<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=asrida-elisabeth&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/asrida-elisabeth/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Wed, 14 Oct 2026 14:01:21 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>
				<item>
					<title>Berkah El Nino Bagi Nelayan Cilacap, Sekali Melaut Panen Ubur-ubur hingga 2 Ton</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/14/berkah-el-nino-bagi-nelayan-cilacap-sekali-melaut-panen-ubur-ubur-hingga-2-ton/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/14/berkah-el-nino-bagi-nelayan-cilacap-sekali-melaut-panen-ubur-ubur-hingga-2-ton/#respond</comments>
					<pubDate>14 Okt 2026 14:01:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[L Darmawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/14135556/ubur1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135010</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ancaman Nyata El Nino Godzilla]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ikomunitas lokal, jawa, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Belasan perahu nelayan ukuran 2 x 9 meter bersandar di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tegalkatilayu, Kelurahan Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (10/10/26). Bentuk perahu tersebut agak berbeda, ada tambahan wadah berbentuk kotak kayu yang sengaja dibuat di badan perahu. Tempat tersebut digunakan untuk menampung ubur-ubur. Sejak Agustus hingga pertengahan Oktober [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/berkah-el-nino-bagi-nelayan-cilacap-sekali-melaut-panen-ubur-ubur-hingga-2-ton/">Berkah El Nino Bagi Nelayan Cilacap, Sekali Melaut Panen Ubur-ubur hingga 2 Ton</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Belasan perahu nelayan ukuran 2 x 9 meter bersandar di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tegalkatilayu, Kelurahan Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (10/10/26). Bentuk perahu tersebut agak berbeda, ada tambahan wadah berbentuk kotak kayu yang sengaja dibuat di badan perahu. Tempat tersebut digunakan untuk menampung ubur-ubur. Sejak Agustus hingga pertengahan Oktober 2026, nelayan pesisir Cilacap menikmati musim panen ubur-ubur yang melimpah. Bagi mereka, fenomena alam yang berkaitan dengan kemarau panjang dan El Nino ini membawa berkah saat tiada kepastian tangkapn ikan dari laut. “Hasil tangkapan masih cukup banyak,” ujar Rahmat (32), nelayan Tegalkatilayu. Setiap hari, sekitar pukul 04.00 WIB, dia melaut menggunakan perahu kecil, sekitar 1–2 kilometer dari garis pantai. Sekitar tiga jam, Rahmat maupun nelayan lain bisa memperoleh dua dua ton ubur-ubur. Di tempat penerimaan, ubur-ubur ditimbang sebelum masuk ke rantai perdagangan dan pengolahan. Nono (44), nelayan Tegalkatilayu, harga jual ubur-ubur di tingkat nelayan kisaran Rp800 per kilogram. Dengan hasil tangkapan dua ton, pendapatan kotor yang diperoleh sekitar Rp1,6 juta sekali melaut. “Hasil ini belum dikurangi biaya operasional, termasuk bahan bakar dan kebutuhan melaut,” ujarnya. Nelayan di Cilacap siap untuk membongkar ubur-ubur hasil tangkapan. Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia. Supri, pengepul ubur-ubur di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, mengatakan musim panen mulai berlangsung sejak Agustus. “Sampai saat ini masih berlangsung dan kami bersyukur hasilnya bagus.” Di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, terdapat sekitar 10 lapak penerimaan ubur-ubur untuk menampung hasil tangkapan 500 nelayan. Setiap lapak melayani 50 perahu dengan target harian pengolahan 50–80 ton. “Potensi ini mmeberikan pemasukan tambahan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/berkah-el-nino-bagi-nelayan-cilacap-sekali-melaut-panen-ubur-ubur-hingga-2-ton/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/14/berkah-el-nino-bagi-nelayan-cilacap-sekali-melaut-panen-ubur-ubur-hingga-2-ton/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Geophilus hadesi, Kelabang Buta yang Hidup 1.100 Meter di Bawah Permukaan Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/14/geophilus-hadesi-kelabang-buta-yang-hidup-1-100-meter-di-bawah-permukaan-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/14/geophilus-hadesi-kelabang-buta-yang-hidup-1-100-meter-di-bawah-permukaan-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>14 Okt 2026 11:35:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/14113340/oo_46049-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135004</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gua dan sistem rongga bawah tanah masih menjadi tempat ditemukannya hewan-hewan baru bagi sains. Lingkungan tanpa cahaya matahari, bersuhu rendah, dan miskin pasokan makanan membentuk penghuni dengan penyesuaian khusus, seperti antena, ruas tubuh, dan cakar yang memanjang. Hewan yang seluruh daur hidupnya berlangsung di dalam gua disebut troglobit, dan kelompok ini tersebar di berbagai golongan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/geophilus-hadesi-kelabang-buta-yang-hidup-1-100-meter-di-bawah-permukaan-bumi/">Geophilus hadesi, Kelabang Buta yang Hidup 1.100 Meter di Bawah Permukaan Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gua dan sistem rongga bawah tanah masih menjadi tempat ditemukannya hewan-hewan baru bagi sains. Lingkungan tanpa cahaya matahari, bersuhu rendah, dan miskin pasokan makanan membentuk penghuni dengan penyesuaian khusus, seperti antena, ruas tubuh, dan cakar yang memanjang. Hewan yang seluruh daur hidupnya berlangsung di dalam gua disebut troglobit, dan kelompok ini tersebar di berbagai golongan invertebrata, termasuk kelabang. Salah satu penghuni gua itu adalah Geophilus hadesi, kelabang berukuran kecil yang dideskripsikan pada 2015 dari gua-gua vertikal di Gunung Velebit, Kroasia tengah. Satu individunya teramati pada kedalaman sekitar 1.100 meter, dan angka itu tercatat sebagai kedalaman terjauh yang pernah dilaporkan untuk seluruh kelabang. Temuan tersebut dimuat di jurnal ZooKeys oleh tim yang dipimpin Pavel Stoev dari Pensoft Publishers dan Museum Sejarah Alam Nasional Bulgaria. Spesimen dari gua-gua Velebit Stoev dan rekan-rekannya mendeskripsikan spesies baru ini dari spesimen yang dikumpulkan di gua-gua Velebit pada kedalaman sekitar 250 meter ke bawah. Holotipenya, yaitu spesimen acuan penamaan spesies, berupa betina sepanjang 28 milimeter dengan 33 pasang kaki. Spesimen itu diambil dengan tangan pada Februari 2011 di Gua Munižaba, kawasan Gračac, yang mulut guanya berada di ketinggian 915 meter di atas permukaan laut. Individu lain tercatat di sistem gua vertikal Lukina jama-Trojama pada kedalaman 980 meter dan 1.100 meter. Yang pertama dikoleksi di sebuah ruang gua yang luas, sedangkan yang kedua hanya teramati di titik yang tidak dapat dijangkau sehingga tidak bisa diambil. Para penulis menyebut keduanya tampaknya berasal dari spesies yang sama, dan menyebut angka 1.100 meter sebagai catatan kedalaman terjauh untuk seluruh Chilopoda.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/geophilus-hadesi-kelabang-buta-yang-hidup-1-100-meter-di-bawah-permukaan-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/14/geophilus-hadesi-kelabang-buta-yang-hidup-1-100-meter-di-bawah-permukaan-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ada Udang Purba Yang Hidup Dalam Gelapnya Gua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/ada-udang-purba-yang-hidup-dalam-gelapnya-gua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/ada-udang-purba-yang-hidup-dalam-gelapnya-gua/#respond</comments>
