<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/author/asadasnawi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/author/asadasnawi/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 12 May 2026 00:40:20 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Menagih Keseriusan Pemerintah Pulihkan Alam Pasca Bencana Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/12/menagih-keseriusan-pemerintah-pulihkan-alam-pasca-bencana-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/12/menagih-keseriusan-pemerintah-pulihkan-alam-pasca-bencana-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>12 Mei 2026 00:39:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[pencemarna]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/06064725/Bencana-Batang-Toru-BNPB-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127692</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Belajar dari Bencana Sumatera]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bencana Sumatera sudah enam bulan berlalu, tetapi dampaknya masih berlangsung hingga saat ini. Nasib ribuan warga terdampak masih terombang-ambing dalam ketidakpastian hak dasar pasca bencana. Hunian belum pasti, krisis air bersih, akses jalan yang hancur hingga ancaman bencana susulan karena aktivitas ekstraktif masih terus terjadi. Kondisi ini membuat pemulihan pasca dianggap mengkhawatirkan dan terkesan lambat. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/12/menagih-keseriusan-pemerintah-pulihkan-alam-pasca-bencana-sumatera/">Menagih Keseriusan Pemerintah Pulihkan Alam Pasca Bencana Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bencana Sumatera sudah enam bulan berlalu, tetapi dampaknya masih berlangsung hingga saat ini. Nasib ribuan warga terdampak masih terombang-ambing dalam ketidakpastian hak dasar pasca bencana. Hunian belum pasti, krisis air bersih, akses jalan yang hancur hingga ancaman bencana susulan karena aktivitas ekstraktif masih terus terjadi. Kondisi ini membuat pemulihan pasca dianggap mengkhawatirkan dan terkesan lambat. Berbagai kalangan mengingatkan pemerintah untuk restorasi alam dan pemulihan ruang ekonomi masyarakat terdampak seperti lahan pertanian maupun perkebunan dan sarana pendukungnya. Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) mendesak daerah yang terkena bencana jadi episentrum restorasi alam antara lain, restorasi DAS dan pemulihan lahan longsor. Langkah ini, bahkan berpotensi besar menyerap tenaga kerja lokal dalam skala masif. Di tengah bencana, ladang pertanian, seperti kopi dan kelapa menunjukkan resiliensi luar biasa. Seharusnya ini menjadi kompas bagi pemerintah dalam menyusun ulang peta jalan ekonomi rakyat. Untuk itu, dia menawarkan langkah konkret dengan mendesak realisasi anggaran lebih berani. Dari sisi pemulihan ekonomi warga, kata Bhima, perbaikan irigasi dan sarana distribusi menuju ke kebun-kebun rakyat lebih mendesak ketimbang memfasilitasi jalur logistik industri ekstraktif. Dia bilang, perlu memperbesar skala rehabilitasi pertanian. Jika perlu, ambil 20% dari anggaran makan bergizi gratis (MBG) untuk memulihkan ladang rakyat. “Kita harus membangun ulang sentra produksi kopi dan kelapa, lengkap dengan hilirisasi dan jalur logistik yang murah di tingkat lokal,” katanya. Riset Celios kerugian ekonomi akibat bencana ini mencapai Rp68,67 triliun.  Sedangkan BNPB, memperkirakan total kebutuhan anggaran pemulihan bencana ini mencapai Rp51,82 triliun. Bhima bilang, kondisi ini sebagai ancaman permanen bagi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/12/menagih-keseriusan-pemerintah-pulihkan-alam-pasca-bencana-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/12/menagih-keseriusan-pemerintah-pulihkan-alam-pasca-bencana-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nanaimoteuthis haggarti: Gurita Raksasa Terbesar dalam Sejarah dengan Panjang hingga 19 Meter</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/11/nanaimoteuthis-haggarti-gurita-raksasa-terbesar-dalam-sejarah-dengan-panjang-hingga-19-meter/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/11/nanaimoteuthis-haggarti-gurita-raksasa-terbesar-dalam-sejarah-dengan-panjang-hingga-19-meter/#respond</comments>
					<pubDate>11 Mei 2026 14:13:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/11140646/giant-octopus-nanaimoteuthis-reconstruction-full-width-pr-no-reuse.jpg.thumb_.1920.1920-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127677</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jauh sebelum manusia mengenal lautan, pada masa Kapur Akhir ketika dinosaurus non-avian masih mendominasi daratan, perairan dalam Samudra Pasifik Utara kuno menyimpan predator yang hingga kini sulit dibayangkan skalanya. Nanaimoteuthis haggarti; gurita bersirip dari ordo Cirrata, diestimasi mencapai panjang total 7 hingga 19 meter berdasarkan analisis fosil rahangnya. Batas atas estimasi tersebut menempatkannya sejajar dengan paus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/nanaimoteuthis-haggarti-gurita-raksasa-terbesar-dalam-sejarah-dengan-panjang-hingga-19-meter/">Nanaimoteuthis haggarti: Gurita Raksasa Terbesar dalam Sejarah dengan Panjang hingga 19 Meter</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jauh sebelum manusia mengenal lautan, pada masa Kapur Akhir ketika dinosaurus non-avian masih mendominasi daratan, perairan dalam Samudra Pasifik Utara kuno menyimpan predator yang hingga kini sulit dibayangkan skalanya. Nanaimoteuthis haggarti; gurita bersirip dari ordo Cirrata, diestimasi mencapai panjang total 7 hingga 19 meter berdasarkan analisis fosil rahangnya. Batas atas estimasi tersebut menempatkannya sejajar dengan paus sperma dewasa (Physeter macrocephalus), salah satu mamalia laut terbesar yang masih hidup, dan menjadikannya kandidat terkuat sebagai invertebrata non-kolonial terbesar dalam sejarah Bumi. Tim peneliti dari Natural History Museum London dan Universitas Hokkaido, yang dipimpin oleh Shin Ikegami, baru-baru ini mengonfirmasi keberadaan spesies ini. Studi yang dipublikasikan 23 April 2026 di jurnal Science ini menganalisis 27 fosil rahang yang ditemukan di Kanada dan Jepang, mengindikasikan bahwa gurita raksasa ini pernah menguasai perairan dalam di Samudra Pasifik Utara kuno. Nanaimoteuthis haggarti menunjukkan bahwa gurita mencapai ukuran sangat besar cukup awal dalam evolusinya. © Yohei Utsuki. Universitas Hokkaido N. haggarti bukan sekadar besar. Ia adalah predator puncak yang ditakuti. Di lautan yang sama, berenang pula mosasaurus; reptil laut raksasa sepanjang 17 meter. Keduanya kemungkinan bersaing memperebutkan mangsa yang sama: ikan-ikan besar dan hewan bercangkang keras yang melimpah di lautan saat itu. Buktinya ada di rahang fosilnya. Analisis yang dilakukan para peneliti menunjukkan keausan luar biasa pada rahang fosil; tanda bahwa gurita ini terbiasa menghancurkan mangsa bercangkang keras. Yang lebih mengejutkan, keausan di sisi kanan dan kiri rahang tidak sama. Ini mirip dengan kecenderungan &#8220;tangan dominan&#8221; yang kita kenal pada manusia, dan pada hewan seperti lumba-lumba serta primata. Dengan kata lain, N. haggarti kemungkinan bukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/nanaimoteuthis-haggarti-gurita-raksasa-terbesar-dalam-sejarah-dengan-panjang-hingga-19-meter/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/11/nanaimoteuthis-haggarti-gurita-raksasa-terbesar-dalam-sejarah-dengan-panjang-hingga-19-meter/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular mulai Hilang dari Hutan? Mungkin ini Tanda Bahaya yang Sering Diabaikan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/11/ular-mulai-hilang-dari-hutan-mungkin-ini-tanda-bahaya-yang-sering-diabaikan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/11/ular-mulai-hilang-dari-hutan-mungkin-ini-tanda-bahaya-yang-sering-diabaikan/#respond</comments>
