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jumawan (33) setiap hari melintasi pesisir pantai Cilacap mencari telur penyu. Ketua Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah, ini menyelamatkan telur penyu untuk ditetaskan menjadi tukik. Namun, pada Sabtu (23/5/2026), dia mendapat kabar ada hiu paus (Rhincodon typus) terdampar. “Saya langsung ke lokasi, Pantai Banjarsari, Kecamatan Nusawungu. Pada Minggu (17/5/2026) sebelumnya, ada juga hiu terdampar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/09/hiu-paus-kembali-terdampar-di-pesisir-cilacap-mengapa/">Hiu Paus Kembali Terdampar di Pesisir Cilacap, Mengapa?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jumawan (33) setiap hari melintasi pesisir pantai Cilacap mencari telur penyu. Ketua Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah, ini menyelamatkan telur penyu untuk ditetaskan menjadi tukik. Namun, pada Sabtu (23/5/2026), dia mendapat kabar ada hiu paus (Rhincodon typus) terdampar. “Saya langsung ke lokasi, Pantai Banjarsari, Kecamatan Nusawungu. Pada Minggu (17/5/2026) sebelumnya, ada juga hiu terdampar sepanjang 4 meter, di Pantai Pagubugan, Desa Binangun, Kecamatan Binangun. Jarak kedua lokasi ini sekitar 6 kilometer,” jelasnya, Minggu (24/5/2026). Jumawan segera menghubungi pihak terkait, sekitar pukul 05.30 WIB. “Kami bersama warga berusaha mendorong hiu paus kembali ke laut, karena saat terdampar masih dalam kondisi hidup. Namun, gagal. Ikan terbesar di dunia itu, akhirnya mati.” Ekskavator didatangkan untuk mengevakuasi hiu paus sepanjang 8,36 meter dengan diameter 3,71 meter. &#8220;Tali tambang yang digunakan beberapa kali putus,&#8221; ungkap Arief Nugroho, Site Coordinator DIY dan Jawa Tengah Yayasan Sealife Indonesia, Senin (1/6/2026). Inilah hiu paus yang terdampar di Pantai Banjarsari, Kecamatan Nusawungu, CIlacap, Jawa Tengah, Minggu (24/5/2026), ini dievakuasi ke daratan. Foto: Dok. Sealife Indonesia. Sering terdampar Mengapa hiu paus sering terdampar di pesisir Cilacap? Darmawan, dari Balai Pengelolaan Laut Pontianak Wilayah Kerja Semarang, mengatakan terdamparnya kejadian ini bukan hal baru. “Hiu paus terdampar pernah terjadi beruntun pada 2022. Saat itu terjadi pada 5, 12, dan 31 Oktober, kemudian terjadi lagi pada 5 November,” jelasnya, Selasa (2/6/2026). Mukti Trenggono, pakar kelautan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, mengungkapkan berdasarkan citra satelit MODIS Aqua, kondisi perairan Cilacap hingga Kebumen pada Mei 2026 menunjukkan fase&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/09/hiu-paus-kembali-terdampar-di-pesisir-cilacap-mengapa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/09/hiu-paus-kembali-terdampar-di-pesisir-cilacap-mengapa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Endemik Sulawesi Ini Pertama Dicatat Seabad Lalu, dan Sejak Itu Nyaris Tak Ada yang Menelitinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-sulawesi-ini-pertama-dicatat-seabad-lalu-dan-sejak-itu-nyaris-tak-ada-yang-menelitinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-sulawesi-ini-pertama-dicatat-seabad-lalu-dan-sejak-itu-nyaris-tak-ada-yang-menelitinya/#respond</comments>
					<pubDate>09 Jun 2026 09:05:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/06054723/Ular-cecak-sulawesi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129020</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tengah malam, di tepi sungai berbatu di Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Muh. Imam Ramdani mendapati sosok ramping berwarna cokelat kekuningan melata perlahan sekitar sepuluh meter dari aliran air. Ia segera tahu ini bukan ular biasa. &#8220;Setahu saya, dokumentasi visual ular ini di internet hampir tidak ada. Hanya tercatat di buku lapangan, itu pun terbit [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-sulawesi-ini-pertama-dicatat-seabad-lalu-dan-sejak-itu-nyaris-tak-ada-yang-menelitinya/">Ular Endemik Sulawesi Ini Pertama Dicatat Seabad Lalu, dan Sejak Itu Nyaris Tak Ada yang Menelitinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tengah malam, di tepi sungai berbatu di Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Muh. Imam Ramdani mendapati sosok ramping berwarna cokelat kekuningan melata perlahan sekitar sepuluh meter dari aliran air. Ia segera tahu ini bukan ular biasa. &#8220;Setahu saya, dokumentasi visual ular ini di internet hampir tidak ada. Hanya tercatat di buku lapangan, itu pun terbit tahun 2005,&#8221; ujarnya. Ular yang ia temukan adalah Lycodon stormi, atau ular cecak sulawesi, reptil endemik yang selama ini hanya tercatat keberadaannya di Sulawesi Utara dan kawasan Lore Lindu. Temuan Imam di Morowali menambah catatan distribusi spesies ini ke wilayah yang sebelumnya tidak pernah terdokumentasi. Malam berikutnya, satu individu lain terpantau menyeberangi sungai selebar tiga hingga lima meter. Dari dua individu yang ditemui, Imam mencatat perbedaan corak tubuh yang menarik: satu berwarna cokelat polos, satu lagi lebih kontras. Variasi warna ini ternyata bukan hal baru dalam kelompok Lycodon, dan justru menjadi salah satu sumber kerancuan identifikasi ilmiah yang belum sepenuhnya terpecahkan. Perilaku ular ini juga menarik diamati. Ketika disentuh, ia mencoba menggigit lalu kabur. Jika disentuh lagi, ia mengulangi respons yang sama. Tapi setelah beberapa kali, strateginya berubah: tubuhnya melingkar dan kepala disembunyikan di bawah badan. &#8220;Perilaku ini bentuk adaptasi untuk mengurangi risiko serangan predator,&#8221; kata Imam. Meski terkesan agresif saat diganggu, ular ini tidak berbisa dan tidak berbahaya bagi manusia. Mangsanya adalah kadal, katak, serangga, dan ular berukuran lebih kecil. Secara ilmiah, Lycodon stormi adalah teka-teki yang belum selesai. Amir Hamidy, Profesor Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, menyebut informasi ilmiah tentang spesies ini masih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-sulawesi-ini-pertama-dicatat-seabad-lalu-dan-sejak-itu-nyaris-tak-ada-yang-menelitinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ular-endemik-sulawesi-ini-pertama-dicatat-seabad-lalu-dan-sejak-itu-nyaris-tak-ada-yang-menelitinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sebelum Ada Manusia, Ada Ular 15 Meter yang Merajai Rawa-rawa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sebelum-ada-manusia-ada-ular-15-meter-yang-merajai-rawa-rawa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sebelum-ada-manusia-ada-ular-15-meter-yang-merajai-rawa-rawa/#respond</comments>
					<pubDate>09 Jun 2026 08:53:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/19230204/snake-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129019</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Empat puluh tujuh juta tahun lalu, di rawa-rawa dangkal yang kini menjadi bagian dari Gujarat, India, seekor predator sepanjang 15 meter bergerak lambat di antara vegetasi lebat. Ia tidak mengejar mangsa. Ia menunggu. Tubuhnya yang sebesar dan sepanjang bus kota melingkar diam di tepi air, sabar, sampai seekor kura-kura purba atau buaya primitif mendekat cukup [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sebelum-ada-manusia-ada-ular-15-meter-yang-merajai-rawa-rawa/">Sebelum Ada Manusia, Ada Ular 15 Meter yang Merajai Rawa-rawa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Empat puluh tujuh juta tahun lalu, di rawa-rawa dangkal yang kini menjadi bagian dari Gujarat, India, seekor predator sepanjang 15 meter bergerak lambat di antara vegetasi lebat. Ia tidak mengejar mangsa. Ia menunggu. Tubuhnya yang sebesar dan sepanjang bus kota melingkar diam di tepi air, sabar, sampai seekor kura-kura purba atau buaya primitif mendekat cukup dekat untuk diserang. Tidak ada predator lain yang berani mengusiknya. Di dunia itu, ia adalah puncak dari segalanya. Ular itu kini diberi nama Vasuki indicus, diambil dari mitologi Hindu di mana Vasuki adalah raja ular legendaris yang melilit leher Dewa Siwa. Sebuah nama yang terasa tepat untuk predator yang ukurannya membuat ular sanca kembang terbesar yang hidup hari ini tampak kerdil. Kisah