					<pubDate>14 Okt 2026 10:00:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akita Verselita]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/02/22041317/Stenasellus-javanicus2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=134974</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[featured, karst, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gua bukan sekadar lorong gelap di bawah permukaan bumi. Di balik batuan, aliran air, dan ruang yang nyaris tidak tersentuh cahaya, tersimpan kehidupan yang belum banyak dikenali. Salah satunya adalah “udang purba”, hewan berukuran kurang dari satu sentimeter yang hidup di kolam-kolam kecil di lantai gua. Meski disebut udang, satwa ini sebenarnya termasuk kelompok isopoda. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/ada-udang-purba-yang-hidup-dalam-gelapnya-gua/">Ada Udang Purba Yang Hidup Dalam Gelapnya Gua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gua bukan sekadar lorong gelap di bawah permukaan bumi. Di balik batuan, aliran air, dan ruang yang nyaris tidak tersentuh cahaya, tersimpan kehidupan yang belum banyak dikenali. Salah satunya adalah “udang purba”, hewan berukuran kurang dari satu sentimeter yang hidup di kolam-kolam kecil di lantai gua. Meski disebut udang, satwa ini sebenarnya termasuk kelompok isopoda. Salah satu jenisnya, Stenasellus javanicus, pertama kali ditemukan di Jawa pada 2004 melalui kegiatan penelusuran Gua Cikarai di kawasan karst Klapanunggal, Bogor. Dua individu yang ditemukan saat itu kemudian diteliti dan dideskripsikan sebagai spesies baru. Keunikan Stenasellus tidak hanya terlihat dari tubuhnya yang beruas dan berwarna merah muda. Kerabat jauhnya hidup di laut, tetapi kelompok yang ditemukan di Indonesia sejauh ini hanya dijumpai di perairan tawar dalam gua. Mereka menghuni kolam yang terbentuk dari tetesan air di atap dan dinding gua, bukan dari sungai permukaan. Peralihan dari laut menuju habitat air tawar diperkirakan berlangsung melalui proses evolusi yang sangat panjang. Sebarannya telah tercatat di sejumlah wilayah, dari Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, hingga Kalimantan. Namun, tiap populasi dapat terisolasi dalam kawasan karst yang berbeda. Kondisi ini membuka kemungkinan adanya jenis-jenis lain yang belum dikenali. Habitatnya yang sempit juga membuat udang purba rentan terhadap gangguan. Aktivitas wisata, penelusuran yang tidak bertanggung jawab, sampah, pencemaran, serta pertambangan dapat mengubah kualitas air dan merusak kolam tempat hidupnya. Bagaimana udang purba bertahan dalam kegelapan gua? Mengapa satwa yang leluhurnya berasal dari laut kini ditemukan jauh di daratan? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Dr. Cahyo Rahmadi, peneliti zoologi LIPI&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/ada-udang-purba-yang-hidup-dalam-gelapnya-gua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/ada-udang-purba-yang-hidup-dalam-gelapnya-gua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Masyarakat Long Beluah, Ladang Makin Jauh dan Pengakuan Adat Belum Tiba</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nestapa-masyarakat-long-beluah-ladang-makin-jauh-dan-pengakuan-adat-belum-tiba/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nestapa-masyarakat-long-beluah-ladang-makin-jauh-dan-pengakuan-adat-belum-tiba/#respond</comments>
					<pubDate>14 Okt 2026 10:00:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/05084054/Screenshot-2026-08-10-at-18.54.46-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134904</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, kalimantan, komunitas lokal, dan Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di depan rumah Lihiu Yohanes, truk pengangkut tandan buah segar sawit melintas siang dan malam. Jalan Desa Long Beluah, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, berlumpur ketika hujan dan berdebu saat panas. Bagi tokoh adat Gaai Kung Kemul tersebut, kerusakan jalan merupakan bagian dari perubahan yang telah dirasakan masyarakat selama puluhan tahun. “Sarana transportasi kita pun rusak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nestapa-masyarakat-long-beluah-ladang-makin-jauh-dan-pengakuan-adat-belum-tiba/">Nestapa Masyarakat Long Beluah, Ladang Makin Jauh dan Pengakuan Adat Belum Tiba</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di depan rumah Lihiu Yohanes, truk pengangkut tandan buah segar sawit melintas siang dan malam. Jalan Desa Long Beluah, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, berlumpur ketika hujan dan berdebu saat panas. Bagi tokoh adat Gaai Kung Kemul tersebut, kerusakan jalan merupakan bagian dari perubahan yang telah dirasakan masyarakat selama puluhan tahun. “Sarana transportasi kita pun rusak karena dia (perusahaan) lintasi jalan kita ini,” katanya. Aktivitas perusahaan juga disebut mempersempit lahan garapan dan menjauhkan warga dari sumber pangan serta tumbuhan obat. Sebelum perkebunan sawit berkembang, PT ITCI Kayan Hutani telah masuk dengan konsesi kehutanan sekitar 200.000 hektar. Pada 2007, Gawi Plantations, bagian dari Wings Group, hadir melalui tiga anak perusahaan dengan konsesi sekitar 50.000 hektar di empat kecamatan. Lihiu mengatakan masyarakat tidak mendapat sosialisasi mengenai rencana tersebut. Kini, sebagian warga harus berladang hingga sekitar kilometer 60, mendekati perbatasan Berau. Perjalanan yang semakin jauh menambah pengeluaran, sementara tanaman seperti pasak bumi dan akar bajakah tidak lagi mudah ditemukan di sekitar kampung. Persoalan juga muncul dalam skema plasma yang dijanjikan untuk 100 keluarga. Menurut Lihiu, biaya pembukaan jalan dan penggarapan lahan senilai lebih dari Rp8 miliar semula disampaikan sebagai bantuan, tetapi kemudian dianggap sebagai utang petani. Di tengah persoalan itu, pengajuan pengakuan masyarakat adat sejak 2020 belum menghasilkan penetapan. Pengaduan kepada Compliance Advisor Ombudsman Bank Dunia pada 2023 juga disebut belum memberikan penyelesaian berarti. Bagi masyarakat, kehilangan akses hutan menyentuh hubungan dengan leluhur. “Interaksinya kita sama kawasan (hutan) itu, sebenarnya sama dengan kita interaksi sama leluhur kita,” ujar Lihiu. Decmonth Pasaribu, peneliti ICEL, menilai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nestapa-masyarakat-long-beluah-ladang-makin-jauh-dan-pengakuan-adat-belum-tiba/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nestapa-masyarakat-long-beluah-ladang-makin-jauh-dan-pengakuan-adat-belum-tiba/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nahas Warga Langkat Ketika Beraktivitas di Wilayah Jelajah Gajah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/14/nahas-warga-langkat-ketika-beraktivitas-di-wilayah-jelajah-gajah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/14/nahas-warga-langkat-ketika-beraktivitas-di-wilayah-jelajah-gajah/#respond</comments>
					<pubDate>14 Okt 2026 09:00:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/12050247/gajah-roby-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134893</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Desa Mekar Makmur, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut) heboh ketika Donigan Sahat Martua Silaban tergopoh-gopoh lari dan berteriak minta tolong pada warga lokal yang tinggal di lanskap Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) itu. &#8220;Teman saya! Diserang gajah!&#8221; teriaknya gemetar. Warga terkejut. Tanpa pikir panjang, puluhan orang bergegas menuju lokasi yang dia tunjuk. Sesampainya di pinggir [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/nahas-warga-langkat-ketika-beraktivitas-di-wilayah-jelajah-gajah/">Nahas Warga Langkat Ketika Beraktivitas di Wilayah Jelajah Gajah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Desa Mekar Makmur, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut) heboh ketika Donigan Sahat Martua Silaban tergopoh-gopoh lari dan berteriak minta tolong pada warga lokal yang tinggal di lanskap Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) itu. &#8220;Teman saya! Diserang gajah!&#8221; teriaknya gemetar. Warga terkejut. Tanpa pikir panjang, puluhan orang bergegas menuju lokasi yang dia tunjuk. Sesampainya di pinggir sungai, di tepi kawasan TNGL, Hodin Sihotang, kawannya, terbujur kaku. Mereka berdua bukan warga setempat. Melainkan warga Sawit Seberang yang datang memancing di lokasi itu. Donigan bilang, peristiwa itu terjadi ketika mereka berpapasan dengan sekelompok gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang tengah melintas di pinggiran TNGL. Nahas, Hodin tidak sempat menyelamatkan diri. Donigan yang bisa lari hanya bisa menyaksikan dari kejauhan saat kawannya yang berusia 59 tahun itu tak berdaya terserang gajah. Esoknya, tim gabungan dari Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, BBTNGL, dan Polsek Babalan turun meninjau tempat kejadian. Di sekitar lokasi, tanah  masih lembap menyimpan jejak tapak kaki hewan tambun itu bertebaran di sekitar tempat korban. Gajah-gajah itu sudah kembali masuk ke  TNGL. Bersama warga, tim gabungan  bersiaga di lokasi. Kesaksian warga, peristiwa itu merupakan kali kedua. Tahun lalu, terjadi di Mekar Makmur yang berujung maut. Syukur Al Fajar, konservasionis Gajah Sumatera, menyatakan, peristiwa itu bukan sekadar insiden tunggal, melainkan gejala dari tekanan yang makin menumpuk di wilayah jelajah gajah. &#8220;Ketika manusia dan satwa sama-sama terdorong masuk ke ruang yang semakin sempit, interaksi negatif tak terelakkan — dan harganya, seperti yang terlihat, sangat mahal bagi kedua belah pihak,&#8221; ucap Sugeng,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/nahas-warga-langkat-ketika-beraktivitas-di-wilayah-jelajah-gajah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/14/nahas-warga-langkat-ketika-beraktivitas-di-wilayah-jelajah-gajah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Pucuk, Penghuni Pepohonan yang Bantu Petani Kendalikan Hama</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ular-pucuk-penghuni-pepohonan-yang-bantu-petani-kendalikan-hama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ular-pucuk-penghuni-pepohonan-yang-bantu-petani-kendalikan-hama/#respond</comments>
