Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Ular Endemik Papua yang Lahir Kuning, Tumbuh Hijau, dan Diburu Pedagang Satwa

Akhyari Hananto 12 Jun 2026

Saat masih anakan, warnanya kuning cerah dan mencolok di antara vegetasi. Seiring pertumbuhan, warna itu perlahan berubah menjadi hijau, menyatu sempurna dengan kanopi hutan Papua. Banyak orang mengira keduanya adalah dua spesies berbeda. Padahal itu adalah satu individu yang sama, dalam dua fase kehidupan yang sangat berbeda.

Itulah Morelia azurea, sanca pohon hijau utara, spesies endemik Papua yang hidup di ketinggian kanopi dan jarang sekali terlihat manusia. Dan justru keindahan transformasinya itulah yang membuatnya menjadi incaran pedagang satwa.

Muh. Imam Ramdani dari komunitas Bogor Nature Wildlife Photography pertama kali menjumpainya secara tak terduga, saat hujan deras di hutan sekunder Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Tim pengamat sedang bergerak pulang lebih awal demi keselamatan ketika sorot lampunya menangkap seekor ular melilit tenang di batang pohon, nyaris tak bergerak. “Ketemu tidak sengaja, saat jalan pulang,” kata Imam. Malam itu, ular berada lebih rendah dari biasanya, bukan di ketinggian 10 hingga 20 meter seperti umumnya, kemungkinan sedang mencari mangsa.

Sanca pohon hijau utara adalah predator penyergap yang mengandalkan kesabaran. Nokturnal, hampir tidak bergerak saat menunggu, dan menyerang dengan gerakan yang nyaris tidak terlihat. Tidak berbisa, dan cenderung menghindari manusia. Tapi persepsi masyarakat terhadapnya masih didominasi rasa takut. “Semua jenis ular dianggap bahaya,” kata Imam.

Secara ilmiah, Morelia azurea baru diakui sebagai spesies tersendiri sekitar 2019, dipisahkan dari Morelia viridis melalui publikasi ilmiah internasional yang menemukan perbedaan signifikan pada populasi di wilayah utara Papua. Masalahnya, regulasi perlindungan satwa di Indonesia terakhir diperbarui pada 2018, sebelum pemisahan taksonomi itu terjadi. Secara administratif, ada kemungkinan spesies ini belum sepenuhnya tercakup dalam perlindungan hukum yang berlaku.

Celah hukum itu bertemu dengan tekanan perdagangan yang nyata. Amir Hamidy, Profesor Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, menyebut permintaan domestik untuk sanca hijau masih kerap dipenuhi dari tangkapan alam liar secara ilegal. Ironisnya, satwa hasil tangkapan liar justru memiliki tingkat kelangsungan hidup lebih rendah dibanding hasil penangkaran, lebih rentan terhadap penyakit, dan lebih sering mati sebelum sempat beradaptasi. “Yang dalam negeri ini rata-rata masih diambil dari alam secara ilegal, padahal ini jenis dilindungi,” kata Amir.

Data populasi di alam liar pun hampir tidak ada. Perilaku nokturnal dan kecenderungan diam membuat survei konvensional sangat sulit dilakukan. “Yang kita butuhkan sekarang itu baseline data populasi, tapi itu tidak mudah didapat,” ujar Amir. Dokumentasi visual dari fotografer lapangan seperti Imam menjadi salah satu alternatif untuk memetakan distribusi spesies, meski harus disertai kehati-hatian agar lokasi tidak disalahgunakan pemburu.

Lahir kuning di kanopi hutan Papua, tumbuh hijau dan nyaris tak terlihat, lalu diburu sebelum ilmu pengetahuan sempat benar-benar memahaminya. Itulah lingkaran hidup Morelia azurea di Indonesia hari ini: spesies yang baru saja mendapat nama ilmiahnya sendiri, tapi belum mendapat perlindungan hukum yang memadai, sementara pemburunya sudah lama tahu di mana mencarinya.

