Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Krisis Iklim Bikin Produksi Kopi Arabika Turun 80 Persen

Editor 19 Jul 2026

Bagi banyak orang, hari seolah belum benar-benar dimulai sebelum menyeruput secangkir kopi. Di balik aroma yang menenangkan itu, ada jutaan petani yang bekerja sejak subuh, merawat tanaman yang membutuhkan keseimbangan suhu, curah hujan, dan kelembapan. Namun, keseimbangan tersebut kini mulai terganggu. Krisis iklim perlahan mengubah masa depan kopi, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara penghasil kopi dunia.

Berbagai penelitian memperkirakan bahwa dalam 25 tahun mendatang sekitar 80% produksi kopi arabika akan terdampak perubahan iklim. Produktivitas kopi arabika maupun robusta diproyeksikan turun hingga 50% akibat semakin terbatasnya lahan yang sesuai untuk budidaya. Sebagian spesies kopi bahkan dikhawatirkan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi begitu cepat.

Dampaknya sudah mulai dirasakan di lapangan. Di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, produksi kopi menunjukkan tren penurunan hingga 8,8% dalam kurun 2021-2023. Ironisnya, penurunan ini terjadi ketika luas perkebunan justru meningkat sekitar 6,7%. Artinya, memperluas lahan tidak otomatis menghasilkan panen yang lebih banyak jika kondisi iklim tidak lagi mendukung. Pada periode yang sama, curah hujan di wilayah tersebut juga mengalami penurunan drastis.

Kopi memang dikenal sebagai tanaman yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Perubahan kecil pada suhu, kelembapan, atau ketersediaan air tanah dapat mempengaruhi proses pembungaan hingga pembentukan buah. Cuaca ekstrem juga menciptakan masalah baru berupa meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kondisi tersebut membuat semakin banyak wilayah tidak lagi cocok untuk menghasilkan kopi secara optimal.

Di Jambi, tantangan yang dihadapi petani bahkan lebih rumit. Selain cuaca yang tidak menentu, petani kopi liberika juga menghadapi intrusi air laut yang membuat tanaman layu dan mati secara perlahan. Krisis iklim ternyata hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari perubahan pola hujan hingga perubahan kondisi tanah yang sebelumnya mendukung pertumbuhan kopi.

Ancaman ini bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kehidupan jutaan orang. Secara global, sekitar 125 juta orang bergantung pada kopi sebagai sumber penghidupan. Industri ini juga ditopang oleh tenaga kerja perempuan yang mencapai sekitar 70%. Meski demikian, hanya sekitar 20–30% perempuan yang memiliki kesempatan memimpin perkebunan kopi. Ketika produksi menurun akibat krisis iklim, kelompok inilah yang menjadi salah satu pihak paling rentan menerima dampaknya.

Cerita para petani menggambarkan ancaman tersebut dengan lebih nyata. Agus, petani kopi di Enrekang, mengaku hasil panennya turun hingga 50%. Petani robusta Nursam Arifuddin juga mengalami penurunan panen akibat cuaca yang semakin sulit diprediksi. Efek berantai kemudian merambat ke hilir. Agil Valentino, pemilik kedai kopi di Makassar, mengaku mulai kesulitan memperoleh pasokan biji kopi Enrekang karena produktivitas petani terus menurun, padahal kopi tersebut memiliki pelanggan tetap.

Situasinya menjadi semakin paradoks ketika permintaan kopi dunia justru terus meningkat. Data Organisasi Kopi Internasional (ICO) menunjukkan produksi kopi sejak 2020 turun sekitar 1,7%, sementara konsumsi meningkat sekitar 2–2,5%. Di sisi lain, sekitar 25 juta petani kecil menghasilkan 80% produksi kopi dunia, tetapi harga setengah kilogram kopi yang mereka jual hanya bernilai kurang dari satu dolar AS.

