Jumat, 7 Agustus 2026, sekitar pukul 04.00 WIB, Acep melihat cahaya merah dari belakang rumahnya di Kampung Ading, Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Kepulan asap membubung dari arah Kawah Wadon di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Warga segera berkumpul dan bergerak menuju sumber api. Sebagian berangkat sekitar pukul 07.00 dan 09.00 WIB, sementara Acep bersama warga lainnya berangkat selepas salat Jumat.
Kampung Ading merupakan permukiman tertinggi di kaki Gunung Gede. Dari sana, Kawah Wadon dapat dicapai dengan berjalan kaki sekitar dua jam. Rombongan Acep yang terdiri dari 15 orang tiba menjelang sore. Mereka menemukan warga lain sudah berusaha memadamkan api menggunakan peralatan sederhana, seperti pacul, cangkul, dan air.
Sumber air yang jauh menyulitkan pemadaman. Warga harus berjalan sekitar satu jam ke Kandang Badak dan mengangkut air dengan botol lima liter. Api sempat padam, tetapi kembali membesar pada Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 02.00 WIB.
Sebagian warga bermalam di lokasi, bahkan ada yang membutuhkan oksigen karena kelelahan. Warga lain membantu dengan mengirim tenda, makanan, obat-obatan, dan perlengkapan pemadam.
Hingga Rabu malam, 12 Agustus 2026, api masih ditangani. Kobaran dan bau terbakar tercium hingga permukiman, memicu kekhawatiran api menjalar ke perkebunan warga.
Penyebab kebakaran di Kawah Wadon masih diselidiki. Dalam keterangan tertulis pada Rabu, 12 Agustus 2026, Kepala Balai Besar TNGGP, Sadtata Noor Adirahmanta, mengatakan pemantauan awal mengarah pada faktor alam.
Kawah Wadon berada di zona inti yang tidak digunakan untuk kegiatan wisata maupun pendakian sehingga aktivitas manusia sangat minim. Kamera pengawas milik Pos Pengamatan Gunung Api Gede di Ciloto juga tidak merekam keberadaan manusia sebelum kebakaran terjadi.
Musim kemarau menyebabkan vegetasi mengering dan suhu di sekitar kawah meningkat. Kondisi tersebut diduga menjadi pemicu kebakaran. Vegetasi yang terbakar didominasi semak dan rerumputan. Menurut pihak taman nasional, tidak ada tanaman edelweis di area terdampak.
Luas kawasan yang terbakar masih berbeda menurut dua catatan. TNGGP memperkirakan kebakaran di Kawah Wadon mencapai 5,8 hektar. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Cianjur mencatat sekitar 20 hektar kawasan terbakar, mencakup Kawah Wadon dan Alun-Alun Suryakencana.
Tim menangani empat titik kepulan asap. Satu titik bara berada di tebing timur kawah yang sulit dijangkau karena medan curam. Untuk mencegah api menyebar, petugas membuat sekat bakar selebar sekitar dua meter dari ujung barat hingga ujung timur area terdampak.
Sehari sebelum kebakaran terpantau di Kawah Wadon, api juga muncul di Alun-Alun Suryakencana pada Kamis, 6 Agustus 2026. Kebakaran diperkirakan melanda area seluas satu hektar yang didominasi rumput kering dan sebagian vegetasi berkayu.
Menurut keterangan warga, api berasal dari tabung gas portabel milik pendaki yang bocor, kemudian dilemparkan ke area kering. Petugas, relawan, dan warga berhasil memadamkannya pada hari yang sama sebelum menjalar ke kawasan lain.
Akibat kebakaran tersebut, jalur pendakian Gunung Gede Pangrango ditutup sementara pada 7–11 Agustus 2026. Penutupan kemudian diperpanjang pada 12–18 Agustus 2026 agar penanganan kebakaran dapat dilakukan secara maksimal sekaligus menjaga keselamatan para pendaki.
Foto utama: Relawan berupaya memadamkan api di Kawah Wadon, TNGGP. Foto: Dokumentasi relawan/Arul Gunawan.
Macan tutul memiliki bintik, harimau tampil dengan garis-garis, sedangkan singa terlihat polos. Pola serupa juga ditemukan pada kucing domestik dan berbagai kucing liar Indonesia, seperti kucing kuwuk, macan dahan, dan kucing emas. Namun, bagaimana pola tersebut terbentuk?
