Sekolah Alam Negeri Pertama Berdiri di Singkawang

Tambang emas di Danau Serantangan, Singkawang. Dengan berdiri sekolah alam, setidaknya memberikan pendidikan kepada siswa mengenal dan mencintai alam. Hingga generasi muda ini mempunyai pemahaman bagaimana menjaga alam dan tak mengeksploitasi alam semaunya, seperti operasi tambang emas tanpa memperhatikan keselamatan manusia dan lingkungan.

Pertama di Indonesia, sekolah alam negeri dibuka di Sungai Naram, Kecamatan Singkawang Utara, Kota Singkawang, Kalimantan Barat (Kalbar). Model pendidikan yang diterapkan belajar dari seluruh makhluk di alam semesta.

Konsep pendidikan Sekolah Alam Singkawang ini jauh berbeda dengan di sekolah biasa. Ia lebih menekankan pada fungsi-fungsi alam. Alam sebagai ruang belajar, alam sebagai media belajar  dan bahan ajar. Intinya, alam diadopsi sebagai obyek pembelajaran.

Nur Hasanah, Kepala Sekolah Alam Kota Singkawang mengatakan, sekolah ini bertujuan mengajak seluruh umat manusia mencintai lingkungan. “Ini salah satu model yang coba kita terapkan dalam dunia pendidikan. Harapannya, semua pihak bisa membuka mata bahwa alam media pembelajaran sangat penting,” katanya di Singkawang, Jumat (19/7/13).

Proses pembelajaran sekolah ini, bersandar empat pilar utama. Pertama, pengembangan akhlak melalui teladan (learning by qudwah), kedua, pengembangan logika dan daya cipta melalui expreriental learning.Ketiga, pengembangan kepemimpinan dengan metode outbond training, dan keempat, pengembangan kemampuan berwirausaha.

HM Nadjib, Kepala Dinas Pendidikan Kota Singkawang, menyambut baik pendirian sekolah alam yang diprakarsai Wahana Visi Indonesia ini. “Kita sengaja melibatkan seluruh instansi Kota Singkawang untuk meninjau sekolah ini, sekaligus meperkenalkan model pendidikan baru.”

Sekolah alam ini, akan dibina terintegrasi dengan beberapa dinas di pemda dan organisasi serta lembaga lain. “Jadi, tidak hanya Dinas Pendidikan, namun bersama-sama dididik serta dibina secara terintegrasi.”

Kredit

Topik

Benteng Terakhir Penguasa Langit Jawa

Ancaman kepunahan Elang Jawa tetap membayangi akibat perburuan liar, pola baru perdagangan satwa melalui platform digital, dan hilangnya ruang hidup yang terus menyempit. Upaya konservasi yang telah berjalan selama tiga dekade sejak era 1990-an harus beradu cepat dengan tekanan ekonomi. Berbagai aksi penyitaan satwa oleh otoritas menjadi bukti nyata bahwa status hukum saja tidak cukup […]

Artikel terbaru

Semua artikel