penemuannya sendiri dimulai dengan kesalahan identifikasi. Pada 2005, para peneliti di Tambang Lignit Panandhro, Gujarat, menemukan tulang-belulang besar yang awalnya mereka kira milik buaya purba. Ukurannya terlalu masif untuk ular mana pun yang mereka kenal. Setelah pemeriksaan ulang yang teliti, mereka menyadari bahwa di depan mereka ada 27 ruas tulang belakang dari seekor ular raksasa yang belum pernah tercatat sebelumnya. Penelitian yang dipimpin Debajit Datta dan Sunil Bajpai dari Indian Institute of Technology Roorkee, dipublikasikan di jurnal Scientific Reports, menghitung estimasi ukuran tubuh berdasarkan lebar ruas tulang belakang yang mencapai 62,7 milimeter. Dengan metode perhitungan allometrik, panjang tubuh Vasuki diestimasi antara 10,9 hingga 15,2 meter. Sebagai perbandingan, ular sanca kembang terbesar yang pernah tercatat di penangkaran jarang menyentuh 8 meter. Vasuki berasal dari keluarga punah Madtsoiidae, dengan tubuh yang silindris, lebar, dan sangat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sebelum-ada-manusia-ada-ular-15-meter-yang-merajai-rawa-rawa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sebelum-ada-manusia-ada-ular-15-meter-yang-merajai-rawa-rawa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ahli Geologi Soroti Pengajuan Izin Lingkungan Baru Tambang Dairi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/09/ahli-geologi-soroti-pengajuan-izin-baru-tambang-dairi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/09/ahli-geologi-soroti-pengajuan-izin-baru-tambang-dairi/#respond</comments>
					<pubDate>09 Jun 2026 08:14:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sri Wahyuni]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/09/22000330/IMG20240901141956_01-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128970</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pengajuan izin lingkungan baru PT Dairi Prima Mineral (DPM) untuk menambang seng di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara (Sumut) setelah  Mahkamah Agung (MA) batalkan sebelumnya, memantik perhatian Steven Emerman, ahli geofisika dan hidrologi asal Amerika Serikat. Dia berpandangan, rencana itu berisiko tinggi bagi masyarakat dan lingkungan. Emerman memiliki gelar matematika dari The Ohio State University, magister [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/09/ahli-geologi-soroti-pengajuan-izin-baru-tambang-dairi/">Ahli Geologi Soroti Pengajuan Izin Lingkungan Baru Tambang Dairi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pengajuan izin lingkungan baru PT Dairi Prima Mineral (DPM) untuk menambang seng di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara (Sumut) setelah  Mahkamah Agung (MA) batalkan sebelumnya, memantik perhatian Steven Emerman, ahli geofisika dan hidrologi asal Amerika Serikat. Dia berpandangan, rencana itu berisiko tinggi bagi masyarakat dan lingkungan. Emerman memiliki gelar matematika dari The Ohio State University, magister geofisika dari Princeton University dan doktor geofisika dari Cornell University. Lebih dari 30 tahun mengajar hidrologi dan geofisika, dia banyak melakukan evaluasi berbagai proyek tambang di sejumlah negara. “Saya telah meninjau ratusan proposal tambang di berbagai negara dan proyek DPM ini termasuk yang paling tidak dapat dipercaya,” katanya. Menurut dia, izin lingkungan DPM tahun 2022 mencakup proyek bendungan tailing untuk menampung 2,5 juta ton limbah tambang beracun.  Rencana itu  sangat berbahaya karena berada di kawasan rawan gempa dan di atas fondasi abu vulkanik yang tidak stabil. “Bendungan tailing yang diusulkan berada di wilayah dengan risiko gempa dan badai tinggi. Kemungkinan kegagalannya sangat besar.” Durian, salah satu hasil pertanian masyarakat Dairi. Foto: Irfan Maulana/Mongabay Indonesia Di beberapa negara, kata Emerman, bendungan tailing telah sebabkan korban jiwa, menghancurkan desa dan mencemari sungai hingga ratusan kilometer. Berdasar perhitungannya, tanpa skenario runtuh sekalipun, bendungan tailing DPM tetap berpotensi mencemari aliran sungai. “Ketika bendungan itu penuh, limpasan air yang belum diolah diperkirakan akan masuk ke aliran sungai sekitar 15% dari waktu operasionalnya,” katanya. Karena itu, dia menilai, keputusan Mahkamah Agung  membatalkan izin lingkungan DPM pada 2024 merupakan langkah tepat. Sebaliknya, upaya perusahaan mengajukan adendum  analisis mengenai dampak lingkungan (amdal)  terbaru&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/09/ahli-geologi-soroti-pengajuan-izin-baru-tambang-dairi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/09/ahli-geologi-soroti-pengajuan-izin-baru-tambang-dairi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Peneliti Jepang Mengecat Sapi dengan Pola Zebra, dan Ternyata Berhasil Mengusir Lalat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peneliti-jepang-mengecat-sapi-dengan-pola-zebra-dan-ternyata-berhasil-mengusir-lalat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peneliti-jepang-mengecat-sapi-dengan-pola-zebra-dan-ternyata-berhasil-mengusir-lalat/#respond</comments>
					<pubDate>09 Jun 2026 05:34:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/22034625/https___cms-image-bucket-productionv3-ap-northeast-1-a7d2.s3.ap-northeast-1.amazonaws.com_images_3_8_1_6_11486183-1-eng-GB_58fdeb0c154b-zebra-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129018</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tomoki Kojima naik ke panggung dengan tenang, lalu membuka jaketnya untuk memperlihatkan kemeja bermotif zebra. Dua rekannya maju membawa papan bergambar lalat dan berpura-pura menyerangnya. Penonton tertawa. Tapi di balik adegan kocak itu, ada penelitian yang benar-benar bisa mengubah cara peternak sapi menghadapi salah satu masalah paling mahal di industri peternakan global. Kojima dan timnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peneliti-jepang-mengecat-sapi-dengan-pola-zebra-dan-ternyata-berhasil-mengusir-lalat/">Peneliti Jepang Mengecat Sapi dengan Pola Zebra, dan Ternyata Berhasil Mengusir Lalat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tomoki Kojima naik ke panggung dengan tenang, lalu membuka jaketnya untuk memperlihatkan kemeja bermotif zebra. Dua rekannya maju membawa papan bergambar lalat dan berpura-pura menyerangnya. Penonton tertawa. Tapi di balik adegan kocak itu, ada penelitian yang benar-benar bisa mengubah cara peternak sapi menghadapi salah satu masalah paling mahal di industri peternakan global. Kojima dan timnya dari Organisasi Penelitian Pertanian dan Pangan Nasional Jepang baru saja menerima Ig Nobel 2025 kategori biologi, penghargaan satir yang diberikan setiap tahun untuk penelitian yang terdengar konyol tapi pada akhirnya mendorong pemikiran serius. Temuannya: mengecat sapi hitam dengan garis-garis putih menyerupai zebra membuat lalat penghisap darah hinggap 50 persen lebih sedikit. Ide ini bermula dari pertanyaan lama dalam biologi: untuk apa garis zebra? Berbagai hipotesis sudah diajukan, dari kamuflase terhadap predator hingga pengenalan sesama. Tapi semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa pola hitam putih yang kontras menciptakan ilusi visual yang membingungkan mata serangga, membuat mereka kesulitan menentukan tempat mendarat. Kojima mulai serius menguji hipotesis ini setelah seorang peternak Wagyu berkonsultasi kepadanya tentang masalah lalat yang sulit diatasi tanpa insektisida. Eksperimennya sederhana: satu sapi dicat garis putih menyerupai zebra, satu dicat garis hitam sebagai kontrol, satu dibiarkan polos. Proses pengecatan hanya memakan waktu sekitar lima menit per ekor. Selama beberapa hari, tim mengamati jumlah lalat yang hinggap dan perilaku sapi dalam mengusir serangga. Hasilnya konsisten. Sapi bergaris zebra menarik separuh lebih sedikit lalat dibanding sapi polos maupun sapi bercat hitam. Lebih dari itu, sapi bergaris terlihat lebih tenang, jarang mengibas ekor atau menghentak kaki, tanda berkurangnya stres&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peneliti-jepang-mengecat-sapi-dengan-pola-zebra-dan-ternyata-berhasil-mengusir-lalat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peneliti-jepang-mengecat-sapi-dengan-pola-zebra-dan-ternyata-berhasil-mengusir-lalat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lebah Merana Ketika Alih Fungsi Hutan Makin Menggila</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/09/lebah-merana-ketika-alih-fungsi-hutan-makin-menggila/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/09/lebah-merana-ketika-alih-fungsi-hutan-makin-menggila/#respond</comments>