Para ilmuwan belum menemukan jawaban lengkapnya. Meski begitu, penelitian telah mengidentifikasi dua gen penting yang memengaruhi bentuk dan ukuran pola pada bulu kucing, yaitu Taqpep dan Dkk4.
Gen Taqpep berperan besar dalam pembentukan garis dan bercak. Kucing domestik yang memiliki satu atau dua salinan normal gen ini cenderung mempunyai bulu bergaris. Namun, jika kedua salinannya mengalami mutasi—satu diwarisi dari induk betina dan satu dari induk jantan, pola bulunya dapat berubah menjadi bercak atau pusaran.
Pengaruh mutasi tersebut juga terlihat pada “king citah”. Citah umumnya mempunyai bintik-bintik hitam dengan latar bulu kuning kecokelatan. Namun, king citah yang mengalami mutasi pada kedua salinan gen Taqpep memiliki bercak lebih besar serta pola menyerupai garis di sepanjang tulang belakangnya.
Meski demikian, Taqpep bukan satu-satunya penentu pola. Egyptian mau, ras kucing domestik berbintik, ternyata memiliki gen Taqpep normal. Dalam sebuah penelitian, Egyptian mau dikawinkan dengan kucing bercak. Beberapa keturunannya justru memiliki garis-garis.
Temuan itu menunjukkan kemungkinan adanya satu atau lebih gen lain yang mengubah pola garis menjadi bintik. Namun, gen tambahan tersebut belum berhasil dikenali.
Gen kedua yang diketahui berperan adalah Dkk4. Pengaruhnya dapat diamati pada kucing Abyssinian. Sekilas, bulu ras ini tampak berwarna cokelat atau kayu manis. Jika diperhatikan lebih dekat, permukaannya dipenuhi bintik-bintik hitam berukuran kecil. Abyssinian memiliki satu atau dua salinan gen Dkk4 yang mengalami mutasi.
Sebaliknya, serval, kucing liar dengan bintik-bintik besar, mempunyai dua salinan normal gen Dkk4. Ketika Abyssinian dikawinkan dengan serval, sebagian keturunannya mewarisi satu salinan normal dan satu salinan mutan.
Kombinasi tersebut menghasilkan pola di antara kedua induknya. Bintik pada keturunannya lebih besar dan lebih jarang dibandingkan bintik kecil Abyssinian, tetapi lebih kecil dan lebih banyak dibandingkan bintik serval. Percobaan ini menunjukkan bahwa Dkk4 memengaruhi jumlah dan ukuran bintik.
Namun, kedua gen tersebut belum sepenuhnya menjelaskan mengapa seekor kucing memiliki garis, sedangkan kucing lainnya berbintik. Harimau dan citah, misalnya, sama-sama dapat mempunyai gen Taqpep normal. Meski begitu, harimau memiliki garis, sementara citah berbintik.
Mutasi Taqpep dapat mengubah bintik citah menjadi bercak yang lebih besar, tetapi tidak serta-merta membuatnya memiliki pola yang sama seperti harimau. Kucing domestik dengan gen Taqpep normal juga dapat tampil bergaris maupun berbintik.
Karena itu, para peneliti menduga ada faktor lain, kemungkinan gen ketiga, yang turut membentuk pola tersebut. Jadi, garis dan bintik pada kucing bukan hasil kerja satu gen saja, melainkan interaksi genetik yang rumit dan hingga kini belum sepenuhnya terungkap.
Foto utama: Kucing serval yang memiliki bintik besar. Foto: Vince Smith/Wikimedia Commons CC Attribution 2.0 Generic license.
Mengonsumsi satwa liar mungkin dianggap sebagian orang sebagai pengalaman kuliner yang tidak biasa. Namun, di baliknya terdapat ancaman serius bagi kesehatan manusia, kelestarian satwa, dan keseimbangan alam. Seperti sebuah video berjudul “Cara Buat Rendang Monyet” sempat beredar dan menjadi perbincangan di media sosial. Meski pertama kali diunggah pada 29 Oktober 2024, video berdurasi 16 detik itu hingga kini telah mengumpulkan 118 ribu tanda suka dan 13,3 ribu komentar. Karena menampilkan konten yang mengganggu, pembaca yang sensitif disarankan untuk tidak menontonnya.
