Hari: 25 Maret 2017

  • Pemerintah Sigi Komitmen Jalankan Reforma Agraria, Seperti Apa?

    Pemerintah Sigi Komitmen Jalankan Reforma Agraria, Seperti Apa?

    Lahan pertanian Komunitas Marena, Sigi. Komunitas adat ini sudah mendapatkan pengakuan daerah dan penetapan hutan adat dari KLHK Foto: Della Syahni

     

    Pemerintah Sigi berkomitmen menjalankan kebijakan reforma agraria sebagai isu strategis di daerah itu. Peta jalan dan rencana aksi pun dibuat. Demikian disampaikan Bupati Sigi Irwan Lapata kala sarasehan Kongres Masyarakat Adat di Sumatera Utara, pekan lalu.

    Kabupaten Sigi terdiri 15 kecamatan dan 176 desa, 75,97% wilayah merupakan kawasan hutan. Di dalamnya ada hutan adat, hutan masyarakat dan lain-lain termasuk hutan konservasi. Sekitar 24,9% merupakan kawasan budidaya seperti pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan usaha kecil menengah.

    Irwan mengatakan, persoalan besar masyarakat Sigi wilayah kelola masyarakat sangat kecil sedang laju pertumbuhan penduduk terus meningkat. Jika tak segera diatasi, angka kemiskinan akan naik.

    Dia berharap, kawasan konservasi bisa untuk kepentingan bersama. Selama ini, katanya,  klaim negara terlalu kuat dalam kawasan konservasi hingga sangat menyulitkan masyarakat sekitar. “Misal, ketika akan membangun mikrohidro untuk areal-areal terpencil dan terisolir karena ada klaim negara dan masuk kawasan konservasi, kami tak bisa melakukan apapun,” katanya.

    Selain itu, banyak masyarakat tinggal sekitar kawasan huatn menanam pohon untuk kehidupan sehari-hari seperti cokelat. Masyarakat sudah menanam bertahun-tahun, tetapi tak bisa menikmati karena masuk kawasan konservasi. Masyarakat yang tak mengerti soal hukum, justru dibuat ketakutan dengan ancaman pidana.

    “Tak ada keadilan bagi mereka. Mereka menanam cokelat selama tujuh sampai delapan tahun, tapi tak bisa diambil. Tak ada yang peduli. Lalu dimana peran negara? Ini semua yang menjadi persoalan kita. Saya ingin reforma agraria menjadi jawaban atas permasalahan itu.”

    Pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sigi ini mengatakan, saat maju menjadi calon bupati, dia sudah banyak mendapatkan informasi mengenai banyak hak masyarakat adat tak diperhatikan negara. Jadi, sejak awal berkomitmen mendorong penuh pengakuan hak-hak masyarakat adat.

    “Saat itu saya berpikir harus ada konsep pengakuan wilayah itu. Selama ini wilayah adat banyak jadi areal konservasi dan kekuatan negara sangat penuh. Kami tak bisa bergerak. Kita tahu kawasan konservasi tak bisa diganggu, klaim negara sangat kuat.”

    Kabupaten Sigi, katanya,  ada 143 desa masuk kawasan. Angka ini, terlampau besar. Penguasaan negara terlalu kuat terhadap kawasan hutan, hingga rentan merugikan masyarakat di sekitar hutan.

    “Ini harus kita akui hingga masyarakat bisa bekerja dan mencari nilai kehidupan. Termasuk banyak ketimpangan sosial, konflik tanah di Sigi. Pemerintah harus memberikan pengakuan terhadap wilayah-wilayah itu.”

    Bupati Sigi, sebelumnya, pernah mendeklarasikan wilayah sebagai Kabupaten konservasi. Irwan dengan jelas menolak. Ketika jadi kabupaten konservasi ada kekhawatiran justru makin marak kriminalisasi yang kepada masyarakat adat yang tinggal di sekitar hutan.

    Meski menolak menjadi Kabupaten konservasi, bukan berarti program kerja tak ramah lingkungan. Sesuai visi misi, dia ingin jadikan Sigi itu kabupaten hijau.

    “Ini jawaban dari upaya kita menolak kabupaten konservasi. Sigi hijau berarti menjunjung nilai-nilai konservasi. Mungkin agak berbeda, saya melawan justru menjunjung nilai-nilai konservasi. Setiap tahun kami berikan bantuan bibit-bibit tanaman endemik yang kami dorong ke gunung-gunung yang memang sudah dirambah. Kemudian tanaman produktif kepada masyarakat yang mempunyai kawasan untuk dihidupkan.”

    DIa yakin, reforma agraria bisa menjawab berbagai permasalahan di wilayahnya. Karena itu, dalam rencana daerah, reforma agraria jad isu penting.

    Untuk menjalankan reforma agraria, tentu memerlukan dukungan sinergis dari banyak pihak.

    “Kemarin saya bersama ibu Eva Bande dan teman-teman menyusun program reforma agraria sebagai isu strategis dalam RPJMD selama lima tahun ke depan. Kami dorong hingga dianggarkan oleh pemerintah. Semua pemangku kepentingan harus bersatu mendorong reforma agraria ini. Hingga pengakuan tanah adat jadi bagian dari kita.”

    Dia bilang, rencana aksi tahun ini, Sigi menargetkan beberapa hal. Sigi sudah terdata sekitar 107 hektar menjadi tanah objek reforma agrarian yang akan didistribusikan bertahap kepada masyarakat sekitar hutan.

    Tanah ini, katanya, dari eks HGU, tanah transmigrasi sudah dikeluarkan dari kawasan hutan dan belum bersertifikat. Rencana aksi lain, mendorong pengakuan dan pengesahan beberapa wilayah seperti hutan adat di Marena 1.000 hektar, Toro 3.000 hektar, Boladangko 3.000 hektar, Tangkulowi 1.500 hektar. Lalu, hutan desa di Sigimpu 400 hektar, Bobo 300 hektar, hutan adat Moa 2.500 hektar dan Masewo 1.500 hektar.

    “Insya Alloh bisa terealisasi dengan dukungan dari semua pihak.”

     

    Eva Bande dari Gugus Tugas Reforma Agraria Sigi mengatakan, masih banyak kesalahan anggapan bahwa reforma agraria itu bagi-bagi tanah. Padahal, reforma agraria ialah suatu operasi yang pemerintah untuk memberikan perlindungan terhadap tanah-tanah rakyat yang terancam beralihfungsi, atau dialihkan kepemilikan kepada badan-badan raksasa. Reforma agraria ini mengubah struktur penguaaaan atas tanah.

    Eva ikut terlibat mengawal ketat apa yang dilakukan Sigi dengan menjadikan reforma agraria sebagai landasan dan isu strategis tertuang dalam dokumen daerah.

    Tim kerja Eva juga merumuskan langkah atau peta jalan reforma agraria di Sigi yang tiap daerah mempunyai problem berbeda-beda.  Ada kawasan dalam hutan, bekas HGU yang sudah dikuasai masyarakat tetapi belum ada penegasan atas hak, dan lain-lain.

    “Perlu diidentifikasi subyek dan obyek. Kemudian ada non dan kawasan yang spesifik di beberapa tempat yang memiliki adat istiadat kuat. Perlakukan setiap tempat berbeda-beda. Itulah yang dirumuskan tim.”

     

  • Sebagian Warga Jakarta Masih Sulit Teraliri Air Bersih

    Sebagian Warga Jakarta Masih Sulit Teraliri Air Bersih

    Akses air bersih tak ada, warga Jakarta inipun setiap hari membeli air pakai jerigen. Foto: Indra Nugraha

     

    Saat penyaluran air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum terhenti di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara pada 1997, Halimah langsung mendatangi kantor PDAM. Seorang diri, dia mengadu dan protes, mengapa air PDAM tak mengalir.

    “Bu, kalau orang perorang datang mengadu tak akan digubris. Kalau mau (dilayani), kumpulkan masyarakat yang airnya mati,” kata Halimah mengenang pelayanan PDAM kala itu.

    Atas dukungan Serikap Perempuan (SP), Halimah lantas mengumpulkan warga yang airnya mati. Dia bergabung dengan SP dan kini jadi dewan penasihat  SP Jabotabek.