					<pubDate>14 Okt 2026 06:00:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/14012100/Ular-Pucuk-Daun-Foto-Clarissa-Amelia-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134972</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara dedaunan, tubuh hijau ular pucuk mudah luput dari pandangan. Reptil ramping ini kerap melingkar pada batang atau daun, menyamarkan diri sekaligus memanfaatkan pepohonan sebagai tempat berlindung. Bagi Clarissa Amelia, mahasiswa Biologi Institut Teknologi Bandung, perjumpaan langsung dengan ular tersebut mengubah pandangannya terhadap satwa yang sering dianggap menakutkan. Dia mendokumentasikan Ahaetulla prasina di sekitar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ular-pucuk-penghuni-pepohonan-yang-bantu-petani-kendalikan-hama/">Ular Pucuk, Penghuni Pepohonan yang Bantu Petani Kendalikan Hama</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara dedaunan, tubuh hijau ular pucuk mudah luput dari pandangan. Reptil ramping ini kerap melingkar pada batang atau daun, menyamarkan diri sekaligus memanfaatkan pepohonan sebagai tempat berlindung. Bagi Clarissa Amelia, mahasiswa Biologi Institut Teknologi Bandung, perjumpaan langsung dengan ular tersebut mengubah pandangannya terhadap satwa yang sering dianggap menakutkan. Dia mendokumentasikan Ahaetulla prasina di sekitar Sungai Cikacika, Bandung, kawasan yang dekat dengan aktivitas manusia, serta di Taman Buru Masigit Kareumbi, Sumedang, yang vegetasinya relatif terjaga. “Dapat bertahan hidup di dua kondisi habitat berbeda,” katanya. Sebagian besar perjumpaan Clarissa berlangsung malam hari. Ketika kembali pada pagi hari, dia pernah menemukan ular masih berada di tempat semula. “Kemungkinan tidurnya di situ. Setahu saya, ular ini justru lebih aktif siang hari,” ujarnya. Selama pengamatan, ular pucuk cenderung diam dan tenang, tanpa menunjukkan perilaku agresif. Bentuk mata horizontalnya memberi kesan seperti sedang memejamkan mata. Meski dikenal memiliki bisa lemah, perilaku yang diamati Clarissa memperlihatkan bahwa perjumpaan dengan ular tidak selalu berlangsung seperti yang dibayangkan melalui ketakutan terhadap reptil ini. Kehidupan ular pucuk sangat bergantung pada vegetasi. Sebagai satwa arboreal, ia lebih banyak menghabiskan waktu di atas pohon. Adian Dwi Sulistio dari Endemic Indonesia Society menjelaskan bahwa semak, akar, batang pohon, dan rawa menyediakan perlindungan alami bagi ular. “Vegetasi itu surga persembunyian bagi ular,” katanya. Ketika ruang hijau menyusut, ular semakin mudah terlihat dan berpotensi bertemu manusia. Gorong-gorong atau bangunan yang terkadang menjadi tempat ditemukannya ular bukan habitat ideal. Vegetasi juga menyediakan mangsa; kualitas tutupan yang baik mendukung keberadaan berbagai satwa kecil sebagai sumber makanan.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ular-pucuk-penghuni-pepohonan-yang-bantu-petani-kendalikan-hama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ular-pucuk-penghuni-pepohonan-yang-bantu-petani-kendalikan-hama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran Hutan Parah, Pemerintah Kedodoran, Warga Kalbar Menggugat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/14/kebakaran-hutan-parah-pemerintah-kedodoran-warga-kalbar-menggugat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/14/kebakaran-hutan-parah-pemerintah-kedodoran-warga-kalbar-menggugat/#respond</comments>
					<pubDate>14 Okt 2026 04:30:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10232856/Karhutla-Kalbar-Widya--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134942</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) yang melanda berbagai wilayah di Indonesia dari Kalimantan, Sumatera, sampai Papua.  tak kunjung teratasi. Korban dari masyarakat yang terdampak kabut asap atau  satwa yang hangun terpanggang terus berjatuhan. Langkah dan upaya penanganan pemerintah kian kedodoran menangani tragedi berulang yang mengancam kesehatan ini. Di Palembang, Hardiansyah, seorang pengemudi ojek daring, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/kebakaran-hutan-parah-pemerintah-kedodoran-warga-kalbar-menggugat/">Kebakaran Hutan Parah, Pemerintah Kedodoran, Warga Kalbar Menggugat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) yang melanda berbagai wilayah di Indonesia dari Kalimantan, Sumatera, sampai Papua.  tak kunjung teratasi. Korban dari masyarakat yang terdampak kabut asap atau  satwa yang hangun terpanggang terus berjatuhan. Langkah dan upaya penanganan pemerintah kian kedodoran menangani tragedi berulang yang mengancam kesehatan ini. Di Palembang, Hardiansyah, seorang pengemudi ojek daring, meninggal dunia pada 2 Oktober setelah mengalami sesak napas berat. Kesehatan korban memburuk sejak kabut asap karhutla menyelimuti kota sejak pertengahan September. Korban  memiliki riwayat asma dan tetap bekerja di tengah kepungan asap. Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), Lisna guru sekolah dasar, juga meninggal setelah alami sesak napas di tengah kabut asap pada akhir September.  Sebelumnya,  beberapa relawan pemadam kebakaran di Kalimantan Tengah (Kalteng) juga meninggal dunia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla sejak 18 Agustus-21 September 2026. Sebanyak 40.363 kasus merupakan bayi di bawah lima tahun (balita). Data itu berasal dari tujuh provinsi terdampak, yakni,  Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Beberapa provinsi di Papua, terutama Papua Selatan&#8211;wilayah proyek strategis nasional&#8211; juga alami karhutla dan kabut asap belum masuk hitungan. &#8220;Kita melakukan mobilisasi bantuan logistik berupa konsentrator oksigen, masker, tabung oksigen, dan termasuk menyiapkan Labkesmas untuk membantu pengujian kualitas udara, dan menggerakkan Tenaga Cadangan Kesehatan di kabupaten/kota,&#8221; kata Then Suyanti, Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, mengutip Antara. Ancaman asap tidak berhenti pada gangguan kesehatan. Di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, kepungan kabut asap telah memicu kecelakaan beruntun hingga menyebabkan dua&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/kebakaran-hutan-parah-pemerintah-kedodoran-warga-kalbar-menggugat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/14/kebakaran-hutan-parah-pemerintah-kedodoran-warga-kalbar-menggugat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Degradasi Pesisir dan Laut Gerus Tradisi Tangkap Ikan di Wawonii</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/14/degradasi-pesisir-dan-laut-gerus-tradisi-tangkap-ikan-di-wawonii/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/14/degradasi-pesisir-dan-laut-gerus-tradisi-tangkap-ikan-di-wawonii/#respond</comments>