Bakas Mati di Kandang, dan Harimau Sumatera Semakin Dekat ke Jurang Kepunahan

Akhyari Hananto 12 Jun 2026

Pada 7 November 2025, seekor harimau sumatera jantan bernama Bakas mati di kandang perawatan Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Lampung. Ia menabrakkan tubuhnya ke dinding dan pintu kandang tiga kali. Pada benturan ketiga, ia jatuh, kejang, dan tidak pernah bangkit lagi.

Bakas bukan korban perburuan. Ia bukan pula harimau yang mati di hutan karena jerat atau racun. Ia mati dalam proses penyelamatan yang seharusnya melindunginya.

Forum HarimauKita (FHK) menyebut perilaku Bakas bukan tindakan bunuh diri, melainkan reaksi stres ekstrem akibat gangguan sekitar. Harimau adalah satwa yang sangat sensitif terhadap kehadiran manusia, suara, dan kontak visual. “Pelanggaran prinsip dasar kesejahteraan satwa, seperti bebas dari ketakutan dan tekanan, dapat menyebabkan stres fatal,” kata Iding Achmad Haidir, Ketua FHK. FHK juga menyoroti minimnya informasi tentang tahapan pemindahan Bakas, termasuk apakah sedasi dilakukan dengan benar dan siapa yang bertanggung jawab secara medis.

Kematian Bakas bukan sekadar kehilangan satu individu. Dalam konteks populasi harimau sumatera yang sudah sangat kecil, setiap individu adalah aset genetik yang tidak tergantikan. Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) adalah satu-satunya subspesies harimau yang tersisa di Indonesia, dan populasinya terus tertekan dari berbagai arah.

Data FHK menunjukkan dari 2018 hingga 2024, sebanyak 17 individu harimau ditemukan mati, umumnya akibat jerat atau racun. Angka itu belum termasuk yang diperdagangkan secara ilegal. Ancaman terbesarnya adalah hilangnya habitat. Selama dua dekade terakhir, Sumatera kehilangan tutupan hutan akibat pembalakan, perluasan perkebunan, dan pembangunan infrastruktur. Di Aceh saja, kehilangan tutupan hutan pada 2024 mencapai 10.610 hektar, naik 19 persen dari tahun sebelumnya.

Populasi terbesar harimau sumatera diperkirakan masih bertahan di Kawasan Ekosistem Leuser di Aceh dan Sumatera Utara, serta Taman Nasional Kerinci Seblat yang membentang di empat provinsi. Kedua kawasan ini menjadi benteng terakhir karena masih memiliki betina produktif dalam jumlah yang cukup. Di luar itu, sebagian besar populasi hidup terisolasi di fragmen-fragmen hutan kecil yang dikepung perkebunan dan jalan. “Dengan populasi sekecil itu, kehilangan satu betina dewasa bisa mengganggu kelangsungan genetik,” kata Iding.

Ketika habitat rusak, harimau terpaksa turun ke ladang dan desa. Konflik dengan manusia meningkat, dan penanganan konflik itulah yang membawa Bakas ke kandang yang menjadi tempat kematiannya. Lingkaran yang sulit diputus tanpa kebijakan yang lebih serius.

Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera terakhir berlaku untuk periode 2007 hingga 2017. Sudah hampir satu dekade kedaluwarsa. “SRAK harus segera diperbarui agar bisa menjadi dasar kebijakan dan anggaran yang lebih kuat,” desak Iding.

“Jika tren ini berlanjut, harimau sumatera di alam liar bisa punah dalam beberapa dekade mendatang.” Kalimat itu bukan retorika. Ia adalah proyeksi ilmiah dari orang yang menghabiskan hidupnya berusaha agar proyeksi itu tidak terbukti. Kematian Bakas adalah pengingat bahwa waktu yang tersisa semakin pendek, dan bahkan upaya penyelamatan pun bisa berakhir dengan kegagalan jika tidak dilakukan dengan benar.

Kucing Kuwuk Bisa Berenang Melintasi Sungai, tapi Tidak Bisa Lolos dari Perdagangan Ilegal

Akhyari Hananto 12 Jun 2026

Kucing identik dengan ketakutan terhadap air. Tapi ada satu jenis kucing liar di Indonesia yang tidak hanya tidak takut air, melainkan menggunakannya sebagai bagian dari cara hidupnya. Kucing kuwuk, atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis), adalah perenang yang terampil, dan kemampuan itu bukan kebetulan. Ia adalah hasil evolusi yang diturunkan dari genus yang memang beradaptasi dengan lingkungan semi-akuatik.