    Hingga 2007 tak ada perubahan berarti. Tak ada realisasi tuntutan warga. Halimah mulai turun ke jalan menyuarakan pemenuhan hak warga atas air bersih. Perlahan-lahan setelah banyak disksusi dari kampung ke kampung, dari Cilincing hingga Rawa Badak, Halimah mulai sadar. Sebagai warga negara dia berhak atas pelayanan akan air bersih yang baik, dan dijamin UU.

    “Sejak 2009, kita turun ke jalan.”

    Kondisi tak berubah, sumber air bersih makin susah. Geram, pada 2013, Halimah dengan dorongan sejumlah lembaga jaringan SP lain, ikut memasukkan gugatan ke pengadilan. Mereka menggugat Gubernur Jakarta hingga Presiden.

    Baca juga: Menakar Kebijakan Jokowi soal Air Bersih Jakarta

    Perjuangan Halimah cs menggugat pemerintah yang menyerahkan pengelolaan air kepada swasta, Palyja dan Aetra, bukan hanya untuk warga kampungnya. Di Marunda Kepu, perkampungan nelayan, pipa PDAM bahkan belum sampai ke rumah warga.

    “Pipa air baru sampai depan gang,” kata Susan H. Romica, Deputi Pengelolaan Program, Monitoring dan Evaluasi Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara).

    Warga Marunda Kepu kini menghadapi dua ancaman sekaligus: ancaman reklamasi Teluk Jakarta dan akses mereka terhadap air bersih.

     

    Sungai bagi orang Betawi

    Bicara Jakarta, tak bisa tak lepas dari orang Betawi. Dalam budaya Betawi ada hal penting dalam setiap pesta pernikahan, yakni roti buaya. Mengapa roti buaya penting bagi masyarakat Betawi? Apa hubungan binatang hidup di sungai ini dengan orang Betawi?

    Sejarawan muda, JJ Rizal mengatakan, bagi masyarakat Betawi, buaya adalah simbol kesetiaan. Dalam ensiklopedi binatang, buaya hanya berhubungan dengan satu buaya lain.

    “Secara geografi orang Betawi hidup diantara 13 sungai. Termasuk masyarakat sungai paling besar,” katanya mengutip buku Anthony Reid.

    Buaya ditempatkan sebagai mitologi kuat di Betawi, tak bisa dipisahkan dari kedung dan kobakan di Jakarta. Buaya dianggap menghuni seluruh kedung dan kobakan diJakarta. Orang Betawi dulu bahkan memberi sesajen dan doa untuk hewan-hewan sungai di kedung dan kobakan.

    Hewan sungai sangat dihormati karena simbol roh nenek moyang yang menjaga sumber kehidupan.

    “Kalau sumber ini dirusak tak ada lagi harmoni. Ciliwung itu artinya harmoni,” ucap Rizal.

    Hingga akhir abad 19, pesisir Jakarta menjadi pusat peradaban dan orientasi hidup masyarakat Betawi. Sejak Daendels membangun jalan raya pos orientasi hidup masyarakat berubah. Air makin tak penting. Kedung dan kobakan makin langka.

    Apa hubungan dengan privatisasi air Jakarta? Rizal menyayangkan, putusan pengadilan yang memenangkan gugatan warga tak ada argumentasi soal budaya yang menunjukkan hubungan sungai dengan pantai dan laut dan pengelolaan saat ini.

    “Di Jakarta, kota paling kasihan sekarang, Di darat nggak bisa lihat sungai, di pesisir nggak bisa lihat laut.”

     

    Salah fokus

    Prathiwi Widyatmi Putri, Peneliti kota dan infrastruktur menilai, dalam pengelolaan air pemerintah malah sibuk mengurus bagian administrasi, pembagian saham dengan pihak asing, tetapi tak melihat kompleksitas di luar itu. Yakni soal tata ruang, sumber air dan air sebagai sumber kehidupan.

     

    Sungai Ciliwung yang memisahkan Jakarta dalam penguasaan dua perusahaan swasta pengelola air Jakarta, Palyja dan Aetra. Foto: Setkab.go.id

     

    Sejak dulu, kata Ami, sapaan akrabnya, Indonesia belum punya model pengelolaan air yang baik. Sistem pipanisasi, dengan cakupan pipa sekitar 60% hanya melayani sambungan 800.000 warga.

    “Kalau lihat hitungan ekonomi sejak 30 tahun lalu kita menggali sejauh itu tapi pelayanan sedikit sekali.”

    Dari penelitiannya, ada dua kelompok di Jakarta yang tak menikmati pelayanan air ini yakni pemukiman elit sangat mahal dan kampung-kampung seperti Marunda dan Marunda Kepu. “Yang satu sama sekali tak terlayani dan menggunakan air sumur dangkal yang sudah tercemar, ada golongan sangat kaya yang mampu membuat sistem pengelolaan air privat.”

    Yang terlayani pun tak bisa mengandalkan sistem pipa utuh. Saat air mati, misal, masyarakat kembali ke sumber air lain, seperti sumur atau terpaksa membeli air gorobakan seperti Halimah di Cilincing.

    “Berdekade kita berupaya menggali dan menaruh pipa tapi tidak menyelesaikan masalah.”

    Menurut Ami, sistem pemasangan pipa, lompat kodok, alias mencari area kosong tanpa menghiraukan tata kota hingga seringkali jauh dari pipa induk dan praktis bikin biaya besar.

    Dalam diskusi memperingati Hari Air 2017 ini, Koalisi Masyarakat Menolak Swastanisasi Air Jakarta (KMSAJ) hendak membangun kampanye bersama atas sengkarut pengelolaan air, penggusuran atas nama normalisasi sungai, reklamasi dan pemukiman, hingga jadikan isu pengelolan air prioritas pemerintah.

    “Saya tak setuju istilah air langka. Air kita banyak, cuma salah urus,” ucap Ami.

     

    Sumber air

    Pada diskusi berbeda, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan, Indonesia kini terbebani permasalahan krisis air bersih di berbagai daerah.

    Melihat air, perlu tahu sistem secara keseluruhan, mulai sumber air atau hulu, kemudian sebagai masnusia perlu mengkonservasi air agar mampu mengalir dan berkesinambungan, dari hulu ke hilir.

    ”Konservasi air dari hulu ke hilir masih perlu pendekatan lebih baik lagi,” kata Wahjoe Soeprihantoro, Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, di Jakarta, Kamis (23/3/17).

    Hal paling utama, katanya, tetap mempertahankan cekungan air tanah dan tak mengubh tata ruang sumber air.

    Melalui, sistem terintegrasi, katanya, sumber air mampu jadi pondasi perekonomian daerah. ”Pondasi dalam ketahanan pangan dan energi suatu wilayah yang berujung pada kesejahteraan perekonomian masyarakat di daerah tersebut,” kata Anto Tri Sugiarto, Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI.

    Selama 10 tahun, LIPI berhasil mengaplikasikan konsep ketahanan air pada wilayah minim akses terhadap ketersediaan air bersih atau krisis air.

    Hal itu dengan konsep pengelolaan dan penerapan teknologi, yakni, one island, one plan, one water yang dilakukan di Bangka Barat.

    ”Di Jawa sering krisis, tapi daerah lain ada yang kelebihan, ini terlihat air tak dikelola dengan baik,” katanya.

    Dia mengatakan, setiap daerah seharusnya memiliki perencanaan terkait sumber air, bagaimana menjaga dan ketersediaan dengan mengacu aspek ekohidrologi.

    Adapun, konsep terintegrasi LIPI, adalah teknologi pengelolaan sumber air, pengolahan air, konservasi air, monitoring kualitas dan kuantitas air, teknologidistribusi air, testing kualitas air dan daur ulang air limbah.

    Dia mencontohkan, pengolahan Bangka Barat, LIPI bekerjasama pemerintah daerah itu dan PDAM. LIPI pakai metode advanced oxidation processes dan electromagnet water treatment.

    ”Kita menetralkan asam dari kolong-kolong tambang, kemudian diolah jadi air minum masyarakat.”

    Pada dasarnya, teknologi ini menjadi lebih mahal, dibandingkan menjaga sumber lahan untuk jadi serapan air, dan mengalir jadi air tanah.

    Selain itu, katanya, pengelolaan limbah industri dapat melalui lahan basah, menanam tanaman, baik di lereng badan air ataupun di tengah badan air.

    ”Jadi mengapung, ini sudah banyak diterapkan beberapa negara, seperti Singapura, Vietnam, Jepang,” kata Cynthia Henny, Peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI.