					<pubDate>14 Okt 2026 04:00:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Risman Hermawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10083213/5_-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134928</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, pencemaran, Pertambangan, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dua mangkuk mi instan rebus dan sebakul nasi tersaji di rumah Mukmin siang itu. Tak ada ikan maupun sipou goreng yang alot seperti ketika Mukmin menjamu teman-temannya dari Jakarta, Makassar, dan Kendari, bulan lalu. “Begini mi kalau kurang ikan,” katanya, Rabu (23/9/26). Sipou, sebutan lokal cacing laut (Siphonosoma australe-australe). Biasanya itu menjadi pelengkap lauk bagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/degradasi-pesisir-dan-laut-gerus-tradisi-tangkap-ikan-di-wawonii/">Degradasi Pesisir dan Laut Gerus Tradisi Tangkap Ikan di Wawonii</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dua mangkuk mi instan rebus dan sebakul nasi tersaji di rumah Mukmin siang itu. Tak ada ikan maupun sipou goreng yang alot seperti ketika Mukmin menjamu teman-temannya dari Jakarta, Makassar, dan Kendari, bulan lalu. “Begini mi kalau kurang ikan,” katanya, Rabu (23/9/26). Sipou, sebutan lokal cacing laut (Siphonosoma australe-australe). Biasanya itu menjadi pelengkap lauk bagi masyarakat di pesisir Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara (Sultra). Pria 38 tahun itu bilang, tak ada tangkapan semalam untuk lauk saat dia turun menyuluh di pesisir Tekonea, Kecamatan Wawonii Timur, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep), Sulawesi Tenggara. Kurangnya tangkapan, kata Mukmin, karena  pengeboman ikan beberapa hari sebelumnya. “Kemarin juga habis bom, makanya kurang ikan ini. Kalau kita turun pas selesai bom, tidak ada ikan,” kata Mukmin. Pelaku pengeboman, katanya, berasal dari luar wilayah Kecamatan Wawonii Timur. Catatan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Desa Tekonea dan Butuea, sedikitnya empat kali pengeboman ikan di pesisir Wawonii Timur sepanjang September 2026. Masing-masing dua ledakan di sebelah selatan dan utara. Kebetulan Mukmin Sekretaris Pokmaswas Desa Butue. Mukmin bilang, tangkapan sekarang jauh beda sebelum nelayan di Wawonii kenal bom atau bius. Dulu, nelayan bisa mendapatkan ikan berukuran besar di pesisir, kini sudah pengalaman langka. Padahal itu menjadi tradisi mereka. Namanya merembi, metode berburu ikan bersama-sama di Tekonea dan Munse. Seingat Mukmin, merembi di Tekonea terakhir saat dia duduk di bangku sekolah dasar, lebih 30 tahun lalu. “Dulu,  kalau kita turun, katanya saya punya bapak, pilih saja ikan yang besar-besar. Sekarang ambil biar yang kecil-kecil.” Bentang alam dari gunung, permukiman, dan pesisir laut di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/14/degradasi-pesisir-dan-laut-gerus-tradisi-tangkap-ikan-di-wawonii/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/14/degradasi-pesisir-dan-laut-gerus-tradisi-tangkap-ikan-di-wawonii/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Anak Krakatau Erupsi Lagi, Bagaimana Kesiapsiagaan Hadapi Bencana?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/13/anak-krakatau-erupsi-lagi-bagaimana-kesiapsiagaan-hadapi-bencana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/13/anak-krakatau-erupsi-lagi-bagaimana-kesiapsiagaan-hadapi-bencana/#respond</comments>
					<pubDate>13 Okt 2026 22:22:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/01/22065832/krakatau-erupsi-1992-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134976</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali erupsi lagi . Setidaknya,  tiga kali erupsi pada 5-9 Oktober 2026, dan puncak aktivitas pada 9 Oktober sekitar 26 kali letusan. Sebelumnya, GAK mengalami erupsi pertama kali pada 5 September lalu setelah letusan delapan tahun lalu yang menyebabkan tsunami di sebagian Banten. Dua hari setelah erupsi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/13/anak-krakatau-erupsi-lagi-bagaimana-kesiapsiagaan-hadapi-bencana/">Anak Krakatau Erupsi Lagi, Bagaimana Kesiapsiagaan Hadapi Bencana?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali erupsi lagi . Setidaknya,  tiga kali erupsi pada 5-9 Oktober 2026, dan puncak aktivitas pada 9 Oktober sekitar 26 kali letusan. Sebelumnya, GAK mengalami erupsi pertama kali pada 5 September lalu setelah letusan delapan tahun lalu yang menyebabkan tsunami di sebagian Banten. Dua hari setelah erupsi yang menyebabkan abu vulkanik ke sejumlah wilayah Banten, Lampung, hingga Jabodetabek itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendeteksi anomali muka air laut di sekitar GAK pada 7 September 2026. Anomali juga terjadi pada hari yang sama ketika kapal cepat KM Arupadatu I yang membawa lima jurnalis dan tiga awak kapal hilang kontak saat hendak meliput aktivitas vulkanik Anak Krakatau. Semeidi Husrin,  Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi (BRIN), mengatakan,  data pemantauan menunjukkan anomali muka air cukup kuat di sekitar kompleks Gunung Anak Krakatau pada siang hingga sore 7 September. Anomali juga terdeteksi di Pulau Sebesi, meski intensitas lebih lemah. “Memang kami melihat ada anomali muka air yang cukup kuat di sekitar Anak Krakatau dan terlihat melemah di Pulau Sebesi,” katanya saat Mongabay wawancarai, medio September lalu. Meski begitu, temuan itu, belum cukup untuk menyimpulkan penyebab fenomena itu. Data pendukung di sekitar Anak Krakatau masih terbatas hingga BRIN mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, termasuk data vulkanologi dan satelit altimetri. Semeidi menjelaskan, anomali itu terlihat ketika seharusnya terjadi fase pasang. Namun, kenaikan muka air yang semestinya terlihat pada periode itu justru tidak tampak seperti pola pasang normal. Keterbatasan data menjadi tantangan tersendiri karena pemantauan aktivitas Anak Krakatau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/13/anak-krakatau-erupsi-lagi-bagaimana-kesiapsiagaan-hadapi-bencana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/13/anak-krakatau-erupsi-lagi-bagaimana-kesiapsiagaan-hadapi-bencana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mangrove di Lampung Kembali Mati, Gambut Jambi Terus Terbakar. Masih Bisakah Alam Pulih?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/13/mangrove-di-lampung-kembali-mati-gambut-jambi-terus-terbakar-masih-bisakah-alam-pulih/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/13/mangrove-di-lampung-kembali-mati-gambut-jambi-terus-terbakar-masih-bisakah-alam-pulih/#respond</comments>
					<pubDate>13 Okt 2026 14:04:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ridzki R Sigit]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/13135903/Warga-bersama-personel-gabungan-melakukan-pemadaman-di-lahan-gambut-yang-terbakar-di-Desa-Gambut-Jaya-1200x800-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134957</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan lampung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Lahan Basah, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di pesisir Lampung Timur, hutan mangrove yang sempat tumbuh kembali secara alami kini mengalami kematian massal. Padahal, mangrove tersebut pernah menjadi harapan bagi pemulihan kawasan pesisir yang rusak akibat pembukaan tambak dan abrasi. Pada 1990-an, abrasi dan banjir rob di kawasan Hutan Lindung Muara Sekampung membuat masyarakat kehilangan tambak, bahkan tempat tinggal. Berkurangnya vegetasi mangrove [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/13/mangrove-di-lampung-kembali-mati-gambut-jambi-terus-terbakar-masih-bisakah-alam-pulih/">Mangrove di Lampung Kembali Mati, Gambut Jambi Terus Terbakar. Masih Bisakah Alam Pulih?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di pesisir Lampung Timur, hutan mangrove yang sempat tumbuh kembali secara alami kini mengalami kematian massal. Padahal, mangrove tersebut pernah menjadi harapan bagi pemulihan kawasan pesisir yang rusak akibat pembukaan tambak dan abrasi. Pada 1990-an, abrasi dan banjir rob di kawasan Hutan Lindung Muara Sekampung membuat masyarakat kehilangan tambak, bahkan tempat tinggal. Berkurangnya vegetasi mangrove akibat pembukaan tambak ikut memperbesar kerentanan pesisir. Perlahan, mangrove kembali tumbuh. Sekitar 2007, mangrove jenis Avicennia tumbuh secara alami hingga mencapai sekitar 500 hektare. Namun, sebagian besar tegakannya kini kembali mati, fenomena yang dikenal sebagai dieback. Lalu apa penyebab mangrove yang sempat pulih justru mati kembali? Pertanyaan lebih dalam, maka sampai sejauh mana alam mampu bertahan ketika tekanan lingkungan terus berlangsung? Hamparan tumbuhan paku-pakuan mendominasi vegetasi semak belukar di lahan gambut bekas terbakar di Sungai Gelam, Jambi. Tumbuhan ini menunjukkan adanya pertumbuhan kembali vegetasi setelah kebakaran, meskipun belum menandakan pulihnya ekosistem hutan gambut. Dok: I-CAN Hal ini menjadi perhatian para peneliti di IPB Centre for Applied Research in Nature-based Solutions (I-CAN), pusat studi NbS di IPB University. Lewat pendekatan Living Laboratory, I-CAN menerapkan dan menguji solusi berbasis alam secara langsung di kawasan gambut Jambi serta ekosistem mangrove di Lampung dan Jambi. Peneliti mengidentifikasi sejumlah faktor yang diduga saling berkaitan di Lampung Timur. Temuannya, sedimentasi mengubah topografi dan pola genangan. Sementara itu, variabilitas iklim, termasuk fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD), ikut memengaruhi curah hujan dan kondisi perairan. Genangan berkepanjangan diduga mengurangi ketersediaan oksigen bagi akar. Sebaliknya, ketika tanah mengering, oksidasi pirit&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/13/mangrove-di-lampung-kembali-mati-gambut-jambi-terus-terbakar-masih-bisakah-alam-pulih/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/13/mangrove-di-lampung-kembali-mati-gambut-jambi-terus-terbakar-masih-bisakah-alam-pulih/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Galon Kosong di Gerbang Data Center, Warga Batam Tuntut Air Bersih</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galon-kosong-di-gerbang-data-center-warga-batam-tuntut-air-bersih/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galon-kosong-di-gerbang-data-center-warga-batam-tuntut-air-bersih/#respond</comments>