Foto utama: Petani memetik biji kopi arabika yang menjadi andalan masyarakat Gayo. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

“Mall” Sampah di Teluk Youtefa

Kadek Dian Dwiyanti H.* 19 Jul 2026

Mama Persila Sanyi masih ingat betul rasanya air jernih di hutan mangrove Teluk Youtefa. Dulu, perempuan 70 tahun asal Kampung Enggros, Jayapura, itu biasa turun mencari kerang, kepiting, dan udang di sana. Kini, setiap kali pulang mencari bia, dia justru harus menahan gatal.

“Kadang-kadang mama pergi cari bia, pulang badan gatal-gatal dan kita harus garuk sekalipun sudah mandi di rumah,” katanya. 

Pencemaran kian signifikan akibat masifnya pembangunan terjadi. Tumpukan sampah banyak terlihat di akar-akar mangrove. Mulai dari plastik, styrofoam, kasur bekas, bahkan limbah medis seperti jarum suntik dan infus.

Berta Sanyi, perempuan adat lain dari Enggros, menyebut hutan mangrove mereka kini seperti “mall”, saking penuhnya dengan segala jenis sampah yang tersangkut di akar-akar pohon.

Bukan cuma sampah, alih fungsi lahan untuk kafe, restoran, kios, dan penginapan di sepanjang Pantai Hamadi hingga Holtekamp turut menggerus kawasan yang sejatinya berstatus Taman Wisata Alam sejak 1996 ini. Padahal jauh sebelum itu, sejak 1978, kawasan ini sudah lebih dulu ditetapkan sebagai kawasan lindung.

Riset Universitas Cenderawasih Jayapura mencatat deforestasi mangrove di Teluk Youtefa mencapai 159,33 hektar atau sekitar 40,59 persen sepanjang 1994-2017, dari semula 392,45 hektar menyusut jadi hanya 233,12 hektar. 

Data BBKSDA Papua bahkan menunjukkan degradasi 7,81 hektar hanya dalam dua tahun terakhir, dari 124,3 hektar pada 2022 jadi 116,49 hektar pada 2024. Sebenarnya, penegakan hukum sempat dilakukan, yaitu pada 2023, tim gabungan BBKSDA Papua, Polda Papua, dan Pemkot Jayapura menindak pihak yang menimbun mangrove di tepi jalan Hamadi.

“Kasus penimbunan mangrove itu telah ditangani Gakkum dan berproses di pengadilan,” kata Chandra Irwanto Lumban, Ahli Muda Penyuluh Kehutanan BBKSDA Papua. Namun penindakan itu rupanya tak cukup membendung laju alih fungsi lahan yang terus terjadi. 

Petronela Maruje, Ketua Komunitas Perempuan Kampung Enggros, menyaksikan sendiri bagaimana pembangunan jembatan merah Holtekamp sejak 2015 dan area dayung pada 2021 pelan-pelan mempersempit ruang masyarakat mencari makan. “Ketika ada pembangunan itu akhirnya ikan mulai berkurang karena pohon mangrove itu sudah ditebang,” katanya.

Bagi perempuan adat di Teluk Youtefa, mangrove bukan sekadar sumber pangan. Ia adalah dapur, sekaligus ruang sosial dan budaya tempat mereka mencari kerang, siput, dan kayu bakar sambil berinteraksi satu sama lain. 

Petronela berharap ada pengawasan lebih ketat terhadap izin usaha di kawasan mangrove, sementara Anna M. Labok, dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, mendorong konsep ekowisata sebagai jalan tengah. Tapi bagi Petronela, yang lebih penting dari sekadar kebijakan adalah kesadaran.

“Mereka sedang merusak alam ini, mereka sedang merusak kehidupan mereka di masa depan,” katanya, menghela napas panjang.