    Langkah ini, katanya, mampu menahan laju air dan ambil bagian menyerap kadar limbah di dalam tanah. Meski demikian, kata Chyntia, sangat sulit dilakukan di Indonesia, salah satu di Jakarta.

    ”Perlu goodwill, selama ini selalu dipermasalahkan terkait APBD, padahal terhitung murah,” katanya, seraya mengatakan, ukuran 5×5 meter biaya Rp20 juta.

     

     

     

     

  • Ribuan Warga Korban Batubara Laporkan Dugaan Korupsi ke KPK

    Ribuan Warga Korban Batubara Laporkan Dugaan Korupsi ke KPK

    Aksi para korban batubara di KPK. Foto: Zamzami

     

     

    Sekitar 2.000-an warga dari berbagai daerah mendatangi kantor Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta, Kamis (23/3/17). Mereka memberikan dukungan pengusutan kasus korupsi industri batubara dan mineral lain sekaligus melaporkan kasus terkait bisnis ini ke KPK.

    Dari ribuan orang yang mulai aksi berjalan kaki dari Menteng ke Gedung KPK, ada Junainah (36) warga Desa Roban, Batang, Jawa Tengah. Dia datang bersama suami dan anak, serta 600 warga Batang.

    Dengan menempuh perjalanan delapan jam dari Batang, Junainah tiba di Masjid Istiqlal menjelang subuh, Kamis (23/3/17). Istiqlal jadi titik temu peserta aksi dari sejumlah daerah di Indonesia termasuk Jepara, Cilacap, Cirebon, Labuan, Pelabuhan Ratu, Indramayu hingga Bengkulu dan Kalimantan. Mereka, warga korban pembangunan PLTU batubara dan pertambangan berada di pesisir utara Jawa.

    “Kami terus berjuang menolak PLTU Batang. Sudah lima tahun berjuang. Sudah habis semua lahan (sawah). Suami saya nelayan dan tempat mencari ikan sudah ditutupi lumpur dari galian pembangunan dermaga,” katanya.

    Suami Junainah, Karnoto (41) adalah nelayan, biasa mencari kepiting, cumi, ikan dan udang. Daerah tangkapan sekitar tiga mil dari bibir pantai. Sejak pembangunan dermaga PLTU Batang mulai, pantai makin keruh.

    “Lumpur (material galian dasar laut) itu dibuang di sana (tempat biaya menjaring kepiting). Dapatnya ya cuma lumpur, tok. Kini makin susah cari makan,” katanya.

    Semangat penolakan PLTU batubara juga dating dari Yanto, warga Jepara. Bersama ratusan warga Jepara, mereka mendesak pemerintah membatalkan rencana ekspansi pembangkit V dan VI.  PLTU Tanjung Jati, Jepara beroperasi sejak 2006 dengan empat pembangkit jalan berkapasitas produksi 2.640 MW. Dengan tambahan dua unit, PLTU ini akan meningkatkan produksi 1.000 MW.

    “Anak-anak sudah menderita akibat polusi udara. Kami ingin unit lima dan enam dibatalkan,” katanya.

    Dalam laporan Ancaman Maut PLTU Batubara tahun 2005, Greenpeace mengungkapkan, estimasi PLTU Jepara menyebabkan 1.020 kematian dini per tahun. Angka ini termasuk 450 kematian akibat stroke, 400 penyakit jantung iskemik, 60 kanker paru-paru, 90 kematian pernapasan kronis dan 20 kematian anak-anak akibat infeksi akut saluran pernapasan.

    Aksi ribuan warga ini didukung sejumlah LSM yang bergabung dalam gerakan global Break Free seperti Walhi, Greenpeace, Jatam, 350 dan Yayasan Auriga Nusantara. Jika tahun lalu mereka memusatkan aksi di Kedutaan Besar Jepang, kali ini mereka berkumpul di Kantor KPK.

    “Batubara energi kotor, bukan hanya sosial dan lingkungan, sistem (yang) memberi ruang besar bagi korupsi. Korupsi meliputi segala penyimpangan dalam tata kelola sumber alam yang dapat merugikan Negara,” kata Didit Wicaksono, Juru Kampanye Iklim dam Energi Greenpeace Indonesia.

     

    Tinggalkan batubara, beralih ke energi terbarukan. Foto: Andy Pranantyo

     

    Dwi Sawung, Manajer Kampanye Energi dan Perkotaan Walhi Nasional mengatakan, kasus-kasus korupsi izin tambang dan PLTU mangkrak merupakan contoh nyata batubara tidak saja mengotori lingkungan juga bisnis kotor.

    Perwakilan peserta aksi diterima Wakil Ketua KPK Laode M Syarif secara tertutup. Dalam pertemuan, warga dan LSM menyerahkan laporan dugaan tindak pidana korupsi sektor batubara.

    Laporan kasus-kasus ini diwakili simbolis melalui amplop besar ukuran 4×3 meter berisi dua orang bergelimang abu batubara. Dua orang ini permisalan dari puluhan ribu warga yang terdampak pengembangan energi kotor batubara di Indonesia.

    Laode mengatakan, KPK tertarik dengan kasus korupsi sektor pertambangan. “Pengelolaan sumberdaya alam khusus tambang termasuk perkebunan harus dilaksanakan mengikuti kaidah-kaidah hukum dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme,” katanya.

    Berdasarkan data Koordinasi dan Supervisi KPK di sektor Minerba, ada 10.332 izin usaha pertambangan di Indonesia per Maret-Oktober 2015. IUP non-Clean and Clear (CnC) 3.948. April 2016, total IUP 10.348 dengan  non-CnC  3.982. Dari data itu sekitar 41% IUP non-CnC tak memiliki NPWP. Jadi, ada begitu banyak IUP tak menjalankan kewajiban keuangan terhadap negara. Sisi lain, pemberian sertifikat non-CnC sarat korupsi.

     

    Solidaritas Kendeng

    Aksi ribuan massa itu berlanjut ke depan Istana Merdeka dan mereka melebur dengan pendukung warga Kendeng yang melanjutkan menyemen kaki. Aksi solidaritas dari warga korban industri batubara ini membuat silang Monas di Jalan Merdeka Barat tumpah-ruah ribuan orang.

    Hindun Mulaika, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace mengatakan, perjuangan rakyat tak bisa berdiri sendiri-sendiri karena industri berkaitan satu sama lain. Menurut dia, jika bicara semen sangat berkaitan dengan batubara. Semen salah satu industri yang menggunakan batubara sangat banyak sebagai bahan bakar utama saat memproduksi semen.

    “Keduanya sama-sama merusak lingkungan, lahan sumber air dan berpengaruh pada kehidupan petani sekitar. Masyarakat korban batubara dan korban industri semen telah berjuang dengan segala cara bertahun-tahun. Tapi suara rakyat tidak pernah didengar.”

    Dia menyayangkan sikap Presiden tak memberikan simpati terhadap warga Kendeng saat bertemu beberapa hari lalu di Istana Presiden. Kala itu, Jokowi meminta warga bertanya kepada Gubernur Jawa Tengah tentang proses penanganan masalah pabrik semen Rembang.

    Aksi lanjutan #dipasungsemen #kendengmelawan terus mendapat dukungan dari sejumlah pihak. Bahkan dukungan berupa tambahan relawan yang ingin juga ikut disemen, antara lain Adhe dari Greenpeace dan dua mahasiswa Universitas Indonesia.

     

    Korban batubara bergabung dengan aksi tolak semen Rembang di depan Istana Negara. Foto: Zamzami

     

     

  • Alex Waisimon, Penjaga Hutan dari Lembah Grime

    Alex Waisimon, Penjaga Hutan dari Lembah Grime

    Alex, memandu pengunjung yang ingin menikmati hutan dan bird watching. Foto: Asrida Elisabeth

     

    “Ada orang bilang kalau saya sudah gila di Jawa, lalu pulang dan tinggal di kampung,” kata Alex Waisimon mengenang saat-saat awal pulang ke kampung halaman. Pulang kampung sama sekali tak pernah ada dalam rencana,  30 tahun Alex meninggalkan Papua, terakhir menetap di Bali.

    Semua berubah ketika tantenya, yang menjaga kala sekolah dulu, berpesan untuk pulang. “Ko pulang.” Dia teringat pesan serupa dari sang ayah, saat meninggalkan Papua. “Ko boleh pergi tapi nanti ko harus pulang lagi.”