					<pubDate>11 Mei 2026 09:21:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niko Wicaksana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/11091848/north_sumatra_0031-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127671</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Banyak orang merasa lega ketika tidak bertemu ular saat menjelajahi hutan. Namun bagi para peneliti dan herpetolog, reaksi itu justru terbalik — ketiadaan ular di suatu kawasan hutan bukan kabar baik, melainkan sinyal peringatan. Jika satwa yang selama ini dianggap menakutkan itu tidak lagi terlihat, bisa jadi ada sesuatu yang sedang berubah di ekosistem tersebut, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/ular-mulai-hilang-dari-hutan-mungkin-ini-tanda-bahaya-yang-sering-diabaikan/">Ular mulai Hilang dari Hutan? Mungkin ini Tanda Bahaya yang Sering Diabaikan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Banyak orang merasa lega ketika tidak bertemu ular saat menjelajahi hutan. Namun bagi para peneliti dan herpetolog, reaksi itu justru terbalik — ketiadaan ular di suatu kawasan hutan bukan kabar baik, melainkan sinyal peringatan. Jika satwa yang selama ini dianggap menakutkan itu tidak lagi terlihat, bisa jadi ada sesuatu yang sedang berubah di ekosistem tersebut, dan perubahannya belum tentu ke arah yang baik. Ular memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Lebih dari itu, kehadiran atau ketiadaannya dapat menjadi penunjuk tentang sehat atau tidaknya sebuah hutan. Saat ular mulai menghilang, bisa jadi hutan sedang mengirimkan pesan yang tidak boleh diabaikan. Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 350 spesies ular, mulai dari sanca kembang di hutan Kalimantan hingga berbagai spesies endemik yang hanya bisa ditemukan di satu pulau saja. Dalam jaring makanan, ular bekerja di beberapa lapisan sekaligus. Mereka memangsa tikus, katak, kadal, dan burung kecil, sekaligus menjadi mangsa bagi elang, biawak, dan mamalia besar. Ketika populasi ular turun, tikus dan hewan pengerat lain bisa meledak jumlahnya tanpa pengendali alami, yang berujung pada kerusakan pertanian dan potensi penyebaran zoonosis. Ular gadung (Ahaetulla prasina), salah satu ular tak berbisa yang mudah dijumpai di tepi hutan hingga taman dekat permukiman. Foto oleh Rhett A. Butler/Mongabay Penurunan populasi ular tidak hanya berdampak pada spesies yang memangsa ular, tapi juga berdampak di berbagai lapisan rantai makanan. Ada juga peran yang lebih tak terduga: ketika ular menelan hewan pengerat yang sebelumnya menyimpan biji di tubuhnya, biji-biji itu bisa keluar melalui kotoran dalam kondisi utuh, sehingga ular&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/ular-mulai-hilang-dari-hutan-mungkin-ini-tanda-bahaya-yang-sering-diabaikan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/11/ular-mulai-hilang-dari-hutan-mungkin-ini-tanda-bahaya-yang-sering-diabaikan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Kepiting Berjalan Miring? Hasil Evolusi 200 Juta Tahun Lalu Buktinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/11/mengapa-kepiting-berjalan-miring-hasil-evolusi-200-juta-tahun-lalu-buktinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/11/mengapa-kepiting-berjalan-miring-hasil-evolusi-200-juta-tahun-lalu-buktinya/#respond</comments>
					<pubDate>11 Mei 2026 07:57:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/25053856/Salah-satu-indukan-kepiting-bakau-di-di-Hatchery-Instalasi-Guntung-yang-banyak-berasal-dari-wilayah-mangrove-tersisa-di-pesisir-timur-Pulau-Bangka.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127666</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mengapa kepiting (Branchyura) berjalan miring? Ilmu pengetahuan telah menemukan jawabannya. Sendi kaki kepiting tersusun sedemikian rupa sehingga lebih mudah digerakkan ke samping ketimbang ke depan. Ini memungkinkan kepiting membuat gerakan ke samping lebih panjang dan cepat dibandingkan jika harus bergerak ke depan. Sehingga, saat melarikan diri dari ancaman predator, kepiting lebih efektif bergerak ke samping [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/mengapa-kepiting-berjalan-miring-hasil-evolusi-200-juta-tahun-lalu-buktinya/">Mengapa Kepiting Berjalan Miring? Hasil Evolusi 200 Juta Tahun Lalu Buktinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mengapa kepiting (Branchyura) berjalan miring? Ilmu pengetahuan telah menemukan jawabannya. Sendi kaki kepiting tersusun sedemikian rupa sehingga lebih mudah digerakkan ke samping ketimbang ke depan. Ini memungkinkan kepiting membuat gerakan ke samping lebih panjang dan cepat dibandingkan jika harus bergerak ke depan. Sehingga, saat melarikan diri dari ancaman predator, kepiting lebih efektif bergerak ke samping daripada mundur atau memutar tubuh. Kepiting merupakan infraordo Decapoda yang mencakup hampir semua kepiting yang kita kenal. Termasuk yang hadir di meja makan, kepiting bakau dan rajungan. Kepiting memiliki karapas lebar dengan abdomen pendek, serta 4 pasang kaki dan 1 pasang capit. Artikel berjudul “Evolution of sideways locomotion in crabs,” menerangkan bahwa kepiting hampir semuanya bergerak menyamping. Kepiting memiliki lebih dari 7.904 spesies, jauh lebih banyak dari kerabat dekatnya seperti Astacidea (lobster bercapit, udang karang). Habitatnya beragam, dari laut dangkal, air tawar, daratan, hingga laut dalam. Indukan kepiting bakau di fasilitas budidaya di pesisir timur Pulau Bangka. Foto: Nopri Ismi Mongabay Indonesia. Sejak kapan kepiting mulai bergerak ke samping? Pertanyaan inilah yang ingin dijawab oleh sekelompok peneliti yang bekerja untuk institusi Jepang, Taiwan, dan Amerika. “Asal-usul evolusi dari perilaku unik ini belum diketahui. Prevalensi pergerakan menyamping mencerminkan asal evolusi tunggal dari nenek moyang yang bergerak maju,” tulis Yuuki Kawabata bersama rekan, dalam artikel yang diterbitkan di eLife itu. Menurut mereka, dari 50 spesies kepiting yang dipelajari, pergerakan kepiting dapat dipisahkan menjadi dua jenis. Yaitu, bergerak maju dan menyamping. Menariknya, tidak ada yang berada di antara keduanya sekaligus. Dari analisis perbandingan filogenetik atau berdasarkan sejarah evolusinya,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/mengapa-kepiting-berjalan-miring-hasil-evolusi-200-juta-tahun-lalu-buktinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/11/mengapa-kepiting-berjalan-miring-hasil-evolusi-200-juta-tahun-lalu-buktinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Derita Warga Buntut Karut Marut Pemerintah Urus Tanah buat Tambang Batubara di Kotabaru</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/11/derita-warga-buntut-karut-marut-pemerintah-urus-tanah-buat-tambang-batubara-di-kotabaru/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/11/derita-warga-buntut-karut-marut-pemerintah-urus-tanah-buat-tambang-batubara-di-kotabaru/#respond</comments>
					<pubDate>11 Mei 2026 04:30:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/10065931/Kondisi-di-sekitar-lahan-Anton-Timur-dan-Abdul-Muthalib-yang-telah-rusak-akibat-aktivitas-pertambangan.-Foto_-Riyad-Dafhi-Rizki_Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127623</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, komunitas lokal, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Karut marut tata kelola pertanahan di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), kembali mencuat di permukaan. Setelah Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (Kanwil BPN) membatalkan sepihak 717 tanah transmigran bersertifikat hak milik (SHM), pencaplokan lahan warga untuk tambang batubara terus terjadi. Haris Fadillah dan Yoni Gunawan, pasangan suami-istri dari Desa Megasari, Kecamatan Pulau Laut Utara ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/derita-warga-buntut-karut-marut-pemerintah-urus-tanah-buat-tambang-batubara-di-kotabaru/">Derita Warga Buntut Karut Marut Pemerintah Urus Tanah buat Tambang Batubara di Kotabaru</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Karut marut tata kelola pertanahan di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), kembali mencuat di permukaan. Setelah Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (Kanwil BPN) membatalkan sepihak 717 tanah transmigran bersertifikat hak milik (SHM), pencaplokan lahan warga untuk tambang batubara terus terjadi. Haris Fadillah dan Yoni Gunawan, pasangan suami-istri dari Desa Megasari, Kecamatan Pulau Laut Utara ini mendapati tanah kena garuk PT Sebuku Tanjung Coal (STC). Padahal, lahan yang dia beli 2020 itu merupakan investasi yang mereka jadikan kebun. Awalnya, mereka beli tanah 28.000 meter² Rp110 juta dengan status masih segel. Kemudian, mereka tanami 350.000 bibit porang dan puluhan pohon pinus dan pisang. Modalnya, dari pinjaman bank Rp2,7 miliar dengan masa cicil tiga tahun. Rumah dan tanah mereka di Banjarbaru jadi jaminannya. &#8220;Tanaman porang itu akan panen dalam empat tahun. Hasilnya, kami hitung cukup untuk melunasi hutang di bank,&#8221; kata