Monyet ekor panjang memang berstatus tidak dilindungi. Namun, mengambil satwa liar dari kawasan hutan tanpa izin tetap dilarang. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan melarang orang mengeluarkan, membawa, dan mengangkut tumbuhan maupun satwa liar yang tidak dilindungi dari kawasan hutan tanpa izin. Ketentuan ini dikecualikan bagi masyarakat adat atau mereka yang secara turun-temurun tinggal di hutan.
Masalah lainnya adalah risiko penularan penyakit dari satwa kepada manusia atau zoonosis. Penularan tidak hanya dapat terjadi ketika daging satwa liar dimakan. Manusia bisa terpapar sejak proses memburu, memegang, memotong, mengolah, hingga mengkonsumsinya.
Risiko tersebut semakin besar pada primata karena secara biologis kelompok satwa ini sangat dekat dengan manusia. Sejumlah penyakit dan parasit dapat berpindah dari monyet kepada manusia. Seperti Ebola yang berkaitan dengan kebiasaan mengkonsumsi daging satwa liar atau bushmeat. Bakteri Salmonella dan cacar monyet juga perlu diwaspadai.
Ketika penyakit dari satwa berhasil menular dan menyebar antarmanusia, dampaknya dapat berkembang lebih luas. Perilaku mengkonsumsi daging atau produk satwa liar bukan hanya menempatkan satu orang dalam bahaya, tetapi juga berpotensi memicu wabah yang mengancam lebih banyak manusia.
Perburuan untuk konsumsi turut mengancam keanekaragaman hayati. Satwa liar umumnya ditangkap dengan jerat, perangkap, atau dibunuh tanpa perhitungan mengenai jumlah populasinya di alam. Jika dilakukan terus-menerus, populasinya dapat menurun tanpa diketahui hingga akhirnya menghilang, terlebih jika yang diburu merupakan satwa dilindungi.
Hilangnya primata juga dapat mengganggu hutan. Di alam, monyet berperan sebagai penyebar biji alami. Biji dari buah yang mereka makan tersebar ke berbagai tempat dan membantu tumbuhan baru tumbuh. Proses ini penting bagi regenerasi hutan.
Melalui pola makannya, primata juga membantu menjaga keseimbangan populasi serangga dan beberapa jenis reptil. Berkurangnya jumlah mereka dapat mempengaruhi hubungan antarorganisme dalam ekosistem.
Monyet ekor panjang sendiri mampu beradaptasi di berbagai habitat, mulai dari hutan dan perkebunan hingga kawasan wisata, pedesaan, dan perkotaan. Satwa ini memiliki perilaku sosial yang kompleks serta kemampuan belajar, menggunakan alat, dan bernegosiasi.
Karena itu, berhenti mengonsumsi satwa liar bukan hanya soal melindungi hewan. Pilihan tersebut juga membantu mengurangi risiko penyakit, menjaga keanekaragaman hayati, dan mempertahankan fungsi alami hutan. Melindungi satwa liar pada akhirnya berarti turut melindungi kesehatan manusia dan lingkungan tempat kita hidup.
Foto utama: Monyet ekor panjang yang dekat di sekitar kita. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.
Indonesia kembali mencatat kekayaan hayati baru. Para peneliti menemukan tiga spesies ngengat yang sebelumnya belum pernah dideskripsikan secara ilmiah. Satu spesies berasal dari Pulau Sangihe, Sulawesi Utara, sedangkan dua lainnya ditemukan di Papua.
Penemuan tersebut dilakukan oleh peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN bersama tim Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi, Manado. Hasil penelitiannya diterbitkan dalam jurnal Zootaxa pada Januari 2024.
Spesies pertama diberi nama Cryptophasa warouwi. Ngengat berwarna cokelat tua ini merupakan spesies endemik Pulau Sangihe. Namun, kehadirannya bukan hanya menambah daftar keanekaragaman hayati Indonesia. Larvanya juga berpotensi menjadi hama bagi tanaman cengkih.
Larva dari kelompok Cryptophasa dikenal sebagai penggerek cabang dan batang. Hewan yang aktif pada malam hari ini memotong daun untuk dimakan, lalu membuat terowongan pada bagian tanaman. Lubang tersebut kemudian ditutup menggunakan anyaman sutra dan kotoran.
Gangguan larva ini sebenarnya telah terpantau pada tanaman cengkih di Pulau Sangihe sejak 2016. Pada 2023, wilayah persebarannya semakin luas. Petani cengkih di lima kecamatan bahkan mengalami kerugian karena cabang dan ranting tanaman mereka rusak. Selain cengkih, larva Cryptophasa warouwi diketahui menyerang jambu air dan jambu biji.