Penelitian di kawasan hutan non-konservasi Cisokan, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang dipublikasikan di Jurnal Biodiversitas 2018, menemukan jejak dan feses kucing kuwuk di dua lokasi yang dipisahkan oleh Sungai Cisokan. Kesimpulan para peneliti: kucing ini menyeberangi sungai dengan berenang. Bukan insiden. Tapi bagian dari pola jelajahnya.

Kemampuan ini bukan keanehan individual. Kucing kuwuk memiliki genus yang sama dengan kucing tandang (Prionailurus planiceps) dan kucing bakau (Prionailurus viverrinus), dua spesies yang dikenal sebagai spesialis lahan basah. Secara fisik, genus Prionailurus memiliki punggung melengkung dengan tungkai pendek, sebagian telapak kaki yang bisa ditarik sebagai adaptasi semi-akuatik, dan pola makan yang banyak mencakup ikan. “Tak heran jika kucing hutan adalah perenang dan penyelam yang sangat baik, karena sering mengunjungi hutan rawa dengan hutan bakau atau vegetasi lebat di tepi sungai,” tulis para peneliti yang dikutip dari ScienceDirect.

Kucing kuwuk adalah jenis kucing liar yang paling sering berinteraksi dengan manusia di Indonesia. Dari sekitar 40 jenis kucing liar di dunia, 11 bisa ditemukan di Indonesia, dan 2 di antaranya sudah punah. Kucing kuwuk tersebar di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, dengan dua subspesies yang kini dipisahkan secara taksonomi: Prionailurus javanensis sumatranus untuk Sumatera dan Kalimantan, dan Prionailurus javanensis javanensis untuk Jawa.

Secara ekologi, kucing ini adalah soliter, aktif terutama di malam hari dan senja, meski jantan kadang terlihat di siang hari. Mangsa utamanya adalah tikus, tapi ia juga memangsa kelinci, burung, reptil, amfibi, ikan, dan serangga. Ia bisa hidup di berbagai habitat, dari hutan tropis alami hingga lahan terdegradasi dan perkebunan sawit, menjadikannya salah satu kucing liar yang paling adaptif.

Tapi dari semua ancaman yang ada, satu yang paling tidak bisa ia hindari adalah manusia yang sengaja mencarinya. Pada 2010, estimasi perdagangan kucing kuwuk di Pulau Jawa saja mencapai 600 individu per tahun, semuanya berasal dari alam liar, sebagian besar anakan. Perdagangan berlanjut hingga kini melalui media sosial, dijual sebagai hewan peliharaan eksotis. Hilangnya habitat dan perburuan terus menekan populasinya meskipun statusnya di IUCN masih dianggap stabil.

Secara hukum, kucing kuwuk dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P 106 Tahun 2018, dan masuk dalam Apendiks II CITES yang berarti berpotensi terancam punah jika diperdagangkan tanpa aturan. Penelitian tentang spesies ini masih sangat terbatas, termasuk tentang seberapa jauh toleransinya terhadap gangguan habitat dan berapa sebenarnya populasinya di alam liar.

Seekor kucing yang bisa berenang melintasi sungai, memanjat pohon, berburu ikan, dan bertahan di hutan yang terdegradasi. Dari predator dan banjir ia bisa lolos. Tapi dari jebakan perdagangan ilegal dan hilangnya hutan yang terus berlangsung, kucing setangguh ini pun tidak punya cara untuk melarikan diri.

Untuk Pertama Kalinya, Ilmuwan Berhasil Mengangkat Batuan dari Mantel Bumi

Akhyari Hananto 11 Jun 2026

Manusia sudah pernah mendaki puncak tertinggi di Bumi, menyelami palung terdalam di samudra, dan mengirim wahana ke tepi tata surya. Tapi satu eksplorasi yang paling mendasar justru selalu gagal: menggali ke dalam planet yang kita pijak sendiri. Lapisan mantel Bumi, yang mencakup 84 persen volume planet dan menjadi mesin penggerak lempeng tektonik, gempa bumi, dan gunung berapi, sampai kini hampir tidak pernah bisa disentuh secara langsung.