Yoni, pertengahan Maret. Awal 2023, kebun itu menunjukkan hasil. Tanaman tumbuh subur, bahkan sebagian menghasilkan umbi kembar. Kebahagian buyar ketika STC klaim sebagian lahan masuk konsesi perusahaan batubara ini. “Seingat saya, 11 Oktober 2022, saya pertama kali mendapat pesan dari orang perusahaan. Mereka bilang kalau tanah saya masuk IUP (izin usaha pertambangan),” kata perempuan 36 tahun itu. Kabar itu membuatnya kaget. Sejak 2021, dia  mengajukan peningkatan status tanah ke Kanwil BPN Kotabaru, dari segel menjadi SHM. tetapi, sampai perusahaan datang, proses tak kunjung jalan. “Pada 2022, saya diminta membayar pajak dan berbagai keperluan lainnya. Setelah semua dipenuhi, proses juga tetap tidak berjalan. Mungkin karena masuk dalam IUP itu.” Perusahaan, katanya, sempat menawarkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/derita-warga-buntut-karut-marut-pemerintah-urus-tanah-buat-tambang-batubara-di-kotabaru/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/11/derita-warga-buntut-karut-marut-pemerintah-urus-tanah-buat-tambang-batubara-di-kotabaru/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gerakan Tanam Mangrove di Biak: Peran Mama-Mama dan Ingatan Tsunami 1996</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/11/gerakan-tanam-mangrove-di-biak-peran-mama-mama-dan-ingatan-tsunami-1996/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/11/gerakan-tanam-mangrove-di-biak-peran-mama-mama-dan-ingatan-tsunami-1996/#respond</comments>
					<pubDate>11 Mei 2026 02:26:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ridzki R Sigit]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/11021323/BIAK-31-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127649</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, solusi iklim, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Efraim Rumkoren (45) masih menyimpan ingatan yang sulit dihapus: saat desanya diterjang “banjir dari laut” yang belakangan ia kenali sebagai tsunami. Usianya saat itu sekitar 15 tahun. Dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama ketika gelombang itu datang tanpa aba-aba. Peristiwa tsunami yang berpusat di pantai utara pulau Biak, pulau-pulau di sekitarnya itu terjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/gerakan-tanam-mangrove-di-biak-peran-mama-mama-dan-ingatan-tsunami-1996/">Gerakan Tanam Mangrove di Biak: Peran Mama-Mama dan Ingatan Tsunami 1996</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Efraim Rumkoren (45) masih menyimpan ingatan yang sulit dihapus: saat desanya diterjang “banjir dari laut” yang belakangan ia kenali sebagai tsunami. Usianya saat itu sekitar 15 tahun. Dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama ketika gelombang itu datang tanpa aba-aba. Peristiwa tsunami yang berpusat di pantai utara pulau Biak, pulau-pulau di sekitarnya itu terjadi pada tanggal 17 Februari 1996. Gempa utama terjadi kira-kira pukul 12.59 WIT, dengan kekuatan sekitar 8,2 Moment Magnitude (Mw), akibat aktivitas tektonik lempeng Samudera Pasifik. Di beberapa tempat di lokasi pesisir, ketinggian gelombang mencapai hingga tinggi 7 meter. Dalam kepanikan di sore itu, Efraim mencari tempat tertinggi yang bisa ia jangkau. Dia menemukan sebatang pohon, lalu bersama saudaranya, dia memanjat hingga sekitar sepuluh meter. Di atas sana, mereka bertahan berjam-jam, menunggu air surut. Ketika gelombang akhirnya mereda, ia turun dan menyaksikan wajah kampungnya, Kampung Tanjung Barari—yang oleh warga juga disebut Menurwar—Distrik Oridek, Kabupaten Biak Numfor, Papua telah berubah. Banyak kerusakan terjadi, meski syukurnya tidak ada korban jiwa. Peristiwa itu tertanam kuat dalam ingatannya—bukan sekadar sebagai bencana, tetapi sebagai titik balik yang kelak membentuk cara pandangnya terhadap alam. Efraim Rumkoren, salah satu tokoh masyarakat dan penggagas restorasi mangrove di Tanjung Barari, Biak Numfor. Foto: Ridzki R SIgit/Mongabay Indonesia Tiga puluh tahun berselang, sebagai saksi sejarah kampungnya, Efraim melihat perubahan yang tak kalah mengkhawatirkan. Garis pantai bergeser semakin masuk ke daratan. Di depan Gereja Kristen Injili (GKI) Jemaat Bahtera Injili, ia memperkirakan pergeseran itu mencapai sekitar 30 meter. Abrasi itu nyata. Dia pun mulai menghubungkan antara bencana&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/gerakan-tanam-mangrove-di-biak-peran-mama-mama-dan-ingatan-tsunami-1996/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/11/gerakan-tanam-mangrove-di-biak-peran-mama-mama-dan-ingatan-tsunami-1996/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Runtuhnya Kejayaan Budidaya Rumput Laut Tinanggea Karena Nikel</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/11/runtuhnya-kejayaan-budidaya-rumput-laut-tinanggea-karena-nikel/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/11/runtuhnya-kejayaan-budidaya-rumput-laut-tinanggea-karena-nikel/#respond</comments>
					<pubDate>11 Mei 2026 01:00:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Risman Hermawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/30043323/Roon_LMMA3-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127544</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>La Ode Baharuddin,  baru saja pulang dari laut. Lumpur membalut punggung kaki sampai betis seusai mencari burungo atau keong bakau (Telescopium telescopium) di Desa Akuni, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Pekerjaan itu dia tekuni sejak budi daya rumput laut, yang dulu menyejahterakan warga, mulai meredup sejak lima tahun lalu akibat limbah industri nikel.  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/runtuhnya-kejayaan-budidaya-rumput-laut-tinanggea-karena-nikel/">Runtuhnya Kejayaan Budidaya Rumput Laut Tinanggea Karena Nikel</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[La Ode Baharuddin,  baru saja pulang dari laut. Lumpur membalut punggung kaki sampai betis seusai mencari burungo atau keong bakau (Telescopium telescopium) di Desa Akuni, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Pekerjaan itu dia tekuni sejak budi daya rumput laut, yang dulu menyejahterakan warga, mulai meredup sejak lima tahun lalu akibat limbah industri nikel.  “Sudah ada beberapa tahun agar (rumput laut) tidak bagus (panen), setelah ada tambang ini,” kata Baharuddin. Sudah tiga tahun terakhir, budidaya rumput lautnya tak menghasilkan. Saat hujan turun, warna air laut menguning, rumput laut tak berkembang dan petani merugi. Sejak 2017, budidaya rumput laut di desa ini mulai menurun dugaan dampak limbah tambang nikel.  Petani pun mengeluhkan penampungan ore nikel di bibir pantai, aktivitas bongkar muat dan lalu lalang kapal. Hingga kini, tak ada solusi.  Sejak pendapatan terus menurun, Baharuddin pun mulai menjelajahi lumpur di sekitar pohon bakau untuk mencari burungo atau keong bakau (Telescopium telescopium).  “Burungo banyak, tetapi setengah mati. Tertanam kaki, (karena) jalannya di lumpur,” katanya.  Dia mencari dan menjual burungo untuk biaya hidup sehari-hari, sama seperti sebagian masyarakat pesisir Tinanggea yang berhenti budi daya rumput laut. Pelampung dan tali rumput laut telah lama disimpan dan diikat pada tiang rumah suku Bajo di Desa Bungin Permai. Sudah lama mereka tidak menggunakannya. Foto: La Ode Risman Hermawan/ Mongabay Indonesia Mayoritas pencari burungo di Tinanggea biasa menjual daging setelah diolah atau dimasak  Rp20.000 per kilogram. Burungo yang Baharuddin jual burango segar dengan hanya memecahkan cangkangnya. Harga Rp3.000-Rp5.000 per kg. Hasil penjualan tak cukup untuk memenuhi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/11/runtuhnya-kejayaan-budidaya-rumput-laut-tinanggea-karena-nikel/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/11/runtuhnya-kejayaan-budidaya-rumput-laut-tinanggea-karena-nikel/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pendanaan ‘Hijau’ di Balik Industri Nikel Pulau Obi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/10/pendanaan-hijau-di-balik-industri-nikel-pulau-obi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/10/pendanaan-hijau-di-balik-industri-nikel-pulau-obi/#respond</comments>