					<pubDate>13 Okt 2026 10:00:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/09090626/2-7-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134906</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Galon kosong, gayung, dan perlengkapan rumah tangga dibawa puluhan perempuan ke gerbang Nongsa Digital Park, Batam, pada 5 Oktober 2026. Selama tiga bulan, warga Sambau kesulitan mendapatkan air bersih. Pengiriman mobil tangki belum menjawab kebutuhan, bahkan warga harus berebut air dan menunggu hingga subuh. Dewi Susanti, peserta aksi, mengaku terpaksa membeli dua drum air seharga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galon-kosong-di-gerbang-data-center-warga-batam-tuntut-air-bersih/">Galon Kosong di Gerbang Data Center, Warga Batam Tuntut Air Bersih</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Galon kosong, gayung, dan perlengkapan rumah tangga dibawa puluhan perempuan ke gerbang Nongsa Digital Park, Batam, pada 5 Oktober 2026. Selama tiga bulan, warga Sambau kesulitan mendapatkan air bersih. Pengiriman mobil tangki belum menjawab kebutuhan, bahkan warga harus berebut air dan menunggu hingga subuh. Dewi Susanti, peserta aksi, mengaku terpaksa membeli dua drum air seharga Rp125.000 yang hanya cukup untuk sehari. “Uang yang harusnya beli beras dibelikan air,” katanya. Di tengah kesulitan itu, warga juga mengeluhkan tagihan bulanan yang tetap tinggi meski air jarang mengalir. Warga menduga pembangunan pusat data atau data center di sekitar mereka berkaitan dengan tersendatnya pasokan. “Sebelum ada data center air kami selalu lancar, tapi sejak ada data center mulai tersendat,” ujar Dewi. Namun, PT Air Batam Hilir (ABH) membantah dugaan tersebut dan menyebut kemarau serta El Nino sebagai penyebab menyusutnya Waduk Nongsa. Produksi air kini hanya sekitar 30 liter per detik, dibandingkan kapasitas biasanya sekitar 80 liter per detik. ABH menyatakan telah mengerahkan delapan mobil tangki dan menghentikan penggunaan tangki karatan setelah menerima keluhan air kotor. BP Batam juga membantah hubungan antara kebutuhan pusat data dan kekeringan waduk. Denny Tondano, Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, menyatakan air pendingin fasilitas di Nongsa Digital Park berasal dari Kabil Industrial Estate, yang memiliki pengolahan air sendiri. Belum semua pusat data di kawasan tersebut beroperasi, sementara sebagian masih dibangun. Untuk pengembangan berikutnya, Denny mendorong pemanfaatan air laut melalui desalinasi. Sistem berkapasitas 1.200 liter per detik sedang dibangun dan diperkirakan selesai dalam setahun. Adapun desakan penghentian sementara izin baru masih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galon-kosong-di-gerbang-data-center-warga-batam-tuntut-air-bersih/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galon-kosong-di-gerbang-data-center-warga-batam-tuntut-air-bersih/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Aparallactus, Ular Kecil Penghuni Bawah Tanah yang Spesialis Memangsa Kelabang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/13/aparallactus-ular-kecil-penghuni-bawah-tanah-yang-spesialis-memangsa-kelabang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/13/aparallactus-ular-kecil-penghuni-bawah-tanah-yang-spesialis-memangsa-kelabang/#respond</comments>
					<pubDate>13 Okt 2026 07:34:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/13072514/Aparallactus_guentheri-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134950</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di hutan, savana, dan padang semak, kelabang termasuk hewan yang jarang dimangsa. Hewan beruas ini bergerak cepat, agresif, dan membawa sepasang taring berbisa di bagian depan tubuhnya. Kebanyakan predator memilih menghindarinya, sehingga relung ekologi sebagai pemangsa kelabang relatif sepi. Relung itu ternyata ditempati oleh ular. Di Afrika Sub-Sahara hidup kelompok ular kecil dari genus Aparallactus, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/13/aparallactus-ular-kecil-penghuni-bawah-tanah-yang-spesialis-memangsa-kelabang/">Aparallactus, Ular Kecil Penghuni Bawah Tanah yang Spesialis Memangsa Kelabang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di hutan, savana, dan padang semak, kelabang termasuk hewan yang jarang dimangsa. Hewan beruas ini bergerak cepat, agresif, dan membawa sepasang taring berbisa di bagian depan tubuhnya. Kebanyakan predator memilih menghindarinya, sehingga relung ekologi sebagai pemangsa kelabang relatif sepi. Relung itu ternyata ditempati oleh ular. Di Afrika Sub-Sahara hidup kelompok ular kecil dari genus Aparallactus, famili Atractaspididae, yang dikenal dengan nama umum centipede-eater atau pemakan kelabang. Genus ini endemik di Afrika, terdiri atas lebih dari sepuluh spesies, dan menarik perhatian para herpetolog karena makanannya yang sangat spesifik. Tubuh ramping untuk hidup di bawah tanah Sebagian besar spesies Aparallactus bertubuh ramping dan berukuran kecil. Aparallactus capensis rata-rata panjangnya sekitar 30 sentimeter dengan ukuran maksimum 40 sentimeter. Spesies lain seperti Aparallactus lunulatus rata-rata mencapai 40 sentimeter dan bisa tumbuh hingga 54 sentimeter. Kepala ular ini kecil dengan moncong tumpul, bentuk yang sesuai untuk menyusup ke dalam tanah gembur dan celah sempit. Ular dengan gaya hidup seperti ini disebut fossorial, yakni hewan yang banyak menghabiskan waktu di bawah permukaan tanah. Ular ini aktif pada malam hari sehingga jarang terlihat oleh manusia. Spesies yang paling dikenal adalah Aparallactus capensis, yang dalam bahasa Inggris disebut Cape centipede-eater atau black-headed centipede-eater. Sisiknya halus dan berwarna cokelat muda hingga cokelat jingga. Bagian kepala dan tengkuknya berwarna gelap atau hitam seperti tudung, sehingga ular ini mudah dikenali. Ular ini umum ditemukan di bekas gundukan rayap, di bawah batang kayu dan batu, serta di tumpukan serasah daun. Di Afrika Selatan, persebarannya mencakup bagian timur negara itu, mulai dari Provinsi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/13/aparallactus-ular-kecil-penghuni-bawah-tanah-yang-spesialis-memangsa-kelabang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/13/aparallactus-ular-kecil-penghuni-bawah-tanah-yang-spesialis-memangsa-kelabang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Reptil Berdarah Dingin, Apakah Ular Juga Berjemur untuk Hangatkan Tubuh?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/13/reptil-berdarah-dingin-apakah-ular-juga-berjemur-untuk-hangatkan-tubuh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/13/reptil-berdarah-dingin-apakah-ular-juga-berjemur-untuk-hangatkan-tubuh/#respond</comments>