Pada Mei 2023, sebuah tim ilmuwan dari International Ocean Discovery Program (IODP) mengubah itu.

Menggunakan kapal riset JOIDES Resolution, mereka mengebor dari atas laut di kawasan Punggungan Tengah Atlantik dan berhasil mengangkat inti batuan berbentuk silinder sepanjang 1.268 meter dari mantel atas Bumi. Sampel ini, yang penelitian awalnya diterbitkan di jurnal Science, adalah yang terdalam dan paling utuh yang pernah diperoleh manusia dari lapisan mantel.

Lokasi pengeboran dipilih dengan cermat. Di Punggungan Tengah Atlantik, aktivitas tektonik telah menyingkap batuan mantel yang biasanya tersembunyi di bawah kerak setebal hingga 70 kilometer. Di dekat gunung bawah laut Atlantis Massif, terdapat kawasan hidrotermal yang dijuluki “Kota yang Hilang” atau Lost City, di mana cairan basa kaya hidrogen dan metana keluar dari dasar laut. Ini adalah salah satu lokasi yang diduga menjadi tempat kehidupan pertama di Bumi bermula, dan juga tempat batuan mantel bertemu langsung dengan air laut melalui proses yang disebut serpentinisasi.

Hasil analisis awal mengejutkan para peneliti sendiri. Profesor Johan Lissenberg dari Universitas Cardiff menyatakan, “Hasil kami berbeda dari yang kami perkirakan. Kadar mineral piroksen di dalam batuan ini jauh lebih sedikit, dan konsentrasi magnesiumnya sangat tinggi, yang keduanya menunjukkan tingkat pelelehan yang jauh lebih tinggi dari prediksi kami.” Tim juga menemukan saluran-saluran kuno tempat magma pernah mengalir menuju permukaan, memberi gambaran baru tentang bagaimana aktivitas vulkanik di permukaan Bumi dipicu oleh proses jauh di dalam mantel.

Yang paling menarik dari ekspedisi ini adalah kaitannya dengan pertanyaan paling tua dalam sains: dari mana kehidupan berasal? Interaksi antara olivin, mineral utama dalam batuan mantel, dengan air laut memicu reaksi kimia yang menghasilkan hidrogen, sumber energi vital bagi kehidupan. Dr. Susan Q Lang, salah satu kepala ilmuwan ekspedisi, menjelaskan bahwa batuan yang mereka ambil menyerupai batuan yang ada di awal sejarah Bumi. “Menganalisisnya memberi kami gambaran penting tentang lingkungan kimia dan fisika di masa lalu, yang bisa menjadi tempat bernaung bagi bentuk kehidupan paling awal,” ujarnya.

Perlu dicatat, ini bukan lubang terdalam yang pernah dibuat manusia. Rekor itu masih dipegang Kola Superdeep Borehole di Rusia yang mencapai 12.263 meter pada 1980-an, tapi karena tebalnya kerak di lokasi tersebut, pengeboran itu tidak pernah menyentuh mantel. Yang membuat pencapaian IODP istimewa bukan kedalamannya, melainkan apa yang berhasil diangkat ke permukaan.

Sayangnya, masa depan ekspedisi serupa kini tidak pasti. JOIDES Resolution, kapal riset yang menjadi tulang punggung misi ini, akan dipensiunkan akibat pemotongan dana. Saat sains baru saja membuka pintu menuju salah satu misteri terbesar planet kita, pintu itu terancam ditutup kembali oleh anggaran.

Hutan Jawa Menyusut, Pemburu Makin Canggih, dan Macan Tutul Semakin Terdesak

Akhyari Hananto 11 Jun 2026

Seekor macan tutul jawa membutuhkan ruang hidup setara 490 lapangan sepak bola untuk menopang aktivitas jelajah, mencari pasangan, dan bertahan hidup. Di Pulau Jawa, pulau terpadat di dunia, ruang sebesar itu semakin sulit dipertahankan. Dan ancaman yang mengepungnya kini datang dari dua arah sekaligus: hutan yang terus menyusut, dan pemburu yang semakin canggih.