Foto utama: Tampak seorang warga berjalan di atas tumpukan berbagai jenis ssampah di hutan mangrove, Kampung Enggros, Kota Jayapura, Papua pada Mei 2026. Foto: Larius Kogoya/ Mongabay Indonesia

Foto: Larius Kogoya/Mongabay Indonesia

Memasak dengan Teknik Tanah Liat, Tidak Kalah Pakai Air Fryer Kekinian. Masyarakat Sungai Musi Telah Membuktikan

Editor 18 Jul 2026

Di era air fryer, slow cooker, dan oven pintar, siapa sangka salah satu teknik memasak paling sehat justru berasal dari masa ketika manusia belum mengenal peralatan dapur. Caranya sederhana: makanan dibungkus daun, dilapisi tanah liat, lalu dipanggang di atas bara api. Meski terdengar kuno, metode ini masih dipraktikkan hingga kini oleh masyarakat lahan basah Sungai Musi di Sumatera Selatan melalui hidangan tradisional yang dikenal sebagai ‘ikan tunu’.

Sekilas, ikan tunu terlihat seperti ikan bakar biasa. Namun, proses pembuatannya sangat berbeda. Ikan segar dibungkus daun pisang, kemudian seluruh permukaannya diselimuti tanah liat sebelum diletakkan di atas bara. Setelah sekitar 30 menit, lapisan tanah mulai mengeras dan retak. Saat dipecahkan, kulit ikan ikut terangkat bersama tanah liat, meninggalkan daging yang putih, lembut, dan harum.

Yang membuat teknik ini menarik adalah cara kerjanya. Tanah liat bertindak seperti oven alami. Lapisan tersebut memerangkap uap air yang keluar dari ikan selama dipanaskan sehingga daging matang perlahan dari dalam. Hasilnya, ikan tetap lembap, tidak kering, dan matang merata tanpa perlu tambahan minyak atau mentega. Tak heran jika banyak teknik memasak modern, seperti slow cooking atau steam roasting, sebenarnya mengandalkan prinsip yang sama.

Keuntungan lainnya adalah cita rasa. Karena ikan dimasak dalam “ruang tertutup”, sari alami tidak banyak menguap. Aroma daun pisang meresap perlahan ke dalam daging, sementara rasa asli ikan tetap mendominasi tanpa tertutup bumbu berlebihan. Bagi pencinta makanan yang mengutamakan kualitas bahan, metode ini memungkinkan rasa alami ikan benar-benar menjadi bintang utama.

Bukan hanya soal rasa, teknik ini juga memiliki sejumlah keunggulan dari sisi kesehatan. Memasak tanpa minyak berarti kandungan lemak tambahan bisa ditekan. Suhu yang lebih stabil dibandingkan pembakaran langsung juga membantu mengurangi risiko bagian luar makanan gosong sebelum bagian dalam matang. Dalam ilmu pangan, pemanasan yang lebih lembut umumnya mampu mempertahankan tekstur dan sebagian nutrisi lebih baik dibandingkan suhu yang terlalu tinggi.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa memasak menggunakan tanah liat memiliki sejumlah keunggulan. Bahan alami ini membantu menjaga kelembapan makanan sehingga daging tetap empuk, sementara proses memasak yang lambat dapat mempertahankan cita rasa dan kualitas bahan. Sejumlah penelitian juga menemukan bahwa mineral seperti kalsium, fosfor, dan zat besi dapat berpindah ke makanan dalam jumlah kecil selama proses memasak, meski manfaat kesehatannya masih terus dikaji.

Bagi masyarakat Tempirai, Sumatera Selatan, teknik ini awalnya bukan dikembangkan karena alasan kesehatan, melainkan sebagai solusi praktis saat berburu atau berada berhari-hari di kawasan rawa. Tanah liat mudah ditemukan di tepian sungai, daun pisang digunakan sebagai pembungkus, dan lapisan tanah membantu menyamarkan aroma ikan dari satwa liar.