Karena mampu memakan beberapa jenis tanaman, para peneliti menilai diperlukan strategi pengendalian dan analisis risiko. Spesies ini juga perlu diperhatikan dalam penyusunan daftar hama karantina dan pengelolaan pertanian.
Dua spesies baru lainnya bernama Glyphodes nurfitriae dan Glyphodes ahsanae. Keduanya berasal dari Papua dan dinyatakan sebagai taksa baru berdasarkan analisis bentuk tubuh atau morfologi. Penemuan ini membuat jumlah spesies Glyphodes yang tercatat di Indonesia menjadi 48. Sebelumnya, publikasi terakhir mengenai kelompok tersebut dari Papua dan Sulawesi terbit pada 1960.
Meski salah satu spesies baru ini berpotensi merugikan petani, tidak semua ngengat dapat dianggap sebagai hama. Larva pemakan tumbuhan baru dikategorikan sebagai hama jika serangannya menyebabkan kerugian ekonomi pada tanaman.
Beberapa larva ngengat yang memakan daun justru memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan vegetasi hutan. Hilangnya daun pada fase tertentu dapat merangsang proses pembungaan, sehingga membantu regenerasi tumbuhan.
Ngengat juga berperan sebagai penyerbuk, terutama bagi tanaman yang bunganya mekar pada malam hari. Di berbagai ekosistem, serangga ini menjadi bagian dari rantai makanan dan menyediakan sumber protein bagi kelelawar, burung, ikan, reptil, serta mamalia kecil.
Keragaman jenis ngengat juga dapat menjadi penanda perubahan lingkungan. Hewan ini hidup di berbagai ekosistem, mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Karena itu, mengenali setiap spesies baru bukan hanya soal memberi nama. Penemuan tersebut membantu ilmuwan memahami peran masing-masing ngengat, baik sebagai penyerbuk, bagian dari rantai makanan, maupun sebagai spesies yang perlu diantisipasi dampaknya terhadap pertanian.
Saat sebagian besar warga terlelap, Jumawan justru menyusuri pantai. Lelaki berusia 33 tahun itu mencari jejak penyu yang naik ke daratan untuk bertelur. Sejak 2019, kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmennya menjaga penyu di pesisir Cilacap, Jawa Tengah.
Jumawan kini memimpin Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja. Dalam patroli malam dan pagi hari, dia menemukan tiga titik di sekitar Pantai Sodong yang kerap menjadi tempat penyu lekang bertelur. Jika sarang berada di lokasi berbahaya, telur-telur dipindahkan ke tempat penetasan yang lebih aman.
Sekali bertelur, seekor penyu rata-rata menghasilkan sekitar 116 butir. Namun, tidak semuanya berhasil menetas. Tingkat keberhasilan penetasan umumnya sekitar 70 persen. Suhu pasir yang tidak sesuai, mikroorganisme, predator, dan gangguan manusia dapat menyebabkan telur gagal berkembang.
Musim penyu bertelur di Cilacap berlangsung antara April hingga September. Puncaknya terjadi pada Juni dan Juli, ketika musim kemarau berlangsung dan gelombang laut relatif lebih stabil. Penyu biasanya naik saat air pasang tertinggi, mulai sore hingga malam, lalu membutuhkan waktu sekitar 45–70 menit untuk menggali sarang dan meletakkan telur.
Vegetasi pantai ikut menentukan keselamatan telur dan tukik. Pandan laut memberi keteduhan, sementara rumput lari dapat menjadi tempat berlindung tukik dari predator. Katang-katang dan pohon kelapa juga menjadi bagian penting dari habitat alami penyu di pantai.
Perjalanan Jumawan tidak selalu mudah. Pada 2019, pengambilan telur penyu masih dilakukan warga. Telur dijual seharga Rp3-5 ribu per butir karena dipercaya dapat meningkatkan stamina orang dewasa. Banyak warga ketika itu belum memahami bahwa penyu merupakan satwa yang dilindungi.
Jumawan bahkan pernah membeli 50 telur penyu yang ditawarkan melalui Facebook. Telur tersebut tidak dikonsumsi, melainkan ditetaskan untuk kemudian dilepas kembali ke laut. Pada akhir 2019, ia mulai membentuk kelompok konservasi serta membangun kawasan edukasi yang bisa dikunjungi pelajar dan masyarakat tanpa tiket masuk. Pengunjung hanya dapat memberikan donasi sukarela untuk membantu kegiatan operasional.