					<pubDate>09 Jun 2026 03:00:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/09/22083317/batulanteh4-IMG_5762-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129003</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Lebah Madu dan Pilar Alam yang Rapuh]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Keberadaan lebah begitu penting bagi lingkungan, tetapi alih fungsi hutan menyebabkan lebah kehilangan rumah. Keberadaan serangga kecil ini pun terancam. “Kenapa ia [lebah hutan] keluar hutan? Kok, sekarang mulai bersarang di rumah-rumah orang? Di sekitar kebun?” kata Sih Kahono, Peneliti Pusat Riset Biologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam diskusi sekaligus peluncuran buku “Bees [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/09/lebah-merana-ketika-alih-fungsi-hutan-makin-menggila/">Lebah Merana Ketika Alih Fungsi Hutan Makin Menggila</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Keberadaan lebah begitu penting bagi lingkungan, tetapi alih fungsi hutan menyebabkan lebah kehilangan rumah. Keberadaan serangga kecil ini pun terancam. “Kenapa ia [lebah hutan] keluar hutan? Kok, sekarang mulai bersarang di rumah-rumah orang? Di sekitar kebun?” kata Sih Kahono, Peneliti Pusat Riset Biologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam diskusi sekaligus peluncuran buku “Bees and Trees.” Hutan tergerus, keberadaan lebah pun makin sulit. Indonesia, katanya, mempunyai banyak jenis lebah, dua merupakan spesies lebah madu raksasa Asia, yakni, Apis dorsata dan Apis binghami. Habitat keduanya di hutan. Mereka hinggap dan mengisap nektar pada bunga-bunga. Hubungan lebah madu raksasa dengan hutan itu tidak bersifat sepihak. Hutan juga lebah untungkan dengan konservasi alami. Kahono mengatakan, ketika lebah hinggap pada bunga, mereka tidak hanya makan nektar untuk diri sendiri. Biasanya, para koloni lebah itu juga membawa stok nektar dengan menggunakan bulu-bulu di tubuhnya untuk mereka bagikan ke anak. Pada saat itulah, mereka juga membawa serbuk sari (pollen) yang menempel secara tidak sengaja pada bulu tubuhnya. Lebah menjadi pihak yang membantu pertemuan serbuk sari dari bunga jantan ke betina, sehingga terjadi regenerasi bunga-bunga di lokasi lain. “Kalau pakai angin, beberapa persen pollen yang bisa menempel di tumbuhan betina. Diperkirakan tidak lebih dari 20%. Sebab itu lebah sangat diperlukan,” katanya dalam diskusi Parara Environment Day bersama Non Timber Forest Product &#8211; Exchange Programme (NTFP-EP) Asia dan Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI), 5 Juni lalu. Lebah tidak hanya memperbanyak titik tumbuhnya tanaman, juga membuat jenis baru dari pertemuan dua jenis tanaman berbeda yang terbawa oleh banyaknya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/09/lebah-merana-ketika-alih-fungsi-hutan-makin-menggila/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/09/lebah-merana-ketika-alih-fungsi-hutan-makin-menggila/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Harimau Memprihantikan di Sumatera Barat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/08/mengapa-harimau-sumatera-makin-sering-bertemu-manusia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/08/mengapa-harimau-sumatera-makin-sering-bertemu-manusia/#respond</comments>
					<pubDate>08 Jun 2026 15:35:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baittri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/07101454/evakuasi-harimau-sumatra-di-Palupuah-Agam-22-Mei-2026_Dokumentasi-BKSDA-SUmbar-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128945</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nasib  harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) makin terjepit di Sumatera Barat (Sumbar). Konflik jenis kucing besar langka dan dilindungi ini dengan manusia cukup tinggi sejak awal Januari-Mei 2026 di Sumbar. Kejadian terbaru  evakuasi  harimau yang terluka karena jerat babi di Kabupaten Pasaman, 21 Mei lalu. Insiden itu  memperpanjang kasus serupa sebelumnya. Merujuk data Balai Konservasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/08/mengapa-harimau-sumatera-makin-sering-bertemu-manusia/">Nasib Harimau Memprihantikan di Sumatera Barat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nasib  harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) makin terjepit di Sumatera Barat (Sumbar). Konflik jenis kucing besar langka dan dilindungi ini dengan manusia cukup tinggi sejak awal Januari-Mei 2026 di Sumbar. Kejadian terbaru  evakuasi  harimau yang terluka karena jerat babi di Kabupaten Pasaman, 21 Mei lalu. Insiden itu  memperpanjang kasus serupa sebelumnya. Merujuk data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar, pada 2022, terdapat 33 kasus konflik manusia dengan harimau. Lalu, 2023 sebanyak 34 kasus dan 21 kasus pada 2024. Rizaldi, pakar primatologi, tingkah laku hewan dan biokonservasi Universitas Andalas mengatakan, interaksi negatif antara harimau dan manusia terjadi karena harimau memasuki habitat manusia. “Situasinya menjadi berbahaya karena manusia memasang jerat. Sementara daerah jelajah harimau memang kadang meluas, kadang menyempit,” katanya. Dia bilang, terdapat kepercayaan di masyarakat lokal bahwa musim kawin harimau berlangsung sebelum lebaran haji atau Idul Adha. Seharusnya ini menjadi petunjuk awal bahwa pada musim itu harimau jantan akan menjelajahi area sekitar untuk mencari harimau betina, yang itu berarti potensi interaksi dengan manusia meningkat. “Saya pikir peningkatan interaksi ini berkaitan dengan peningkatan populasi harimau. Tetapi, lebih karena dipicu oleh musim kawin, bukan karena jumlah individu bertambah,” katanya. Harimau sumatera yang diperkirakan berumur 11 bulan kena jerat di Jorong Lima Sumpadang, Nagari Padang Mantigi Utara, Kecamatan Rao Utara, Kabupaten Pasaman, pada Kamis siang (21/5/26). Foto: BKSDA Sumbar. Habitat rusak Menurut Rizaldi, terganggunya habitat turut mempengaruhi intensitas interaksi harimau dengan manusia. Habitat terganggu karena intervensi manusia yang masuk ke dalam kawasan atau bahkan pembukaan hutan di pedalaman, seperti  di koridor Lubuk Minturun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/08/mengapa-harimau-sumatera-makin-sering-bertemu-manusia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/08/mengapa-harimau-sumatera-makin-sering-bertemu-manusia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Desa Banasu Mandiri Energi dari Panen Air</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/08/cerita-desa-banasu-mandiri-energi-dari-panen-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/08/cerita-desa-banasu-mandiri-energi-dari-panen-air/#respond</comments>
