Nyamuk dikenal sebagai salah satu hewan paling mematikan di dunia. Secara global, data resmi yang dirangkum oleh organisasi kesehatan dunia seperti World Mosquito Program (WMP) dan WHO menunjukkan bahwa penyakit yang ditularkan oleh nyamuk membunuh lebih dari 1 juta orang setiap tahunnya. Nyamuk seperti Aedes aegypti juga menjadi pembawa virus Zika, chikungunya, dan demam kuning.
Ancaman tersebut mendorong sejumlah pihak mencari cara untuk mengendalikan populasinya. Anak perusahaan Alphabet, Verily, misalnya, merancang program pelepasan nyamuk jantan steril. Karena tidak menggigit manusia dan tidak dapat menghasilkan keturunan, nyamuk ini diharapkan dapat menekan populasi di alam. Program serupa di Australia bahkan disebut berhasil mengurangi jumlah nyamuk hingga 80 persen.
Namun, jika nyamuk benar-benar punah, dampaknya bagi alam belum sepenuhnya diketahui. Sebuah penelitian dilakukan untuk mempelajari hubungan siklus hidup Anopheles gambiae dengan kelelawar, ikan, bunga, dan serangga lain. Para ilmuwan ingin mengetahui apakah hilangnya nyamuk dapat mengganggu rantai makanan atau membuka jalan bagi serangga pembawa malaria lain. Kemungkinan munculnya pengganti yang lebih berbahaya dinilai kecil karena Anopheles gambiae telah berevolusi bersama manusia.
Di dunia terdapat sekitar 3.500 spesies nyamuk, tetapi hanya beberapa ratus yang menggigit atau mengganggu manusia. Nyamuk telah hidup di Bumi selama lebih dari 100 juta tahun dan berkembang bersama banyak spesies. Larvanya menjadi makanan bagi ikan kecil dan berbagai serangga air, sedangkan nyamuk dewasa dimakan burung, laba-laba, salamander, kadal, serta katak. Beberapa spesies juga berperan sebagai penyerbuk tanaman.
Ikan nyamuk atau Gambusia affinis, misalnya, merupakan predator khusus larva nyamuk. Jika mangsanya hilang, ikan ini juga dapat lenyap dan mempengaruhi rantai makanan. Meski demikian, tidak semua pemangsa sangat bergantung pada nyamuk. Pada kelelawar, misalnya, nyamuk hanya membentuk kurang dari dua persen isi saluran pencernaannya karena hewan tersebut lebih banyak memakan ngengat.
Sebagian ilmuwan memperkirakan kepunahan nyamuk hanya akan meninggalkan gangguan ekologis sementara. Organisme lain kemungkinan segera mengisi ruang yang ditinggalkan, sementara burung dan pemakan serangga dapat beralih ke mangsa lain. Hingga kini, belum cukup bukti bahwa hilangnya nyamuk akan menyebabkan kerusakan ekosistem besar.
Karena manfaatnya bagi kesehatan manusia sangat besar, sejumlah ahli menilai dunia tanpa nyamuk akan menjadi lebih aman. Ekosistem mungkin tersendat sesaat, tetapi kemudian menyesuaikan diri. Dengan demikian, kepunahan nyamuk berpotensi menyelamatkan banyak nyawa, meskipun konsekuensi ekologisnya tetap perlu diteliti dengan hati-hati.
Foto utama: Nyamuk penyebab penyakit malaria [Anopheles minimus] yang banyak tersebar di Asia. Foto: James Gathany/CDC via Britannica.com
Jauh sebelum manusia menjadi salah satu makhluk paling dominan di Bumi, kehidupan nenek moyang kita tidak lepas dari ancaman berbagai predator. Salah satunya adalah Dinofelis, kucing besar purba yang diduga memiliki kemampuan khusus untuk memangsa manusia. Bukti keberadaan hewan tersebut ditemukan melalui tulang-belulang di sebuah gua di Afrika.
Dinofelis mempunyai dua gigi taring panjang menyerupai belati. Senjata alami ini memungkinkannya menggigit kepala manusia dan menembus tengkorak hingga mencapai otak hanya dalam sekali gigitan. Kemampuan tersebut membedakannya dari kucing besar yang hidup saat ini.