Tiga tahun lalu, Jumawan juga menerima 90 telur penyu sisik dari nelayan. Telur-telur itu berhasil menetas. Sebagian tukik kemudian dilepaskan, termasuk seekor penyu bernama Patrick. Namun, Patrick kembali ke pantai pada hari berikutnya. Jumawan pun merawatnya di tempat karantina sampai benar-benar siap, sebab penyu hasil pemeliharaan tidak dapat dilepas sembarangan.
Upaya konservasi ini menghadapi tantangan lain, mulai dari tambak udang dan limbah yang tidak diolah, cahaya terang di sekitar pantai, aktivitas manusia, hingga perubahan iklim. Semua itu dapat mengganggu penyu mencari tempat bertelur dan memengaruhi perkembangan telur di dalam pasir.
Di tengah berbagai ancaman tersebut, patroli Jumawan terus berlangsung. Setiap telur yang dipindahkan ke tempat aman dan setiap tukik yang kembali ke laut menjadi bagian dari upaya panjang mempertahankan kehidupan penyu di pesisir Cilacap.
Foto utama: Jumawan menunjukkan penyu hijau di Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia.
Sorgum bukan tanaman baru bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur. Tanaman pangan ini telah lama dibudidayakan petani setempat, terutama di daerah kering dan berbatu. Di tengah ancaman iklim dan krisis pangan, sorgum kembali dilihat sebagai bahan pangan yang berpotensi dikembangkan.
Pegiat sorgum asal Flores Timur, Maria Loretha, menyebut tanaman ini lebih tahan menghadapi krisis iklim dibandingkan padi dan jagung. Ketika terkena banjir atau angin kencang, batang jagung dapat patah. Sementara batang sorgum yang patah masih dapat tumbuh kembali.
Kemampuan tersebut membuat sorgum cocok dengan kondisi alam di sejumlah wilayah NTT. Meski demikian, pengembangannya tetap perlu dilakukan secara terarah. Menurut Maria, tidak seluruh wilayah NTT harus ditanami sorgum. Pemerintah perlu menentukan kawasan yang menjadi prioritas.
Sorgum juga memiliki nilai ekonomi bagi petani. Harga jualnya dapat mencapai hampir dua kali lipat harga jagung. Namun, pengembangan komoditas ini membutuhkan dukungan berupa mesin perontok, mesin sosoh, serta pihak yang menjamin hasil panen dapat diserap pasar.
Selain tahan tumbuh di lahan kering, sorgum memiliki potensi sebagai sumber pangan. Koalisi Pangan BAIK yang bekerja di Manggarai Timur, Flores Timur, dan Lembata menyebut tanaman ini memiliki struktur kompleks seperti pati, asam fenolat, dan antioksidan.
Berdasarkan uji laboratorium yang mereka lakukan, sorgum juga kaya serat dan bebas gluten. Sorgum juga ramah dikonsumsi penyintas diabetes.
Potensi sorgum tidak hanya terbatas sebagai makanan lokal. Tanaman ini juga dipandang dapat menjadi pengganti gandum untuk industri mie dan roti. Pemerintah mendorong pengembangannya jika Indonesia terdampak kebijakan larangan ekspor gandum dari sejumlah negara produsen.
Sorgum disebut secara genetik masih satu keluarga dengan gandum. Karena itu, pengembangan produksinya diharapkan dapat membantu menyediakan bahan baku alternatif bagi industri pangan yang selama ini memakai gandum.
Sorgum telah dikembangkan pada lahan seluas sekitar 15 ribu hektar. Wilayahnya mencakup Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Lampung.
Tingkat hasil panennya berbeda antarwilayah. Di NTT, produktivitas sorgum berada pada kisaran tiga hingga empat ton per hektar. Sementara di Jawa, hasilnya dapat mencapai empat hingga lima ton per hektar.
Pemerintah Provinsi NTT juga merencanakan pengembangan sorgum dalam skala lebih besar. Sekitar 800 ribu hektar lahan akan disiapkan, sementara 15 kabupaten diproyeksikan memanfaatkan masing-masing 100 hektar untuk budidaya.