					<pubDate>13 Okt 2026 05:00:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/13025234/Gonyosoma-jansenii-Foto-Annisa-Ramdani4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134933</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mengapa seekor ular kadang terlihat berjemur di bawah sinar matahari? Dikenal sebagai reptil berdarah dingin, apakah ia sedang menghangatkan tubuh? Atau, ada alasan lain yang membuat makhluk melata ini berada di tempat terbuka? Pertanyaan ini muncul dari sebuah perjumpaan sederhana di Morowalii, Sulawesi Tengah. Sekitar pukul 09.00 WITA, Annisa Ramdani, seorang biodiversity surveyor, sedang menuju [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/13/reptil-berdarah-dingin-apakah-ular-juga-berjemur-untuk-hangatkan-tubuh/">Reptil Berdarah Dingin, Apakah Ular Juga Berjemur untuk Hangatkan Tubuh?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mengapa seekor ular kadang terlihat berjemur di bawah sinar matahari? Dikenal sebagai reptil berdarah dingin, apakah ia sedang menghangatkan tubuh? Atau, ada alasan lain yang membuat makhluk melata ini berada di tempat terbuka? Pertanyaan ini muncul dari sebuah perjumpaan sederhana di Morowalii, Sulawesi Tengah. Sekitar pukul 09.00 WITA, Annisa Ramdani, seorang biodiversity surveyor, sedang menuju lokasi survei keanekaragaman hayati di lokasi tersebut. Perjalanan itu terhenti tatkala jebolan Magister Biologi Universitas Nasional (UNAS) itu melihat seekor ular di tepi jalan. Cuaca kala itu cukup terik. Dari kondisi itu, Annisa menduga ular yang dilihatnya sedang basking, yaitu perilaku reptil memanfaatkan sumber panas dari lingkungan untuk membantu mengatur suhu tubuh. “Sepertinya si ular sedang berjemur,” terang Annisa, akhir September 2026. Dia mendokumentasikan ular itu. Perjumpaan tersebut bukan bagian dari pencarian khusus terhadap ular Gonyosoma jansenii atau disebut ular tikus hitam celebes. Baginya, dokumentasi penting karena setiap perjumpaan dengan satwa bisa memberikan tambahan informasi mengenai keberadaan dan kondisi biodiversitas di suatu kawasan. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian. Ular tersebut tak ditemukan di atas pohon atau dalam tutupan vegetasi, melainkan di jalan. Padahal, Celebes black-tailed ratsnake ini dikenal sebagai ular yang punya kemampuan memanfaatkan vegetasi. Ular Gonyosoma jansenii atau disebut ular tikus hitam celebes. Foto: Dok. Annisa Ramdani. Strategi mengatur suhu tubuh Secara ekologis, basking tak sekedar aktivitas tubuh yang terkena panas matahari. Perilaku ini adalah bagian dari behavior thermoregulation, yakni strategi hewan mengatur suhu tubuh dengan memilih kondisi lingkungan tertentu. Penelitian Dubiner dan kolega yang terbit dalam Global Ecology and Biogeography 2024&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/13/reptil-berdarah-dingin-apakah-ular-juga-berjemur-untuk-hangatkan-tubuh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/13/reptil-berdarah-dingin-apakah-ular-juga-berjemur-untuk-hangatkan-tubuh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Malaria di Indonesia Sentuh Angka Tertinggi dalam Sejarah, Pengaruh Krisis Iklim?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/malaria-di-indonesia-sentuh-angka-tertinggi-dalam-sejarah-pengaruh-krisis-iklim/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/malaria-di-indonesia-sentuh-angka-tertinggi-dalam-sejarah-pengaruh-krisis-iklim/#respond</comments>
					<pubDate>13 Okt 2026 05:00:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Shakira Nuha Fella Nouf*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/12111121/DJI_0661-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134934</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, hutan indonesia, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada dua tahun terakhir, kasus malaria di Indonesia melonjak 69%. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2023-2025, angkanya melonjak dari 418.546 menjadi 706.297 kasus. Angka tersebut menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.  Riset terbaru dari Monash University menyebut untuk menekan risiko lonjakan kasus di tengah perubahan iklim yang kian ekstrem perlu adanya upaya serius. Mulai dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/malaria-di-indonesia-sentuh-angka-tertinggi-dalam-sejarah-pengaruh-krisis-iklim/">Malaria di Indonesia Sentuh Angka Tertinggi dalam Sejarah, Pengaruh Krisis Iklim?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada dua tahun terakhir, kasus malaria di Indonesia melonjak 69%. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2023-2025, angkanya melonjak dari 418.546 menjadi 706.297 kasus. Angka tersebut menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.  Riset terbaru dari Monash University menyebut untuk menekan risiko lonjakan kasus di tengah perubahan iklim yang kian ekstrem perlu adanya upaya serius. Mulai dari pengendalian vektor, vaksinasi, hingga pengurangan emisi gas rumah kaca, sangat krusial untuk menekan beban ksus itu. Riset tersebut rilis di Science Advances (2026), mengulas faktor ekologi, epidemiologi, dan sosial-ekonomi yang saling memengaruhi penularan malaria serta demam berdarah dengue (DBD).  Toby Cumming, peneliti utama dari Health and Climate Initiative, Monash School of Public Health and Preventive Medicine, mengatakan penting adanya pemahaman terkait faktor pendorong penularan penyakit.  “Perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu dan pergeseran pola curah hujan, sehingga memperluas wilayah yang cocok bagi populasi nyamuk Anopheles dan Aedes untuk berkembang pesat,” jelas Cumming dalam siaran persnya. Pasalnya, pengaruh iklim ini  tidak linier, bisa karena faktor musim, serta beragam di tiap daerahnya. Meski, dampak penularannya secara umum relatif serupa. Selama satu abad terakhir kasus malaria menurun, sementara kasus DBD justru meningkat. Henry Surendra, associate professor dari Monash University Indonesia menyebut pengendalian nyamuk dan terapi pengobatan berhasil menurunkan penularan malaria secara signifikan. Sebaliknya, urbanisasi yang meningkat mendukung perkembangbiakan Aedes, sehingga mempercepat penyebaran DBD yang hingga kini belum memiliki obat khusus.  Bersama Kemenkes, timnya kini sedang mengidentifikasi faktor iklim, lingkungan, dan demografi yang berkaitan dengan kejadian malaria dan DBD di kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi di Kalimantan Timur. Cumming mengingatkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/malaria-di-indonesia-sentuh-angka-tertinggi-dalam-sejarah-pengaruh-krisis-iklim/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/malaria-di-indonesia-sentuh-angka-tertinggi-dalam-sejarah-pengaruh-krisis-iklim/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Seribu Ton Lebih Udang Impor Lolos dari Pengawasan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/13/seribu-ton-lebih-udang-impor-lolos-dari-pengawasan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/13/seribu-ton-lebih-udang-impor-lolos-dari-pengawasan/#respond</comments>
					<pubDate>13 Okt 2026 03:34:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riza Salman*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/12214654/udang--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134689</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bisnis dan ekonomi, kelautan dan perikanan, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengamankan 1.048 ton udang impor asal Kanada, Argentina, dan Ekuador di sejumlah perusahaan di Jawa Timur (Jatim), akhir September. Kuat dugaan, ribuan ton produk kelautan yang masuk melalui kawasan berikat itu tidak sesuai peruntukan. Dalam keterangannya, KKP menyebut potensi kerugian negara dari kasus ini mencapai Rp 405,8 miliar. “Jika ditemukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/13/seribu-ton-lebih-udang-impor-lolos-dari-pengawasan/">Seribu Ton Lebih Udang Impor Lolos dari Pengawasan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengamankan 1.048 ton udang impor asal Kanada, Argentina, dan Ekuador di sejumlah perusahaan di Jawa Timur (Jatim), akhir September. Kuat dugaan, ribuan ton produk kelautan yang masuk melalui kawasan berikat itu tidak sesuai peruntukan. Dalam keterangannya, KKP menyebut potensi kerugian negara dari kasus ini mencapai Rp 405,8 miliar. “Jika ditemukan pelanggaran, kami akan melakukan tindakan tegas sesuai ketentuan,” kata Sakti Wahyu Trenggono, Menteri KKP dalam keterangan resminya di Jakarta. Menurut KKP, udang impor itu seharusnya  sebagai bahan baku pengolahan dan hasilnya ekspor kembali. Namun, KKP menduga sebagian komoditas itu tidak perusahaan gunakan sesuai peruntukan. Karena itu, penyegelan KKP lakukan guna mencegah udang membanjiri pasar domestik. Pung Nugroho Saksono, Direktur Jenderal (Dirjen) PSDKP merinci, ribuan ton udang yang dia amankan  meliputi 19,16 ton udang pink asal Kanada di Probolinggo dan Pasuruan. Kemudian 885,3 ton udang merah asal Argentina dan 144 ton udang vaname asal Ekuador yang dia amankan di PT Bumi Menara Internusa (BMI) Lamongan.  Tindakan penyegelan itu KKP lakukan untuk menjaga iklim usaha yang sehat dan memastikan hasil budidaya udang nasional dapat terserap dengan baik. “Jika terbukti (pelanggaran) administratif, perkara akan diproses sesuai ketentuan. Jika ditemukan unsur pidana, maka akan ditindaklanjuti dengan proses hukum pidana.” Hamparan tambak udang di pesisir Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Foto: Ahmad H. Ramdhani/Mongabay Indonesia. Keterlusuran produk Oktavianto Prasetyo Darmono dari Fisheries Resource Center of Indonesia (FRCI), mendorong pengusutan tuntas kasus ini. Menurut dia, pemeriksaan bisa mulai dengan melacak negara asal dan unit produksi udang. “Ini untuk mengetahui kemana&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/13/seribu-ton-lebih-udang-impor-lolos-dari-pengawasan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/13/seribu-ton-lebih-udang-impor-lolos-dari-pengawasan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perikanan Mentawai Terkendala Kesediaan Es Batu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/13/perikanan-mentawai-terkendala-kesediaan-es-batu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/13/perikanan-mentawai-terkendala-kesediaan-es-batu/#respond</comments>
