- White Bellbird dinobatkan sebagai burung dengan suara terkeras di dunia yang mencapai 125 desibel, sebuah intensitas yang melampaui kebisingan pesawat jet tempur saat lepas landas dan ambang batas nyeri pendengaran manusia.
- Kemampuan vokal luar biasa ini didukung oleh evolusi fisik yang unik, yaitu otot perut yang sangat tebal dan kuat untuk memompa udara, serta paruh yang dapat membuka lebar sebagai pengeras suara alami.
- Pejantan melakukan ritual kawin dengan berteriak tepat di wajah betina sebagai bentuk seleksi seksual, namun masa depan spesies ini terancam oleh perubahan iklim yang mempersempit zona habitat hutan awan mereka di pegunungan Amazon.
Hutan hujan Amazon sering digambarkan sebagai ekosistem yang dipenuhi kicauan burung yang melodius dan menenangkan. Namun, di balik kanopi tebal pegunungan Brasil utara, terdapat sebuah anomali akustik yang mematahkan anggapan tersebut. Bukan auman predator besar atau gemuruh mesin penebang kayu yang mendominasi frekuensi suara di sana, melainkan pekikan tajam dari seekor burung berukuran sedang yang dikenal sebagai White Bellbird (Procnias albus) atau Burung Lonceng Putih.
Burung ini bukan sekadar berisik; ia adalah pemegang rekor dunia. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Current Biology secara resmi menobatkan White Bellbird sebagai burung dengan suara terkeras yang pernah didokumentasikan oleh ilmu pengetahuan. Para peneliti mencatat bahwa pejantan spesies ini mampu menghasilkan tekanan suara yang mencapai puncaknya pada angka 125 desibel (dB), sebuah intensitas yang jauh melampaui kemampuan vokal spesies burung manapun di muka bumi, termasuk pemegang rekor sebelumnya, Screaming Piha.
Angka 125 desibel bukanlah tingkat kebisingan yang remeh. Sebagai perbandingan, intensitas ini setara dengan suara pesawat jet tempur saat lepas landas atau bunyi sirene darurat dalam jarak dekat. Tingkat kebisingan tersebut bahkan sudah melampaui ambang batas aman bagi pendengaran manusia jika terpapar tanpa pelindung. Fakta bahwa kekuatan sonik sedahsyat ini dihasilkan oleh makhluk biologis yang hanya seukuran merpati, bukan mesin mekanis, menjadikan White Bellbird salah satu fenomena bioakustik paling mencengangkan dalam dunia hewan.

White Bellbird merupakan bagian dari keluarga Cotinga, kelompok burung yang juga mencakup jenis Screaming Piha dan Umbrellabird. Habitat utama mereka adalah hutan awan (cloud forest) di wilayah Amazon. Secara fisik, spesies ini menunjukkan dimorfisme seksual yang jelas, di mana terdapat perbedaan signifikan antara jantan dan betina. Burung jantan memiliki bulu berwarna putih cerah dengan paruh hitam. Ciri fisik yang paling menonjol pada jantan adalah adanya pial (wattle) panjang berdaging yang menggantung dari pangkal paruh atasnya. Sementara itu, burung betina memiliki penampilan yang lebih menyatu dengan lingkungan, dengan bulu berwarna hijau zaitun dan garis-garis kekuningan atau cokelat, yang berfungsi sebagai kamuflase efektif.
Suara Lebih Keras dari Suara Jet Tempur
Untuk memahami sepenuhnya seberapa ekstrem suara White Bellbird, kita perlu meletakkannya dalam konteks skala desibel yang bersifat logaritmik, di mana setiap kenaikan angka mewakili lonjakan energi suara yang masif. Tingkat kebisingan 125 dB yang dihasilkan burung ini setara dengan suara pesawat jet tempur saat lepas landas (yang berkisar antara 120-140 dB) dan jauh lebih keras dari suara gergaji mesin yang beroperasi penuh (110 dB). Sebagai catatan penting, batas ambang rasa sakit pada telinga manusia rata-rata dimulai pada angka 120 dB, yang artinya suara burung ini secara harfiah menyakitkan untuk didengar dari jarak dekat.
Dalam upaya mendokumentasikan fenomena ini secara ilmiah, Jeff Podos, ahli bioakustik dari University of Massachusetts Amherst, bekerja sama dengan Mario Cohn-Haft melakukan ekspedisi pengukuran langsung yang menantang di medan pegunungan. Mereka menggunakan alat sound level meter berpresisi tinggi yang dikalibrasi khusus untuk merekam amplitudo suara. Tantangan terbesarnya adalah mengukur puncak amplitudo sambil memperhitungkan jarak burung yang terus bergerak, sehingga data harus dinormalisasi agar akurat secara ilmiah.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa tekanan suara White Bellbird sekitar 9 desibel lebih tinggi dibandingkan pemegang rekor sebelumnya, Screaming Piha (Lipaugus vociferans). Meskipun angka 9 tampak kecil, dalam skala akustik, ini berarti tekanan suara White Bellbird secara efektif 3x lebih kuat secara intensitas fisik. Richard Prum, ahli ornitologi dari Universitas Yale, mengapresiasi metodologi penelitian ini karena berhasil mengukur volume suara secara akurat di lingkungan liar yang penuh variabel gangguan seperti angin dan gema hutan, memberikan bukti empiris yang tak terbantahkan tentang kekuatan vokal spesies ini.