Teknik memasak seperti ini ternyata tidak hanya ditemukan di Indonesia. Berbagai budaya di dunia memiliki tradisi serupa, mulai dari Tiongkok dengan beggar’s chicken, hingga beberapa komunitas di Asia Tenggara dan Amerika yang memanfaatkan tanah liat atau lumpur sebagai “oven” alami. Bahkan, penelitian terbaru menduga manusia purba telah menggunakan teknik serupa sekitar 780.000 tahun lalu untuk memasak ikan, jauh sebelum tembikar atau logam ditemukan.

Foto utama: Ikan tunu menggunakan jenis ikan dari keluarga chana atau sejenis gabus. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.

Paus Orca Bisa Meniru Suara Manusia? Fakta yang Mengejutkan Ilmuwan dan Ini Sungguh Terjadi

Editor 18 Jul 2026

Bayangkan seekor paus mengucapkan “hello” atau menghitung “one, two, three”. Kedengarannya seperti adegan film fiksi ilmiah, tetapi kemampuan itu benar-benar dimiliki oleh orca (Orcinus orca), mamalia laut yang lebih dikenal sebagai paus pembunuh atau killer whale.

Orca sebenarnya bukan paus sejati, melainkan anggota terbesar keluarga lumba-lumba. Selain dikenal sebagai predator puncak di lautan, mereka juga termasuk salah satu hewan paling cerdas di Bumi. Otak orca dewasa bahkan dapat mencapai berat sekitar enam kilogram, jauh lebih besar dibandingkan rata-rata otak manusia yang sekitar 1,4 kilogram. Besarnya otak ini mendukung kemampuan belajar, memecahkan masalah, hingga berkomunikasi secara kompleks.

Kecerdasan orca terlihat dari kehidupan sosialnya. Mereka hidup dalam kelompok keluarga yang sangat erat, dipimpin oleh induk betina, dan setiap kelompok memiliki “dialek” sendiri. Layaknya manusia yang memiliki aksen berbeda di setiap daerah, kelompok orca menggunakan pola bunyi khas untuk saling mengenali dan berkomunikasi. Dialek tersebut diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga dianggap sebagai bentuk budaya di dunia hewan.

Kemampuan vokal orca semakin menarik perhatian setelah penelitian yang dipublikasikan pada 2018. Dalam percobaan yang melibatkan dua orca bernama Wikie dan Moana di Marineland, Prancis, para peneliti memperdengarkan berbagai suara yang belum pernah mereka dengar sebelumnya, mulai dari bunyi derit pintu hingga kata-kata yang diucapkan manusia.

Hasilnya mengejutkan. Wikie mampu menirukan hampir seluruh suara yang diperdengarkan. Bahkan, kata “hello” dan “one, two, three” berhasil ditirukannya pada percobaan pertama. Meski pengucapannya tidak sejelas burung beo, analisis spektrogram menunjukkan bahwa suara yang dihasilkan memiliki kemiripan kuat dengan suara asli manusia.

Yang membuat temuan ini semakin istimewa adalah cara orca menghasilkan suara. Jika manusia berbicara menggunakan laring atau pita suara, orca justru menghasilkan bunyi melalui saluran pernapasan di bagian hidung. Perbedaan anatomi tersebut membuat kemampuan mereka meniru suara menjadi jauh lebih mengagumkan.

Para peneliti menduga kemampuan imitasi ini bukan sekadar hiburan. Di alam liar, orca kemungkinan menggunakan kemampuan tersebut untuk mempelajari dan mempertahankan dialek kelompoknya. Dengan kata lain, kemampuan meniru suara menjadi bagian penting dari proses belajar sosial, sama seperti anak manusia belajar berbicara dengan meniru orang-orang di sekitarnya. Bahkan, sejumlah ilmuwan berpendapat bahwa suatu hari nanti manusia mungkin dapat melakukan percakapan sederhana dengan orca.

Meski identik dengan perairan dingin, orca memiliki sebaran yang sangat luas dan beberapa kali tercatat muncul di perairan Indonesia, mulai dari Kepulauan Anambas, Flores Timur, Biak Numfor, hingga Sulawesi Utara. Kemunculan itu menjadi pengingat bahwa salah satu mamalia paling cerdas di dunia juga merupakan bagian dari kekayaan laut Nusantara.