Namun, produksi saja tidak cukup. Petani akan mempertimbangkan biaya penanaman dan pendapatan yang diperoleh. Karena itu, diperlukan benih unggul, peralatan pengolahan, serta kepastian pembeli agar hasil panen tidak berhenti di tingkat petani.
Sorgum memiliki sejumlah modal penting: telah lama dikenal petani NTT, mampu tumbuh di daerah kering berbatu, lebih tahan terhadap perubahan cuaca, dan dapat diolah sebagai pengganti gandum. Dengan dukungan budidaya, pengolahan, dan pasar, tanaman ini berpotensi menjadi pilihan sumber pangan Indonesia.
Artikel asli ditulis oleh Ebed de Rosary.
Di pesisir Pulau Karas, Kota Batam, Kepulauan Riau, deretan kayu ditancapkan ke dasar laut dan disusun menyerupai pagar. Di antara kayu-kayu tersebut terpasang jaring berbentuk segitiga dengan ukuran berbeda. Bangunan sederhana ini disebut kelong cacak, alat tangkap tradisional yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan dan cumi.
Kelong cacak dipasang pada jalur arus surut air laut. Ketika mengikuti arus, ikan masuk melalui bagian bernama bunuh luar yang terletak di antara dua sayap kelong. Dari sana, ikan bergerak menuju bunuh pari dan akhirnya terperangkap di bunuh mati.
Setelah ikan terkumpul, nelayan dapat mengambilnya dengan menarik jaring atau menyelam. Busri, nelayan Pulau Karas, lebih memilih menyelam untuk mengambil ikan dan cumi dari kelong miliknya.
Kelong cacak terdiri dari beberapa bagian, yaitu atas penajur, beremban sayap kiri dan kanan, bunuh luar, bunuh pari, bunuh mati, serta kayu bontot. Kayu-kayunya harus disusun menggunakan cara khusus agar tetap kuat ketika terkena arus laut maupun dinaiki nelayan.
Nelayan pesisir Batam biasanya memasang kelong menjelang musim ikan dingkis, sekitar November. Harga ikan tersebut dapat meningkat hingga 100 persen pada musimnya. Modal untuk membangun kelong cacak berkisar Rp6-10 juta.
Hasil tangkapannya tidak selalu sama. Dalam sekali panen, Busri dapat memperoleh sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Saat bukan musim ikan dingkis, hasil dari kelong digunakan untuk memenuhi kebutuhan belanja sehari-hari.
Sebuah penelitian dari Universitas Riau Kepulauan pada 2022 menyebut kelong sebagai alat tangkap ramah lingkungan sekaligus bentuk kearifan lokal. Kelong tidak hanya menjadi alat untuk memperoleh ikan, tetapi juga bagian dari cara masyarakat pesisir mengatur pemanfaatan ruang laut.
Lokasi pemasangan kelong harus mendapat izin dari desa. Setelah izin diperoleh, tempat tersebut menjadi hak khusus nelayan yang memasangnya. Jika pemilik tidak lagi menggunakan lokasi itu, orang lain yang ingin memanfaatkannya harus meminta izin kepada pemilik sebelumnya.
Dedi Supriadi Adhuri, peneliti BRIN, mengatakan praktik tersebut menunjukkan adanya sistem tenurial khusus yang diakui oleh masyarakat setempat. Artinya, masyarakat pesisir memiliki aturan sendiri mengenai siapa yang berhak menggunakan bagian tertentu dari perairan.
Tradisi mendirikan kelong juga telah lama dikenal masyarakat Melayu Kepulauan Riau. Di Kampung Malang Rapat, Kabupaten Bintan, terdapat rangkaian upacara mulai dari meramu kayu, doa selamat, hingga tepung tawar. Keseluruhannya disebut upacara mendirikan atau menyacak kelong, yaitu menancapkan kayu-kayu ke dasar laut.
Pendirian kelong dilakukan melalui gotong royong. Catatan sejarah menunjukkan tradisi ini telah berlangsung setidaknya sejak abad ke-19. Pada masa Kesultanan Riau Lingga, Mahkamah Kerajaan telah menerbitkan surat izin untuk usaha kelong.
Kelong cacak memperlihatkan bagaimana alat tangkap, tradisi, dan aturan masyarakat bertemu dalam satu praktik. Jaring dan susunan kayunya menangkap ikan dengan memanfaatkan arus laut, sementara pemasangannya mengikuti izin serta kesepakatan yang berlaku di tengah masyarakat.
