Ekspedisi penelitian laut dalam terus mengungkap keberadaan spesies dengan adaptasi ekstrem di perairan tropis. Salah satu temuan yang konsisten menarik perhatian para peneliti adalah eksistensi hiu cookiecutter. Ikan ini mendiami kolom air yang jauh dari jangkauan sinar matahari dan memiliki strategi bertahan hidup yang sangat spesifik. Kehadirannya sering kali terdeteksi bukan melalui pengamatan langsung di alam liar, melainkan melalui bekas luka permanen yang mereka tinggalkan pada tubuh mamalia laut dan ikan besar lainnya. Fenomena ini memberikan gambaran mengenai kompleksitas interaksi antarspesies yang terjadi di kedalaman samudra.
Hiu cookiecutter atau Isistius brasiliensis merupakan spesies hiu kecil yang menghuni zona mesopelagik hingga batipelagik. Spesies ini termasuk dalam famili Dalatiidae. Meskipun hanya memiliki ukuran tubuh maksimal sekitar 42 hingga 56 sentimeter, hiu ini memiliki metode predasi yang unik dibandingkan spesies hiu lainnya. Mereka tidak membunuh mangsanya secara langsung melainkan bertindak sebagai parasit.

Ciri paling khas dari hiu ini adalah cara makannya yang meninggalkan luka berbentuk lingkaran sempurna pada tubuh mangsa. Hiu cookiecutter memiliki bibir penghisap yang kuat untuk menempel pada permukaan kulit hewan besar seperti paus, lumba-lumba, hingga hiu putih. Setelah melekat, hiu ini akan menggunakan gigi bawahnya yang berbentuk gergaji untuk memotong daging mangsa. Gigi bawah mereka sangat besar dibandingkan ukuran tubuhnya dan saling bertautan. Saat menyerang, hiu akan memutar tubuhnya untuk menyayat potongan daging berbentuk bulat. Luka ini menyerupai hasil cetakan pemotong kue. Gigi yang tanggal pada hiu ini biasanya tertelan bersama daging mangsa. Perilaku ini diduga bertujuan untuk mendaur ulang kalsium dalam tubuh mereka.
Strategi Berburu melalui Bioluminesensi
Hiu cookiecutter memiliki organ penghasil cahaya yang disebut fotofor pada sisi perutnya. Fotofor ini menghasilkan cahaya hijau yang berfungsi sebagai kamuflase kontra-iluminasi. Cahaya tersebut menyamarkan siluet hiu dari pandangan predator di bawahnya dengan meniru cahaya redup dari permukaan air.
Terdapat bagian kecil di area leher yang tidak memiliki fotofor sehingga terlihat seperti titik gelap bagi predator dari arah bawah. Para peneliti berhipotesis bahwa titik gelap ini berfungsi sebagai umpan untuk menarik perhatian predator besar seperti tuna atau todak. Saat predator tersebut mendekat untuk memangsa, hiu cookiecutter justru menempel pada tubuh mereka dan mengambil potongan daging.

Secara geografis, Isistius brasiliensis tersebar luas di perairan tropis dan subtropis di seluruh dunia. Di wilayah Indo-Pasifik, spesies ini mendiami perairan dalam yang memiliki suhu hangat. Mereka melakukan migrasi vertikal setiap hari. Hiu ini berada di kedalaman lebih dari 1.000 meter pada siang hari dan bergerak naik ke lapisan permukaan saat malam hari untuk mencari makan.
IUCN mengklasifikasikan spesies ini ke dalam kategori Risiko Rendah atau Least Concern. Populasi mereka dianggap stabil karena habitat laut dalam memberikan perlindungan alami dari tekanan penangkapan ikan komersial. Namun, dampak dari penambangan laut dalam dan perubahan iklim terhadap ekosistem ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Interaksi dengan manusia sangat jarang terjadi, meski hiu ini tercatat pernah merusak peralatan bawah air seperti kabel sonar dan bagian karet kapal selam militer.