- Para nelayan terganggu dengan ledakan ubur-ubur di Pelabuhan Perikanan Mayangan. Mereka kesulitan melajukan kapal dari pesisir. Kulit nelayan gatal-gatal setelah bersentuhan dengan ubur-ubur.
- Biasanya, ledakan ubur-ubur menarik minat para tengkulak untuk membeli ubur-ubur dewasa. Mereka bahkan datang dari luar kota. Sedangkan ubur-ubur anakan dibiarkan di lautan. Tengkulak berdatangan dari luar kota, bahkan tinggal di Mayangan. Setiap satu keranjang ubur-ubur seharga Rp 20.000.
- Fenomena ledakan ubur-ubur ini berpotensi ancam pasokan listrik Jawa-Bali. PT Paiton Operations and Maintenance Indonesia (PT POMI) memasang tiga lapis jaring pengaman ubur-ubur di pantai. Cara ini efektif untuk menahan masuknya ubur-ubur ke dalam sistem pendingin PLTU.
- Ahli Iktiologi Ikan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Profesor Diana Arfiati menduga, ledakan ubur-ubur terjadi akibat berkurangnya populasi penyu sebagai mangsa alami. Jika populasi penyu banyak, katanya, ledakan populasi ubur-ubur bisa dihindari.
Sejak dua pekan terakhir para nelayan di Pelabuhan Perikanan Mayangan dan Tanjung Tembaga Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, risau dengan kehadiran koloni ubur-ubur (Physalia utriculus). Nurhadi, nelayan asal Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, menuturkan, sejak awal Mei banyak ubur-ubur yang bergerombol di pesisir Pantai Mayangan. Situasi itu menyulitkan nelayan untuk berlayar ke lautan lepas.
“Saya sama teman-teman nelayan ke laut setiap hari. Ubur-ubur itu sangat banyak, kecil-kecil atau anakan,” kata Nurhadi saat dihubungi Mongabay, Rabu (28/5/25).
Sedangkan individu yang besar tidak banyak ditemukan di area tersebut. Kumpulan ubur-ubur tersebut masuk sampai ke area bersandar kapal-kapal di pelabuhan Mayangan.
Nurhadi melaut menggunakan kapal di bawah 10 Gross Tonnage (GT), dengan alat tangkap berupa pancing ulir, pancing ulur, jaring, dan bubu. Hasil tangkapan berupa ikan pongkor, kunyit, kurisi, tongkol, dan tangkur. Sebagian nelayan menggunakan ubur-ubur dewasa untuk umpan memancing ikan.
Kehadiran kelompok ubur-ubur sangat mengganggu saat melajukan kapal dari pesisir. Menurut Nurhadi, kulit gatal-gatal setelah bersentuhan dengan ubur-ubur. Fenomena itu terjadi saban tahun dan bisa berlangsung sampai dua bulan.
Biasanya, ledakan ubur-ubur menarik minat para tengkulak untuk membeli ubur-ubur dewasa. Mereka bahkan datang dari luar kota. Sedangkan ubur-ubur anakan dibiarkan di lautan. Tengkulak berdatangan dari luar kota, bahkan tinggal di Mayangan. Setiap satu keranjang ubur-ubur seharga Rp20.000. Saat itu, ia terpaksa menangkap ubur-ubur karena bertepatan saat paceklik ikan. Lumayan, saat itu ia menghasilkan sekitar 20 keranjang.
“Murah, dulu sempat terjadi konflik nelayan dan tengkulak karena harga yang murah. Konflik selesai, setelah dimediasi perangkat desa setempat,” katanya. Menurutnya, di tengkulak ubur-ubur biasa ditaburi garam. Namun, ia tak paham ubur-ubur tersebut selanjutnya dipakai untuk apa.
Haris, warga Kota Probolinggo melihat ubur-ubur saat menumpang kapal menuju Gili Ketapang, pulau kecil seluas 68 hektar yang menjadi objek wisata. Giri Ketapang memiliki terumbu karang yang indah, cocok untuk snorkeling. Lokasinya berada di selat Madura, sedangkan secara administratif berada di Kabupaten Probolinggo, berjarak sekitar delapan kilometer dari pantai Mayangan, Probolinggo.
“Ubur-ubur banyak sekali, mungkin memang musiman,” ujarnya. Namun, ia juga melihat banyak ubur-ubur di pesisir pantai Mayangan, Probolinggo. Ia lantas mendokumentasikannya dan diunggah di laman Facebook, 25 Mei 2025.