Hasil Population Viability Analysis (PVA) IUCN menyampaikan angka yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak: 19 dari 22 subpopulasi macan tutul jawa berisiko punah dalam 100 tahun ke depan, dengan probabilitas 84 persen. Bahkan dalam skenario terbaik sekalipun, risiko kepunahannya masih 53 persen. Ini bukan proyeksi pesimistis. Ini hitungan ilmiah berdasarkan kondisi yang ada sekarang.

Tekanan terhadap habitatnya nyata dan berlapis. Tutupan hutan di Jawa Barat, salah satu kantong populasi terpenting, menyusut hingga 43 persen dalam periode 2023 hingga 2025 menurut catatan Walhi Jawa Barat, akibat alih fungsi lahan untuk pertambangan, pariwisata, proyek strategis, dan kawasan pengelolaan khusus. Ketika hutan terfragmentasi, jalur jelajah macan ikut terputus. Macan terpaksa menempuh jarak lebih jauh untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, menguras energi yang seharusnya dipakai untuk berburu dan bereproduksi.

Sementara habitatnya menyempit, ancaman dari manusia justru semakin presisi. Pemburu kini menggunakan anjing hasil persilangan ras pitbull, terrier, dan beagle yang memiliki kemampuan penciuman dan keberanian lebih tinggi. Senapan angin bertekanan tinggi tipe PCP dipadukan dengan teleskop termal yang bisa mendeteksi panas tubuh di malam hari. Macan, yang semula bukan target utama, menjadi sasaran ketika anjing pemburu dimangsa saat memasuki teritori mereka. Di Garut, ada kasus macan diracun untuk diambil kulitnya. Di Subang, perburuan sering tidak tercatat karena berlangsung di hutan non-konservasi dengan pengawasan minim. Bandung disinyalir menjadi simpul distribusi yang menghubungkan jaringan pemburu ke pasar yang lebih luas.

Konflik dengan manusia pun meningkat. Laporan IUCN Red List 2021 mencatat 87 konflik di berbagai wilayah Jawa antara 2008 dan 2021. Dari 29 individu yang ditangkap, hanya 3 berhasil dilepasliarkan dan 5 mati. “Habitat macan tidak hanya di kawasan konservasi. Banyak yang di luar kawasan dan itu beriringan langsung dengan perkembangan pembangunan,” kata Ilham Purwa dari Forum Macan Tutul Kita.

Solusinya tidak sederhana. Hariyo Wibisono, Direktur SINTAS, menegaskan bahwa Jawa harus diperlakukan sebagai satu populasi besar yang terdiri dari subpopulasi-subpopulasi yang saling terhubung. Kawasan yang sudah optimal perlu diperkuat. Kawasan dengan populasi rendah perlu pengayaan. Kawasan yang sudah kosong perlu repopulasi melalui translokasi. “Yang kosong itu harus direpopulasi dengan cara translokasi,” katanya.

Tapi semua itu tidak akan berjalan tanpa kebijakan kehutanan yang tegas dan konsisten. Hutan yang ada tidak boleh terus berkurang. Alih fungsi lahan harus diimbangi koridor pengganti. Dan pendanaan konservasi tidak bisa hanya mengandalkan simpati publik terhadap spesies yang dianggap karismatik. “Harimau disukai, banyak yang mau biayai. Macan tutul hidup di Jawa, acapkali selalu dianggap hopeless,” kata Wibisono.

Macan tutul jawa bukan hopeless. Tapi ia membutuhkan lebih dari sekadar simpati. Ia membutuhkan hutan yang tidak terus digerus, kebijakan yang tidak terus berkompromi, dan kesadaran bahwa predator puncak terakhir di Pulau Jawa adalah ukuran seberapa serius kita merawat sisa ekologi pulau ini.

Satu-satunya di Dunia: Laut Alor Bisa Mendingin 10 Derajat dalam Sejam, dan Ikannya Pingsan

Akhyari Hananto 10 Jun 2026

Akhir Oktober 2025, warga pesisir Alor, Nusa Tenggara Timur, ramai-ramai turun ke laut dengan tangan kosong, tombak, dan serokan. Bukan untuk menyelam atau memancing. Tapi untuk memungut ikan yang mengambang pingsan di permukaan air. Seorang warga bahkan berhasil membawa pulang lebih dari 150 kilogram ikan dalam satu kejadian.