Ketika singa gunung atau kucing besar modern menyerang manusia, korbannya terkadang masih mampu bertahan hidup. Serangan itu memang dapat menyebabkan luka fatal, tetapi gigi predator masa kini tidak dirancang untuk menembus kerasnya tulang kepala manusia. Dinofelis, sebaliknya, memiliki taring yang kuat dan sesuai untuk melakukan serangan tersebut.
Sekitar 1,2 juta tahun lalu, Dinofelis tersebar luas di Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika Utara. Ukuran tubuhnya hampir menyerupai singa modern, tungkai depannya sangat kuat dibandingkan dengan kucing modern, meskipun sebagian besar diperkirakan hanya sebesar jaguar. Tingginya sekitar 70 cm dengan berat mencapai 120 kg. Tubuh berukuran sedang dan dua taring yang kuat menjadikannya predator menakutkan.
Mangsa Dinofelis tidak terbatas pada manusia purba. Hewan ini juga memburu berbagai satwa besar, seperti anak mammoth, mastodon, dan binatang lainnya. Homo habilis, yang disebut sebagai nenek moyang manusia modern, turut menjadi salah satu mangsanya.
Dalam buku Songlines, penulis Bruce Chatwin menyebut ancaman Dinofelis sebagai salah satu dorongan utama bagi manusia purba untuk menciptakan tombak dan berbagai jenis senjata. Dengan perlengkapan tersebut, manusia mulai mampu melawan predator yang sebelumnya menjadi ancaman besar bagi kehidupan mereka. Perlawanan manusia kemudian diduga turut mendorong Dinofelis menuju kepunahan sekaligus menjadi bagian penting dalam perjalanan evolusi manusia.
Gagasan itu memang masih bersifat spekulatif. Begitu pula anggapan bahwa ketakutan manusia terhadap monster yang mengintai dalam kegelapan mungkin merupakan jejak ingatan kuno tentang predator yang dahulu memburu leluhur penghuni gua.
Dinofelis pertama kali diidentifikasi sebagai “spesialis pemangsa primata” oleh Profesor C.K. Brain pada 1981. Kesimpulan tersebut ditulis dalam bukunya, The Hunters or the Hunted? An Introduction to African Cave Taphonomy, berdasarkan berbagai penemuan yang dilakukan di Afrika.
Foto utama: Rekaan Dinofelis yang bisa meremukkan tulang tengkorak manusia. Foto: boredomtherapy.com.
Kutub Utara dan Kutub Selatan sama-sama dikenal sebagai wilayah luas yang diselimuti es. Meski sekilas tampak serupa, keduanya memiliki kondisi geografis, satwa, suhu, hingga aktivitas manusia yang berbeda.
Selama ini Pramuka sering identik dengan kegiatan berkemah, tali-temali, atau api unggun. Padahal, sejak awal kelahirannya, gerakan kepanduan juga dirancang sebagai sarana pendidikan lingkungan hidup. Pendiri Pramuka dunia, Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, meyakini bahwa alam bukan sekadar tempat beraktivitas, tetapi ruang belajar terbaik untuk membentuk karakter, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap bumi. Gagasan itu masih menjadi salah satu fondasi gerakan Pramuka hingga kini.
Awal mula gagasan tersebut lahir dalam perkemahan pertama di Pulau Brownsea, Inggris, pada 1907. Selama sembilan hari, Baden-Powell mengajak para peserta belajar membaca jejak, mengamati satwa, memberikan pertolongan pertama, hingga bertahan hidup di alam. Pengalaman itu kemudian ia tuangkan dalam buku Scouting for Boys yang menjadi salah satu buku paling berpengaruh dalam sejarah kepanduan dunia. Di dalamnya, Baden-Powell menekankan bahwa mengenal alam berarti belajar memahami kehidupan sekaligus menumbuhkan tanggung jawab untuk menjaganya. Menurutnya, manusia akan menyadari betapa mudahnya merusak alam, tetapi begitu sulit memulihkannya.
Pemikiran tersebut membuat Baden-Powell kerap dipandang sebagai salah satu tokoh pendidikan lingkungan hidup. Alam dijadikan media pembelajaran yang mampu menumbuhkan rasa hormat terhadap kehidupan, melatih disiplin, kerja sama, hingga membangun kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari ekosistem. Bahkan, model pendidikan yang ia kembangkan kemudian diakui sebagai salah satu tonggak penting perkembangan pendidikan lingkungan di dunia.