					<pubDate>08 Jun 2026 07:31:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Moh Tamimi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/08072443/Kincir-air-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128969</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan Sulawesi Tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi penduduk Desa Banasu, Kecamatan Pipikoro Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, air, tak hanya buat konsumsi rumah tangga maupun irigasi pertanian juga untuk sumber energi.  Air mengalir dari kuala, ke anak-anak sungai yang banyak ditemui di desa itu lalu warga panen jadi sumber energi. Listrik PLN belum masuk desa ini. Meski begitu, mereka penuhi energi secara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/08/cerita-desa-banasu-mandiri-energi-dari-panen-air/">Cerita Desa Banasu Mandiri Energi dari Panen Air</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi penduduk Desa Banasu, Kecamatan Pipikoro Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, air, tak hanya buat konsumsi rumah tangga maupun irigasi pertanian juga untuk sumber energi.  Air mengalir dari kuala, ke anak-anak sungai yang banyak ditemui di desa itu lalu warga panen jadi sumber energi. Listrik PLN belum masuk desa ini. Meski begitu, mereka penuhi energi secara swadaya. Warga bangun pembangkit listrik tenaga mikro-hidro (PLTMH) yang mereka rakit sendiri. Lokasi Desa Banasu berbatasan dengan hutan lindung. Untuk sampai ke desa ini, butuh setidaknya tiga jam naik motor dari Desa Gimpu, Kulawi Selatan, desa terakhir yang bisa terakses mobil menuju Banasu. Jarak dari Gimpu ke Banasu sekitar 35 km, membelah hutan dengan jalan kecil penuh batu, kerikil, lumpur, dan melewati bibir tebing lembah yang curam. Penduduknya 80 keluarga atau 268 jiwa, pada 2025, terbagi menjadi empat rukun tetangga (RT). Setiap RT memiliki PLTMH dengan kapasitas 5 kVA.  Mereka bangun mikro hidro sejak 2015 dengan dana pemerintah desa. Instalasi sempat rusak terdampak banjir pada 2024 tetapi terbangun kembali tahun berikutnya. “Satu instalasi kurang lebih habisnya Rp30 juta,” kata Edwin Kudjere, Kepala Desa Banasu. Mei lalu. RT kelola pembangkit sepenuhnya. Warga sumbangan untuk membiayai perawatannya, baik untuk teknis mesin atau dari masalah alam seperti banjir.. Sumbangan setiap RT berbeda-beda, tergantung kesepakatan warga. Instalasi mikro hidro di Desa Banasu. Foto: Moh Tamimi/Mongabay Indonesia Bila suplai listrik warga rasa kurang, mereka membangun pembangkit listrik sendiri. Ada lima PLTMH pribadi di Banasu, antara lain milik Yaqob dan Martin Luther. Sejak punya pembangkit sendiri, Yaqob tidak menggunakan listrik dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/08/cerita-desa-banasu-mandiri-energi-dari-panen-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/08/cerita-desa-banasu-mandiri-energi-dari-panen-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tanpa Ekor, Kisah Lutung Jawa yang Hidup Bebas di Nusa Barung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/08/tanpa-ekor-kisah-lutung-jawa-yang-hidup-bebas-di-nusa-barung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/08/tanpa-ekor-kisah-lutung-jawa-yang-hidup-bebas-di-nusa-barung/#respond</comments>
					<pubDate>08 Jun 2026 06:39:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/07024451/PEMERIKSAAN-LUTUNG-JAWA-669-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128963</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Eri sempat dianggap tak punya peluang hidup di alam liar. Lutung jawa itu luka parah, ekornya harus diamputasi karena beberapa kali diserang saat proses sosialisasi di pusat rehabilitasi. Di tengah keraguan itu, Eri justru bagian dari tujuh Trachypithecus auratus yang akhirnya kembali dilepasliarkan ke habitat alaminya di Pulau Nusa Barung, Jember, Jawa Timur. Bagi tim [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/08/tanpa-ekor-kisah-lutung-jawa-yang-hidup-bebas-di-nusa-barung/">Tanpa Ekor, Kisah Lutung Jawa yang Hidup Bebas di Nusa Barung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Eri sempat dianggap tak punya peluang hidup di alam liar. Lutung jawa itu luka parah, ekornya harus diamputasi karena beberapa kali diserang saat proses sosialisasi di pusat rehabilitasi. Di tengah keraguan itu, Eri justru bagian dari tujuh Trachypithecus auratus yang akhirnya kembali dilepasliarkan ke habitat alaminya di Pulau Nusa Barung, Jember, Jawa Timur. Bagi tim rehabilitasi Javan Langur Center (JLC) The Aspinall Foundation Indonesia, pelepasan Eri bukan sekadar kegiatan konservasi. “Eri masuk saat bayi. Kondisinya sempat drop, lalu membaik hingga mampu bertahan,” kata Iwan Kurniawan, Manajer JLC The Aspinall Foundation Indonesia, Selasa (26/5/2026). Perjalanan hidup Eri berubah saat memasuki tahap sosialisasi kelompok. Dalam fase ini, lutung-lutung yang sebelumnya hidup sendiri mulai dikenalkan satu sama lain agar membentuk sktruktur sosial baru, sebelum dilepas ke alam. Namun, proses itu tidak berjalan mudah. Beberapa kali ia diserang lutung jantan lain hingga mengalami luka serius di bagian ekor. “Kami terpaksa amputasi. Kalau tidak dihilangkan justru akan membahayakan.” utung jawa merupakan satwa liar dilindungi. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Keputusan itu, jelas Iwan, sempat memunculkan dilema besar di tim rehabilitasi. Sebab, ekor punya peran penting bagi primata arboreal seperti lutung untuk menjaga keseimbangan saat bergerak di pohon. Tanpa ekor, apakah lutung bisa bertahan hidup di alam liar? Iwan ingat kisah Nunuk, individu lutung lain yang pernah dilepasliarkan meski tanpa ekor dan mengalami gangguan pada tangannya. “Secara keilmuan rasanya tidak mungkin. Tapi ternyata ia bertahan dan berkembang biak. Paling penting itu pemantauan.” Menurut Iwan, lutung yang baru masuk pusat rehabilitasi, wajib menjalani masa karantina tiga bulan. Tahap&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/08/tanpa-ekor-kisah-lutung-jawa-yang-hidup-bebas-di-nusa-barung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/08/tanpa-ekor-kisah-lutung-jawa-yang-hidup-bebas-di-nusa-barung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kenapa Kucing Bisa di Mana-mana, Sementara Harimau Hampir Tak Tersisa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kenapa-kucing-bisa-di-mana-mana-sementara-harimau-hampir-tak-tersisa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kenapa-kucing-bisa-di-mana-mana-sementara-harimau-hampir-tak-tersisa/#respond</comments>
					<pubDate>08 Jun 2026 04:20:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21225940/Kucing-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128956</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Keduanya berasal dari nenek moyang yang sama, berbagi 95,6 persen DNA yang identik, dan memiliki naluri berburu, cara tidur, serta kebiasaan menandai wilayah yang hampir tidak bisa dibedakan. Tapi satu dari mereka kini menghuni 220 juta rumah di seluruh dunia, sementara yang lain berjuang agar tidak menjadi yang terakhir dari jenisnya. Bagaimana ini bisa terjadi? [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kenapa-kucing-bisa-di-mana-mana-sementara-harimau-hampir-tak-tersisa/">Kenapa Kucing Bisa di Mana-mana, Sementara Harimau Hampir Tak Tersisa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Keduanya berasal dari nenek moyang yang sama, berbagi 95,6 persen DNA yang identik, dan memiliki naluri berburu, cara tidur, serta kebiasaan menandai wilayah yang hampir tidak bisa dibedakan. Tapi satu dari mereka kini menghuni 220 juta rumah di seluruh dunia, sementara yang lain berjuang agar tidak menjadi yang terakhir dari jenisnya. Bagaimana ini bisa terjadi? Kucing domestik (Felis catus) dan harimau (Panthera tigris) berpisah dari nenek moyang yang sama sekitar 10,8 juta tahun lalu. Penelitian yang diterbitkan di Nature Communications oleh Cho dan kolega pada 2013, yang mengurutkan DNA harimau amur jantan dari Kebun Binatang Everland di Korea, menemukan bahwa genom keduanya menunjukkan komposisi yang sangat serupa. Keduanya karnivora sejati yang bergantung sepenuhnya pada daging, memiliki otot cepat dan kuat untuk berburu, serta indra penciuman yang tajam untuk menandai wilayah dan mencari pasangan. Secara perilaku, kemiripannya mencolok. Keduanya adalah penyergap, bukan pengejar. Keduanya pemanjat ulung. Keduanya memiliki naluri menggaruk, menandai wilayah, dan mengawasi lingkungan dari tempat tinggi. Kucing rumahan yang menerkam mainan adalah versi miniatur dari harimau yang mengintai mangsa di hutan. Struktur tubuh mereka juga hampir identik, kaki dengan bantalan dan cakar yang dapat ditarik, gigi tajam, dan tubuh atletis. Perbedaannya lebih pada detail. Ekor kucing domestik tegak saat berjalan, harimau tidak. Pupil kucing berbentuk celah, harimau bulat. Harimau adalah perenang ulung yang menyukai air, sementara kebanyakan kucing domestik menghindarinya. Dan tentu saja ukuran tubuhnya: harimau benggala bisa mencapai 260 kilogram dan tiga meter panjangnya, sementara harimau sumatera yang terkecil pun masih 100 hingga 140 kilogram. Tapi perbedaan paling&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kenapa-kucing-bisa-di-mana-mana-sementara-harimau-hampir-tak-tersisa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kenapa-kucing-bisa-di-mana-mana-sementara-harimau-hampir-tak-tersisa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Parijoto, Buah Ungu Lereng Muria yang Kini Jadi Sumber Penghidupan dan Simbol Pelestarian</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/parijoto-buah-ungu-lereng-muria-yang-kini-jadi-sumber-penghidupan-dan-simbol-pelestarian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/parijoto-buah-ungu-lereng-muria-yang-kini-jadi-sumber-penghidupan-dan-simbol-pelestarian/#respond</comments>