Yang membuat ikan-ikan itu pingsan bukan racun, bukan jaring, dan bukan ulah manusia. Melainkan air yang tiba-tiba menjadi sangat dingin.

Perairan Alor Kecil, di Selat Mulut Kumbang antara Pulau Alor Kecil dan Pulau Kepa, menyimpan fenomena oseanografi yang hingga kini hanya tercatat di satu tempat di seluruh dunia. Beberapa publikasi ilmiah peer-reviewed mengonfirmasi hal ini. Jurnal Regional Studies in Marine Science menyebutnya secara eksplisit: tidak ada wilayah tropis lain di Bumi yang memiliki suhu permukaan laut sedingin ini. Fenomena itu disebut extreme upwelling event (EUE), atau yang oleh Anindya Wirasatriya, Guru Besar Oseanografi Universitas Diponegoro yang memimpin riset ini, dijuluki ALaDin, singkatan dari air laut dingin.

Dalam upwelling biasa, air dingin dari kedalaman naik ke permukaan dan menurunkan suhu sekitar dua derajat Celsius. Di Alor, penurunannya bisa mencapai 10 derajat Celsius hanya dalam waktu sekitar satu jam. Suhu permukaan laut yang normalnya sekitar 28 derajat Celsius di perairan tropis bisa anjlok hingga sekitar 12 derajat Celsius. Perubahan suhu yang begitu drastis dan mendadak inilah yang membuat ikan-ikan kehilangan kesadaran. “Hampir mustahil di perairan tropis suhu permukaan laut dapat mencapai 12°C,” kata Anindya.

Mekanismenya dikendalikan oleh pasang surut, bukan angin seperti upwelling pada umumnya. Di bawah Selat Mulut Kumbang, tersembunyi sebuah cekungan dengan kedalaman lebih dari 300 meter antara Pulau Pura dan Kecamatan Alor Barat Daya. Pada kedalaman 270 meter, suhu air hanya 8 derajat Celsius. Ada celah sempit yang menghubungkan cekungan dalam itu langsung ke selat. Ketika arus pasang bergerak dari selatan ke utara dengan magnitudo lebih dari 2,2 meter, massa air dingin dari cekungan itu terdorong naik melalui celah dan membanjiri selat. Ketika surut, air dingin itu kembali tersedot keluar.

Hasilnya: suhu permukaan laut di Selat Mulut Kumbang naik turun drastis dua kali sehari, mengikuti ritme pasang surut semi-diurnal. Di luar selat, penurunan suhu yang terdeteksi hanya sekitar tiga hingga empat derajat Celsius. Fenomena ini hanya terjadi sepanjang Agustus hingga November, mengikuti pengaruh monsun. EUE berlangsung hanya sekitar satu jam setiap kejadian, tapi dampaknya pada biota laut di selat itu langsung dan dramatis.

Achmad Sahri, peneliti BRIN yang terlibat dalam kajian ini, menyebut EUE di Alor sebagai peristiwa pertama jenis ini yang tercatat di dunia. Riset ini melibatkan kolaborasi antara Universitas Diponegoro, BRIN, beberapa universitas Indonesia, dan mitra internasional dari Amerika Serikat, Jepang, dan Thailand.

Bagi warga Alor, fenomena yang membingungkan para oseanografer dunia itu punya nama yang lebih sederhana: berkah. Setiap kali air surut jauh dan ikan-ikan mulai mengambang, mereka tahu apa yang harus dilakukan. Turun ke laut, ambil sebanyak mungkin, bagikan ke tetangga, jual sisanya ke tengkulak.

Senyulong, Buaya Pemalu yang Habitatnya Menghilang dan Kini Terpaksa Mendekati Manusia

Akhyari Hananto 10 Jun 2026

Di antara semua buaya yang hidup di Indonesia, senyulong adalah yang paling tidak ingin ditemukan. Ia bersembunyi di rawa gambut, sungai pedalaman berwarna hitam seperti teh, dan hutan banjir yang jarang dijamah manusia. Para peneliti harus menempuh perjalanan berjam-jam menyusuri lumpur dan saluran sempit hanya untuk mendekati habitatnya. Kadang hasilnya nihil. “Mereka satwa cryptic yang tidak mau ditemukan,” kata Kyle Shaney, penulis utama penilaian Daftar Merah IUCN untuk senyulong.

