- Dua perempuan Takarkori hidup di Sahara yang masih hijau tujuh ribu tahun lalu. DNA mereka bertahan karena mummification alami dan memberi genom lengkap pertama dari Sahara tengah.
- Genom menunjukkan garis Afrika Utara kuno yang terpisah lama dari Afrika sub Sahara. Mereka bagian dari komunitas penggembala yang menetap dan hidup dari ternak serta sumber air lokal.
- Sahara hijau tetap menjadi batas ekologis. Pertukaran budaya terjadi tanpa migrasi besar. Setelah gurun mengering, populasi wilayah berubah oleh kedatangan kelompok dari Timur Tengah dan Eropa.
Sahara hari ini dikenal sebagai kawasan panas dan kering. Suhu bisa mencapai 50 derajat Celcius. Angin membawa pasir tanpa henti. Air sangat sulit ditemukan. Namun 7.000 tahun lalu, wilayah yang sama berada dalam kondisi lingkungan yang berbeda total. Saat itu Afrika Utara berada dalam African Humid Period. Fase iklim panjang yang berlangsung dari sekitar empat belas ribu lima ratus sampai lima ribu tahun lalu ini terjadi karena perubahan kecil pada orbit Bumi yang menggeser pola radiasi matahari. Pergeseran ini memperkuat musim hujan dan membuat sistem monsun bergerak lebih jauh ke utara.
Dampaknya sangat besar. Gurun yang kini kering berubah menjadi padang rumput dan semak. Sungai yang dulu hanya musiman mengalir sepanjang tahun. Danau terbentuk di banyak cekungan. Hewan besar seperti jerapah, gajah, dan kuda nil hidup di kawasan yang sekarang menjadi gurun. Ketersediaan air yang stabil memungkinkan kelompok manusia menetap dan membangun sistem penggembalaan sapi, kambing, dan domba.
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan berita terbaru setiap harinya.

Di lereng Pegunungan Tadrart Acacus di Libya barat daya terdapat tempat perlindungan batu bernama Takarkori. Kini lokasi ini sangat kering. Hampir tidak ada material organik yang bertahan. Namun pada masa Sahara masih berupa padang yang hijau (Green Sahara), Takarkori berada di tepi danau yang menjadi pusat kegiatan manusia. Di tempat ini dua perempuan dikuburkan sekitar tujuh ribu tahun lalu. Tulang mereka terawetkan dengan baik sehingga para peneliti dapat membaca kembali kehidupan mereka melalui DNA yang masih tersisa.
Temuan yang bertahan karena kondisi unik
DNA kuno biasanya cepat rusak di Sahara. Panas yang ekstrem mempercepat pemutusan rantai DNA. Kekeringan panjang membuat mikroorganisme berhenti bekerja tapi tidak mencegah kerusakan fisik pada jaringan. Banyak situs arkeologi hanya meninggalkan tulang rapuh tanpa informasi biologis. Pada sebagian besar wilayah, peluang menemukan DNA manusia berusia ribuan tahun hampir tidak ada.
Takarkori menjadi pengecualian penting. Lokasinya berada di ceruk batu yang terlindung dari hujan, fluktuasi suhu, dan paparan langsung matahari. Udara sangat kering membantu tubuh mengalami proses mumifikasi alami. Proses ini memperlambat pembusukan sehingga jaringan keras seperti tulang dan gigi mempertahankan fragmen DNA lebih lama. Bagi peneliti, kombinasi ini sangat jarang muncul di jantung Sahara.

Tim internasional yang dipimpin Nada Salem dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology kemudian mengekstrak DNA dari gigi dan bagian tulang yang memiliki densitas tinggi. Teknologi laboratorium generasi terbaru memungkinkan mereka mengambil fragmen yang sangat kecil, lalu merakitnya kembali menjadi genom lengkap. Ini menjadi genom manusia pertama yang berhasil diperoleh dari wilayah Sahara tengah.
Sebelum temuan ini, data DNA kuno hanya berasal dari tepi Sahara seperti Maroko, Mesir, dan wilayah pesisir Afrika Utara. Bagian tengah gurun tetap menjadi wilayah kosong dalam peta genetika Afrika karena tidak ada sampel yang bertahan. Takarkori mengisi ruang kosong itu. Genom dua perempuan ini memberi bukti pertama tentang siapa yang tinggal di Sahara hijau, bagaimana hubungan mereka dengan populasi Afrika Utara lain, dan bagaimana komunitas padang rumput ini beradaptasi ketika lanskap berubah.