Foto utama: Paus orca merupakan jenis yang tersebar luas di seluruh samudera. Foto: Wikipedia Commons/Rennett Stowe/CC BY 2.0.

Sejak Laut Tercemar, Petani Rumput Laut Tinanggea Kehilangan Segalanya

Kadek Dian Dwiyanti H.* 18 Jul 2026

Dulu, La Ode Baharuddin tak pernah menyangka akan menghabiskan hari-harinya mencari keong bakau di lumpur bakau Desa Akuni, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Bertahun-tahun lalu, dia adalah petani rumput laut yang hidup dari komoditas dulunya sangat menjanjikan. Bahkan, desanya sempat dijuluki “desa dolar”.

Julukan itu bukan sekedar kiasan belaka. Pada 2014-2015, harga rumput laut kering sempat menyentuh sampai Rp45 ribu/kilogram. Mardiana, ibu enam anak di Bungin Permai pernah merasakan kejayaan itu. Dari 300 bentang tali rumput laut yang terpasang, dia bisa mengantongi pendapatan bersih hingga Rp40 juta sekali panen, cukup untuk membeli sepeda motor dan perahu.

Tapi kini, itu hanya jadi kenangan. Sejak tiga tahun terakhir, budidaya rumput laut di Tinanggea perlahan runtuh. Baharuddin bilang, sejak tambang nikel beroperasi di sekitar perairan mereka, air laut kerap berubah warna jadi kuning setiap hujan turun, dan rumput laut pun gagal tumbuh. Demi untuk menyekolahkan tiga anaknya, dia terpaksa menjual sapi, bahkan tanah.

“Sudah ada beberapa tahun agar (rumput laut) tidak bagus (panen), setelah ada tambang ini,” kata Baharuddin.

Warga pesisir lainnya pun mengeluhkan adanya keberadaan penampungan ore nikel di bibir pantai dan lalu lalang kapal tambang. Andi Rahman, Direktur Eksekutif Walhi Sulawesi Tenggara, menyebut operasional pelabuhan itu memicu sedimentasi yang membuat air laut berubah warna dan mengganggu ekosistem laut.

Sementara itu, Dinas Perikanan dan Kelautan Konawe Selatan justru menyebutkan informasi yang berbeda, data resmi mereka menunjukkan produksi rumput laut Tinanggea terus naik tiap tahun, dari 18.644 ton pada 2021 jadi 33.946 ton pada 2025. Bagi Mardiana, angka itu tak masuk akal.

“Kalau khusus daerah Bungin Permai tidak ada. Dari tahun 2021 itu sudah masuk paceklik,” katanya, membantah data tersebut.

Di tengah klaim yang saling bertolak belakang itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Konawe Selatan, Wayan Darma, mengakui budidaya rumput laut di wilayahnya kini tersisa di pesisir Tinanggea, sementara sentra-sentra lain seperti di Torobulu dan Teluk Moramo sudah lebih dulu berhenti karena pencemaran dan lalu lalang kapal tongkang. Meski begitu, dia tetap berdalih penurunan produksi di Tinanggea semata soal harga, bukan aktivitas tambang.

Laode M. Aslan, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo, menyebut tambang nikel sebagai musuh terbesar rumput laut, bukan cuma di Sulawesi Tenggara, tapi juga Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara. Dia membayangkan ketika nikel di sana habis dikeruk nanti, yang tersisa bagi warga pesisir hanya laut yang tercemar.