Tapi kini, senyulong semakin sering muncul di tempat yang seharusnya tidak ia datangi. Dan itu bukan pertanda baik.

Senyulong (Tomistoma schlegelii) adalah reptil yang sulit dikategorikan. Moncongnya runcing seperti gharial, tapi pangkalnya melebar seperti buaya. Karena penampilannya yang membingungkan itu, ia sempat mendapat julukan kurang enak: false gharial, gharial palsu. Perjalanan taksonominya pun tidak biasa. Awalnya dimasukkan ke keluarga Crocodylidae berdasarkan morfologi, lalu dipindahkan ke Gavialidae pada 2007 setelah analisis molekular membuktikan kekerabatan genetiknya yang lebih dekat ke gharial. “Setahu saya, ia merupakan satu-satunya buaya yang sempat berpindah penempatan keluarganya,” kata Herdhanu Jayanto, ilmuwan konservasi dari Yayasan Konklusi.

Ekologinya pun masih banyak yang belum dipahami. Herdhanu dan tim pada 2022 menempuh perjalanan 10 jam ke hulu Sungai Air Hitam di Taman Nasional Berbak-Sembilang, Jambi, untuk memasang GPS pada sembilan ekor senyulong berukuran 3,9 hingga 4,7 meter. Data yang terkumpul hingga 2025 menunjukkan ruang jelajah satu individu mencapai 380,4 hektar, dengan satu individu lain teramati berpindah sejauh 8,7 kilometer dari lokasi tangkapnya. Studi ini, kata Herdhanu, adalah satu-satunya studi ruang jelajah untuk senyulong dewasa jantan dan betina yang pernah dilakukan.

Ancaman terhadap spesies ini nyata dan berlapis. Dari 2002 hingga 2024, Indonesia kehilangan 11 juta hektar hutan primer basah. Lima provinsi dengan kehilangan tutupan pohon terbesar, yaitu Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Timur, adalah jantung habitat senyulong. Sebelum 1950, senyulong diperkirakan tersebar di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Semenanjung Malaysia, dan mungkin hingga daratan Asia. Kini hanya tersisa di Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Malaysia, dengan populasi diperkirakan kurang dari 24 ribu ekor. Status IUCN-nya naik dari Rentan pada 2014 menjadi Genting pada 2024.

Senyulong sebenarnya cukup adaptif. Mereka dilaporkan bisa hidup di habitat sawit dan lahan terdegradasi. Tapi ada batas toleransinya. Ketika hutan terus berkurang dan ketersediaan mangsa menyusut, senyulong terpaksa bergerak keluar dari zona nyaman mereka. Tren serangan dan konflik dengan manusia semakin meningkat, meski sebagian besar serangan buaya di Indonesia berasal dari buaya muara.

“Senyulong mungkin bukan sedang menyerang, namun bertahan,” tulis laporan yang mengkaji konflik ini.

Buaya yang selama ini paling menghindari manusia kini semakin sering muncul di dekat permukiman dan area pemancingan. Bukan karena perangainya berubah, melainkan karena ruang hidupnya terus menyempit hingga tidak ada pilihan lain yang tersisa.

Subscribe

Stay informed with news and inspiration from nature’s frontline.
Newsletter

Bagaimana Burung Kecil yang Tak Bisa Terbang Ini Bisa Bertahan di Pulau Paling Terpencil di Dunia?

Akhyari Hananto 10 Jun 2026

Pertanyaannya sederhana tapi jawabannya tidak: bagaimana seekor burung yang tidak bisa terbang bisa menghuni pulau yang muncul dari dasar laut dan berjarak ribuan kilometer dari benua mana pun?