Informasi ini membuka peluang baru. Peneliti kini bisa membandingkan garis keturunan Takarkori dengan populasi kuno dan modern. Mereka dapat menilai apakah komunitas Sahara terhubung dengan Levant, Afrika sub Sahara, atau Eropa. Temuan ini juga membantu memetakan pola migrasi, penyebaran teknologi, dan interaksi budaya dalam periode iklim ketika Sahara bukan gurun, tetapi ekosistem hijau yang mendukung kehidupan manusia.
Kehidupan sehari hari di Sahara yang hijau
Saat kedua perempuan ini hidup, masyarakat Takarkori telah membangun sistem penggembalaan yang mapan. Mereka memelihara sapi, kambing, dan domba dalam jumlah besar sebagai sumber daging, susu, dan bahan mentah. Arkeolog menemukan kandang batu yang tersusun rapi. Struktur ini menunjukkan adanya pengelolaan ternak yang terorganisasi. Tembikar yang digunakan sehari hari menyimpan sisa lemak susu. Temuan ini memberi bukti bahwa masyarakat tersebut sudah memanfaatkan produk hewani secara intensif, bukan sekadar berburu atau mengumpulkan makanan liar. Seni cadas di tebing sekitar Takarkori memperlihatkan adegan penggembalaan dan interaksi manusia dengan ternak. Lukisan ini menjadi dokumentasi visual tentang kehidupan mereka dalam lanskap yang kini telah hilang.
Kerangka yang ditemukan di situs ini sebagian besar milik perempuan, anak, dan remaja. Susunan usia dan jenis kelamin ini cocok dengan pola komunitas menetap. Mereka tinggal dalam kelompok keluarga yang tidak banyak bergerak. Analisis isotop pada email gigi menguatkan hal tersebut. Kandungan kimia pada gigi menunjukkan bahwa mereka mengonsumsi air dan makanan dari sumber lokal sepanjang hidup. Tidak ada tanda perjalanan jauh atau perpindahan musiman dalam skala besar. Mereka tumbuh, bekerja, membesarkan anak, dan meninggal dalam radius yang relatif kecil di sekitar Takarkori.
Melalui gabungan data bioarkeologi dan rekonstruksi lingkungan, gambaran kehidupan mereka kini tampak lebih jelas. Mereka hidup dekat danau yang jernih. Mereka memindahkan ternak mengikuti pertumbuhan rumput yang bergantung pada musim hujan. Mereka menyesuaikan ritme hidup dengan perubahan alam, tetapi tetap berada dalam wilayah yang sama dari tahun ke tahun. Sistem pengelolaan ternak yang mereka bangun menunjukkan adaptasi yang baik terhadap ekosistem padang rumput Sahara hijau.
Bagian penting dari kisah ini muncul lewat analisis genom. Hasilnya menunjukkan bahwa tujuh puluh sampai delapan puluh persen keturunan dua perempuan Takarkori berasal dari garis Afrika Utara kuno. Garis ini telah terpisah dari leluhur Afrika sub Sahara sejak lima puluh ribu sampai enam puluh ribu tahun lalu. Kesinambungan ini juga terlihat pada individu dari Gua Taforalt di Maroko yang hidup lima belas ribu tahun lalu. Takarkori menjadi bukti bahwa populasi Afrika Utara mempertahankan identitas genetik yang khas selama puluhan ribu tahun meski kondisi iklim berubah dari basah menjadi kering.
Perubahan mulai terlihat setelah Sahara mengering sekitar lima ribu tahun lalu. Penyusutan sumber air, hilangnya padang rumput, dan munculnya gurun memicu pergerakan penduduk. Migrasi dari Timur Tengah dan kemudian Eropa masuk ke Afrika Utara. Komposisi genetik wilayah berubah. Garis keturunan Takarkori tidak lagi bertahan dalam bentuk murni. Namun jejaknya masih bisa dilacak pada beberapa kelompok Berber, Arab Maghreb, serta sebagian komunitas Fulani dan Tuareg.
Bagaimana praktik peternakan menyebar
Sumber peternakan di Sahara menjadi pertanyaan penting. Sapi domestik pertama muncul di Afrika Utara sekitar delapan ribu sampai sembilan ribu tahun lalu. Banyak ahli menduga bahwa sapi ini berasal dari Levant melalui Mesir. Jika terjadi migrasi besar, seharusnya DNA manusia Takarkori memuat proporsi genetik Timur Tengah yang lebih besar.
Namun hasil genom memperlihatkan hanya lima sampai sepuluh persen komponen Timur Tengah. Angka kecil ini menunjukkan bahwa pengetahuan peternakan kemungkinan menyebar lewat kontak budaya, bukan lewat perpindahan manusia dalam jumlah besar. Masyarakat lokal belajar memelihara ternak dari kelompok lain. Pengetahuan berjalan lebih cepat daripada mobilitas manusia.
Pola ini juga terlihat pada penyebaran tembikar, teknik pembuatan manik, dan seni cadas di seluruh Sahara hijau. Penyebaran berlangsung luas, tapi tidak selalu diikuti oleh arus migrasi besar.
Banyak anggapan bahwa Sahara saat masih hijau memungkinkan migrasi bebas antara Afrika Utara dan sub Sahara. Asumsi ini menduga bahwa pencampuran genetik terjadi besar besaran. Data Takarkori memberi gambaran berbeda. Perbedaan genetik antara kedua wilayah tetap tajam.
Dua perempuan Takarkori bahkan lebih dekat dengan populasi kuno Eropa dan Timur Tengah daripada dengan populasi Afrika Tengah saat ini. Ini menunjukkan bahwa meski lebih basah, Sahara tetap menjadi batas ekologis yang kuat. Padang rumput, danau, dan sungai yang muncul tidak menghapus hambatan jarak dan lingkungan. Jalur migrasi tetap terbatas.