    Akhirnya pada 2015, Alex pulang, istri dan empat anak menetap di Bali.

    Alex lahir di Kampung Yenggu Akwa 19 September 1961. Kini kampung ini masuk wilayah administrasi Distrik Nimbokrang,  Kabupaten Jayapura, Papua. Semasa dia kecil, sekolah di kampung susah. Orangtuanya mengirim ke Sekolah Rakyat di Padang Bulan Abepura (Sekarang SD YPK).

    Tamat SD Padang Bulan umur 19 tahun, Alex masuk SMP YPK Genyem, lalu melanjutkan ke STM Dok V Jayapura. Alex sempat kuliah di jurusan ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, namun tak selesai.

    Selama 30 tahun meninggalkan Lembah Grime, Alex menjalani segala macam pekerjaan dari mencuci baju, bangunan, pemetik apel, tour guide hingga mengembangkan information center untuk wisatawan.

    Alex pernah juga bergabung denga Red Cross Asia Pasific dan International Labour Organization (ILO) yang mengantar dia keliling dunia. Fiji, Vanuatu, Australia, India, Tiongkok, Thailand, Birma, Laos, Prancis, Belanda hingga Amerika Latin sudah pernah dia kunjungi. Perjalanan keliling dunia itu justrus membuat dia makin mencintai Papua.

    Di Nimbokrang, Suku Waisimon memiliki 15.000 hektar lahan. Saat Alex kembali, keluarga sedang giat penebangan kayu untuk dijual. “Itu menjadi fenomena umum di Papua.” Tak hanya nebang kayu, perburuan juga marak, termasuk cenderawasih.

    Puluhan tahun berkecimpung di dunia pariwisata membuat dia mudah berpikir tentang apa yang bisa dilakukan bersama masyarakat untuk mendapatkan uang dengan tetap menjaga tanah dan hutan.

    “Pariwisata sebenarnya buat orang Papua itu tanpa modal. Modal pertama hutan itu. Tinggal kita mengolah sesuai kemampuan dan talenta.”

    Tiga bulan pertama kembali ke kampung, Alex menumpang tinggal bersama kakaknya.

    Tiap pagi sekitar pukul 04.00, Alex masuk hutan hanya berbekal air minum. Lama menikmati hidup di luar dengan segala kenyaman tak membuat Alex lupa makanan hutan yang dulu diajarkan orang tua. “Di hutan saya potong nipa hutan untuk saya makan. Orangtua sudah ajarkan kita. Ketika kita lapar, itulah yang jadi makanan.”

     

    Penginapan di Isio Hill. Foto: Asrida Elisabeth

     

    Menggagas Isio Hill’s Bird Watching

    Hutan di Nimbokrang memiliki keragamanhayati kaya termasuk burung. Sayangnya, penebangan kayu membuat hutan tak lagi jadi habitat bagi burung dan binatang. Alex pun berupaya mengembalikan kondisi hutan, mulai dari hutan milik sukunya. Penebangan kayu dihentikan, begitupula perburuan binatang. “Tak gampang menghentikan keluarga sendiri. Masih lebih mudah menghentikan orang lain”.

    Alex juga mempelajari burung dengan segala tingkah laku. Buku yang jadi panduan Alex adalah Birds of New Guinea yang ditulis Bruce M. Beehler, Thane K. Pratt, dan  Dale A. Zimmerman. Dari situ Alex membuat spot-spot yang jadi tempat mengamati burung.

    Sisa-sisa kayu bekas tebangan dibawa keluar. Dia mulai membuat pondok di lahan yang sekarang disebut camp Isio Hill’s bird Watching. Berbekal pengetahuan tentang pariwisata, sisa-sisa kayu bekas tebangan juga jadi meja dan tempat duduk unik tamu.

    Bulan kedelapanBird Watching. Tamu-tamu manca negara mulai berdatangan. Keluarga masih tebang hutan. Baru 1,5 tahun, keluarga benar-benar setop tebang hutan.

    Dari kerja keras ini, hutan di tempat ini pelan-pelan berubah. Binatang-binatang kembali menjadikan rumah mereka hidup dan berkembang biak. Makin banyak cenderawasih, kasuari, babi hutan, ayam hutan, rusa, tikus tanah dan berbagai satwa lain di sini.

    Suara-suara mereka terdengar dan jejak  banyak ditemukan saat berjalan di dalam hutan. Saat mengamati burung, misal, kita bisa mendengar babi hutan, terasa begitu dekat.

    Kini wisata bird watching terus berkembang. Jadwal rutin kunjungan bird club dunia tiap Mei hingga Oktober. Camp juga terus berbenah. Saat ini,  sudah ada tempat menginap buat tamu berkunjung dilengkapi toilet dan kamar mandi.

    Alex mempersiapkan pemandu lokal. Jika sedang tak ada tamu, dia akan berkeliling hutan mempelajari burung bersama para pemandu. “Bahasa Inggris paling sulit. Kalau Pak Alex tak ada yah, kita pandu saja, kasi tunjuk spot-spot untuk lihat  burung,” kata Marthen Bay, salah satu pemandu lokal di Isio Hill’s Bird Watching.

    Mimpi Alex belum usai.  Sekitar satu km dari kamp dia berencana membuat sekolah alam. Ada lima Hektar lahan untuk membangun sekolah alam. Peletakan batu pertama pada 25 Oktober 2015. Sekolah ini pelan-pelan dibangun menyesuaikan kondisi keuangan. Sudah ada ruang belajar. Dalam perencanaan, 2018 sekolah alam akan mulai.

    “Sekolah alam bukan hanya untuk orang di kampung Rhepang Muaif. Semua orang terutama orang Papua boleh datang. Ketika dia pulang, dia bisa memahami apa yang bisa dilakukan.”

    Dia berharap, masyarakat bisa belajar alam dan kekayaannya, juga bahasa dan budaya. Tim untuk mengelola sekolah ini sudah terbentuk bersama masyarakat. Ada apotik hidup dan pertanian juga.

     

    Alex Waisiomon, pulang kampung setelah 30 tahun meninggalkan Papua. Kini, bersama masyarakat dia merawat hutan adat mereka untuk ekowisata. Foto: Asrida Elisabeth

     

    Ajak masyarakat jaga hutan

    Ketika bird watching mulai berjalan, Alex berpikir dan merasa terpanggil untuk menyelamatkan hutan bukan hanya milik sukunya. “Saya merasa terpanggil selamatkan hutan di Grime.”

    Dia khawatir sudah ada sawit masuk juga banyak sawmill, dan banyak penebangan liar. “Akhirnya saya berpikir kenapa hanya bikin kecil ini. Saya harus bikin yang besar untuk selamatkan semua.”

    Alex mulai berbicara dengan suku-suku lian tentang niat ini. Awalnya sulit. Pro dan kontra terjadi di tengah masyarakat. Tak jarang orang menaru curiga. Dia terus beri penjelasan.

    “Ketika ko tebang kayu, ko hanya dapat kulit dan tulang, daging bukan ko yang makan. Kalian sedang bertengkar untuk merebut tulang dan kulit. Cemburu dan berkelahi dengan saudara, dengan adik dan kakak. Daging siapa yang makan? Katanya kamu tuan tanah.” Begitu kalimat yang selalu dikatakan Alex menggugah kesadaran masyarakat.

    Baginya berbicara saja tak cukup. Dia memberikan contoh dengan ekowisata di Isio Hill. Makin banyak tamu berkunjung membuat dia lebih mudah meyakinkan masyarakat. Hingga masyarakat dari 10 suku di 11 kampung bersepakat menyerahkan lahan seluas 98.000 hektar untuk jadi hutan lindung dan ekowisata.

    Sepuluh suku itu termasuk sukunya yakni, Bay, Wouw Remobu, Wiu Awiyano, Waisimon Akrwa, Waipon Singgriway, Wandi Denaigreng, Kekri, Tecuari, Kasmando dan Bernipu.

     

    Buah-buah hutan yang jadi pangan satwa. Foto: Asrida Elisabeth

     

    Alex sadar, kesepakatan menyerahkan lahan saja tak cukup. Bersama masyarakat dia ingin pemerintah memberikan perlindungan hukum atas niat masyarakat ini hingga ke depan tak ada izin penebangan dan perusahaan sawit masuk.

    Di dalam wilayah seluas 98.000 hektar ini tersimpan kekayaan alam sangat banyak. Ada belasan danau, air terjun, aliran sungai, juga berbagai jenis hewan  dan tumbuhan khas wilayah pasifik ada di tempat ini.