					<pubDate>13 Okt 2026 01:10:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baittri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/08143307/Lobster-di-pengepul-Dusun-Sinaka-Pagai-Selatan-Mentawai_Pada-2023_Jaka-HB_IMG_7315-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134695</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Keandalan rantai dingin masih menjadi kendala tata kelola perikanan di Sinaka, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Sejumlah pengepul bahkan harus mengeluarkan jutaan rupiah untuk mendapatkan es batu demi menjaga mutu produk perikanan yang mereka jual. Idris Maulana, salah satu pengepul  mengtakan,  keluarkan biaya Rp1,8 juta untuk sekali beli es batu dan bahan bakar dari Sinaka ke Sikakap. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/13/perikanan-mentawai-terkendala-kesediaan-es-batu/">Perikanan Mentawai Terkendala Kesediaan Es Batu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Keandalan rantai dingin masih menjadi kendala tata kelola perikanan di Sinaka, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Sejumlah pengepul bahkan harus mengeluarkan jutaan rupiah untuk mendapatkan es batu demi menjaga mutu produk perikanan yang mereka jual. Idris Maulana, salah satu pengepul  mengtakan,  keluarkan biaya Rp1,8 juta untuk sekali beli es batu dan bahan bakar dari Sinaka ke Sikakap. “Itu setiap satu minggu. Kebutuhan es paling banyak 2 fiber atau sekitar 400 kilogram dalam satu minggu,” katanya. Dia bilang,  sebulan rata-rata empat kali membeli es batu. Jika dia kalkulasi, total untuk kebutuhan rantai dingin ini bisa capai Rp7,5 juta setiap bulan. Masalahnya, ketersediaan es di Sinaka tak selalu ada lantaran pabrik es sering tutup. Padahal, sebagai pengepul, es menjadi kebutuhan utama untuk menjaga kualitas ikan hasil tangkapan. “Kami tidak bisa membuka usaha untuk menampung hasil laut kalau tidak ada es.” Bagi Idris, situasi itu tidak menjadi masalah tatkala sepi tangkapan. Saat lagi musim, jelas ketiadaan es menjadi masalah besar. Ikan dan gurita yang menjadi tangkapan utama nelayan menjadi cepat rusak. Karena itu, saat es tak ada, Idris tak mau ambil risiko yang pada mengancam serapan ikan. Nora, pengepul lain di Sinaka ungkapkan hal serupa. Dalam seminggu, dia habiskan Rp1,5 juta untuk membeli 150 balok es batu. “Itu biaya untuk es digabung sama bbm,” katanya. Artinya dalam empat minggu atau satu bulan Nora harus mengeluarkan biaya Rp6.000.000 untuk membeli es ini. “Kalau gurita lancar satu minggu sekali ke Sikakap. Kalau gurita nggak lancar dapatnya, dua minggu sekali beli es, itu pun kalau cuaca bagus dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/13/perikanan-mentawai-terkendala-kesediaan-es-batu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/13/perikanan-mentawai-terkendala-kesediaan-es-batu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Namanya Paus Kepala Melon, Namun Termasuk Jenis Lumba-lumba</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/namanya-paus-kepala-melon-namun-termasuk-jenis-lumba-lumba/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/namanya-paus-kepala-melon-namun-termasuk-jenis-lumba-lumba/#respond</comments>
					<pubDate>13 Okt 2026 00:30:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/06034451/Peponocephala_electra-atau-paus-kepala-melon-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134878</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Namanya paus kepala melon, tetapi mamalia laut ini termasuk keluarga lumba-lumba samudera, Delphinidae. Ukuran tubuh dan bentuk kepalanya membuat orang menyebutnya paus. Dengan nama ilmiah Peponocephala electra, satwa ini menghuni perairan laut dalam tropis dan subtropis. Di Indonesia, keberadaannya tercatat di Laut Banda dan Laut Sawu. Ketika muncul ke permukaan, paus kepala melon biasanya terlihat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/namanya-paus-kepala-melon-namun-termasuk-jenis-lumba-lumba/">Namanya Paus Kepala Melon, Namun Termasuk Jenis Lumba-lumba</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Namanya paus kepala melon, tetapi mamalia laut ini termasuk keluarga lumba-lumba samudera, Delphinidae. Ukuran tubuh dan bentuk kepalanya membuat orang menyebutnya paus. Dengan nama ilmiah Peponocephala electra, satwa ini menghuni perairan laut dalam tropis dan subtropis. Di Indonesia, keberadaannya tercatat di Laut Banda dan Laut Sawu. Ketika muncul ke permukaan, paus kepala melon biasanya terlihat berkelompok. Namun, perjumpaan yang jarang serta kemiripannya dengan mamalia laut lain membuat identitasnya tidak selalu mudah dipastikan. Sekar Mira, peneliti mamalia laut dari BRIN, menjelaskan bahwa paus kepala melon sering tertukar dengan paus pembunuh kerdil, Feresa attenuata. Salah satu pembeda terdapat pada warna putih di sekitar mulut. Pada paus pembunuh kerdil, warna tersebut menyebar ke sekitar wajah, sedangkan pada paus kepala melon tidak. Keraguan serupa pernah dialami Sekar dalam ekspedisi OceanX, ketika mamalia yang diduga paus kepala melon muncul ke permukaan. Pengamatan di lapangan belum langsung memastikan jenisnya karena penampilannya menyerupai satwa lain. “Masih sedikit yang mempelajari,” katanya mengenai keterbatasan pengetahuan tentang spesies ini. Tubuh paus kepala melon didominasi warna abu-abu. Kepalanya terlihat berbentuk segitiga jika diamati dari atas, sementara bagian depan yang menonjol menjadi asal penamaan kepala melon. Individu dewasa dapat mencapai panjang sekitar 2,75 meter dan berat 225 kilogram. Jantan biasanya lebih berat, dengan kepala lebih bulat, sirip lebih panjang, sirip punggung lebih tinggi, serta ekor lebih lebar dibandingkan betina. Kematangan fisiknya dicapai sekitar usia 13–15 tahun, dan umur hidupnya dapat mencapai 45 tahun. “Jadi, paus kepala melon itu lumba-lumba. Namun karena ukurannya agak besar, orang biasa menyebutnya paus,” jelas Sekar. Meski berstatus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/namanya-paus-kepala-melon-namun-termasuk-jenis-lumba-lumba/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/namanya-paus-kepala-melon-namun-termasuk-jenis-lumba-lumba/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Keuskupan Agung Ende Gugat Penetapan Flores sebagai Pulau Panas Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/12/keuskupan-agung-ende-gugat-penetapan-flores-sebagai-pulau-panas-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/12/keuskupan-agung-ende-gugat-penetapan-flores-sebagai-pulau-panas-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>12 Okt 2026 23:12:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21231732/3-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134924</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Keuskupan Agung Ende melalui Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Integritas mengajukan gugatan uji materi ke Mahkamah Agung atas penetapan Flores sebagai “pulau panas bumi” dan SK Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait wilayah kerja panas bumi (WKP) di Sokoria serta Mataloko. Gugatan mereka daftarkan 4 September lalu dengan perkara Nomor 43 P/HUM/2026. