- Badan Pusat Statistik [BPS] Jawa Timur menunjukkan, terdapat 800.000 bayi umur 0 hingga 3 tahun di Jawa Timur. Setiap bayi rata-rata memakai 4 popok sehari, diperkirakan 3,2 juta popok digunakan setiap hari
- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta masyarakat tidak buang sampah ke Sungai Brantas, termasuk popok bayi
- Sungai merupakan sumber kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya dalam tatanan ekosistem sungai
- Berdasarkan riset Ecoton, sekitar 80 persen ikan yang ada di Sungai Brantas terpapar mikroplastik
Gebrakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di awal menjabat, langsung mengarah ke Sungai Brantas. Satu langkah nyata adalah gerakan Adopsi Sungai Brantas, dengan melakukan bersih Sungai Brantas, Minggu [17/02/2019].
“Saya tadi nemu sampah popok, abot (berat), karena sudah bercampur air. Budaya dan tradisi kita harus bisa menjaga dan mencintai sungai, jangan buang sampah ke sungai,” kata Khofifah kepada Mongabay.
Menurut Khofifah, air merupakan sumber kehidupan manusia dan berbagai makhluk hidup yang ada di ekosistem sungai. “Ikan punya hak untuk hidup, keragaman hayati di sungai punya hak untuk berkembang. Kalau Sungai Brantas bersih, urip dadi becik [hidup jadi baik],” ujarnya.
Sebagai bagian 99 hari program kerja bersama Wakil Gubernur Emil Elistianto Dardak, Khofifah membagikan kotak sampah khusus popok di 99 titik jembatan di sepanjang aliran Sungai Brantas.
Baca: Jangan Lagi Buang Sampah Popok ke Sungai, Ini Dampaknya
Sampah popok memang menjadi perhatian serius. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik [BPS] Jawa Timur, terdapat 800.000 bayi umur 0 hingga 3 tahun di Jawa Timur. Dari angka itu, setiap bayi rata-rata sehari memakai 4 popok, total mencapai 3,2 juta popok.
“Dari angka itu 1,2 juta dibuang ke sungai. Masyarakat harus difasilitasi dropbox atau kontainer [sampah], sebagai langkah preventif. Kalau sudah dibuang ke sungai, butuh alat berat mengangkutnya,” lanjutnya.
Di kesempatan ini dideklarasikan juga Relawan Jogo Kali, terdiri 45 kelompok masyarakat dan LSM lingkungan yang berkomitmen menjaga kelestarian sungai. “Ini akan jadi gerakan bersama masyarakat Jawa Timur. Penegakan hukum pun dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap perusahaan yang membuang limbah ke sungai,” ujar Khofifah.
Baca: Riset Ecoton: 37 % Sampah di Sungai Surabaya adalah Popok Bayi
Langkah nyata ini akan ditindaklanjuti melalui surat edaran, isinya melarang masyarakat membuang sampah ke sungai. “Khususnya, warga Kebonsari,” kata Heri Sumargo, Lurah Kebonsari, Kota Surabaya, usai menerima bantuan dropbox sampah popok.
Aziz, koordinator relawan dari Brigade Evakuasi Popok mengatakan, kegiatan bersih sungai di kawasan Karangpilang, Surabaya, telah mengangkut dua karung sampah popok. Ini belum termasuk plastik dan material pabrik. Sungai, masih menjadi tempat pembuangan favorit sebagian masyarakat. “Ada kasur dan bantal juga yang belum diangkut,” terangnya.
Baca juga: Menanti Putusan Gugatan, Masyarakat Jawa Timur Diingatkan Bahaya Sampah Popok
Apresiasi
Direktur Eksekutif Ecoton, Prigi Arisandi, mengapresiasi respon cepat Gubernur Jawa Timur menangani sampah popok. “Selama ini sulit ditembus dan saling lempar tanggung jawab, sekarang ada inisiatif menyediakan dropping point popok. Masyarakat Jawa Timur harus sadar untuk tidak membuang sampah popok ke Sungai Brantas, sungai sebagai bahan baku air minum PDAM di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo,” terangnya.
Komitmen semua pihak mulai dari masyarakat hingga pemerintah, sangat dibutuhkan untuk memperbaiki kualitas air Sungai Brantas dan Sungai Surabaya.
“Kami mencatat ada enam peristiwa ikan mati massal di tahun 2018. Artinya, ada mismanagement dalam pengawasan pencemaran Sungai Brantas. Kualitas airnya memburuk, dan 80 persen ikan yang ditangkap, ditemukan mikroplastik dalam lambungnya,” ujar Prigi.
Ini awal yang baik, karena ada inisiatif mendorong industri juga untuk berkomitmen, tidak membuang limbah ke sungai. “Kunci sukses menuju pengelolaan Brantas secara gotong royong dan berkeadilan sosial,” tandasnya.