Komitmen itu terus berlanjut di tingkat global. Organisasi Pramuka Sedunia (WOSM) sejak lama menjadikan isu lingkungan sebagai salah satu prioritas gerakannya. Berbagai resolusi mendorong anggota Pramuka di seluruh dunia untuk terlibat dalam pelestarian alam, mulai dari aksi konservasi, dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), hingga program Earth Tribe yang dikembangkan bersama WWF dan UNEP. Dalam konferensi dunia tahun 2021, WOSM juga menegaskan komitmennya terhadap aksi menghadapi krisis iklim dan target gerakan menuju netral karbon.
Di Indonesia, nilai-nilai tersebut telah lama masuk dalam pendidikan kepramukaan. Sejak 1995, Gerakan Pramuka memiliki Syarat Kecakapan Khusus (SKK) bidang lingkungan hidup yang mencakup pengenalan alam, konservasi tanah, perlindungan keanekaragaman hayati, hingga pengamatan ekosistem. Berbagai Satuan Karya (Saka) seperti Saka Wanabakti, Saka Bahari, dan Saka Kalpataru juga dibentuk agar anggota Pramuka dapat terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah, konservasi air, penghematan energi, hingga perlindungan keanekaragaman hayati. Program Gugus Depan Ramah Lingkungan yang diluncurkan pada 2017 turut mendorong perubahan perilaku sehari-hari, seperti memilah sampah, mengurangi emisi karbon, menghemat air, dan menjaga ekosistem.
Meski demikian, pelaksanaan program lingkungan di Pramuka masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan jumlah pembina, pendanaan, hingga kapasitas organisasi. Berbagai inisiatif, seperti komunitas Tunas Hijau di Jawa Timur, menunjukkan bahwa nilai-nilai kepramukaan tetap mampu melahirkan gerakan lingkungan yang aktif dan berdampak di masyarakat. Pada akhirnya, warisan terbesar Baden-Powell bukanlah sekadar mengajarkan cara mendirikan tenda atau membaca jejak, melainkan menanamkan keyakinan bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk mewariskan bumi dalam keadaan yang lebih baik daripada saat mereka menerimanya.
Sejak 2013, Rahmayani rutin datang ke Wisata Kolam Pemandian Mata Ie untuk mencuci pakaian. Air di kolam ini bersumber dari Karst Mata Ie, yang selama ini jadi andalan air bersih bagi 14.234 pelanggan PDAM Tirta Mountala di Darul Imarah, Darul Kamal, Peukan Bada, hingga desa-desa di Lhoknga.
“Lumayan, hemat air dan biaya di rumah,” kata Rahma, warga Desa Geundring, Aceh Besar.
Tapi kini, cerita itu perlahan berubah. Pada 2017, Mata Ie kering total untuk pertama kalinya, dan sejak itu kekeringan datang hampir tiap tahun. “Kalau kemarau seminggu saja, air langsung surut drastis,” katanya.
Ancaman ini bukan tanpa peringatan. Abdillah Imron Nasution, Ketua Karst Aceh sekaligus ahli speleologi Universitas Syiah Kuala, sudah memprediksi sejak 2008 bahwa Mata Ie akan kering dalam sepuluh tahun.
“Pasca-2017, baru kering, itu sudah kita ingatkan juga pada 2008,” katanya.
Warga lain, Ani dari Lambheu, bahkan terpaksa membeli air dari mobil tangki saat kekeringan 2024 berulang, ketika air dari keran tak kunjung keluar selama dua hari. “Untuk pertama kalinya, saya membeli air dari mobil tangki. Saat itu, saya ingat beli 1 mobil tangki dengan harga Rp300.000 untuk mengisi tiga bak di rumah,” katanya.
Krisis serupa lebih dulu dirasakan warga sekitar Karst Lhoknga, sekitar 17-18 kilometer dari Mata Ie. Yeni Hartini, Ketua SP Aceh sekaligus warga Naga Umbang, mengatakan sumur warga kini kering hanya dalam sebulan tanpa hujan, padahal dulu tak pernah surut. Warga bahkan harus menggali lebih dalam, dari semula delapan cincin sumur, kini butuh 10 sampai 16 cincin.
Yeni menduga penambangan batu gamping oleh PT Solusi Bangun Andalas turut memicu kerusakan. “Saat mereka melakukan aktivitas blasting, itu getarannya terasa sampai desa bahkan menyebabkan sumur-sumur ambles termasuk di rumah saya. Tahun 2019, bahkan ada sekitar 36 rumah mengalami keretakan,” katanya. Perusahaan sendiri membantah ada kaitan antara aktivitas tambang dan kekeringan yang terjadi.