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/12/keuskupan-agung-ende-gugat-penetapan-flores-sebagai-pulau-panas-bumi/">Keuskupan Agung Ende Gugat Penetapan Flores sebagai Pulau Panas Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Keuskupan Agung Ende melalui Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Integritas mengajukan gugatan uji materi ke Mahkamah Agung atas penetapan Flores sebagai “pulau panas bumi” dan SK Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait wilayah kerja panas bumi (WKP) di Sokoria serta Mataloko. Gugatan mereka daftarkan 4 September lalu dengan perkara Nomor 43 P/HUM/2026. Azas Tigor Nainggolan, tim kuasa hukum keuskupan menjelaskan, objek gugatan itu ialah tiga SK Menteri ESDM, yakni, SK 0539 K/30/MEM/2012 tentang Penetapan WKP Sokoria, SK 1152/K/30/MEM/2011 tentang Penetapan WKP Mataloko. Lalu, SK 2268 K/30/MEM/2017 tentang Penetapan Pulau Flores sebagai Pulau Panas Bumi. SK itu, katanya, dapat berdampak luas terhadap masyarakat, termasuk pelaku usaha di Pulau Flores. Karena itu, kata Tigor, perlu uji utuh dampak hukum dan sosial-ekologisnya. Apalagi, katanya, bentang Pulau Flores memiliki pegunungan vulkanik, hutan, daerah resapan air, dan sumber mata air yang menopang kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan peternakan masyarakat. “Setiap kebijakan yang dapat mengubah kawasan hulu, penggunaan lahan, dan ekosistem harus dilakukan hati-hati, berbasis ilmiah, transparan, dan melibatkan masyarakat,” katanya kepada Mongabay Indonesia, Jumat (9/10/26). Dia bilang, terdapat tiga dalil utama dalam gugatan itu. Pertama, keterbukaan informasi. Masyarakat, katanya,  kesulitan memperoleh dokumen utuh SK ESDM  itu. Mereka, hanya mengetahui nomor SK dari pengumuman hasil lelang. Pada 23 Februari lalu, Keuskupan Agung Ende menyampaikan surat keberatan administratif I kepada Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), KESDM. Mereka berjanji memberikan akses dokumen lengkap SK WKP Panas Bumi. Ketika sumber energi ciptakan masalah lingkungan dan sengsarakan hidup masyarakat, apakah itu bisa masuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/12/keuskupan-agung-ende-gugat-penetapan-flores-sebagai-pulau-panas-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/12/keuskupan-agung-ende-gugat-penetapan-flores-sebagai-pulau-panas-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran Hutan Perlu Langkah Serius,  Bukan Sekadar Kedatangan Pejabat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/12/kebakaran-hutan-perlu-langkah-serius-bukan-sekadar-kedatangan-pejabat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/12/kebakaran-hutan-perlu-langkah-serius-bukan-sekadar-kedatangan-pejabat/#respond</comments>
					<pubDate>12 Okt 2026 21:33:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/08175029/IMG_2419-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134700</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Lahan Basah, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membara di berbagai wilayah di Kalimantan dan Sumatera. Berbagai kalangan mengkritik para  pejabat pemerintah pusat yang datang dan pergi ke lokasi bencana itu, terkesan sekadar turun lapangan dan tak berikan pengaruh berarti dalam mengatasi karhutla. Di Kalimantan Selatan (Kalsel), misal, Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka menyambangi Bumi Lambung [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/12/kebakaran-hutan-perlu-langkah-serius-bukan-sekadar-kedatangan-pejabat/">Kebakaran Hutan Perlu Langkah Serius,  Bukan Sekadar Kedatangan Pejabat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membara di berbagai wilayah di Kalimantan dan Sumatera. Berbagai kalangan mengkritik para  pejabat pemerintah pusat yang datang dan pergi ke lokasi bencana itu, terkesan sekadar turun lapangan dan tak berikan pengaruh berarti dalam mengatasi karhutla. Di Kalimantan Selatan (Kalsel), misal, Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka menyambangi Bumi Lambung Mangkurat ini untuk tinjau penanganan bencana karhutla September lalu. Putra sulung Presiden Indonesia ketujuh  itu hanya bicara kurang lima menit. Minta maaf ke warga, lalu meminta aparat penegak hukum melakukan penindakan tegas. “Mohon ini dari pihak kepolisian untuk penindakan hukum, mohon ditegaskan benar,” katanya, sebelum berangkat ke area terbakar di dekat Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor Banjarmasin. Sebelumnya, presiden dan para menteri  juga mendatangi daerah-daerah di Kalimantan maupun Sumatera untuk pemantauan karhutla Muhamad Pazri, Ketua Yayasan Edukasi Hukum Indonesia (YEHI), mengkritik kedatangan sejumlah pejabat pusat di tengah karhutla yang masih terjadi. Menurutnya, situasi ini siklus klasik yang terus berulang. Saat titik api melonjak, kualitas udara memburuk, lalu iring-iringan pejabat negara tiba di lokasi bencana. Dia bilang, kedatangan wapres bersama Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan, ke sejumlah wilayah di Kalimantan belakangan ini memicu diskursus publik. Sebagian masyarakat, katanya, justru sebut kedatangan pejabat sebabkan kenaikan titik panas. Sementara, pemerintah cenderung menyalahkan fenomena alam. Misal dengan super el nino, suhu ekstrem, kelembaban rendah, dan karakteristik lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan. “Kesimpulan bahwa ini murni bencana alam merupakan bentuk kenaifan sosiologis dan pengabaian terhadap persoalan penegakan hukum,” katanya. Harusnya, fokus mengarah pada mengapa kebakaran terus muncul&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/12/kebakaran-hutan-perlu-langkah-serius-bukan-sekadar-kedatangan-pejabat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/12/kebakaran-hutan-perlu-langkah-serius-bukan-sekadar-kedatangan-pejabat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mama-mama Hebat Atuka, Pencari Karaka dan Penjaga Mangrove</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/mama-mama-hebat-atuka-pencari-karaka-dan-penjaga-mangrove/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/mama-mama-hebat-atuka-pencari-karaka-dan-penjaga-mangrove/#respond</comments>
					<pubDate>12 Okt 2026 10:00:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/09005916/karaka-1--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134745</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Saat air surut, para perempuan Kampung Atuka, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, bergerak menuju hutan mangrove untuk mencari karaka atau kepiting bakau. Mama Paulina, Balbina, Oda, dan Karolina berangkat bersama menggunakan perahu, membawa noken berisi peralatan. Setelah tiba, mereka menyebar untuk mencari lubang karaka di antara akar mangrove. Bekas kaki menjadi petunjuk keberadaan kepiting, lalu besi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/mama-mama-hebat-atuka-pencari-karaka-dan-penjaga-mangrove/">Mama-mama Hebat Atuka, Pencari Karaka dan Penjaga Mangrove</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Saat air surut, para perempuan Kampung Atuka, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, bergerak menuju hutan mangrove untuk mencari karaka atau kepiting bakau. Mama Paulina, Balbina, Oda, dan Karolina berangkat bersama menggunakan perahu, membawa noken berisi peralatan. Setelah tiba, mereka menyebar untuk mencari lubang karaka di antara akar mangrove. Bekas kaki menjadi petunjuk keberadaan kepiting, lalu besi panjang bergagang kayu digunakan untuk mengeluarkannya. “Jadi kita tidak bisa kasi masuk tangan langsung. Itu bahaya,” kata Paulina. Karaka ditangkap dengan hati-hati karena capit patah atau tubuh terluka dapat mengurangi nilai jualnya. Bagi mama-mama Atuka, hasil hutan mangrove memenuhi kebutuhan pangan sekaligus menjadi sumber penghasilan. Selain karaka, mereka mengumpulkan kerang, siput, dan tambelo untuk keluarga. Balbina mengatakan hasil tangkapan bergantung pada kondisi air dan keberuntungan: terkadang hanya empat hingga enam karaka, tetapi saat surut bisa mencapai 20. Dia pernah memperoleh hingga Rp500.000 dari penjualan. Uang tersebut digunakan membeli kebutuhan rumah dan sebagian disimpan. “Tiap hari. Ingat anak-anak ini untuk mereka punya uang jajan, uang sekolah. Jadi tiap hari,” ujarnya tentang alasan terus mencari karaka. Namun, perempuan pencari karaka belum banyak mengetahui perkembangan harga dan mengandalkan informasi pengepul. Sebagian nelayan juga terikat kesepakatan penyediaan bahan bakar: seluruh karaka harus dijual kepada pengepul yang membiayai perjalanan. Ketergantungan pada perahu motor menambah kebutuhan bahan bakar, sementara aksesnya tidak selalu mudah. Ketika perahu sulit digunakan, para perempuan tetap mencari karaka dengan berjalan kaki menyusuri pantai. Di tingkat perdagangan, karaka menjadi komoditas ekspor terbesar Papua Tengah. Data Balai Karantina mencatat volume ekspor Januari–Juni 2026 mencapai sekitar 661,8 ton, dengan jalur&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/mama-mama-hebat-atuka-pencari-karaka-dan-penjaga-mangrove/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/mama-mama-hebat-atuka-pencari-karaka-dan-penjaga-mangrove/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>