					<pubDate>08 Jun 2026 03:15:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/05093837/Parijoto-di-lereng-Muria-Barok-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128955</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hampir tiga dekade lalu, Mashuri mulai menanam parijoto di lereng Gunung Muria. Bukan karena ada yang menyuruh, bukan karena ada program pemerintah. Ia melihat peluang di mana orang lain hanya melihat tanaman semak hutan yang tumbuh liar tanpa nilai ekonomi. Kini dari kebun seluas 1,4 hektar di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, ia bisa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/parijoto-buah-ungu-lereng-muria-yang-kini-jadi-sumber-penghidupan-dan-simbol-pelestarian/">Parijoto, Buah Ungu Lereng Muria yang Kini Jadi Sumber Penghidupan dan Simbol Pelestarian</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hampir tiga dekade lalu, Mashuri mulai menanam parijoto di lereng Gunung Muria. Bukan karena ada yang menyuruh, bukan karena ada program pemerintah. Ia melihat peluang di mana orang lain hanya melihat tanaman semak hutan yang tumbuh liar tanpa nilai ekonomi. Kini dari kebun seluas 1,4 hektar di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, ia bisa meraup penghasilan harian. Pada musim hujan, buah parijoto bisa dipetik hampir setiap hari dan langsung dijual kepada wisatawan yang datang ke kawasan Muria. &#8220;Kalau kopi kan musiman, parijoto bisa harian,&#8221; katanya. Parijoto (Medinilla speciosa) adalah tumbuhan semak epifit yang hanya tumbuh di bawah naungan pohon besar, tidak tahan sinar matahari langsung. Buahnya kecil, berwarna ungu kemerahan, dan sudah lama dikenal oleh para peziarah yang datang ke Gunung Muria karena dikaitkan dengan kisah Sunan Muria. Dari nilai simbolik itulah permintaan tumbuh, dan dari sana pula sekelompok petani melihat kemungkinan yang belum pernah dimanfaatkan sebelumnya. Yang menarik dari model budidaya parijoto adalah caranya yang tidak merusak. Menanam parijoto tidak membutuhkan penebangan pohon. Ia justru memerlukan pohon-pohon besar sebagai naungan. Kebun parijoto karenanya tetap menyerupai hutan, dengan alpukat dan berbagai kayu hutan yang dibiarkan tumbuh, membentuk ekosistem yang saling menopang. Konservasi dan ekonomi, dalam hal ini, berjalan ke arah yang sama. Sutrimo Mariono, petani parijoto lain di kawasan Muria, mengenang bagaimana penebangan hutan besar-besaran pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an hampir menghapus parijoto dari lereng Muria. &#8220;Kalau hutan ditebang, parijoto tinggal cerita,&#8221; ujarnya. Kekhawatiran itulah yang mendorongnya mulai membudidayakan parijoto sekitar 2010. Dari hasil parijoto, ia tidak hanya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/parijoto-buah-ungu-lereng-muria-yang-kini-jadi-sumber-penghidupan-dan-simbol-pelestarian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/parijoto-buah-ungu-lereng-muria-yang-kini-jadi-sumber-penghidupan-dan-simbol-pelestarian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jalan Panjang Memerangi Penangkapan Ikan Ilegal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/08/jalan-panjang-memerangi-penangkapan-ikan-ilegal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/08/jalan-panjang-memerangi-penangkapan-ikan-ilegal/#respond</comments>
					<pubDate>08 Jun 2026 02:37:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[A. Asnawi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis dan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/10/21235610/akp-perikanan-ilegal-sumut-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128940</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebagai negara maritim, Indonesia menyimpan kekayaan laut yang begitu melimpah, meski di waktu yang sama menghadapi persoalan pelik. Terutama dalam menangani praktik penangkapan ikan ilegal, tak dilaporkan dan tak sesuai regulasi (Illegal, Unreported, Unregulation Fisihing/IUUF). Baru-baru ini, Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) amankan kapal asing, MV. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/08/jalan-panjang-memerangi-penangkapan-ikan-ilegal/">Jalan Panjang Memerangi Penangkapan Ikan Ilegal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebagai negara maritim, Indonesia menyimpan kekayaan laut yang begitu melimpah, meski di waktu yang sama menghadapi persoalan pelik. Terutama dalam menangani praktik penangkapan ikan ilegal, tak dilaporkan dan tak sesuai regulasi (Illegal, Unreported, Unregulation Fisihing/IUUF). Baru-baru ini, Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) amankan kapal asing, MV. Silver Island yang mengangkut 1,2 ton ikan napoleon senilai Rp16 miliar di Laut Sulawesi.  Kapal berbendera Afrika Tengah itu tengah dalam perjalanan menuju Hong Kong. Pung Nugroho Sasongko, Direktur Jenderal (Dirjen) PSDKP katakan, kapal milik perusahaan di Hong Kong itu berangkat dari Sumenep, Madura. “Kapal ini mengangkut ikan hidup, berangkat dari Sumenep, Jawa Timur pada 26 Mei 2026 menuju Hong Kong. Hasil pemeriksaan jelas, terdapat napoleon dalam jumlah besar, tidak ada izin, dan kuotanya pun tidak ada,” kata Ipung,  dalam siaran persnya. Dia menduga, pelaku sengaja berupaya mengelabuhi pemeriksaan petugas. Pasalnya, napoleon dalam jumlah besar itu mereka simpan di lokasi yang sulit petugas jangkau. “”Bahkan pintunya rahasia dan harus melalui gudang spare part mesin kapal.&#8221; Pelaku diduga kuat melanggar Pasal 88 juncto Pasal 16 Undang-Undang Nomor 31/ 2004 tentang Perikanan. Pelaku terancam pidana penjara paling lama enam tahun dan denda maksimal Rp1,5 miliar. Teuku Elvitrasyah, Direktur Pengendalian Operasi Armada, menjelaskan, berkapasitas 492 GT merupakan jenis kapal pengangkut ikan hidup berkebangsaan Sao Tome and Principe, negara di Afrika Tengah. Hasil penelusuran kapal itu milik perusahaan di  Hong Kong. Napoleon merupakan ikan dengan status perlindungan terbatas dan masuk dalam daftar Appendix II CITES. Untuk memanfaatkannya, pelaku wajib&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/08/jalan-panjang-memerangi-penangkapan-ikan-ilegal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/08/jalan-panjang-memerangi-penangkapan-ikan-ilegal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pakis Ekor Monyet: Indikator Mata Air Hutan Muria yang Hampir Habis Dipanen</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/pakis-ekor-monyet-indikator-mata-air-hutan-muria-yang-hampir-habis-dipanen/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/pakis-ekor-monyet-indikator-mata-air-hutan-muria-yang-hampir-habis-dipanen/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jun 2026 22:14:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/06061908/Pakis-ekor-monyet-tumbuh-di-lereng-Gunung-Muria-Falahi-Mubarok_Mongabay-Indonesia-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128954</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di hutan Gunung Muria, ada tumbuhan yang oleh warga lokal dianggap petunjuk alam yang tak pernah salah: di mana pakis ekor monyet tumbuh, di sana ada mata air. &#8220;Kalau ada pakis, dekat mata air,&#8221; kata Teguh Budi Wiyono, Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria (Peka Muria). Tapi tumbuhan yang menjadi penanda kehidupan itu kini justru semakin [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/pakis-ekor-monyet-indikator-mata-air-hutan-muria-yang-hampir-habis-dipanen/">Pakis Ekor Monyet: Indikator Mata Air Hutan Muria yang Hampir Habis Dipanen</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di hutan Gunung Muria, ada tumbuhan yang oleh warga lokal dianggap petunjuk alam yang tak pernah salah: di mana pakis ekor monyet tumbuh, di sana ada mata air. &#8220;Kalau ada pakis, dekat mata air,&#8221; kata Teguh Budi Wiyono, Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria (Peka Muria). Tapi tumbuhan yang menjadi penanda kehidupan itu kini justru semakin sulit ditemukan di habitatnya sendiri. Pakis ekor monyet (Cibotium barometz) adalah tumbuhan purba yang tumbuh lambat. Dari spora hingga dewasa, ia membutuhkan tiga hingga lima tahun, terutama di bawah naungan hutan yang rapat. Ia menyukai tempat teduh dengan kelembapan tinggi, antara 60 hingga 90 persen, dan di Muria banyak ditemukan di lereng curam dekat hutan primer atau sekunder di atas 800 meter dari permukaan laut. Pada 1990-an, tumbuhan ini tiba-tiba jadi primadona. Tren tanaman hias merebak, dan beredar kepercayaan bahwa bagian dalamnya yang bermotif unik bisa digunakan sebagai &#8220;kayu tolak tikus.