Di Deah Mamplam, kondisinya tak kalah berat. Nurmiana, warga setempat, bercerita mesin penyuplai air dari bendungan terdekat rusak, sehingga air hanya mengalir dua hari sekali, itu pun cuma dua jam. Krisis air ini bahkan memicu konflik sosial. “Adu mulut karena saling rebutan air kerap terjadi,” katanya.
Menurut Abdillah, penurunan fungsi karst ini akibat kombinasi eksploitasi berlebihan dan kerusakan ekosistem gua. Penelitiannya menemukan volume air yang masuk ke sistem karst saat hujan kini sama persis dengan volume air yang langsung keluar. “Artinya, tidak ada lagi air yang tersimpan di dalam batuan,” katanya.
Di tengah krisis yang meluas, harapan kini tertumpu pada Karst Pucok Krueng di Desa Mon Ikeun, satu-satunya kawasan yang volume airnya masih relatif stabil. Dinas ESDM Aceh tengah mengupayakan kawasan ini ditetapkan sebagai Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) agar mendapat perlindungan hukum lebih kuat.
“Untuk penetapan KBAK perlu proses yang panjang, sejauh ini di Aceh baru Karst Tamiang yang masuk KBAK dan itu prosesnya memakan waktu hingga lima tahun,” kata Teuku Mukhlis, Penyelidik Bumi Dinas ESDM Aceh.
Foto utama: WTP PDAM Tirta Mountala yang berada di Wisata Kolam Mata Ie kering pada 2023. Nurul Hasanah/ Mongabay Indonesia
Sekilas, kukang tampak seperti primata yang tenang dan tidak berbahaya. Tubuhnya kecil, gerakannya lambat, serta matanya yang besar membuat banyak orang menganggap satwa ini jinak. Namun, di balik penampilannya yang menggemaskan, kukang memiliki salah satu sistem pertahanan paling unik di antara mamalia.
Saat merasa terancam, kukang akan mengangkat kedua tangannya ke atas. Banyak orang mengira gerakan ini menandakan kukang sedang menikmati sentuhan atau bahkan ingin digendong. Padahal, posisi tersebut merupakan sikap defensif. Dengan mengangkat lengan, kukang melindungi bagian tubuh sekaligus memudahkan dirinya menjangkau kelenjar racun yang berada di ketiak.
Ya, kukang adalah satu dari sedikit mamalia berbisa di dunia. Racun tersebut berasal dari cairan yang dikeluarkan kelenjar di bagian siku atau ketiaknya. Ketika terancam, kukang akan menjilat cairan itu hingga bercampur dengan air liurnya, lalu menggigit musuh. Gigitan ini dapat menimbulkan reaksi serius pada predator maupun manusia.
Kemampuan tersebut menjadi senjata penting bagi satwa yang tidak mengandalkan kecepatan untuk melarikan diri. Sesuai namanya dalam bahasa Inggris, slow loris, kukang bergerak sangat lambat saat berpindah dari satu dahan ke dahan lain. Karena sulit kabur dari pemangsa, evolusi membekalinya dengan pertahanan kimia yang jarang dimiliki mamalia.
Kukang juga merupakan satwa nokturnal. Hampir seluruh aktivitasnya dilakukan pada malam hari, mulai dari mencari makan hingga berpindah pohon. Mata besarnya bukan sekadar ciri khas yang menggemaskan, tetapi adaptasi agar mampu melihat lebih baik dalam kondisi minim cahaya.
Menu makan kukang pun cukup beragam. Di alam liar, mereka mengkonsumsi serangga, jangkrik, telur burung, buah-buahan, serta getah pohon. Getah menjadi salah satu sumber energi penting yang diperoleh dengan menggerogoti kulit batang menggunakan gigi khusus yang mereka miliki.
Meski tampak lamban, kukang termasuk pemanjat yang sangat andal. Tangan dan kakinya memiliki cengkraman kuat sehingga mampu bergelantungan di dahan dalam waktu lama tanpa banyak bergerak. Cara hidup yang hemat energi ini membantu mereka bertahan di hutan tropis.