    Ada dua kelompok sedang menyiapkan diri mengelola ekowisata dengan mandiri.  Kelompok Tabo (pegunungan) khusus mengelola potensi ekowisata di bagian pegunungan dan kelompok ketu (dataran rendah) akan mengelola potensi wisata lembah dan pesisir pantai.

     

    Tantangan

    Meskipun sudah sepakat, bukan berarti tak ada tantangan menjalankan niat baik ini. Alet bilang, banyak tantangan antara lain, pertama, belum ada kekuatan hukum memastikan pemerintah tak akan menyerahkan hutan untuk peruntukan lain.

    Bersama World Wide Fund (WWF) Alex dan masyarakat akan mengusahakan status hutan ini menjadi cagar alam atau suaka marga satwa. Proses terus berjalan. Kedua, dari internal masyarakat. Tak sedikit juga yang tak tergiur uang kala tawaran perusahaan pengolah kayu dan perusahaan sawit datang.

    “Kamu yang akan kasih kita makan kah?” Alex menirukan warga kala diminta tak menebang kayu dan jual tanah.

    Semua tantangan itu sudah diperhitungkan. “Pepatah mengatakan kalau engkau mau mendapat ikan besar, kau harus ke tengah laut. Ketika kau ke tengah laut, pasti kau hadapi gelombang, angin, dan badai. Ingat, ketika kau pulang, pasti bawa ikan besar. Kalau ko mau aman saja, ko pancing dari pesisir pantai saja. Maka ko akan dapat ikan kecil untuk cukup ko makan,” ucap Alex.

     

    Spot bird watching. Foto: Asrida Elisabeth

     

     

  • Mereka yang Diselamatkan dan Dikembalikan ke Alam Liar

    Mereka yang Diselamatkan dan Dikembalikan ke Alam Liar

     

    Tika, bayi orangutan yang dievakuasi dari warga setempat. Sebagian masyarakat masih memelihara orangutan meski satwa ini berstatus dilindungi. Foto: International Animal Rescue

     

    International Animal Rescue Indonesia bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang, Kalimantan Barat, kembali menyelamatkan tiga individu orangutan peliharaan, pertengahan Maret lalu.

    Satu bayi orangutan betina berusia satu tahun bernama Tika dievakuasi dari Dusun Pengelaman, Desa Sandai Kiri, Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Laporan keberadaaan orangutan ini berasal dari Yayasan Gunung Palung yang juga bergerak di bidang konservasi orangutan.

    Pemiliknya mengaku mendapatkan orangutan itu dari seorang petani, dua bulan lalu di Kalimantan Tengah. Menurutnya, orangutan tersebut ditinggalkan induknya ketika dikejar anjing di persawahan. Karena kasihan, petani itu mengambil bayi orangutan dan merawatnya sebelum menjual kepada Sarif. “Saya beli seharga Rp500 ribu Rupiah,” ujar Sarif. Selama dipelihara, orangutan ini diberi makan buah-buahan dan permen, dan tidur bersama pemiliknya. “Dia suka tidur pakai bantal,” jelas Sarif.

    Satu individu lagi diselamatkan dari Dusun Jelutung, Desa Matan, Kecamatan Nanga Tayap, Ketapang. Orangutan jantan berumur empat tahun bernama Onte itu dipelihara Yudas, pekerja perkebunan sawit. Yudas mendapatkan orangutan itu dari daerah Krio Beginci dan memelihara Onte empat tahun. “Waktu kecil, saya beri susu bubuk, sekarang susu kaleng.”

    Selang beberapa hari, BKSDA Kalimantan Barat kembali mengamankan orangutan di Dusun Suka Damai, Desa Pematang Tujuh, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya. Orangutan yang bernama Opan ini diserahkan secara sukarela oleh pemiliknya, Ahmad Naim.

    Selama 2016, tidak kurang 12 individu orangutan yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan. Sementara 2017, hingga pertengahan Maret, IAR Indonesia bersama BKSDA Kalbar telah menyelamatkan 4 individu.

    “Proses rehabilitasi dan persiapan mengembalikan ke alam tidak mudah. Bayi orangutan butuh waktu tahunan. Di tempat rehabilitasi kami sudah ada 109 orangutan, dan itu semua tanggung jawab besar,” jelas drh. Adi Irawan, Manajer Operasional IAR di Ketapang.

    Karmele L. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia, menyesalkan tidak adanya tindakan hukum terhadap para pemelihara satwa. “Tidak seharusnya membeli orangutan, sebaiknya segera melaporkan ke pihak berwajib,” tuturnya baru-baru ini.

     

    Reva, orangutan ini dikembalikan lagi ke hutan sebagai habitat alaminya. Foto: International Animal Rescue

     

    Reva pulang ke habitatnya

    Sebelumnya, awal Maret, IAR Indonesia dan BKSDA Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang, beserta Komando Distrik Militer Ketapang dan Lembaga Pengelolaan Hutan Desa Pematang Gadung, memulangkan satu individu orangutan betina ke Hutan Desa Pematang Gadung, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang.

    Orangutan yang diberi nama Reva ini diselamatkan dari persawahan milik warga di Desa Pematang Gadung pada 15 Januari 2017. Kondisi Reva sangat memprihatinkan ketika diselamatkan. Kedua tangan dan kakinya terikat dan tubuhnya banyak luka tembak senapan angin. “Kondisinya saat itu kritis,” ujar drh. Ayu Budi Handayani, Manager Animal Care IAR Indonesia.

    Setelah menjalani perawatan 1,5 bulan kondisi Reva sudah pulih dan siap dipulangkan ke habitat asalnya. “Kondisi Reva saat ini sudah bagus, luka-lukanya pulih dan tingkat stresnya berkurang jauh. Perilakunya juga masih liar sehingga kami yakin dia akan baik-baik saja,” tambah Ayu.

    Ketua Lembaga Pengelolaan Hutan Desa Pematang Gadung, Abadi menyatakan dukungannya pada pelepasan Reva. “Orangutan merupakan satwa dilindungi dan Pematang Gadung merupakan tempat hidupnya.”

    Hutan Desa Pematang Gadung seluas 14 ribu hektare ini merupakan hutan desa dan rumah besar bagi beragam populasi satwa liar. Hasil survei tim IAR Indonesia 2012 menunjukkan, hutan ini dihuni sekitar 500 individu orangutan. Hutan desa ini pun digadang-gadang menjadi tujuan wisata berbasis ekologi di Kabupaten Ketapang.

    “Ekowisata ini mempunyai peran penting dalam hal perlindungan dan pelestarian orangutan berbasis masyarakat. Peletarian dan perlindungan, tidak sebatas melindungi tetapi juga mendapat nilai ekonomi dari manfaat jasa lingkungan. Kami telah membentuk tim patroli hutan desa,” jelas Erik Somala, Staf Pengembangan Komunitas IAR Indonesia yang aktif mendampingi warga setempat.

     

     

  • Dengan Permainan Ini Masyarakat Adat Kaluppini Menjaga Tradisi

    Dengan Permainan Ini Masyarakat Adat Kaluppini Menjaga Tradisi

    Terik matahari siang itu benar-benar seperti membakar kulit. Tanpa penutup kepala, puluhan atau malah mungkin seratusan warga dari komunitas adat Kaluppini di Desa Kaluppini, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan memenuhi lapangan. Tawa riang terdengar di setiap penjuru. Mereka sedang memainkan permainan tradisional yang mulai dilupakan yaitu ma’gasing dan maccukke.

    Keriuhan di lapangan Kaluppini siang itu adalah bagian dari Festival Permainan Tradisional Kaluppini, yang berlangsung selama dua hari, di awal Maret 2017. Jika ma’gasing dimainkan oleh laki-laki maka maccukke dimainkan oleh perempuan atau ibu-ibu. Meski bersifat dadakan, kegiatan ini disambut antusiasme warga, tidak hanya dari Desa Kaluppini, tetapi juga datang dari desa-desa lain sekitar.

    Ma’gasing sendiri merupakan permainan yang bisa berputar pada poros berkesetimbangan pada suatu titik. Permainan ini termasuk permainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi di nusantara yang masih bisa dikenali. Konon permainan ini dulunya juga digunakan untuk berjudi dan meramalkan nasib.