					<pubDate>10 Mei 2026 23:38:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rabul Sawal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/11/22010316/kawasi-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127639</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Demam Nikel]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Halmahera Selatan dan maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, pangan, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pingkan berusia 1,5 tahun saat kena serangan sesak napas kali pertama,  delapan tahun lalu. Ibunya, Lily, panik. Dia bolak balik ke Pustu dan klinik perusahaan mencari obat untuk anaknya. Di Pustu, obat sesak napas tidak ada, di klinik perusahaan, kena tolak karena suaminya bukan pekerja tambang. “Puji Tuhan, dia masih umur panjang. Saya cari obat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/10/pendanaan-hijau-di-balik-industri-nikel-pulau-obi/">Pendanaan ‘Hijau’ di Balik Industri Nikel Pulau Obi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pingkan berusia 1,5 tahun saat kena serangan sesak napas kali pertama,  delapan tahun lalu. Ibunya, Lily, panik. Dia bolak balik ke Pustu dan klinik perusahaan mencari obat untuk anaknya. Di Pustu, obat sesak napas tidak ada, di klinik perusahaan, kena tolak karena suaminya bukan pekerja tambang. “Puji Tuhan, dia masih umur panjang. Saya cari obat sampe dapa, kong kase minum,” cerita Lily kepada saya, pada 13 April lalu. Sejak saat itu, setiap satu atau dua bulan, Pingkan sesak napas. “Karena memang di sini badebu sekali. Debu dari jalan, dari alat-alat berat, dari tambang, dari batubara, samua ada di sini.” Lily tinggal di Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Perubahan lingkungan masif di kampung itu membuat dia harus  merawat dan melindungi anak-anaknya dari penyakit, terutama Pingkan yang sesak napas sejak kecil. Diagnosanya, Pingkan mengidap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sejak saat itu, Lily menyiapkan berbagai peralatan medis di rumah. Dia menggambarkan rumahnya seperti “apotek.” Sebuah lemari terisi penuh obat-obatan, infus, suntik, hingga nebulizer, alat bantu pernapasan. Dia belajar mandiri gunakan peralatan itu untuk pertolongan awal anaknya. “Saat dia sesak napas, langsung saya kase obat. Kalu kondisi makin parah, saya bawa ke rumah sakit di Bacan. Kalau hanya berharap di Pustu, anak akan susah sembuh. Obat susah. Puskesmas deng rumah sakit juga jauh. Butuh biaya basar kalau bolak-balik.” Kini usianya sudah 10 tahun, penyakit asma masih sering kambuh. Sejak masuk sekolah dasar, Lily berhenti beri obat-obat sintesis karena khawatir anaknya overdosis. “Dari kecil dia minum obat kimia turus jadi saya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/10/pendanaan-hijau-di-balik-industri-nikel-pulau-obi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/10/pendanaan-hijau-di-balik-industri-nikel-pulau-obi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil Soroti Proyek Kredit Plastik </title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/10/koalisi-organisasi-masyarakat-sipil-soroti-proyek-kredit-plastik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/10/koalisi-organisasi-masyarakat-sipil-soroti-proyek-kredit-plastik/#respond</comments>
					<pubDate>10 Mei 2026 05:18:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/04/22003219/Beberapa-pemulung-memungut-sampah-di-TPA-Punggur-Batam.-Foto-Yogi-Eka-Sahputra-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127597</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pangan, pencemaran, dan politik dan huku]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejumlah organisasi masyarakat sipil soroti proyek kredit plastik (plastics credit) di Indonesia. Selain hanya menjadi solusi palsu untuk atasi krisis sampah plastik, hal itu tak menyelesaikan persoalan mendasar mulai dari kegagalan operasional, dampak kesehatan, hingga masalah lingkungan. Diseminasi hasil kajian oleh tiga lembaga, Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur (Walhi Jatim), Ecoton, dan Pusat Pendidikan Lingkungan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/10/koalisi-organisasi-masyarakat-sipil-soroti-proyek-kredit-plastik/">Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil Soroti Proyek Kredit Plastik </a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejumlah organisasi masyarakat sipil soroti proyek kredit plastik (plastics credit) di Indonesia. Selain hanya menjadi solusi palsu untuk atasi krisis sampah plastik, hal itu tak menyelesaikan persoalan mendasar mulai dari kegagalan operasional, dampak kesehatan, hingga masalah lingkungan. Diseminasi hasil kajian oleh tiga lembaga, Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur (Walhi Jatim), Ecoton, dan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali bertajuk &#8220;Mitos Kredit Plastik: Kajian Atas Kegagalan Inisiatif Ekonomi Sirkular di Indonesia&#8221; mengungkap hal itu. Dalam kegiatan di Bali belum lama ini, ketiga lembaga itu  memaparkan hasil riset mengenai sejumlah proyek kredit plastik di Indonesia. Proyek ini merupakan skema kompensasi (offset) sampah plastik, di mana perusahaan memberikan pendanaan kepada proyek pengumpulan, pengelolaan, atau daur ulang sampah plastik untuk mengkompensasi jumlah plastik yang mereka hasilkan. Koalisi menelusuri tiga proyek besar yang terdaftar dalam Standar Pengurangan Sampah Plastik Verra, yakni Project STOP di Banyuwangi, proyek TPST Samtaku Jimbaran, Bali, serta proyek SEArcular–Greencore di wilayah Gresik dan Surabaya. Ketiga proyek ini menjual kredit plastik kepada korporasi global sebagai bentuk kompensasi atas produksi plastik. Dari ketiga daerah yang menjadi lokasi percontohan proyek, koalisi temukan kesenjangan signifikan antara klaim dan realitas. Alih-alih menyasar akar permasalahan, yaitu,  produksi dan konsumsi plastik yang berlebihan, inisiatif ini cenderung berfokus pada penanganan di hilir melalui pemanfaatan ekonomi dari pemulihan plastik. Berbagai kelemahan sistemik muncul, termasuk ketergantungan pada pendanaan jangka pendek, minimnya integrasi dengan sistem pengelolaan sampah publik, serta ketidakmampuan mempertahankan operasional. Kinerja sejumlah fasilitas menurun, bahkan berhenti beroperasi, sementara plastik bernilai rendah dan residu tetap tidak tertangani dan sering kali berujung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/10/koalisi-organisasi-masyarakat-sipil-soroti-proyek-kredit-plastik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/10/koalisi-organisasi-masyarakat-sipil-soroti-proyek-kredit-plastik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Inilah Rahasia Mengapa Kobra Tidak Berdaya Melawan Elang Ular Coklat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/10/inilah-rahasia-mengapa-kobra-tidak-berdaya-melawan-elang-ular-coklat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/10/inilah-rahasia-mengapa-kobra-tidak-berdaya-melawan-elang-ular-coklat/#respond</comments>
					<pubDate>10 Mei 2026 01:22:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/10012034/crested-serpent-eagle-spilornis-cheela-with-snake-killjpg-1-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127608</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ular Kobra adalah salah satu ular paling ditakuti di dunia. Bisanya mematikan, gerakannya cepat, dan ia mampu menyerang balik dalam hitungan detik bahkan ketika sudah terpojok. Tidak banyak makhluk yang mau berurusan dengannya dan yang berani pun biasanya memilih jarak aman, menghindari konfrontasi langsung. Namun di Asia Selatan dan Asia Tenggara, ada satu predator yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/10/inilah-rahasia-mengapa-kobra-tidak-berdaya-melawan-elang-ular-coklat/">Inilah Rahasia Mengapa Kobra Tidak Berdaya Melawan Elang Ular Coklat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ular Kobra adalah salah satu ular paling ditakuti di dunia. Bisanya mematikan, gerakannya cepat, dan ia mampu menyerang balik dalam hitungan detik bahkan ketika sudah terpojok. Tidak banyak makhluk yang mau berurusan dengannya dan yang berani pun biasanya memilih jarak aman, menghindari konfrontasi langsung. Namun di Asia Selatan dan Asia Tenggara, ada satu predator yang tidak hanya berani mendekati kobra, tetapi secara aktif memburunya, mencengkeramnya dengan cakar, dan melumpuhkan kepalanya sebelum ular itu sempat bereaksi. Elang ular coklat (Spilornis cheela) menjadikan kobra dan reptil berbisa lainnya sebagai bagian utama dari menu hariannya. Elang ular coklat tersebar luas di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Ia sering terlihat di tepi hutan, kebun, dan kawasan dekat sungai, tempat-tempat yang juga menjadi