&#8221; Kulitnya laris sebagai media tanam anggrek. Masyarakat masuk hutan, mengambil pakis dalam jumlah besar, dan menjualnya tanpa mempertimbangkan keberlanjutan. &#8220;Seharusnya tidak dimanfaatkan, tapi karena saat itu fenomenanya besar dan tidak ada batasan, akhirnya diambil. Bahkan sejak masih muda,&#8221; kata Teguh. Tren mereda. Tapi dampaknya tidak ikut hilang. Populasi pakis di Muria kini diperkirakan jauh berkurang dibanding masa lalu. &#8220;Dulu mudah ditemukan, sekarang jauh berkurang,&#8221; ujarnya. Yang memperburuk situasi, eksploitasi tidak benar-benar berhenti, hanya berpindah lokasi ke wilayah lain. Fragmentasi habitat akibat perkebunan kopi dan agroforestri juga mempersempit sebaran alaminya. Secara ekologis, kehilangan pakis ini bukan hal sepele. Selain sebagai indikator kesuburan tanah dan keberadaan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/pakis-ekor-monyet-indikator-mata-air-hutan-muria-yang-hampir-habis-dipanen/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/pakis-ekor-monyet-indikator-mata-air-hutan-muria-yang-hampir-habis-dipanen/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran</title>
					<link>https://mongabay.co.id/video/2026/06/kisah-sedih-owa-di-kandang-penangkaran/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/video/2026/06/kisah-sedih-owa-di-kandang-penangkaran/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jun 2026 10:30:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/30040651/Gading-satu-satunya-jenis-owa-ungko-yang-terjangkit-virus-herpes-dan-mungkin-harus-menghabiskan-sisa-hidupnya-di-kandang-perawatan-PRS-Punti-Kayu.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=videos&#038;p=128951</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Sumatera Selatan merupakan rumah besar bagi dua jenis owa, yakni siamang dan ungko. Belum ada perkiraan data populasi mereka di Sumatera Selatan, namun mereka diketahui hidup di dataran tinggi di Bukit Barisan, hingga dataran rendah di lanskap lahan basah Sungai Musi. Hingga saat ini, ada 29 individu owa —terdiri 28 owa siamang dan satu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/06/kisah-sedih-owa-di-kandang-penangkaran/">Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Sumatera Selatan merupakan rumah besar bagi dua jenis owa, yakni siamang dan ungko. Belum ada perkiraan data populasi mereka di Sumatera Selatan, namun mereka diketahui hidup di dataran tinggi di Bukit Barisan, hingga dataran rendah di lanskap lahan basah Sungai Musi. Hingga saat ini, ada 29 individu owa —terdiri 28 owa siamang dan satu owa ungko— dirawat di PRS Punti Kayu, Palembang, Sumatera Selatan. Tempat rehabilitasi ini dikelola The Aspinall Foundation sejak 2022, yang sejauh ini telah melepasliarkan sekitar 40 individu siamang. Mayoritas siamang yang dievakuasi ke PRS Punti Kayu memiliki latar belakang yang sama, yakni bekas peliharaan warga yang diserahkan sukarela maupun hasil sitaan. Mirisnya, empat individu sitaan tersebut masih bayi berumur sekitar satu tahun. Pola asuh siamang pun cukup unik. Peran utama merawat anak akan bergeser dari induk betina ke induk jantan seiring bertambahnya usia anak. Selama rentang usia satu hingga dua tahun, induk betina dan jantan bergantian melakukan perawatan. Anakan siamang bekas peliharaan juga membutuhkan waktu rehabilitasi cukup lama, dibandingkan siamang lain yang tidak dipelihara manusia. Sebelum dilepasliarakan ke alam, harus dipastikan insting alaminya sudah benar-benar kembali. Sehingga, peluang hidup mereka di hutan lebih besar. Sebelum PRS Punti Kayu aktif melakukan rehabilitasi satwa bersama The Aspinall Foundation, sejumlah owa hasil serahan sempat ditranslokasikan ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi di Air Jangkang, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Hingga kini, masih ada tiga individu owa di kandang perawatan PPS Alobi. Ketiganya sudah dirawat sejak 2019, atau sekitar tujuh tahun. Semuanya tergolong sehat, termasuk ungko bernama Mong, yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/06/kisah-sedih-owa-di-kandang-penangkaran/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/video/2026/06/kisah-sedih-owa-di-kandang-penangkaran/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Sumba, Kuda Adalah Segalanya. Tapi Ras Aslinya Semakin Sulit Ditemukan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-sumba-kuda-adalah-segalanya-tapi-ras-aslinya-semakin-sulit-ditemukan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-sumba-kuda-adalah-segalanya-tapi-ras-aslinya-semakin-sulit-ditemukan/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jun 2026 10:28:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/07/22073901/kuda-dan-mama-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128952</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumba]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tidak ada tempat di Indonesia yang menghormati kuda seperti Sumba. Di sini, kuda hadir dalam kelahiran, pernikahan, dan kematian. Ia menjadi mas kawin, hewan kurban, dan dipercaya sebagai tunggangan terakhir menuju alam baka. Dalam bahasa setempat ia disebut ndara, dan statusnya dipandang hampir sejajar dengan arwah nenek moyang. Begitu tinggi kedudukannya, tidak ada kuda di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-sumba-kuda-adalah-segalanya-tapi-ras-aslinya-semakin-sulit-ditemukan/">Di Sumba, Kuda Adalah Segalanya. Tapi Ras Aslinya Semakin Sulit Ditemukan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tidak ada tempat di Indonesia yang menghormati kuda seperti Sumba. Di sini, kuda hadir dalam kelahiran, pernikahan, dan kematian. Ia menjadi mas kawin, hewan kurban, dan dipercaya sebagai tunggangan terakhir menuju alam baka. Dalam bahasa setempat ia disebut ndara, dan statusnya dipandang hampir sejajar dengan arwah nenek moyang. Begitu tinggi kedudukannya, tidak ada kuda di Sumba yang diberi nama pribadi. Memberinya nama terasa terlalu merendahkan. Dan justru di tempat yang paling mencintai kuda itulah, ras asli kuda Sumba kini semakin sulit ditemukan. Kuda khas Sumba dikenal dengan nama Sandalwood pony, kuda pacu asli Indonesia yang dikembangkan di pulau ini selama berabad-abad. Namanya dikaitkan dengan kayu cendana, komoditas ekspor historis dari Nusa Tenggara. Secara fisik tingginya hanya 110 hingga 130 sentimeter, bertubuh serasi dengan dada lebar dan dalam. Yang membuatnya istimewa bukan penampilannya, melainkan staminanya. Kuda Sandalwood mampu bekerja keras di medan sabana yang keras, di bawah terik yang panjang, dengan pakan seadanya. Kuda inilah yang menghidup-hidupkan Pasola, ritual perang tombak berkuda tahunan yang sudah dikenal hingga mancanegara. &#8220;Kuda selalu ada dalam setiap upacara adat Sumba,&#8221; kata Palanggarimu, bangsawan dari Prailiu yang akrab dipanggil Umbu Angga. Di antara tiga hewan ternak paling penting dalam kehidupan adat Sumba, yaitu babi, kerbau, dan kuda, kuda