    Gasing ini sendiri biasanya terbuat dari kayu yang diukir dan dibentuk sedemikian rupa, dengan bagian bawah yang lebih lancip atau runcing sebagai poros. Bahan pembuat gasing juga biasanya berbeda yang dipilih dari kayu keras. Di Kaluppini, jenis kayu yang digunakan adalah kesambi yang keras dan berat. Sementara talinya menggunakan daun pandan hutan yang diplintir. Semuanya mudah ditemukan di sekitar pekarangan warga.

    Jika di Sulsel disebut gasing, daerah lain seluruh nusantara memiliki istilah lain. Di Jawa Barat dan Jakarta misalnya menyebutnya gangsing atau panggal. Di Lampung dinamai pukang, sementara di Kalimantan Timur menyebutnya begazing.

     

    Warga di komunitas adat Kaluppini Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan berupaya mengembalikan tradisi permainan tradisional, antara lain ma’gasing dan macukke. Puluhan tahun permainan ini telah jarang dimainkan dan semakin tergantikan oleh permainan modern. Foto: Wahyu Chandra

     

    Sementara macukke biasanya menggunakan rotan atau kayu berbentuk silinder ukuran panjang dan pendek. Kayu pemukul yang panjang berukuran sekitar 40-50 cm, sementara kayu lainnya berukuran sekitar 15 cm. di Jawa, permainan ini disebut patok lele. Hanya saja pada festival ini, agar tak mencederai pemain, kayu kecilnya diganti dengan botol kecil yang diisi pasir.

    Menurut Abdul Halim, pemangku adat di Kaluppini, kegiatan ini adalah upaya mereka untuk memperkenalkan kembali beragam permainan tradisional yang sudah dilupakan. Kedua permainan tersebut konon sudah puluhan tahun lebih tidak dimainkan, meski dulunya bagian dari tradisi setempat.

    “Dulu setiap tahun ma’gasing dan macukke dimainkan di musim tanam jagung, bagian dari ritual. Perlahan mulai jarang dilakukan dan malah sekarang kita baru mencoba untuk memulainya kembali,” katanya.

    Melihat antusiasme warga mengikuti festival siang itu, Halim optimis kedua jenis permainan ini bisa dihadirkan kembali ke masyarakat. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak yang baru saja mengenal permainan itu terlihat sangat terampil memainkannya.

    “Seminggu sebelum kegiatan anak-anak mulai memainkannya dimana-mana. Para orang tua mendukung dengan cara membantu membuatkan gasing dan talinya. Kabar tentang kegiatan ini bahkan menyebar hingga ke kota Enrekang.”

     

    Permainan maccukke biasanya dimainkan perempuan atau ibu-ibu secara kelompok yang terdiri dari 5 orang. Permainan ini mengajarkan kerjasama dan kekompakan kelompok. Foto: Wahyu Chandra

     

    Saim, Ketua Enrekang Timur Kasiturutan (ETIKA), sebagai salah satu pelaksana kegiatan ini menilai festival ini sangat penting untuk mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak. Apalagi kini sudah dilupakan dan hampir tidak pernah dimainkan lagi selain oleh orang-orang tua. Ia menilai permainan tradisional tidak sekedar dimainkan untuk kesenangan namun memiliki makna tertentu.

    “Kita bisa lihat, meski berkompetisi namun tak ada satupun di antara mereka yang berkonflik. Yang kalah dengan senang hati menerima kekalahan, yang menang pun tidak terlihat pongah. Terlihat juga dari permainan ini ada interaksi di antara para pemainnya, ada kerjasama dan kekompakan dalam permainan macukke. Ini berbeda dengan jenis permainan yang ada sekarang, yang justru membuat pemainnya menjadi lebih individualistik dan berjarak dengan orang lain,” katanya.

     

    Mempertahankan Tradisi

    Keberadaan sejumlah permainan tradisional dalam komunitas adat dinilai Halim akan memperkuat eksistensi mereka. Halim mengakui semakin ditinggalkannya tradisi dan beragam permainan rakyat ini menunjukkan telah gejala degradasi budaya, khususnya bagi generasi muda.

    “Banyak generasi muda di komunitas kami yang sepertinya tidak mengenal lagi dan acuh pada adat budayanya. Harapan kami tinggal pada anak-anak dan remaja yang lebih antusias. Semoga kegiatan ini menjadi momentum menggairahkan kembali kebanggaan pada budaya dan adat istiadat sendiri,” katanya.

    Menurut Halim, selain kedua permainan tersebut, sebenarnya banyak jenis permainan tradisional lain yang bisa dimunculkan kembali. Misalnya permainan piri-piri atau baling-baling besar. Dulu permainan ini dimainkan setelah musim panen di sawah-sawah dan tempat-tempat ketinggian yang anginnya kencang.

    “Dulu kami berlomba-lomba mencari tempat-tempat ketinggian untuk mencari angin. Permainan ini ada seni tersendiri dan butuh keterampilan khusus membuatnya. Kalau buatannya bagus akan mengeluarkan suara yang merdu seperti musik.”

     

    Ambe Dewi, salah seorang pemangku adat di Kaluppini membuat gasing dari kayu kasambi. Ia mengakui telah 20 tahun lebih tak memainkan permainan ini namun masih mengetahui secara pasti aturan-aturan dalam permainan tersebut. Foto: Wahyu Chandra

     

    Masyarakat adat Kaluppini yang menetap di kawasan pegunungan berjarak sekitar 10 km dari Kota Enrekang selama ini dikenal sebagai komunitas yang masih kuat dalam menjaga tradisi dan ritual. Ada ritual yang sifatnya insidentil, seperti ritual untuk perkawinan dan kematian. Ada juga yang sifatnya rutin, seperti ritual pangewaran yang dirayakan setiap delapan tahun sekali. Ada juga ritual maulid setiap tahun. Terkait pengelolaan sumber daya alam, setiap tahunnya ada 13 ritual yang wajib dilaksanakan.

    Menurut Halim, ritual-ritual di Kaluppini dilaksanakan dalam dua masa dalam setahun, yaitu pada musim basah untuk tanam padi yang disebut tahun bo’bo sebanyak 9 ritual dan pada musim kering untuk musim tanam palawija yang disebut tahun ba’tan, sebanyak 4 ritual. Ba’tan sendiri berarti jewawut atau sorgum, sejenis tanaman konsumsi yang cocok dengan kondisi kering, meski sekarang sudah jarang ditemukan.

    Pada tahun bo’bo, dimulai dengan ritual massima tanah atau pembukaan lahan untuk ditanami padi. Pada saat benih akan ditebar maka dilakukan ritual yang disebut rappan banni. Ketika padi butuh air maka dilakukanlah ritual memanggil hujan yang disebut metadda wai.

    “Ketika padi sudah mulai tumbuh dan ‘hamil’ maka harus diritualkan lagi, yang disebut ma’tulun. Lalu ada ritual metada pajabbi untuk pembasmian hama. Ketika padi mau menguning dan membutuhkan musim kemarau maka dilakukan ritual menghentikan hujan yang disebut meta’da kesawian,” jelas Halim.

    Ritual selanjutnya adalah perburuan babi, yang disebut paratta rangnganan. Pada ritual ini ‘pintu-pintu’ gaib dibuka memberi kesempatan pada babi-babi yang baik untuk menyingkir. Setelah dilakukan masa perburuan, yang kadang berlangsung hingga dua minggu maka pintu-pintu yang tadinya dibuka ditutup kembali, melalui ritual yang disebut massali babangan. Setelah itu barulah ritual terakhir untuk tahun bo’bo yaitu pesta panen atau paratu ta’da.

    Sementara ritual pada tahun ba’tan, juga dimulai dengan massima tana’, dilanjutkan dengan mattulung ketika tanaman sudah akan berbuah. Ritual selanjutnya adalah mappamali dimana seluruh warga komunitas tidak diperkenankan mengkonsumsi makanan yang berongga dan bergetah, seperti papaya, rebung, kangkung, dan lainnya.

    “Jika masyarakat umum larangannya hanya selama tiga hari, maka untuk pemangku adat berlaku selama 7 hari. Ritual terakhir adalah pesta panen atau para’tu tadda.”