jalur pergerakan ular dan reptil lain. Nama &#8220;elang ular&#8221; muncul bukan tanpa alasan. Ular memang menjadi bagian terbesar dari makanannya, dan kemampuannya berburu reptil berbisa adalah hasil dari perpaduan antara anatomi yang tepat, strategi yang cermat, dan pemilihan habitat yang tidak asal-asalan. Baca juga: Kobra Kurcaci: Ular Kobra Terkecil di Dunia yang Hanya Tersisa di Satu Sudut Terpencil di Bumi Tubuh Elar Ular yang Dirancang untuk Mengalahkan Ular Berbisa Elang ular coklat memiliki sejumlah keunggulan fisik yang membuatnya mampu menghadapi mangsa berbisa secara konsisten. Bagian paling krusial adalah kakinya. Kaki elang ular coklat bersisik tebal, yang berfungsi mengurangi risiko luka akibat gigitan kobra ketika cakar mencengkeram tubuh ular. Ini penting karena kontak fisik dengan kobra hampir tidak bisa dihindari dalam proses perburuan. Begitu cengkeraman mengunci tubuh ular, kobra kesulitan bergerak bebas. Tekanan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/10/inilah-rahasia-mengapa-kobra-tidak-berdaya-melawan-elang-ular-coklat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/10/inilah-rahasia-mengapa-kobra-tidak-berdaya-melawan-elang-ular-coklat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jejak Ikan Terbesar di Dunia yang Ada di Laut Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/10/jejak-ikan-terbesar-di-dunia-yang-ada-di-laut-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/10/jejak-ikan-terbesar-di-dunia-yang-ada-di-laut-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>10 Mei 2026 01:04:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/08/22093120/hiu-paus-conservation-internasional-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127611</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, jawa, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hiu paus (Rhincodon typus) adalah ikan terbesar di dunia yang ukurannya bisa mencapai 10 meter dengan berat sekitar sembilan ton saat dewasa. Spesies pemakan plankton ini, sudah hidup sejak 60 juta tahun lalu. Hiu paus biasa bermigrasi, mengembara ke perairan tropis dan beriklim hangat. Tubuh besarnya memiliki corak unik seperti titik-titik dan usia hidupnya hingga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/10/jejak-ikan-terbesar-di-dunia-yang-ada-di-laut-indonesia/">Jejak Ikan Terbesar di Dunia yang Ada di Laut Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hiu paus (Rhincodon typus) adalah ikan terbesar di dunia yang ukurannya bisa mencapai 10 meter dengan berat sekitar sembilan ton saat dewasa. Spesies pemakan plankton ini, sudah hidup sejak 60 juta tahun lalu. Hiu paus biasa bermigrasi, mengembara ke perairan tropis dan beriklim hangat. Tubuh besarnya memiliki corak unik seperti titik-titik dan usia hidupnya hingga 70 tahun. Satwa akuatik ini diyakini pertama kali diketahui pada 1828 di Cape Town, Afrika Selatan. Saat itu, seorang ahli zoologi, Andrew Smith menemukan hewan laut sepanjang 46 meter yang diyakini sebagai hiu paus di tahun berikutnya. Sebagai kota yang menjadi lokasi pertemuan Samudera Hindia dan Atlantik, perairan Cape Town cocok menjadi tempat megafauna berkunjung. Terlebih, hiu paus suka berada di perairan dangkal, meski bisa menyelam hingga kedalaman 914 meter. Karakteristik perairan tersebut dimiliki Indonesia, yang juga dikenal memiliki sejumlah lokasi hiu paus. Selain Teluk Cendrawasi di Papua Tengah, ada juga Teluk Saleh di Nusa Tenggara Barat. Kebiasaan hiu paus yang suka melintas jarak jauh, ternyata bisa melewati 13 negara dan laut lepas. Temuan itu didapat setelah penelitian terbaru (2026) dilakukan pada 70 individu yang ada di Indonesia selama 10 tahun dari 2015 hingga 2025. Konservasi Indonesia yang memimpin penelitian itu, melakukan penandaan pada seluruh individu di empat lokasi berbeda. Selain Teluk Cendrawasih dan Teluk Saleh, dua lokasi lainnya adalah Kaimana (Papua Barat) dan Teluk Tomini (Gorontalo). Analisis data pelacakan satelit dilakukan juga saat mereka berada di kawasan perairan Indo Pasifik. Analisis tersebut melibatkan para pakar dari Elasmobranch Institute Indonesia, Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/10/jejak-ikan-terbesar-di-dunia-yang-ada-di-laut-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/10/jejak-ikan-terbesar-di-dunia-yang-ada-di-laut-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Suarakan Krisis Iklim Sumatera Barat Lewat Musik </title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/09/suarakan-krisis-iklim-sumatera-barat-lewat-musik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/09/suarakan-krisis-iklim-sumatera-barat-lewat-musik/#respond</comments>
					<pubDate>09 Mei 2026 06:35:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baittri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/09053303/Bertajuk-Voice-of-The-Earth-sekitar-5000-anak-muda-dari-penjuru-Sumatera-Barat-bernyanyi-bersama-dalam-menyuarakan-isu-krisis-iklim_Foto-Oleh-Rafdi-Rahmadi-CliamteFest-11-of-13-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127508</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[padang dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lautan muda mudi di lapangan Taman Budaya Sumatera Barat (Sumbar) malam itu sampai penuhi depan panggung. Mereka kompak bernyanyi saat petikan gitar dan dentuman drum band Ghostbuster membelah malam di ajang Climate Fest gelaran LBH Padang, Sabtu (18/4/26) . Penyelenggara sengaja tidak memasang barikade agar para pengunjung dapat terhubung dan saling menjaga satu sama lain. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/09/suarakan-krisis-iklim-sumatera-barat-lewat-musik/">Suarakan Krisis Iklim Sumatera Barat Lewat Musik </a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lautan muda mudi di lapangan Taman Budaya Sumatera Barat (Sumbar) malam itu sampai penuhi depan panggung. Mereka kompak bernyanyi saat petikan gitar dan dentuman drum band Ghostbuster membelah malam di ajang Climate Fest gelaran LBH Padang, Sabtu (18/4/26) . Penyelenggara sengaja tidak memasang barikade agar para pengunjung dapat terhubung dan saling menjaga satu sama lain. Seturut itu, Pion di Udara, satu dari 10 lagu andalan dalam album Insulin Adrenalin besutan band hardcore asal Padang itu terus menggetarkan panggung. Lagu ini Ghosbuster dedikasikan kepada para pejuang hak asasi manusia (HAM) seperti Munir, Widji Thukul dan lainnya. Aksi band hardcore Ghosbuster asal Padang saat meramaikan ajang Climate Fest Vol 2 di Padang, Sumatera Barat. Foto: Uyung Hamdani. Aksi orasi Aang Bengal, sang vokalis menghangatkan suasana malam itu. Band Lintang Utara mengawali agenda festival tahunan itu. Lirik lagu-lagunya yang sarat pesan mengingatkan pada ancaman dampak sosial dan ekologis atas rencana proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Gunung Talang, sebuah potret akan persoalan iklim dan lingkungan di Tanah Minang. &#8220;Kami akan bertahanan pada talang..menyemai benih kehidupan sawah dan ladang&#8230;satu kan tangan kepalkan dan juga hadang.. investor yang membahayakan talang&#8230;&#8221; Band indie asal Padang ini terkenal dengan lagu-lagunya yang sarat  persoalan sosial dan lingkungan. Selain ‘Lestari,’ beberapa lagu Lintang Utara yang cukup populer adalah ‘Merdeka di Desa’ dan juga ‘Bebas Suara’, Tujuh Tahun, hingga Talang Melawan yang mereka  dedikasikan untuk perjuangan warga Talang. Bagi Lintang Utara, masalah-masalah seperti transisi energi berkeadilan, konflik geothermal sampai isu terbaru tentang penyiraman air keras terhadap Andri Yunus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/09/suarakan-krisis-iklim-sumatera-barat-lewat-musik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/09/suarakan-krisis-iklim-sumatera-barat-lewat-musik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Satwa Papua: Benteng Terakhir Hutan Purba</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/satwa-papua-benteng-terakhir-hutan-purba/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/satwa-papua-benteng-terakhir-hutan-purba/#respond</comments>