Foto utama: Hasil panen di perahu kecil di tahun 2017. Sebelum ada tambang hasil panen bisa memenuhi kapal. Kini, rumput laut budidaya banyak gagal panen hingga sebagian petani memutuskan beralih kerja. Foto: Kamarudin/ Mongabay Indonesia

Satwa Terancam Punah Ini Dijuluki “Monyet Belanda”, Padahal Hidupnya di Hutan Mangrove Kalimantan

Editor 17 Jul 2026

Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan primata endemik Pulau Kalimantan yang mudah dikenali dari hidungnya yang panjang dan besar, terutama pada jantan dewasa. Ciri fisik inilah yang membuatnya populer dengan julukan “Monyet Belanda”. Sebutan tersebut berkembang sejak masa kolonial karena hidung besar dan wajah kemerahan bekantan dianggap menyerupai gambaran orang Belanda pada masa itu. Julukan ini bukan nama ilmiah, melainkan sebutan yang hidup di tengah masyarakat Kalimantan.

Hidung besar bukan sekadar penanda penampilan. Pada bekantan jantan, hidung yang menggantung hingga menutupi sebagian mulut diduga membantu memperkuat suara panggilan sekaligus menarik perhatian betina. Ukuran tubuh jantan juga jauh lebih besar dibandingkan betina. Wajah bekantan tidak ditutupi rambut, sedangkan warna tubuhnya terlihat mencolok: bagian punggung berwarna cokelat kemerahan, sementara perut dan anggota tubuhnya putih keabu-abuan. Ekornya pun sangat panjang, hampir sama dengan panjang tubuhnya.

Keunikan lain bekantan terlihat pada bentuk perutnya yang buncit. Bekantan memiliki sistem pencernaan khusus dengan lambung beruang yang membantu memfermentasi daun dan bahan tumbuhan berserat. Makanannya sebagian besar berupa daun, buah, bunga, kulit pohon, serta sesekali serangga dan kepiting. Mereka cenderung memilih tumbuhan dengan kandungan serat kasar dan protein yang tinggi. Meski terlihat tambun, bekantan merupakan pemanjat pohon sekaligus perenang yang tangguh. Jari-jari kakinya memiliki selaput yang membantu mereka berenang dan menyeberangi sungai, bahkan terkadang dengan melompat langsung dari pohon ke air.

Bekantan hidup dalam kelompok sosial yang unik. Ada kelompok yang terdiri atas seekor jantan dewasa dengan beberapa betina dan anak-anaknya, serta kelompok yang seluruh anggotanya merupakan jantan. Mereka lebih banyak beraktivitas di atas tajuk pohon dan sering memilih pohon di tepi sungai sebagai tempat beristirahat. Kedekatan dengan air membantu bekantan mencari makan, berpindah tempat, sekaligus menghindari predator.

Habitat utama bekantan adalah hutan mangrove, hutan rawa, dan kawasan tepi sungai di Kalimantan. Ekosistem tersebut menyediakan daun, buah, bunga, kulit pohon, serta air untuk minum dan berenang. Namun, kerusakan mangrove, perluasan perkebunan, pertambangan, dan perburuan membuat bekantan semakin terdesak. Di beberapa wilayah, kamera jebak bahkan merekam bekantan lebih sering berjalan di tanah, perkebunan sawit, kawasan hutan tanaman industri, dan bekas tambang. Perubahan dari kebiasaan hidup di pohon menjadi lebih terestrial ini diduga terjadi akibat habitatnya yang terfragmentasi.

Hilangnya tutupan hutan membuat bekantan lebih rentan diserang ular piton, macan dahan, dan kucing hutan. Bekantan saat ini berstatus Genting atau Endangered dan termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia. Karena kehidupannya sangat bergantung pada hutan mangrove dan sungai, menjaga bekantan berarti sekaligus menjaga ekosistem pesisir Kalimantan yang menjadi rumah bagi banyak spesies lainnya.

Foto utama: Bekantan merupakan satwa endemik Kalimantan yang berstatus terancam punah. Foto: Rhett A Butler /Mongabay.