     

  • Mongabay Travel : Memacu Adrenalin, Menikmati Derasnya Arus di Sungai Ciwulan

    Mongabay Travel : Memacu Adrenalin, Menikmati Derasnya Arus di Sungai Ciwulan

    Bagi mereka penyuka tantang atau sekedar ingin memacu adrenalin, mungkin main arung jeram atau rafting bisa menjadi pilihan. Selain menawarkan suasana alam yang asri lagi menarik, sensasi mengarungi sungai berarus deras dengan jeram bergelombang pastinya layak untuk ditaklukkan.

    Memang, arung jeram tergolong olahraga ekstrim perlu sedikit nyali untuk mau mengawalinya. Tapi meskipun begitu, tak perlu dulu menciutkan niat karena sebelum terjun menyusuri sungai, anda akan diberi pengarahan tentang aturan main seperti teknis mengarung, mengenal jenis, karakter, dan grade (tingkat jeram) sungai hingga pengenalan perlengkapan safety procedure berarung jeram.

    Seperti halnya yang dilakukan sekitar 18 orang rombongan kelompok Mahasiswa Pencinta Kelestarian Alam (Mahapeka) UIN Bandung yang telah bersiap di tepi Sungai Ciwulan di daerah Dermaga, Desa Asta, Kecamatan Kawali, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (18/3/2017).

    Kedatangan mereka untuk melakukan pengembaraan (latihan) mengasah kemapuan di divisi olahraga arus deras (ORAD) sekaligus penempuhan nomer bagi anggota muda.

    Sebelum pengarungan, para anggota mendapat pengarahan singkat dari instruktur orad. Teknis dan mekanismenya dibahas dan disampaikan dengan jelas. Teruntuk anggota yang melakukan pengembaraan pada divisi tersebut, diberikan tugas khusus yaitu pemetaan sungai sampai menghitung jeram yang dilewati.

     

    Anggota kelompok Mahasiswa Pencinta Alam Bandung, Jawa Barat, memulai arung jeram menyusuri Sungai Ciwulan di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (18/3/2017). Olahraga arung jerang memang sering dilakukan di Sungai Ciwulan dan sudah mulai diminati oleh para wisatawan. Foto : Donny Iqbal

     

    Dengan membawa perlengkapan tiga perahu karet, belasan dayung, pelampung dan helm, lantas dibagikan kepada seluruh anggota.

    “Oke, kita disini enjoy saja nikmati panorama alamnya sambil merasakan derasnya aliran sungai. Walaupun judulnya pengembaraan orad tapi bawa fun saja. Kali ini kita akan ngarung dengan rute long trip (trek panjang), maka cumbui dan syukuri sungai ini sampai basah,” kata Uci “Kendi” Iskandar, intruktur orad Mahapeka.

    Mongabay pun mendapat tawaran untuk ikut menjajal olahraga arung jeram di sungai yang hulunya berasal dari daratan tinggi di wilayah Priangan Timur. Rasanya tertantang dan rugi andaikan menolak ajakan untuk merasakan berjalan – jalan diatas arus deras yang meliuk – liuk. Sungguh memacu adrenalin, go ahead!

    Setelah beres pengarahan dan sedikit pemanasan, kami pun dipecah ke dalam tiga kelompok dan bergegas naik ke perahu yang sudah disiapkan. Biasanya satu perahu dapat diisi dengan empat sampai enam orang dengan wajib didampingi seorang skipper sebagai pemandu.

    Diawali dengan bunyi peluit, perahu pertama langsung bergerak meluncur mengikuti derasnya sungai. Selang beberapa menit, peluit kedua pun berbunyi tanpa menunggu lama perahu yang ditunggangi Mongabay pun meluncur melewati sungai berbatu besar yang diapit oleh tebing dan rindangnya pepohonan. Begitupun bunyi peluit selanjutnya, perahu lain otomatis akan mengikuti.

    Ternyata peluit digunakan sebagai alat komunikasi pada olahraga arung jeram, tujuannya untuk memberi isyarat agar ngarung lancar dan terkendali.

     

    Anggota kelompok Mahasiswa Pencinta Alam Bandung, Jawa Barat, memulai arung jeram menyusuri Sungai Ciwulan di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (18/3/2017). Olahraga arung jerang memang sering dilakukan di Sungai Ciwulan dan sudah mulai diminati oleh para wisatawan. Foto : Donny Iqbal

     

    Pada 50 meter pertama kami pun disambut arus tenang dengan riak kecil dan terik matahari. Siang itu, suasana nampak santai dengan perahu kami yang berjalan perlahan berjajar tidak begitu berjauhan.

    Tak lama, dari kejauhan air beriak terlihat menandakan adanya jeram di depan mata, skipper pun memberi aba-aba untuk bersiap untuk mendayung. “Ayo dayung pendek,” kata skipper.

    Perahu yang ditumpangi Mongabay melawati jeram dengan sigap skipper  yang hafal jalur berupaya mengendalikan laju perahu agar mulus melintasi jeram. Sebagai informasi Sungai Ciwulan memiliki karakteristik jeram cenderung kombinasi antara pendek dan panjang.

    “Angkat dayungnya, siap – siap sentuhan jeram pertama nih. Rasakan segarnya. Hahaha…,” kata skipper lagi. Deburan air pun masuk kedalam perahu menerpa sebagian baju penumpang hingga basah dan tawa kegiranganpun pecah.

    Selain jeram – jeram yang menantang di sepanjang perjalanan, ada juga potret kehidupan di pinggiran aliran sungai. Masyarakat setempat terlihat masih mengandalkan sungai untuk mandi memancing hingga pertanian banyak terdapat di kiri-kanan sungai.

     

    Anggota kelompok Mahasiswa Pencinta Alam Bandung, Jawa Barat, memulai arung jeram menyusuri Sungai Ciwulan di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (18/3/2017). Olahraga arung jerang memang sering dilakukan di Sungai Ciwulan dan sudah mulai diminati oleh para wisatawan. Foto : Donny Iqbal

     

    Di sungai ini, jika tidak hujan kondisi aliran sungainya sedikit surut yang kadang banyak bebatuan besar dengan jarak rapat. Grade-nya cenderung menurun menjadi grade dua, bagi mereka yang sudah sering melakukan arung jeram. Pada grade dua ini relatif tidak terlalu cepat.

    Berbeda  saat musim hujan kondisi arus menjadi deras sehingga grade-nya naik menjadi 3 dan terkadang perlu ketangkasan untuk memilih lintasan dan manuver menghindari rintangan. Jadi, selain melatih otot menjadi kuat, diaktifitas ngarung juga bisa mengasah kecerdikan dalam melewati setiap tantangan jeram. Tetapi, tak perlu khawatir karena skipper akan mengatur perahu agar mulus meliuk – liuk melewati jeram.

    Tak terasa, belasan jeram pun telah dilalui dengan rute yang cukup panjang membuat perjalanan harus diistirahatkan sejenak . Biasanya, check point setengah perjalanan berada di tepian sungai yang rindang di sekitar Kawasan Leuwiliang, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya.

    Perbekalan yang telah dibawa dibuka dan disantap bersama mengisi tenaga yang lumayan terkuras. Rindangnya pohon, suara air mengalir dengan angin sepoi – sepoi membuat nyaman suasana ngopi – ngopi ditepian Sungai Ciwulan.

    Salah satu pengurus Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) yang ikut rombongan, Sutanto (24) mengatakan apabila anda dan rombongan ingin merasakan sensasi jeram bisa menghubungi FAJI Kota Tasikmalaya.

    Nantinya, anda dapat memilih paket perjalanan yang ditawarkan dengan merogoh kocek berkisar Rp250.000 – Rp450.000 per orang. “Sebenarnya bermain arung jeram aman. Ada standar operasionalnya. Jadi tentu tidak perlu takut untuk siapa saja yang ingin melakukannya, bagi pemula yang tidak bisa berenang sekalipun,” jelas dia.

    Dalam setiap pengarungan minimal mesti ada 2 perahu. Hal itu bertujuan agar perjalanan menjadi aman dan saling mengawasi sehingga bisa dijamin kelancaran ngarung tetap mengasyikan.

     

    Anggota kelompok Mahasiswa Pencinta Alam Bandung, Jawa Barat, memulai arung jeram menyusuri Sungai Ciwulan di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (18/3/2017). Olahraga arung jerang memang sering dilakukan di Sungai Ciwulan dan sudah mulai diminati oleh para wisatawan. Foto : Donny Iqbal

     

    Selepas istirahat, perjalanan mengarungi Sungai Ciwulan kembali dilanjutkan. Kami masih disuguhi jeram-jeram menantang lainnya. Beberapa kali perahu kami nyangkut di bebatuan sampai ada penumpang yang terjatuh dari perahu. Hal itu disengaja dilakukan karena sudah ada aba – aba dari perahu yang didepan yang siap menjemput.