					<pubDate>09 Mei 2026 01:58:51 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/28041924/Tiger_Quoll_6178-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=127558</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Satwa Papua: Benteng Terakhir Hutan Purba]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kekayaan hayati Papua menyimpan keunikan luar biasa melalui keberadaan mamalia bertelur ekidna yang dianggap keramat serta spesies langka seperti kanguru pohon, tikus babi, dan karnivora mungil quoll. Satwa-satwa endemik ini memegang peran krusial sebagai arsitek alam dan petani hutan yang menjamin regenerasi ekosistem hutan hujan tropis. Namun, masa depan benteng terakhir keanekaragaman hayati ini kini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/05/satwa-papua-benteng-terakhir-hutan-purba/">Satwa Papua: Benteng Terakhir Hutan Purba</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kekayaan hayati Papua menyimpan keunikan luar biasa melalui keberadaan mamalia bertelur ekidna yang dianggap keramat serta spesies langka seperti kanguru pohon, tikus babi, dan karnivora mungil quoll. Satwa-satwa endemik ini memegang peran krusial sebagai arsitek alam dan petani hutan yang menjamin regenerasi ekosistem hutan hujan tropis. Namun, masa depan benteng terakhir keanekaragaman hayati ini kini terancam oleh ekspansi perkebunan sawit, ambisi proyek pangan dan energi, serta maraknya upaya penyelundupan satwa ilegal. The post Satwa Papua: Benteng Terakhir Hutan Purba appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/05/satwa-papua-benteng-terakhir-hutan-purba/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/satwa-papua-benteng-terakhir-hutan-purba/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kuat Dugaan Emas Selundupan 190 Kg di Bandara Halim dari Tambang Ilegal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/09/kuat-dugaan-emas-selundupan-190-kg-di-bandara-halim-dari-tambang-ilegal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/09/kuat-dugaan-emas-selundupan-190-kg-di-bandara-halim-dari-tambang-ilegal/#respond</comments>
					<pubDate>09 Mei 2026 00:19:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/09001130/Emas-Sitaan-Bea-Cukai-3-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127552</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, pencemaran, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekitar 190,265 kilogram emas hampir saja lolos ke luar negeri melalui Bandara Halim Perdanakusuma, 27 April lalu. Bea Cukai yang mengendus rencana itu pun menggagalkan upaya penyelundupan  611 perhiasan emas berbentuk gelang seberat 60,3 kg dan 2.971 koin emas 130,262 kilogram dengan perkiraan US$28,349 juta setara Rp502,546 miliar. Dalam penyitaan enam koli paket berisi perhiasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/09/kuat-dugaan-emas-selundupan-190-kg-di-bandara-halim-dari-tambang-ilegal/">Kuat Dugaan Emas Selundupan 190 Kg di Bandara Halim dari Tambang Ilegal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekitar 190,265 kilogram emas hampir saja lolos ke luar negeri melalui Bandara Halim Perdanakusuma, 27 April lalu. Bea Cukai yang mengendus rencana itu pun menggagalkan upaya penyelundupan  611 perhiasan emas berbentuk gelang seberat 60,3 kg dan 2.971 koin emas 130,262 kilogram dengan perkiraan US$28,349 juta setara Rp502,546 miliar. Dalam penyitaan enam koli paket berisi perhiasan dan koin emas yang tidak terlaporkan dalam dokumen pemberitahuan ekspor barang (PEB) ini, Bea Cukai juga mengamankan pelaku berinisial HH, AH, HG, dan PP, warga India. Jaka Budi Utama, Direktur Jenderal Badan Cukai mengatakan, barang itu akan diangkut menggunakan pesawat Learjet 55 sewaan dengan nomor registrasi N117LR. Petugas yang sebut dapat informasi soal ekspor ilegal itu dari masyarakat kemudian melakukan pemeriksaan mendalam muatan pesawat di area apron bandara hingga menemukan perhiasan dan koin itu. Bea Cukai memperlihatkan barang bukti sitaan emas sekitar 190 kg. Foto: Bea Cukai Jaka bilang, pengawasan ekspor komoditas bernilai tinggi seperti emas untuk memastikan bahwa ekspor emas transparan dan sesuai ketentuan. “Ekspor emas harus transparan dan sesuai ketentuan agar hak negara dapat terpenuhi dan stabilitas pasokan dalam negeri tetap terjaga. Penerimaan negara dari sektor ini pada akhirnya kembali untuk membiayai pembangunan, pelayanan publik, serta mendukung kesejahteraan masyarakat.” Kombes Pol Victor Dean Mackbon, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, bilang,  keberhasilan Bea Cukai menggagalkan upaya penyelundupan melalui sinergi lintas instansi sebagai bukti nyata kehadiran negara dalam menjaga kedaulatan ekonomi. &#8220;Diharapkan perdagangan ekspor dapat berjalan secara adil, sehat, dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada perekonomian nasional dan masyarakat Indonesia.” Jejak kerusakan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/09/kuat-dugaan-emas-selundupan-190-kg-di-bandara-halim-dari-tambang-ilegal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/09/kuat-dugaan-emas-selundupan-190-kg-di-bandara-halim-dari-tambang-ilegal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hitung-hitung Jejak Karbon Bisa Ubah Perilaku?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/08/hitung-hitung-jejak-karbon-bisa-ubah-perilaku/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/08/hitung-hitung-jejak-karbon-bisa-ubah-perilaku/#respond</comments>
					<pubDate>08 Mei 2026 14:00:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/06055106/IMG_1429-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127416</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[gaya hidup, sains dan Teknologi, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nur Fitriani kaget ketika mengetahui penghitungan karbon yang dia hasilkan selama sebulan mencapai 450 kilogram karbon, awal tahun 2026. Sejak saat itu, perempuan 27 tahun ini bertekad mengurangi jejak karbonnya dengan mengurangi penggunaan energi fosil. Berbagai cara dia tempuh, terutama, meminimalisasi penggunaan sepeda motor dan kebutuhan listrik kamar kostnya di Kota Yogyakarta. Perlahan, dia pun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/hitung-hitung-jejak-karbon-bisa-ubah-perilaku/">Hitung-hitung Jejak Karbon Bisa Ubah Perilaku?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nur Fitriani kaget ketika mengetahui penghitungan karbon yang dia hasilkan selama sebulan mencapai 450 kilogram karbon, awal tahun 2026. Sejak saat itu, perempuan 27 tahun ini bertekad mengurangi jejak karbonnya dengan mengurangi penggunaan energi fosil. Berbagai cara dia tempuh, terutama, meminimalisasi penggunaan sepeda motor dan kebutuhan listrik kamar kostnya di Kota Yogyakarta. Perlahan, dia pun mulai menggunakan TransJogja untuk transportasi dalam kota. “Kalau untuk ke luar kost untuk ke warung sekarang jalan kaki saja,” katanya. Ketertarikannya menghitung jejak karbon muncul karena dia  tak sadar aktivitasnya selama ini menimbulkan emisi. Setelah pemahaman dasar itu dia terima, rasa penasaran menggunakan kalkulator jejak karbon yang berbasis website milik 1.000 Cahaya Muhammadiyah pun tumbuh. Sejak Januari, karyawan perbankan ini rutin mengecek jejak karbon setiap bulan. Tujuannya, agar tahu sejauh mana aktivitasnya berpengaruh terhadap krisis iklim. “Mudah menggunakannya, tidak rumit dan hasilnya keluar seketika. Jadi bisa langsung evaluasi kalau melebihi bulan sebelumnya,” katanya setelah menggunakan website itu. Guna mendapat perhitungan karbon yang dalam sebulan, tiap malam sebelum tidur, dia rutin mencatatkan kegiatan hariannya. Sekarang, rata-rata karbon yang dia hasilkan sebulan sebesar 260 kilogram. Nilai itu dari emisi transportasi yang sebesar 120 kilogram karbon, listrik rumah  130 kilogram, dan konsumsi makanan 10 kilogram karbon. “Hasil kalkulator ini linier dengan pengeluaran bulanan, kalau jejak karbonnya tinggi maka biaya bulanan juga tinggi. Jadi bisa buat mengendalikan pengeluaran juga.” Ilustrasi. Penggunaan kendaraan bermotor menjadi faktor signifikan emisi perkotaan. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Ubah perilaku Tak hanya menyediakan fitur berbasis individu, kalkulator jejak karbon ini juga punya layanan untuk komunitas.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/hitung-hitung-jejak-karbon-bisa-ubah-perilaku/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/08/hitung-hitung-jejak-karbon-bisa-ubah-perilaku/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Timotius Suage, Pendeta yang Dedikasikan Diri Lindungi Laut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/08/timotius-suage-pendeta-yang-abdikan-diri-lindungi-laut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/08/timotius-suage-pendeta-yang-abdikan-diri-lindungi-laut/#respond</comments>