Bagi Masyarakat Sumba, Kuda Bukan Sekadar Tunggangan, Tapi Identitas Budaya

Editor 17 Jul 2026

Hamparan sabana yang luas, perbukitan bergelombang, dan kawanan kuda yang berlari bebas telah lama menjadi wajah Pulau Sumba. Namun, bagi masyarakat Sumba, kuda bukan sekadar penghias lanskap. Hewan yang mereka sebut ‘ndara’ ini merupakan bagian dari identitas budaya yang telah menyatu dengan kehidupan selama berabad-abad.

Bagi masyarakat Tanah Marapu, kuda menempati posisi yang nyaris setara dengan leluhur. Bahkan, berbeda dengan hewan peliharaan lain, kuda di Sumba tidak diberi nama karena dianggap memiliki kedudukan yang terlalu mulia untuk dipersonalisasi. Kuda hadir dalam hampir seluruh fase kehidupan: menjadi alat transportasi, simbol status sosial, bagian dari mas kawin (belis), hewan kurban dalam upacara adat, hingga dipercaya sebagai tunggangan terakhir menuju alam baka.

Tak heran jika di antara ternak penting masyarakat Sumba seperti babi, kerbau, dan kuda, justru kuda dianggap memiliki peran paling lengkap.

Kuda khas Sumba dikenal sebagai Sandalwood Pony, salah satu rumpun kuda asli Indonesia. Nama “Sandalwood” berasal dari kayu cendana yang dahulu menjadi komoditas ekspor utama Nusa Tenggara.

Secara fisik, kuda ini tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 110–130 sentimeter. Tubuhnya kompak, berdada lebar, dengan telinga kecil dan surai tebal. Meski bertubuh mungil, keunggulan utamanya justru terletak pada daya tahan.

Selama ratusan tahun, Sandalwood berkembang di lingkungan savana Sumba yang panas dan kering. Adaptasi itu membuatnya mampu berjalan jauh, bekerja di medan berbukit, serta bertahan dengan pakan yang relatif terbatas. Ketahanan tersebut juga menjadi alasan mengapa rumpun ini dikenal lebih tahan terhadap cuaca tropis dibanding banyak kuda impor.

Kemampuan itulah yang dahulu menjadikan Sandalwood sebagai alat transportasi utama masyarakat, bahkan kendaraan perang sebelum hadirnya kendaraan bermotor.

Keunikan kuda Sumba paling mudah terlihat dalam Pasola, tradisi perang tombak berkuda yang telah dikenal hingga mancanegara.

Dalam ritual tahunan ini, dua kelompok penunggang kuda saling melempar tombak kayu sambil memacu kudanya di padang rumput. Atraksi tersebut bukan sekadar pertunjukan, melainkan bagian dari ritual adat dan harapan akan musim tanam yang baik.

Keberhasilan seorang peserta Pasola tidak hanya ditentukan oleh keterampilan berkuda, tetapi juga oleh kualitas kudanya. Kombinasi kuda yang kuat dan penunggang yang piawai dapat mengangkat prestise pemiliknya di tengah masyarakat.

Meski begitu dihormati, ras asli Sandalwood kini justru semakin sulit ditemukan.

Penyebab utamanya datang dari kecintaan masyarakat sendiri terhadap pacuan kuda. Dibandingkan kuda impor, Sandalwood memiliki tubuh lebih kecil sehingga kalah cepat di lintasan balap. Untuk menghasilkan kuda pacu yang lebih kompetitif, banyak peternak mengawinsilangkan Sandalwood dengan kuda Australia maupun ras impor lainnya.

Praktik tersebut sebenarnya bukan hal baru. Sejak masa kolonial Belanda pada abad ke-19, persilangan sudah dilakukan demi memperoleh kuda yang lebih besar dan lebih cepat. Akibatnya, populasi Sandalwood murni terus menyusut dari generasi ke generasi.

Ironi serupa juga terlihat di Dompu, Nusa Tenggara Barat. Di sana, kuda lokal Sandalwood turut disilangkan dengan ras Australia demi memenuhi kebutuhan pacuan dan status sosial. Padahal, para ahli menilai kuda lokal justru memiliki keunggulan berupa daya tahan terhadap panas dan penyakit karena telah lama beradaptasi dengan lingkungan tropis Indonesia.