    Hahaha duh seru alirnya bro,” kata penumpang tersebut ketika naik lagi ke perahu.

    Lalu perahu kami terhenti kembali di tebing  berketinggian kurang lebih 7 meter. Lantas Kendi membawa anggota lain untuk mencoba sensasi yang lebih menantang yaitu melompat dari tebing tersebut.

    Satu persatu anggota lain ikut melompat  dan berteriak sembari melepaskan penat yang ada, suasana pun kembali hangat meski sempat diguyur hujan.

    Dan akhirnya perjalanan kami menyusuri Sungai Ciwulan finish di Jembatan Sukaraja setelah menempuh jarak sekiar 10 km dengan waktu tempuh kurang lebih 5 jam. Selesai ngarung rasa memiliki terhadap keberadaan sungai menjadi tumbuh.

    Sungai bukan saja dimanfatkan sebagai penunjang kehidupan tetapi bisa juga dijadikan wahana wisata bermain arung jeram yang seru dan menantang.

    Namun, kurangnya kesadaran membuat sebagian pihak menganggap bahwa sungai adalah saluran pembuangan sampah dan limbah. Menurut informasi di kawasan hulu Sungai Ciwulan terdapat industri gula dan tekstil menyebabkan air menjadi keruh dan banyak limbah kain terjebak di sepanjang badan sungai Ciwulan.

     

     

  • Cicak Jari Lengkung Tambora, Spesies Baru yang Meyakinkan Indonesia Juara Ragam Hayati

    Cicak Jari Lengkung Tambora, Spesies Baru yang Meyakinkan Indonesia Juara Ragam Hayati

     

    Cicak jari lengkung tambora atau Cyrtodactylus tambora yang merupakan jenis baru. Sebagaimana namanya, jenis ini ditemukan di kaki Gunung Tambora. Foto: Awal Riyanto

     

    Cicak jari lengkung tambora atau Cyrtodactylus tambora resmi disebut sebagai jenis baru. Publikasi ilmiahnya tercantum dalam jurnal Zootaxa Vol 4242, No 3, 13 Maret 2017 berjudul “A new small bent-toed gecko of the genus Cyrtodactylus (Squamata: Gekkonidae) from the lower slopes of Mount Tambora, Sumbawa Island, Indonesia.”

    Awal Riyanto, Peneliti LIPI di Pusat Penelitian Biologi, Museum Zoologicum Bogoriense, Cibinong, sekaligus penulis di jurnal tersebut menuturkan, cicak jari lengkung tambora ini merupakan anggota keenam cicak jari lengkung dari Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia. “Spesies dalam Bahasa Inggris bernama Tambora Bent-toed Gecko ini, pertama kali ditemukan di bantaran Sungai Oi Marai di lereng utara kaki Gunung Tambora,” ujarnya kepada Mongabay Indonesia, awal pekan ini.

    Awal menjelaskan, spesies baru ini secara jelas dapat dibedakan dengan kerabatnya dari Kepulauan Sunda Besar dan Sunda Kecil (termasuk Sulawesi) berdasarkan kombinasi karakter yang ada. Misal, adanya dua sisik yang terletak di antara pasangan sisik postmental kedua yang bersentuhan dengan sisik postmental pertama, pada tengah badan terdapat 18 baris benjolan tuberkular yang tersusun tidak rata, serta terdapat 40 sisik perut diantara lipatan ventro lateral yang tersamar.

    “Jantan mempunyai lima hingga enam lubang prekloakal, dengan empat lubang yang berukuran besar terletak pada suatu struktur cerukan yang dangkal dan tidak terdapat lubang paha pada jantan maupun betina.”

    Untuk penelitian Cyrtodactylus, Indonesia memang tertinggal dari Malaysia dan Vietnam. Namun dalam hal region, yaitu pada lokasi dan pendalaman riset yang telah dikembangkan di dua negara tersebut. Bukan pada personal, karena para peneliti umumnya juga orang asing. “Itulah sebabnya saya fokus pada Cyrtodactylus ini,” jelasnya.

     

    Foto-foto kehidupan Cyrtodactylus Tambora. (A) Holotype jantan dewasa, (B) Paratype subjantan dewasa, (C) Paratype betina yang terlihat mengandung dua telur. Foto: Awal Riyanto

     

    Kandidat baru lagi 

    Awal Riyanto memang bukan pendatang baru pada penelitian cicak jari lengkung. Sebelumnya, ia telah menuliskan perihal cicak jari lengkung petani (22 Desember 2015) dan cicak jari lengkung hitch (Mei 2016) untuk jurnal Zootaxa juga. Sebutan cicak jari lengkung merupakan nama standar Indonesia yang dibakukan dari marga Cyrtodactylus. Dikatakan cicak jari lengkung karena memang jarinya melengkung, meskipun di genus lain ada yang memiliki ciri seperti itu, tapi dipastikan berbeda.

    Berdasarkan penelitiannya, Awal memprediksi masih ada lagi Genus Cyrtodactylus yang bakal menjadi spesies baru. Untuk Kepulauan Sunda Kecil, berdasarkan analisis DNA akan ada 5 kandidat spesies baru dari 9 spesies yang diidentifikasi. Sementara di Sulawesi ada 6 spesies, Kalimantan (3 spesies), Pulau Obi (1 spesies), sedangkan Papua belum tersentuh riset. “Semua spesies tersebut berpeluang sebagai kandidat jenis baru dan menunjukkan Indonesia memiliki keragaman hayati yang tinggi.”

    Secara umum, cicak jari lengkung memiliki peranan sebagaimana cicak yang sering terlihat di perumahan. Pastinya, sebagai predator bagi invertebrata kecil termasuk serangga, juga sebagai penjaga keseimbangan ekosistem hutan, untuk yang hidup di rimba. Sedangkan cicak jari lengkung petani, sebagaimana namanya, berjasa sebagai pengendali serangga di daerah pertanian. “Semua makhluk hidup di muka bumi, memiliki manfaat luar biasa bagi kehidupan manusia,” tutur Awal.

     

    Habitat cicak jari lengkung tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Foto: Awal Riyanto

     

    Gunung Tambora

    Nama spesies ini pastinya mengingatkan kita pada Gunung Tambora. Letusannya yang terjadi pada 10 April 1815 merupakan letusan terbesar yang pernah terjadi di muka bumi. Bagi masyarakat global, Tambora merupakan kiblat untuk penelitian dampak perubahan iklim. Akibat erupsinya yang memuntahkan lava hingga 100 kilometer kubik dan semburan debu 400 kilometer kubik dengan ketinggian 44 kilometer dari permukaan tanah itu, Eropa dan Amerika Utara pada 1816 mengalami tahun tanpa cahaya akibat partikel debunya yang menghalangi sinar mentari.

     

    Baca: Luar Biasa! Peneliti LIPI Temukan Enam Kandidat Spesies Baru di Tambora

     

    Untuk Indonesia, Tambora adalah sumbernya keanekaragaman hayati, habitatnya berbagai jenis satwa, dan ladang penelitian yang harus digali. 11 April 2015, Presiden Joko Widodo secara resmi menetapkan kawasan Gunung Tambora ini sebagai Taman Nasional Gunung Tambora berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Nomor SK. 111/MenLHK-II/2015 pada 7 April 2015.

     

    Peta penelitian cicak jari lengkung tambora. Peta: modifikasi Kathriner et al. 2014

     

    Peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang tergabung bersama tim Ekspedisi NKRI telah melakukan riset di Tambora, pada 16 – 30 April 2015 lalu. Para ilmuwan ini coba menyibak potensi besar yang belum banyak tersentuh penelitian di gunung yang secara administratif berada di Kabupaten Dompu dan Bima, Nusa Tenggara Barat.

    Hasilnya, Tim berhasil menemukan enam kandidat spesies jenis baru yang dipastikan endemik Tambora. Enam spesies tersebut berupa dua spesies cicak, dua spesies kupu-kupu malam (ngengat), dan dua species kalacemeti (kerabat kalajengking). Cicak jari lengkung tambora yang disebutkan sebagai jenis baru ini adalah buah dari perjalanan panjang riset tersebut. Selamat!