					<pubDate>08 Mei 2026 12:11:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Mahmud Ichi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/08081334/Timotius-lakukan-Pengawsan-ke-zona-inti-kawasan-konservasi-perairan-Pulau-RaoMorotai-foto-pribadi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127520</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Timotius Suage bergegas dari Morotai Jaya ke Desa Aru Burung di Kecamatan Pulau Rao, Kabupaten Morotai, Maluku Utara (Malut), pagi pertengahan April 2026. Dari tempat tinggalnya, jarak sekitar 70 kilometer. Hari itu, Timo sejatinya ada agenda keluarga di rumah tetapi sengaja meninggalkan dan lebih memilih  hadiri pertemuan dengan pendamping Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) di Aru [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/timotius-suage-pendeta-yang-abdikan-diri-lindungi-laut/">Timotius Suage, Pendeta yang Dedikasikan Diri Lindungi Laut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Timotius Suage bergegas dari Morotai Jaya ke Desa Aru Burung di Kecamatan Pulau Rao, Kabupaten Morotai, Maluku Utara (Malut), pagi pertengahan April 2026. Dari tempat tinggalnya, jarak sekitar 70 kilometer. Hari itu, Timo sejatinya ada agenda keluarga di rumah tetapi sengaja meninggalkan dan lebih memilih  hadiri pertemuan dengan pendamping Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) di Aru Burung yang berlangsung siang harinya. Turut hadir dalam pertemuan itu, perwakilan dari Balai Konservasi Perairan Daerah (BKPD) Malut dan  Penyuluh Perikanan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Baginya, pertemuan itu sangat penting. Selain untuk mengetahui langsung kondisi di lapangan dari koleganya, juga berdiskusi terkait upaya  yang harus dilakukan guna memperkuat pengawasan kawasan konservasi perairan di wilayahnya. Timo adalah Ketua Pokmaswas  di kawasan konservasi perairan Taman Wisata Perairan (TWP) Pulau Rao di Morotai. Selain sebagai Ketua Pokmaswas, dia juga  tokoh agama di desanya. Dia seorang  pendeta.   Keseharian dia juga ikut mengawasi dan melindungi laut yang sudah jadi  kawasan konservasi. “Saya tahu konsekuensinya, tapi ini punya hubungan dengan nasib kita dan anak cucu  sekarang dan masa depan. Karena itu tetap mengambil kerja-kerja ini,” katanya,  kepada Mongabay, April. Dia bilang, peran sebagai pengawas itu dia emban setelah pemerintah tetapkan TWP Pulau Rao sebagai kawasan konservasi laut sekitar 2019. Dia tak menolak ketika diminta menjadi Ketua Pokmaswas. Baginya itu ladang pengabdian untuk manusia, sesuatu yang lekat dengan kesehariannya. Timotius Suage menunjukkan peta kawasan konservasi. Foto: Mahmud Ichi/Mongabay Indonesia. Banyak tantangan Meski begitu, tugas sebagai Ketua Pokmaswas tak mudah. Beberapa kali dia bahkan nyaris terlibat baku hantam dengan para nelayan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/timotius-suage-pendeta-yang-abdikan-diri-lindungi-laut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/08/timotius-suage-pendeta-yang-abdikan-diri-lindungi-laut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nelayan Jayapura Terdampak Rencana Blok Migas Northern Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/08/nelayan-jayapura-terdampak-rencana-blok-migas-northern-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/08/nelayan-jayapura-terdampak-rencana-blok-migas-northern-papua/#respond</comments>
					<pubDate>08 Mei 2026 09:00:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Larius Kogoya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/08043752/WhatsApp-Image-2026-05-07-at-6.22.13-PM-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127462</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jayapura dan papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dermaga Dok 9, Distrik Jayapura Utara, Kabupaten Jayapura, Papua ramai dengan aktivitas nelayan. Beberapa perahu bersandar, para nelayan ada yang sibuk memperbaiki dan merapikan perahu maupun  alat pancing. Sejak akhir tahun lalu, mereka resah karena hasil tangkapan terus menurun dan wilayah tangkap terancam operasi Blok Migas Northern Papua.  Yonas Lawan, anggota Kelompok Nelayan Karya di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/nelayan-jayapura-terdampak-rencana-blok-migas-northern-papua/">Nelayan Jayapura Terdampak Rencana Blok Migas Northern Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dermaga Dok 9, Distrik Jayapura Utara, Kabupaten Jayapura, Papua ramai dengan aktivitas nelayan. Beberapa perahu bersandar, para nelayan ada yang sibuk memperbaiki dan merapikan perahu maupun  alat pancing. Sejak akhir tahun lalu, mereka resah karena hasil tangkapan terus menurun dan wilayah tangkap terancam operasi Blok Migas Northern Papua.  Yonas Lawan, anggota Kelompok Nelayan Karya di Inpres Dok 9 Jayapura khawatir masa depan mereka  terancam. Tak hanya cuaca yang seringkali tak menentu, rumpon kelompok nelayan, yang menjadi sumber utama tangkapan kena putus paksa oleh kapal surveyor PT Huatong Service Indonesia (HSI). Kapal ini sedang melakukan pemetaan potensi migas dalam proyek Blok Migas Northern Papua.  Padahal satu rumpon bisa menelan biaya Rp50-Rp100 juta. Tiap kelompok nelayan yang terdiri setidaknya 10 orang, biasa memiliki dua rumpon dengan jarak beragam.   “Kami kaget, kami rasakan mereka sudah ganggu kami punya piring makan,” kata  Yones, Selasa (14/4/26).  Bagi nelayan, rumpon adalah nadi kehidupan nelayan pesisir utara dan selatan Kota Jayapura. Mereka menangkap tuna, cakalang, tongkol dan ikan lainnya untuk kehidupan sehari-hari.  Para nelayan Kosmos Kendi (kanan) dan Koordinator Nelayan BW Woi Asbani Wiyawari di Tanjung Ria, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua pada Senin (14/4/2026). Foto: Larius Kogoya/ Mongabay Indonesia Yonas bilang, bisa menyekolahkan keenam orang anaknya, bahkan ada satu yang sudah menjadi sarjana dan bekerja.  “Kehidupan nelayan tergantung dari rumpon. Kita tak diberitahu, rumpon nelayan diputuskan (oleh tim surveyor), lalu dibawa ke darat,” katanya. Dia bingung harus bekerja apa jika wilayah tangkap dan rumpon-rumpon mereka hilang. Kekhawatiran sama juga Kosmos Kendi, nelayan dari Kelompok BW&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/nelayan-jayapura-terdampak-rencana-blok-migas-northern-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/08/nelayan-jayapura-terdampak-rencana-blok-migas-northern-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Maja dan Berenuk, Apakah Jenis Buah yang Sama?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/08/maja-dan-berenuk-apakah-jenis-buah-yang-sama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/08/maja-dan-berenuk-apakah-jenis-buah-yang-sama/#respond</comments>
					<pubDate>08 Mei 2026 08:16:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Petrus Riski]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/08080014/Buah-maja-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127515</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, Lahan Basah, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Buah berenuk (Crescentia cujete) sering dianggap sama dengan buah maja (Aegle marmelos), meski keduanya spesies berbeda. Bentuk berenuk dan maja memang sama-sama bulat, namun daging buah, rasa, dan ukurannya berbeda. Di masyarakat, berenuk yang telanjur disebut maja atau maja pahit, memiliki keterkaitan dengan asal usul nama kerajaan Majapahit, yang berpusat di Mojokerto, Jawa Timur. Berenuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/maja-dan-berenuk-apakah-jenis-buah-yang-sama/">Maja dan Berenuk, Apakah Jenis Buah yang Sama?