Foto utama: Kuda jenis sandalwood di savana Sumba, NTT. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia.

Subscribe

Stay informed with news and inspiration from nature’s frontline.
Newsletter

Siapa Sangka, Letusan Tambora Ikut Melahirkan Sepeda

Editor 16 Jul 2026

Sulit membayangkan bahwa sejarah sepeda berawal dari sebuah letusan gunung api di Indonesia. Namun, sejumlah sejarawan meyakini letusan dahsyat Gunung Tambora pada 1815 menjadi salah satu pemicu lahirnya kendaraan roda dua yang kini digunakan miliaran orang di seluruh dunia.

Letusan Tambora merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah modern. Selain menewaskan puluhan ribu orang di Nusantara, abu dan gas sulfur yang terlontar hingga ke atmosfer menyebabkan suhu Bumi turun. Tahun 1816 kemudian dikenal sebagai “tahun tanpa musim panas”. Cuaca yang tidak menentu memicu gagal panen di berbagai wilayah Eropa dan Amerika Utara, sehingga terjadi krisis pangan yang juga berdampak pada ketersediaan pakan ternak.

Saat itu, kuda merupakan moda transportasi utama. Ketika pakan langka, banyak kuda mati atau disembelih. Kondisi tersebut mendorong Karl Drais, seorang penemu asal Jerman, mencari alternatif transportasi yang tidak bergantung pada hewan. Pada 1817, ia memperkenalkan laufmaschine atau “mesin berjalan”, cikal bakal sepeda modern.

Kendaraan itu masih sangat sederhana. Terbuat dari kayu, memiliki dua roda dan kemudi, tetapi belum dilengkapi pedal. Penggunanya melaju dengan mendorong tanah menggunakan kedua kaki, mirip sepeda keseimbangan yang kini populer di kalangan anak-anak. Meski sederhana, inovasi ini membuka jalan bagi perkembangan sepeda selama dua abad berikutnya.

Berbagai penyempurnaan kemudian dilakukan, mulai dari penambahan pedal, rantai, rem, bantalan bola, hingga ban karet. Pada akhir abad ke-19, lahirlah desain “safety bicycle” dengan dua roda berukuran sama yang menjadi dasar hampir semua sepeda modern saat ini.

Dampak sepeda ternyata melampaui dunia transportasi. Kendaraan ini ikut mengubah kehidupan sosial, terutama bagi perempuan. Kemudahan bergerak membuat banyak perempuan di Eropa memperoleh kebebasan bepergian yang sebelumnya sulit dilakukan. Bahkan, perubahan gaya berpakaian menjadi lebih praktis juga dipengaruhi oleh meningkatnya penggunaan sepeda.

Kini, lebih dari dua abad setelah Tambora meletus, sepeda kembali menjadi bagian dari solusi atas tantangan lingkungan. Berbeda dengan kendaraan bermotor, sepeda tidak menghasilkan emisi saat digunakan, membantu mengurangi polusi udara, kemacetan, sekaligus meningkatkan kesehatan penggunanya. Perkembangannya pun terus berlanjut melalui sepeda listrik dan sistem berbagi sepeda yang semakin memudahkan masyarakat beralih ke transportasi rendah karbon.

Sulit membayangkan bahwa letusan gunung api di Indonesia dua abad lalu ikut mengubah sejarah transportasi dunia. Namun, dari krisis yang dipicu Tambora lahir gagasan tentang kendaraan tanpa tenaga hewan, yang kemudian berevolusi menjadi sepeda modern. Hingga kini, sepeda terus berkembang dan justru menjadi salah satu solusi untuk menghadapi tantangan lingkungan yang berbeda: krisis iklim.

Foto utama: Seseorang sedang mencoba sepeda Penny Farthing. Foto: Alistair Paterson/flickr CC BY 2.0.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email
Muat lebih banyak

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.