Pulau itu bernama Inaccessible Island, bagian dari gugusan kepulauan Tristan da Cunha di Samudra Atlantik Selatan. Tebing-tebingnya nyaris vertikal, ombaknya ganas, dan medannya begitu ekstrem sehingga hampir tidak pernah ada manusia yang berhasil menginjakkan kaki di sana. Di balik benteng alam itu hidup ribuan burung kecil seberat bola pingpong yang tidak bisa terbang: Mandar Inaccessible (Atlantisia rogersi), pemegang rekor sebagai burung tak bisa terbang terkecil di dunia.

Selama satu abad, keberadaan mereka memicu paradoks yang membingungkan para ilmuwan. Jawabannya akhirnya datang dari riset DNA yang dipimpin ahli biologi evolusi Martin Stervander, dipublikasikan di jurnal Molecular Phylogenetics and Evolution. Riset ini mematahkan teori lama yang dicetuskan ornitologis Percy Lowe pada 1920-an, yang berspekulasi bahwa nenek moyang burung ini berjalan kaki melintasi jembatan darat purba. Data geologi membuktikan sebaliknya: Inaccessible Island adalah gunung berapi yang muncul dari laut tiga hingga enam juta tahun lalu dan tidak pernah menyatu dengan benua mana pun.

Yang sebenarnya terjadi jauh lebih dramatis. Sekitar 1,5 juta tahun lalu, sekelompok burung yang saat itu masih bisa terbang tersapu badai atau angin barat kencang di Atlantik Selatan, terbawa sejauh 3.500 kilometer dari Amerika Selatan. Dari sekian banyak yang tersapu, sebagian besar kemungkinan mati di lautan. Segelintir yang beruntung mendarat di satu-satunya titik daratan di tengah samudra luas itu. Para ilmuwan menyebut fenomena ini sweepstakes dispersal, penyebaran undian, karena peluangnya sangat kecil tapi dampaknya permanen.

Analisis filogenetik juga meluruskan kesalahpahaman tentang asal-usul mereka. Meski pulau ini secara geografis lebih dekat ke Afrika, kerabat terdekat Mandar Inaccessible justru adalah spesies yang berhabitat di Amerika, yaitu Dot-winged Crake dan Black Rail.

Setelah mendarat, jawaban atas pertanyaan kedua mulai terbentuk: mengapa mereka kehilangan kemampuan terbang? Inaccessible Island menawarkan kondisi yang hampir sempurna. Makanan berlimpah berupa cacing, ngengat, dan biji-bijian. Vegetasi lebat untuk bersembunyi. Dan yang paling penting, tidak ada predator sama sekali, tidak ada tikus, kucing, atau mamalia pemangsa. Dalam kondisi seperti ini, mempertahankan kemampuan terbang hanya membuang energi. Seleksi alam bekerja dengan prinsip efisiensi: sayap mengerdil, bulu menjadi lebih halus, kaki menjadi lebih kekar. Fenomena ini dikenal sebagai Sindrom Pulau, dan Mandar Inaccessible adalah salah satu contohnya yang paling ekstrem.

Kini populasinya mencapai sekitar 5.600 individu, sangat padat untuk pulau seluas 7,4 kilometer persegi. Mereka hidup sepenuhnya di atas tanah, gesit dan penuh rasa ingin tahu, bahkan sering mendekati manusia karena tidak memiliki insting takut terhadap predator.

Tapi isolasi yang selama ini melindungi mereka adalah pedang bermata dua. Di Gough Island, pulau tetangga dalam gugusan yang sama, burung serupa hampir punah akibat tikus yang terbawa kapal manusia. Selama Inaccessible Island tetap tidak terjamah oleh spesies invasif, Mandar Inaccessible akan terus bertahan sebagai penghuni tunggal pulau terpencilnya. Satu tikus yang salah mendarat bisa mengakhiri 1,5 juta tahun sejarah evolusi dalam waktu yang sangat singkat.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email
Muat lebih banyak

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Dua perempuan Desa Paremas menjemur kerupuk cangkang kepiting. Di belakang mereka tampak hutan mangrove yang cukup lebat yang menjadi rumah bagi kepiting yang dijual ke kota. Limbah cangkang kepiting itu kini diolah menjadi kerupuk. Foto: Fathul Rakhman/ Mongabay Indonesia
Podcast

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.