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Buah berenuk (Crescentia cujete) sering dianggap sama dengan buah maja (Aegle marmelos), meski keduanya spesies berbeda. Bentuk berenuk dan maja memang sama-sama bulat, namun daging buah, rasa, dan ukurannya berbeda. Di masyarakat, berenuk yang telanjur disebut maja atau maja pahit, memiliki keterkaitan dengan asal usul nama kerajaan Majapahit, yang berpusat di Mojokerto, Jawa Timur. Berenuk berasal dari Amerika Selatan, tergolong keluarga Bignoniaceae. Daging buahnya halus, rapat, putih seperti sirsat, namun hitam setelah dibiarkan lama. Bijinya kecil, berbentuk hati, dan pipih. Rantingnya tanpa duri, dengan daun tunggal, oval, terbalik, dengan ujung meruncing. Sedangkan maja dari Asia Selatan termasuk Indonesia, tergolong keluarga Rutaceae atau jeruk-jerukan. Daging buahnya berongga dan kuning, dengan biji berukuran besar dan agak bulat. Rantingnya berduri, berdaun majemuk, bertangkai 3, dan berukuran kecil panjang. Pohon maja dapat tumbuh di lingkungan basah seperti rawa maupun di lahan kering, sementara buahnya dimanfaatkan sebagai obat tradisional. “Masyarakat lokal menyebut berenuk buah maja, meski secara nama ilmiah berbeda. Warga lokal banyak mengira berenuk beracun, padahal tidak,” papar Aletheia Threskeia, Dosen Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Petra Surabaya, pertengahan April 2026. Beberapa penelitian mengenai ekstrak daun berenuk dapat dimanfaatkan sebagai obat luka, diabetes, serta kanker. Sedangkan penelitian potensi buah berenuk dimanfaatkan sebagai bahan bioalkohol atau biofuel. Filipina mengolah berenuk menjadi minuman kesehatan. Tanaman ini juga sedang diteliti untuk pengobatan penurunan fungsi organ tubuh serta penyakit degeneratif lainnya. Buah maja yang dikaitkan dengan nama kerajaan Majapahit. Foto: Wikimedia Commons/Asit K. Ghosh/CC BY-SA 3.0 Pemanfaatan untuk kesehatan Lima mahasiswa Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, yaitu Ardan Rezon&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/maja-dan-berenuk-apakah-jenis-buah-yang-sama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/08/maja-dan-berenuk-apakah-jenis-buah-yang-sama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hujan Terpanjang dalam Sejarah Planet Bumi: Misteri yang Berujung pada Kebangkitan Dinosaurus</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/08/hujan-terpanjang-dalam-sejarah-planet-bumi-misteri-yang-berujung-pada-kebangkitan-dinosaurus/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/08/hujan-terpanjang-dalam-sejarah-planet-bumi-misteri-yang-berujung-pada-kebangkitan-dinosaurus/#respond</comments>
					<pubDate>08 Mei 2026 03:25:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/11/21235140/3503-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127492</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekitar 232 juta tahun lalu, Bumi mengalami salah satu episode iklim paling ekstrem dalam sejarah geologi. Selama lebih dari satu juta tahun, curah hujan meningkat drastis di berbagai wilayah dunia. Daratan yang sebelumnya kering berubah menjadi rawa dan hutan lembap. Sungai baru terbentuk dalam jumlah besar. Danau meluas hingga ke pedalaman benua. Peristiwa ini dikenal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/hujan-terpanjang-dalam-sejarah-planet-bumi-misteri-yang-berujung-pada-kebangkitan-dinosaurus/">Hujan Terpanjang dalam Sejarah Planet Bumi: Misteri yang Berujung pada Kebangkitan Dinosaurus</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekitar 232 juta tahun lalu, Bumi mengalami salah satu episode iklim paling ekstrem dalam sejarah geologi. Selama lebih dari satu juta tahun, curah hujan meningkat drastis di berbagai wilayah dunia. Daratan yang sebelumnya kering berubah menjadi rawa dan hutan lembap. Sungai baru terbentuk dalam jumlah besar. Danau meluas hingga ke pedalaman benua. Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa Pluvial Karnia atau Carnian Pluvial Episode, fase penting pada akhir periode Trias yang mengubah ekosistem global dan membuka jalan bagi kebangkitan dinosaurus. Sebelum periode ini terjadi, hampir seluruh daratan Bumi masih tergabung dalam satu superkontinen raksasa bernama Pangea. Kondisi tersebut membuat sebagian besar wilayah pedalaman memiliki iklim sangat panas dan kering. Gurun mendominasi banyak area, terutama di bagian tengah benua yang jauh dari pengaruh laut. Penelitian terhadap batuan sedimen dari periode Trias menunjukkan banyak wilayah saat itu dipenuhi endapan gurun dan mineral evaporit, tanda bahwa curah hujan sangat rendah selama jutaan tahun. Ekosistem yang berkembang pada masa itu harus beradaptasi dengan lingkungan keras. Tumbuhan memiliki akar panjang untuk mencari air tanah. Reptil purba mengembangkan kulit bersisik yang membantu mengurangi kehilangan cairan. Banyak hewan hidup di sekitar sumber air musiman yang terbatas. Dunia Trias awal sangat berbeda dibanding gambaran hutan hijau yang sering diasosiasikan dengan zaman dinosaurus. Hujan Ekstrem yang Mengubah Planet Namun sekitar 232 juta tahun lalu, sistem iklim global berubah drastis. Catatan geologi dari berbagai belahan dunia menunjukkan transisi cepat dari kondisi kering menuju lingkungan jauh lebih basah. Lapisan batuan gurun mulai digantikan oleh endapan sungai, rawa, dan lumpur kaya bahan organik.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/hujan-terpanjang-dalam-sejarah-planet-bumi-misteri-yang-berujung-pada-kebangkitan-dinosaurus/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/08/hujan-terpanjang-dalam-sejarah-planet-bumi-misteri-yang-berujung-pada-kebangkitan-dinosaurus/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kajian Komnas HAM Sebut Kawasan Industri Nikel Korbankan Lingkungan dan Kesehatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/08/kajian-komnas-ham-sebut-kawasan-industri-nikel-korbankan-lingkungan-dan-kesehatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/08/kajian-komnas-ham-sebut-kawasan-industri-nikel-korbankan-lingkungan-dan-kesehatan/#respond</comments>
					<pubDate>08 Mei 2026 02:30:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/01/22004934/Hilirisasi02-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127469</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Demam Nikel]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, ekonomi dan bisnis, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kawasan Industri Nikel di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah (Sulteng) membawa dampak kesehatan dan lingkungan. Studi terbaru Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menemukan kerusakan tidak hanya pada pada ruang hidup fisik, melainkan juga pada udara karena polusi debu logam dan emisi tinggi dari aktivitas pembangkit listrik serta smelter nikel. Laporan itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/kajian-komnas-ham-sebut-kawasan-industri-nikel-korbankan-lingkungan-dan-kesehatan/">Kajian Komnas HAM Sebut Kawasan Industri Nikel Korbankan Lingkungan dan Kesehatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kawasan Industri Nikel di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah (Sulteng) membawa dampak kesehatan dan lingkungan. Studi terbaru Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menemukan kerusakan tidak hanya pada pada ruang hidup fisik, melainkan juga pada udara karena polusi debu logam dan emisi tinggi dari aktivitas pembangkit listrik serta smelter nikel. Laporan itu menyajikan data Dinas Kesehatan Sulteng yang mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mencapai 305.191, melonjak dari tahun sebelumnya 262.160 kasus.  Morowali menjadi daerah dengan tingkat ISPA tertinggi  57.190 kasus yang berpusat di sekitar kawasan industri pemurnian nikel. Per Januari 2025, Pemkab Morowali bahkan mencatat 51.850 kasus, jadikan kabupaten ini  pengidap ISPA terbanyak di Indonesia, dengan terbanyak di Kecamatan Bahodopi. Uli Parulian Sihombing, Koordinator Subkomisi Penegakan HAM Komnas HAM, menduga, peningkatan kasus ini berkaitan dengan polusi dan kualitas udara yang menurun akibat aktivitas industri nikel dan smelter. “Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pertambangan dan smelter berada dalam risiko yang lebih tinggi karena terpapar debu dan emisi dari proses produksi,” katanya. Saking banyak debu dan uap dari smelter, warga sampai menyebut polusi  ‘kabut permanen’. Hasil observasi tim Komnas HAM, kabut itu pekat dan menyelimuti pemukiman dan jalanan di sekitar kawasan industri. Masalah kesehatan lain, Komnas HAM mengungkapkan ada peningkatan HIV di wilayah lingkar industri. Kuat dugaan berkaitan dengan masifnya migrasi penduduk tanpa pengawasan sosial yang memadai. Namun, fasilitas kesehatan di kawasan industri nikel ini tidak memadai. Rasio pasien sudah melampaui kapasitas fasilitas kesehatan yang ada. Di Bahodopi, hanya ada satu puskesmas dan satu klinik industri.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/08/kajian-komnas-ham-sebut-kawasan-industri-nikel-korbankan-lingkungan-dan-kesehatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/08/kajian-komnas-ham-sebut-kawasan-industri-nikel-korbankan-lingkungan-dan-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>