Sayangnya, keunikan kukang justru sering menjadi alasan satwa ini diburu. Penampilannya yang lucu membuat banyak orang ingin memeliharanya, padahal kukang adalah satwa liar dengan kebutuhan hidup yang sangat spesifik. Kehidupan di luar habitat alaminya membuat mereka rentan mengalami stres, kekurangan gizi, dan berbagai masalah kesehatan.
Ancaman lain datang dari hilangnya habitat akibat deforestasi dan fragmentasi hutan. Pada saat artikel Mongabay ini diterbitkan, IUCN mengakui lima spesies kukang. Empat di antaranya berstatus rentan, sedangkan kukang jawa (Nycticebus javanicus) telah masuk kategori terancam punah.
Kukang mungkin tidak bisa berlari cepat seperti monyet lain. Namun, satwa ini membuktikan bahwa bertahan hidup tidak selalu bergantung pada kekuatan atau kecepatan. Dengan racun, gerakan yang tenang, dan kehidupan yang sepenuhnya disesuaikan dengan malam, kukang menjadi salah satu primata paling unik yang dimiliki hutan Asia Tenggara.
Foto utama: Perdagangan kukang harus dihentikan, temasuk proses ilegal mencabut giginya. Foto: Yayasan International Animal Rescue Indonesia.
Bagi banyak orang, hari seolah belum benar-benar dimulai sebelum menyeruput secangkir kopi. Di balik aroma yang menenangkan itu, ada jutaan petani yang bekerja sejak subuh, merawat tanaman yang membutuhkan keseimbangan suhu, curah hujan, dan kelembapan. Namun, keseimbangan tersebut kini mulai terganggu. Krisis iklim perlahan mengubah masa depan kopi, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara penghasil kopi dunia.
Berbagai penelitian memperkirakan bahwa dalam 25 tahun mendatang sekitar 80% produksi kopi arabika akan terdampak perubahan iklim. Produktivitas kopi arabika maupun robusta diproyeksikan turun hingga 50% akibat semakin terbatasnya lahan yang sesuai untuk budidaya. Sebagian spesies kopi bahkan dikhawatirkan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi begitu cepat.
Dampaknya sudah mulai dirasakan di lapangan. Di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, produksi kopi menunjukkan tren penurunan hingga 8,8% dalam kurun 2021-2023. Ironisnya, penurunan ini terjadi ketika luas perkebunan justru meningkat sekitar 6,7%. Artinya, memperluas lahan tidak otomatis menghasilkan panen yang lebih banyak jika kondisi iklim tidak lagi mendukung. Pada periode yang sama, curah hujan di wilayah tersebut juga mengalami penurunan drastis.
Kopi memang dikenal sebagai tanaman yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Perubahan kecil pada suhu, kelembapan, atau ketersediaan air tanah dapat mempengaruhi proses pembungaan hingga pembentukan buah. Cuaca ekstrem juga menciptakan masalah baru berupa meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kondisi tersebut membuat semakin banyak wilayah tidak lagi cocok untuk menghasilkan kopi secara optimal.
Di Jambi, tantangan yang dihadapi petani bahkan lebih rumit. Selain cuaca yang tidak menentu, petani kopi liberika juga menghadapi intrusi air laut yang membuat tanaman layu dan mati secara perlahan. Krisis iklim ternyata hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari perubahan pola hujan hingga perubahan kondisi tanah yang sebelumnya mendukung pertumbuhan kopi.
Ancaman ini bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kehidupan jutaan orang. Secara global, sekitar 125 juta orang bergantung pada kopi sebagai sumber penghidupan. Industri ini juga ditopang oleh tenaga kerja perempuan yang mencapai sekitar 70%. Meski demikian, hanya sekitar 20–30% perempuan yang memiliki kesempatan memimpin perkebunan kopi. Ketika produksi menurun akibat krisis iklim, kelompok inilah yang menjadi salah satu pihak paling rentan menerima dampaknya.
Cerita para petani menggambarkan ancaman tersebut dengan lebih nyata. Agus, petani kopi di Enrekang, mengaku hasil panennya turun hingga 50%. Petani robusta Nursam Arifuddin juga mengalami penurunan panen akibat cuaca yang semakin sulit diprediksi. Efek berantai kemudian merambat ke hilir. Agil Valentino, pemilik kedai kopi di Makassar, mengaku mulai kesulitan memperoleh pasokan biji kopi Enrekang karena produktivitas petani terus menurun, padahal kopi tersebut memiliki pelanggan tetap.