Foto utama: Busri menangkap ikan di kelong cacak miliknya di pesisir Pulau Karas, Kota Batam, Kepri. Foto: Yogi Eka Sahputra/Mongabay Indonesia.
Namanya mungkin belum sepopuler jati atau mahoni. Namun, resak brebes merupakan salah satu kekayaan tumbuhan Pulau Jawa yang keberadaannya semakin terancam. Pohon bernama ilmiah Vatica javanica ssp. javanica ini merupakan tumbuhan endemik Jawa.
Resak brebes juga dikenal dengan nama kruing laki dan pelahlar laki. Ukurannya tergolong kecil hingga sedang. Tingginya dapat mencapai 27 meter dengan diameter batang setinggi dada sekitar 25 sentimeter.
Batangnya memiliki ciri khas berupa permukaan berwarna putih keabuan atau cokelat keabuan. Batangnya lurus dengan garis-garis mendatar yang melingkar. Sementara rantingnya ditutupi bulu-bulu halus yang rapat.
Kayu resak brebes dikenal keras dan kuat. Karakter tersebut membuatnya berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi, seperti untuk rumah dan jembatan, bahkan untuk membuat ukiran.
Sayangnya, keberadaan pohon ini terus mengalami tekanan. Buku “Daftar Merah 50 Jenis Pohon Kayu Komersial” yang diterbitkan Pusat Penelitian Biologi LIPI, kini BRIN, menyebut populasinya diperkirakan menurun hingga 50 persen dalam kurun 100 tahun. Kualitas habitatnya juga mengalami penurunan.
Ancaman utamanya datang dari perubahan hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, dan permukiman yang terjadi secara masif di Pulau Jawa. Kondisi tersebut membuat habitat resak brebes semakin terdesak dan populasinya menurun.
Gambaran keberadaannya dapat dilihat di Desa Capar, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Pada Oktober 2021, komunitas Biologi Satu melakukan ekspedisi selama tiga bulan untuk mendata populasi resak brebes, mencatat ancaman, sekaligus mengenalkan pentingnya pelestarian pohon ini kepada masyarakat.
Pengamatan dilakukan pada delapan plot berukuran masing-masing 20 × 20 meter. Hasilnya, ekspedisi mendata 260 individu per hektare. Peneliti juga mencatat 200 seedling atau anakan pohon dengan tinggi kurang dari 150 sentimeter.
Namun, jumlahnya menurun pada tahap pertumbuhan berikutnya. Hanya tercatat 19 sapling atau pohon muda dengan tinggi lebih dari 150 sentimeter dan diameter 5–10 sentimeter. Sementara pohon pada kategori tiang dengan diameter 10–20 sentimeter hanya ditemukan sebanyak 15 individu.
Di lokasi tersebut, ancaman yang ditemukan antara lain penebangan kayu gelondongan dan pembukaan lahan. Habitat resak brebes juga terbilang kecil. Sebagian lahan dibuka masyarakat untuk dijadikan kebun kopi karena dinilai lebih produktif dan memberikan keuntungan ekonomi.
Upaya penyelamatan terus dilakukan. Setelah ekspedisi selesai, komunitas Biologi Satu melakukan kampanye ke sekolah-sekolah, pemerintah desa, dan melalui media sosial. Mereka juga menjalankan program adopsi pohon di Desa Capar serta penggalangan dana untuk mendukung kegiatan konservasi.
Ancaman yang dihadapi resak brebes juga menggambarkan persoalan pohon langka lainnya. Pemanfaatan berlebihan dan penyempitan habitat dapat menekan populasinya. Kerusakan habitat juga dapat menurunkan variasi genetik dan kesehatan jenis pohon.
Regenerasi pohon bahkan berhubungan dengan keberadaan satwa yang membantu penyerbukan bunga dan penyebaran biji. Ketika lingkungan dan habitat satwa ikut rusak, proses regenerasi pohon menjadi semakin sulit.
Resak brebes mungkin hanya satu jenis pohon di antara tingginya keanekaragaman tumbuhan Indonesia. Namun, karena hanya hidup alami di Jawa, hilangnya pohon ini berarti hilangnya salah satu tumbuhan endemik Pulau Jawa.
Foto utama: Pohon sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, satwa, dan Bumi tempat kita hidup. Foto: Rhett Butler/Mongabay.