Ancam produksi listrik Jawa-Bali
Tak hanya bertebaran di perairan pelabuhan Mayangan dan Tanjung Tembaga, tetapi ubur-ubur juga memasuki kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton. Sehingga dikhawatirkan bakal mengganggu operasional pembangkit listrik hingga mempengaruhi pasokan listrik Jawa Bali.
Presiden Direktur PT Paiton Operations and Maintenance Indonesia (PT POMI), perusahaan operator PLTU milik Paiton Energy, Sugiyanto, menjelaskan jika intensitas dan jumlah ubur-ubur sudah jauh berkurang. Ia melakukan mitigasi dengan memasang tiga lapis jaring pengaman ubur-ubur di pantai. Cara ini efektif untuk menahan masuknya ubur-ubur ke dalam sistem pendingin PLTU.
“Kami berkolaborasi dengan PLN Nusantara Power yang mengelola PLTU unit 1, 2 dan 9 dan Jawa Power/YTL sebagai Pengelola PLTU unit 5 dan 6,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Mongabay.
Sedangkan POMI mengelola Paiton unit 3, 7, dan 8. Mereka bersama-sama mengatasi ledakan ubur-ubur tersebut. Sehingga tidak mengganggu operasi pembangkit listrik.
Unit pembangkit listrik yang dikelola POMI, beroperasi normal. Menghasilkan energi listrik total 2.045 Megawatt (MW) sesuai kapasitas yang tersedia. Ia juga melibatkan nelayan setempat untuk membantu mengendalikan populasi ubur-ubur. “PT POMI berkomitmen penuh menjaga keandalan dan kecukupan pasokan energi listrik di sistem Jawa-Bali saat ini dan kedepan,” katanya.

Penyebabnya?
Diana Arfiati, Ahli Iktiologi Ikan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya menjelaskan siklus hidup ubur-ubur dibagi dua. Yakni fase ubur-ubur polyp yang menempel di substrat berupa batu atau terumbu karang. Fase ini merupakan bentuk tubuh ubur-ubur yang tidak bergerak dan menempel pada permukaan. Selanjutnya, fase medusa yakni ubur-ubur yang bisa berenang.
“Ubur-ubur ini musiman. Saya 10 tahun saat akan meneliti ubur-ubur menunggu musim seperti ini,” katanya. Penelitian dilakukan pada Juni dan Juli 10 tahun lalu. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi jenis ubur-ubur di Probolinggo. Salah seorang anggota tim, Profesor Andayani menggunakan racun ubur-ubur digunakan mengendalikan bakteri dari kepiting.
Menurut dia, ledakan ubur-ubur tidak ada kaitan dengan perubahan iklim maupun kerusakan lingkungan. Diana menduga, ledakan ubur-ubur terjadi akibat berkurangnya populasi penyu sebagai mangsa alami. Jika populasi penyu banyak, katanya, ledakan populasi ubur-ubur bisa dihindari.
Ledakan populasi ini tak lama, nelayan telah berpengalaman dan tahu musimnya. Saat musim medusa saja, katanya, setelah itu bersembunyi menjadi polyp lagi, sedangkan medusa mati atau dimakan organisme lainnya.
Dalam siklus hidup ubur-ubur biasa yang cenderung hidup mendekat perairan karang dan tidak jauh dari mangrove. Lantaran kawasan tersebut menyediakan kapan yang melimpah, berupa planton dan biota laut ukuran kecil. “Tanjung tembaga kan dekat karang di Gili Ketapang, dekat mangrove. Kaya sumber pakan.”
Diana menjelaskan ubur-ubur menjadi makanan untuk penyu dan beberapa jenis ikan. Namun, masyarakat harus waspada karena ubur-ubur memiliki racun di tentakel dan sekitar payung. Sehingga menyebabkan gatal-gatal. “Segala sesuatu kalau terlalu banyak memang mengganggu karena menjadi tidak seimbang,” katanya.
Dalam Phylum Coelenterata atau atau hewan tanpa tulang belakang ada sub klas Cnidaria. Terdiri atas tigas klas. Yakni, Hidozoa, ada yang selamanya polyp, ada yang campuran atau dua fase polyp dan medusa. Berikutnya, Schyphozoa yang selamanya dalam hidupnya campuran. Anthozoa atau karang yang bisa membentuk terumbu karang yang selamanya polyp tak ada yang memasuki fase medusa. “Di Probolingo banyak yang Hidozoa dan Schyphozoa,” katanya.
*****