Situasinya menjadi semakin paradoks ketika permintaan kopi dunia justru terus meningkat. Data Organisasi Kopi Internasional (ICO) menunjukkan produksi kopi sejak 2020 turun sekitar 1,7%, sementara konsumsi meningkat sekitar 2–2,5%. Di sisi lain, sekitar 25 juta petani kecil menghasilkan 80% produksi kopi dunia, tetapi harga setengah kilogram kopi yang mereka jual hanya bernilai kurang dari satu dolar AS.
Mama Persila Sanyi masih ingat betul rasanya air jernih di hutan mangrove Teluk Youtefa. Dulu, perempuan 70 tahun asal Kampung Enggros, Jayapura, itu biasa turun mencari kerang, kepiting, dan udang di sana. Kini, setiap kali pulang mencari bia, dia justru harus menahan gatal.
“Kadang-kadang mama pergi cari bia, pulang badan gatal-gatal dan kita harus garuk sekalipun sudah mandi di rumah,” katanya.
Pencemaran kian signifikan akibat masifnya pembangunan terjadi. Tumpukan sampah banyak terlihat di akar-akar mangrove. Mulai dari plastik, styrofoam, kasur bekas, bahkan limbah medis seperti jarum suntik dan infus.
Berta Sanyi, perempuan adat lain dari Enggros, menyebut hutan mangrove mereka kini seperti “mall”, saking penuhnya dengan segala jenis sampah yang tersangkut di akar-akar pohon.
Bukan cuma sampah, alih fungsi lahan untuk kafe, restoran, kios, dan penginapan di sepanjang Pantai Hamadi hingga Holtekamp turut menggerus kawasan yang sejatinya berstatus Taman Wisata Alam sejak 1996 ini. Padahal jauh sebelum itu, sejak 1978, kawasan ini sudah lebih dulu ditetapkan sebagai kawasan lindung.
Riset Universitas Cenderawasih Jayapura mencatat deforestasi mangrove di Teluk Youtefa mencapai 159,33 hektar atau sekitar 40,59 persen sepanjang 1994-2017, dari semula 392,45 hektar menyusut jadi hanya 233,12 hektar.
Data BBKSDA Papua bahkan menunjukkan degradasi 7,81 hektar hanya dalam dua tahun terakhir, dari 124,3 hektar pada 2022 jadi 116,49 hektar pada 2024. Sebenarnya, penegakan hukum sempat dilakukan, yaitu pada 2023, tim gabungan BBKSDA Papua, Polda Papua, dan Pemkot Jayapura menindak pihak yang menimbun mangrove di tepi jalan Hamadi.
“Kasus penimbunan mangrove itu telah ditangani Gakkum dan berproses di pengadilan,” kata Chandra Irwanto Lumban, Ahli Muda Penyuluh Kehutanan BBKSDA Papua. Namun penindakan itu rupanya tak cukup membendung laju alih fungsi lahan yang terus terjadi.
Petronela Maruje, Ketua Komunitas Perempuan Kampung Enggros, menyaksikan sendiri bagaimana pembangunan jembatan merah Holtekamp sejak 2015 dan area dayung pada 2021 pelan-pelan mempersempit ruang masyarakat mencari makan. “Ketika ada pembangunan itu akhirnya ikan mulai berkurang karena pohon mangrove itu sudah ditebang,” katanya.
Bagi perempuan adat di Teluk Youtefa, mangrove bukan sekadar sumber pangan. Ia adalah dapur, sekaligus ruang sosial dan budaya tempat mereka mencari kerang, siput, dan kayu bakar sambil berinteraksi satu sama lain.
Petronela berharap ada pengawasan lebih ketat terhadap izin usaha di kawasan mangrove, sementara Anna M. Labok, dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, mendorong konsep ekowisata sebagai jalan tengah. Tapi bagi Petronela, yang lebih penting dari sekadar kebijakan adalah kesadaran.
“Mereka sedang merusak alam ini, mereka sedang merusak kehidupan mereka di masa depan,” katanya, menghela napas panjang.
Foto utama: Tampak seorang warga berjalan di atas tumpukan berbagai jenis ssampah di hutan mangrove, Kampung Enggros, Kota Jayapura, Papua pada Mei 2026. Foto: Larius Kogoya/ Mongabay Indonesia