adalah yang perannya paling lengkap. Tapi justru kecintaan masyarakat Sumba pada pacuan kuda yang kini mengancam kemurnian ras ini. Kuda Sandalwood kalah cepat dari kuda impor karena ukuran tubuhnya yang lebih kecil. Para pemilik kuda pun mulai mengawinsilangkan Sandalwood dengan kuda Australia yang lebih besar, demi mendapatkan kuda&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-sumba-kuda-adalah-segalanya-tapi-ras-aslinya-semakin-sulit-ditemukan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-sumba-kuda-adalah-segalanya-tapi-ras-aslinya-semakin-sulit-ditemukan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kerbau Indonesia Diprediksi Punah pada 2031, dan Nyaris Tak Ada yang Peduli</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kerbau-indonesia-diprediksi-punah-pada-2031-dan-nyaris-tak-ada-yang-peduli/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kerbau-indonesia-diprediksi-punah-pada-2031-dan-nyaris-tak-ada-yang-peduli/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jun 2026 06:35:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/02/22041311/Kerbau-liar-sebagai-populasi-feral-Bubalus-bubalis-di-TN-Baluran-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128915</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Imam Supriatna, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, pernah menyampaikan proyeksi yang seharusnya mengejutkan lebih banyak orang. Jika tren penurunan populasi kerbau di Indonesia terus berlanjut tanpa intervensi serius, pada 2031 populasinya mendekati nol. &#8220;Anak cucu kita tidak akan melihat kerbau lagi,&#8221; katanya. Hampir tidak ada yang merespons dengan serius. Data BPS memperlihatkan tren yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kerbau-indonesia-diprediksi-punah-pada-2031-dan-nyaris-tak-ada-yang-peduli/">Kerbau Indonesia Diprediksi Punah pada 2031, dan Nyaris Tak Ada yang Peduli</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Imam Supriatna, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, pernah menyampaikan proyeksi yang seharusnya mengejutkan lebih banyak orang. Jika tren penurunan populasi kerbau di Indonesia terus berlanjut tanpa intervensi serius, pada 2031 populasinya mendekati nol. &#8220;Anak cucu kita tidak akan melihat kerbau lagi,&#8221; katanya. Hampir tidak ada yang merespons dengan serius. Data BPS memperlihatkan tren yang konsisten ke arah itu. Dari 2002 hingga 2022, populasi kerbau nasional secara keseluruhan terus menurun. Antara 2021 dan 2022 saja, jumlahnya turun dari 1.143.189 ekor menjadi 1.088.483 ekor. Di Pulau Jawa, seluruh provinsi mencatat penurunan. Dari 38 provinsi di seluruh Indonesia, hanya 13 yang populasi kerbaunya naik. Penyebabnya tidak tunggal. Peneliti BRIN Peni Wahyu Prihandini dan tim, dalam laporan di jurnal Veterinary World 2023, mencatat rendahnya tingkat reproduksi dan manajemen pemeliharaan yang belum optimal sebagai faktor utama. Ditambah keterbatasan pakan di musim kemarau, alih fungsi lahan penggembalaan, meningkatnya penggunaan mesin pertanian, fragmentasi habitat, dan menyempitnya keragaman genetik. Ironisnya, kerbau adalah hewan yang secara biologis sangat tangguh. Suhu tubuh, respirasi, dan denyut nadinya lebih rendah dari kebanyakan sapi. Ia mampu menghasilkan susu dan daging berkualitas tinggi meski hanya diberi pakan hijauan berkualitas rendah. Kerbau Sumbawa bertahan hidup di sabana dengan kekeringan lebih dari delapan bulan per tahun. Kerbau Pampangan betah berendam di rawa gambut Sumatera Selatan. Anoa, kerabat terkecilnya yang hidup di hutan Sulawesi dan Buton, bahkan menjadi indikator kelestarian hutan. Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan ras kerbau yang luar biasa. Ada Anoa, Gayo, Jawa, Kalang, Kuntu, Moa, Murrah, Pampangan, Simeulue, Sumbawa, Toraya, dan beberapa lainnya. Hampir&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kerbau-indonesia-diprediksi-punah-pada-2031-dan-nyaris-tak-ada-yang-peduli/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kerbau-indonesia-diprediksi-punah-pada-2031-dan-nyaris-tak-ada-yang-peduli/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika  Lingkungan Hidup Terus Dalam Kungkungan Masalah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/07/ketika-lingkungan-hidup-terus-dalam-kungkungan-masalah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/07/ketika-lingkungan-hidup-terus-dalam-kungkungan-masalah/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jun 2026 06:30:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20165929/WhatsApp-Image-2026-05-20-at-09.57.02-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128900</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Lahan Basah, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hari Lingkungan Hidup setiap 5 Juni. Berbagai kalangan gunakan peringatan itu sebagai refleksi  kondisi lingkungan, ruang hidup masyarakat yang terus tertekan industri ekstraktif, dan eksploitasi sumber daya alam. Juga, konflik dan perampasan lahan, serta ancaman krisis iklim maupun kualitas lingkungan hidup di berbagai daerah  terus menurun. Di Sumatera, misal, bentang pegunungan Bukit Barisan dari Aceh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/07/ketika-lingkungan-hidup-terus-dalam-kungkungan-masalah/">Ketika  Lingkungan Hidup Terus Dalam Kungkungan Masalah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hari Lingkungan Hidup setiap 5 Juni. Berbagai kalangan gunakan peringatan itu sebagai refleksi  kondisi lingkungan, ruang hidup masyarakat yang terus tertekan industri ekstraktif, dan eksploitasi sumber daya alam. Juga, konflik dan perampasan lahan, serta ancaman krisis iklim maupun kualitas lingkungan hidup di berbagai daerah  terus menurun. Di Sumatera, misal, bentang pegunungan Bukit Barisan dari Aceh sampai Lampung, sebagai tulang punggung kehidupan masyarakat dan ekologis, terus mengalami kerusakan. Ahlul Fadli, Manajer Advokasi dan Kampanye Walhi Riau, mengatakan, selama 30 tahun terakhir, hutan alam di Riau turun drastis dari 5 juta hektar menjadi 1,3 juta hektar. Akibatnya, daya dukung alam makin melemah dan berdampak bencana ekologis. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pun mengepung awal tahun ini. Data yang mereka kutip dari BMKG, pada Januari-Maret, terdapat 302 titik panas di Riau. Kurun waktu tiga bulan itu, api melalap sekitar 2.713,26 hektar hutan dan lahan. Ahlul menyebut, faktor pendorong kebakaran hutan dan lahan (karhutla) karena lahan gambut banyak beralih fungsi menjadi industri ekstraktif. Riau, katanya, mengalami gelombang eksploitasi sumber daya alam, mulai dari industri kehutanan, perkebunan sawit, hingga pertambangan. Hutan dan sungai di lanskap Bukit Barisan, katanya, hancur oleh aktivitas tambang batubara dan tambang emas ilegal. Termasuk dua izin tambang batubara yang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) terbitkan pada 2025 di Kuantan Singingi dan Rokan Hulu. Eksploitasi juga terjadi di pesisir dan pulau-pulau kecil Riau. Catatan Walhi Riau, terdapat 11 izin tambang pasir laut dan satu tambang timah. Ironisnya, perairan Bono, ikon wisata di provinsi ini turut terancam oleh lima izin tambang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/07/ketika-lingkungan-hidup-terus-dalam-kungkungan-masalah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/07/ketika-lingkungan-hidup-terus-dalam-kungkungan-masalah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Anaconda Terbesar di Dunia, Lebih Berat dari Gorila, Ditembak Mati Sebulan Setelah Ditemukan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/anaconda-terbesar-di-dunia-lebih-berat-dari-gorila-ditembak-mati-sebulan-setelah-ditemukan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/anaconda-terbesar-di-dunia-lebih-berat-dari-gorila-ditembak-mati-sebulan-setelah-ditemukan/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jun 2026 03:32:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/03/22004245/Northern-green-anaconda-breeding-ball.