Bagaimana Paruh Lebar dan Otot Perut Menghasilkan Suara Ekstrem?
Kemampuan menghasilkan suara sekeras itu menimbulkan pertanyaan besar bagi para ahli biologi: bagaimana mungkin anatomi burung yang hanya seukuran merpati (berat sekitar 250 gram) sanggup memproduksi gelombang suara sekuat itu? Para peneliti menemukan bahwa kemampuan luar biasa ini berkaitan erat dengan adaptasi evolusioner sistem pencernaan yang secara tidak sengaja mendukung sistem vokal mereka.
White Bellbird adalah hewan frugivora (pemakan buah) yang memiliki kebiasaan menelan makanannya secara utuh, tanpa dikunyah. Mereka sanggup menelan buah hutan yang keras (beberapa bahkan seukuran bola golf) karena memiliki paruh yang dapat membuka dengan sudut yang sangat lebar. Secara evolusioner, struktur paruh yang lebar ini berfungsi ganda. Selain untuk makan, paruh tersebut bertindak seperti ujung terompet atau amplifier alami yang sempurna. Bentuk corong ini memungkinkan proyeksi suara yang lebih efisien dan resonansi yang maksimal saat burung tersebut berteriak.
Namun, paruh hanyalah corong; tenaganya berasal dari dalam. Penelitian anatomi mengungkapkan bahwa burung jantan memiliki otot perut yang sangat tebal dan kuat, jauh melebihi proporsi burung pada umumnya. Mereka juga memiliki syrinx (organ suara pada burung) yang berkembang sangat baik. Sebelum berteriak, burung ini akan menelan udara dalam jumlah besar, membungkukkan badan, lalu menggunakan otot perut “six-pack” mereka untuk memompa udara tersebut keluar dengan kecepatan tinggi melalui syrinx dan paruh lebarnya. Kombinasi antara otot perut yang kuat sebagai pompa dan paruh lebar sebagai proyektor inilah yang memungkinkan mereka menghasilkan gelombang suara dengan amplitudo tinggi yang memecahkan rekor dunia.
Pejantan Berteriak Keras dalam Jarak Dekat dengan Betina
Umumnya, hewan menggunakan suara keras untuk komunikasi jarak jauh. Namun, White Bellbird memiliki perilaku unik: pejantan mengeluarkan suara terkerasnya justru saat betina berada dalam jarak sangat dekat.
Observasi lapangan menunjukkan bahwa saat betina hinggap di dahan yang sama, pejantan akan memunggungi betina terlebih dahulu. Kemudian, pejantan akan berputar cepat menghadap betina dan mengeluarkan suara puncaknya tepat ke arah pasangannya. Jarak antara pengeras suara (paruh jantan) dan penerima (telinga betina) bisa kurang dari satu meter.

Perilaku ini berisiko merusak pendengaran betina, namun betina tetap bertahan di posisi tersebut. Para peneliti menyimpulkan fenomena ini sebagai bentuk seleksi seksual. Betina memilih pejantan berdasarkan kemampuan fisik mereka menghasilkan suara terkeras, meskipun perilaku ini meningkatkan risiko terdeteksi oleh predator.
Risiko Hilangnya Habitat di Dataran Tinggi
Meskipun populasi White Bellbird saat ini belum masuk dalam kategori terancam punah (endangered), habitat spesifik mereka menghadapi ancaman jangka panjang. Burung ini hidup di ketinggian tertentu, sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) di hutan Amazon.
Kawasan pegunungan ini rentan terhadap dampak pemanasan global. Mario Cohn-Haft menyoroti potensi masalah habitat di masa depan. Ketika suhu bumi meningkat, zona ekosistem yang sejuk akan bergeser ke tempat yang lebih tinggi. Hewan-hewan penghuni pegunungan akan terdorong naik untuk mencari suhu yang sesuai. Masalahnya, bagi spesies yang sudah hidup di puncak atau dataran tinggi, tidak ada lagi lahan yang lebih tinggi untuk dituju.
Jika tren pemanasan global berlanjut, habitat White Bellbird akan semakin menyempit, yang pada akhirnya dapat mengancam kelestarian populasi burung dengan suara terkeras di dunia ini.