-Credit-Jesus-Rivas-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128914</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebulan setelah ditemukan oleh ilmuwan, Ana Julia ditemukan mati di Sungai Formoso, Brasil. Tubuhnya yang setebal ban mobil, sepanjang lebih dari enam meter dan seberat 200 kilogram, tergeletak tak bernyawa. Diduga ditembak pemburu liar. Biolog Belanda Freek Vonk, yang sebulan sebelumnya merekam dirinya berenang bersama Ana Julia di dasar sungai selama lebih dari sejam, menulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/anaconda-terbesar-di-dunia-lebih-berat-dari-gorila-ditembak-mati-sebulan-setelah-ditemukan/">Anaconda Terbesar di Dunia, Lebih Berat dari Gorila, Ditembak Mati Sebulan Setelah Ditemukan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebulan setelah ditemukan oleh ilmuwan, Ana Julia ditemukan mati di Sungai Formoso, Brasil. Tubuhnya yang setebal ban mobil, sepanjang lebih dari enam meter dan seberat 200 kilogram, tergeletak tak bernyawa. Diduga ditembak pemburu liar. Biolog Belanda Freek Vonk, yang sebulan sebelumnya merekam dirinya berenang bersama Ana Julia di dasar sungai selama lebih dari sejam, menulis di Instagram: &#8220;Aku mencintaimu, Ana Julia. Aku akan merindukanmu.&#8221; Ana Julia adalah anaconda betina yang ditemukan oleh tim 15 biolog internasional di Amazon Ekuador, atas undangan Kepala Suku Huaorani, Penti Baihua, salah satu dari sedikit izin masuk ke wilayah itu yang pernah diberikan sejak kontak pertama suku tersebut dengan dunia luar pada 1958. Ia bukan sekadar individu yang luar biasa. Ia adalah anggota spesies yang baru dikonfirmasi keberadaannya: Anaconda Hijau Utara (Eunectes akayima), yang secara genetik berbeda 5,5 persen dari Anaconda Hijau Selatan (Eunectes murinus) yang sudah lama dikenal ilmu pengetahuan. Penemuan dua spesies anaconda hijau yang berbeda ini mengubah cara kita memahami ular terbesar di dunia, sekaligus membuka kembali pertanyaan lama: seberapa besar sebenarnya anaconda bisa tumbuh? Selama puluhan tahun, Eunectes murinus menjadi tolok ukur. Dr. Jesús Antonio Rivas dari New Mexico Highlands University, setelah lebih dari dua dekade penelitian, mencatat ukuran maksimum terverifikasi untuk spesies ini adalah betina dengan berat 97,5 kilogram dan panjang 5,21 meter. Ana Julia, dengan beratnya yang dua kali lipat angka itu, tiba-tiba membuat batas-batas tersebut terasa jauh lebih cair. Untuk konteks, gorila jantan terbesar yang pernah tercatat beratnya melampaui 272 kilogram. Ana Julia yang 200 kilogram masih sedikit&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/anaconda-terbesar-di-dunia-lebih-berat-dari-gorila-ditembak-mati-sebulan-setelah-ditemukan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/anaconda-terbesar-di-dunia-lebih-berat-dari-gorila-ditembak-mati-sebulan-setelah-ditemukan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/06/kidung-siamang-sang-penjaga-rimba-sumatra/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/06/kidung-siamang-sang-penjaga-rimba-sumatra/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jun 2026 03:20:39 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/16101034/Symphalangus_syndactylus_Suneko-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=128912</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Alunan suara lantang yang menggema dari puncak-puncak kanopi adalah kidung kehidupan bagi siamang, sang penjaga sejati yang merawat keasrian rimba Sumatra. Namun, melodi alam ini kian terancam sunyi oleh kepungan perburuan, jerat perdagangan lintas negara, dan kepedihan hidup di balik jeruji besi. Melalui peran penting mereka dalam menjaga keseimbangan hutan lewat penyebaran benih, perlindungan terhadap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/06/kidung-siamang-sang-penjaga-rimba-sumatra/">Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Alunan suara lantang yang menggema dari puncak-puncak kanopi adalah kidung kehidupan bagi siamang, sang penjaga sejati yang merawat keasrian rimba Sumatra. Namun, melodi alam ini kian terancam sunyi oleh kepungan perburuan, jerat perdagangan lintas negara, dan kepedihan hidup di balik jeruji besi. Melalui peran penting mereka dalam menjaga keseimbangan hutan lewat penyebaran benih, perlindungan terhadap owa besar ini menjadi benteng terakhir bagi kelestarian ekosistem. Rekaman jejak konservasi ini hadir untuk merajut harapan, membebaskan mereka dari belenggu sangkar, dan memastikan kidung liar sang penjaga rimba tetap abadi menjaga hutan Sumatra. The post Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/06/kidung-siamang-sang-penjaga-rimba-sumatra/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/06/kidung-siamang-sang-penjaga-rimba-sumatra/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Camptostemon philippinensis, Mangrove Langka Habitat Bekantan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/07/camptostemon-philippinensis-mangrove-langka-habitat-bekantan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/07/camptostemon-philippinensis-mangrove-langka-habitat-bekantan/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jun 2026 02:32:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/02/22004623/Proboscis-monkey-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128904</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kalimantan, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nama Camptostemon philippinensis mungkin kurang familiar bagi masyarakat Indonesia, khususnya warga yang tinggal di kawasan pesisir pantai Pulau Sulawesi dan Kalimantan. Namun, ketika disebut baluno filipina, masyarakat akan mengenalnya dengan cepat. Jenis mangrove langka ini berada di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Temuan tersebut menjadi bagian dari penelitian bersama yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/07/camptostemon-philippinensis-mangrove-langka-habitat-bekantan/">Camptostemon philippinensis, Mangrove Langka Habitat Bekantan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nama Camptostemon philippinensis mungkin kurang familiar bagi masyarakat Indonesia, khususnya warga yang tinggal di kawasan pesisir pantai Pulau Sulawesi dan Kalimantan. Namun, ketika disebut baluno filipina, masyarakat akan mengenalnya dengan cepat. Jenis mangrove langka ini berada di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Temuan tersebut menjadi bagian dari penelitian bersama yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Universitas Gadjah Mada. Hal itu dijabarkan enam peneliti, melalui publikasi ilmiah pada 31 Maret 2025. Satu dari enam peneliti adalah Abdul Razaq Chasani, akademisi dari Fakultas Biologi UGM. Sementara, lima lainnya merupakan peneliti BRIN dengan latar belakang pusat riset berbeda. Berdasarkan publikasi tersebut, diketahui populasi C. philippinensis sangat terbatas dan hanya tersebar di lokasi tertentu. Pesisir Kelurahan Pantai Lango dan Pulau Kowangan di Kabupaten Penajam Paser Utara menjadi penemuan populasi tersebut. Penelitian dilakukan dengan menjelajahi hutan mangrove di sepanjang Teluk Balikpapan. Survei pertama sepanjang sekitar 200 km dilakukan untuk mengamati vegetasi mangrove dan menemukan satu pohon C. philippinensis. “Survei kedua difokuskan pada area di sekitar pohon C. philippinensis yang pertama kali ditemukan untuk mendata dan mencatat tahap pertumbuhan serta distribusinya,” jelas laporan tersebut. Teluk Balikpapan merupakan bagi bekantan, yang merupakan spesies terancam. Foto: Rhett A Butler /Mongabay. Saat menyusuri Pantai Lango, tim berhasil menemukan 527 individu C. Philippinensis yang didominasi bibit. Temuan itu menjelaskan, jumlah bibit yang banyak menunjukkan potensi regerenasi alami yang baik. Sebaliknya, jumlah pohon yang sedikit menunjukkan persaingan yang intens untuk ruang di habitat terbatas. Hal itu bisa terjadi, karena C. Philippinensisme mendiami area kecil dan terbatas di Teluk Balikpapan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/07/camptostemon-philippinensis-mangrove-langka-habitat-bekantan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/07/camptostemon-philippinensis-mangrove-langka-habitat-bekantan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>